NovelToon NovelToon
Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:36.2k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?

Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.

Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.

Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.

Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.

Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.

Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.

Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Mengunci Sisa Kewarasan

Ningsih bersembunyi rapat di balik tembok bata merah yang mengelupas.

Tangan kanannya meremas amplop cokelat tebal itu hingga ujungnya sedikit lecek. Uang sogokan di dalamnya terasa keras dan kaku menekan telapak tangannya. Ia menatap lekat-lekat ke arah Wati, buruh cuci termuda yang baru saja bangkit dari tikar pandan.

Gadis belia itu mengusap keringat kotor di dahinya dan berjalan tertunduk menuju kamar mandi belakang. Ini adalah kesempatan emas yang ditunggu Nyonya Sulastri sejak satu jam yang lalu.

Ningsih bergerak cepat tanpa menimbulkan suara langkah kaki. Ia menarik lengan daster pudar Wati dengan paksa saat gadis itu melewati lorong sempit berlumut.

Wati tersentak kaget hingga napasnya tertahan menyiksa tenggorokan. Mulutnya langsung dibekap erat oleh telapak tangan Ningsih yang berbau terasi dan keringat asam.

"Diam dan ikut aku," desis Ningsih tajam membelah telinga Wati.

Wati diseret paksa menuju gudang kayu bekas di sudut pekarangan rumah utama. Suhu di dalam gudang itu sangat dingin, lembap, dan menyesakkan dada. Bau apak kayu lapis lapuk dan sarang laba-laba langsung menusuk hidungnya.

Di tengah keremangan gudang, sosok Sulastri berdiri angkuh melipat kedua tangan di depan dada. Istri pertama Harjono itu mengenakan kebaya sutra hijau zamrud yang mewah. Matanya menatap Wati dengan kilat merendahkan yang sangat mengintimidasi.

Lutut Wati mendadak lemas tak bertulang. Ia ambruk terduduk di atas lantai tanah yang dingin dan kotor. Ketakutan merayap naik meremangkan seluruh bulu kuduk di tengkuknya.

Sulastri melangkah maju memecah kesunyian. Ia menjatuhkan amplop cokelat tebal itu tepat di pangkuan Wati. Bunyi benturan kertas tebal dengan lutut kurus Wati terdengar jelas di ruangan sunyi tersebut.

"Itu uang yang nilainya setara dengan upahmu mencuci baju selama dua tahun penuh," ucap Sulastri dengan nada dingin yang mengancam jiwa. "Ambil uang itu sekarang juga."

Tangan Wati bergetar sehebat orang kedinginan. Jari-jarinya yang kasar dan pucat menyentuh ujung amplop dengan ragu.

"Apa yang harus saya lakukan, Nyonya Besar?" cicit Wati dengan suara nyaris menangis memohon ampun.

Sulastri tersenyum sinis, memamerkan kepuasan yang mengerikan. Ia membungkuk sedikit, mensejajarkan pandangannya dengan wajah pucat buruh cuci itu.

"Campurkan bubuk getah pinus busuk ini ke dalam wajan malam yang sedang dipanaskan Sumarni," perintah Sulastri mutlak. Ia melemparkan sebuah bungkusan kertas koran kecil ke atas tanah.

Wati menatap bungkusan itu dengan mata membelalak horor. Ia tahu persis akibat fatal dari benda tersebut. Getah pinus busuk akan membuat malam batik menjadi hancur, tidak bisa menempel pada kain, dan merusak serat sutra mahal secara permanen.

"Saya tidak berani, Nyonya," tolak Wati sambil menggelengkan kepala kuat-kuat. Keringat dingin sebesar biji jagung mengalir deras dari pelipisnya. "Nyonya Sumarni sudah sangat baik memberi kami pekerjaan dan jaminan makan."

Plak!

Satu tamparan keras mendarat telak di pipi kiri Wati. Rasa panas dan perih seketika menjalar membakar kulitnya. Bekas kemerahan berbentuk lima jari tercetak jelas di wajah kusamnya.

"Perempuan miskin tidak tahu diuntung!" maki Sulastri dengan urat leher menonjol penuh amarah. "Suamimu bekerja sebagai buruh linting di pabrik suamiku. Jika kamu menolak, aku pastikan dia dipecat hari ini juga!"

Napas Wati tercekat di tenggorokan.

"Kalian sekeluarga akan mati kelaparan di jalanan dan tidak ada satu pun orang di kota ini yang berani mempekerjakan kalian!" ancam Sulastri mengunci sisa kewarasan Wati.

Ancaman pemecatan itu adalah pukulan telak yang menghancurkan tulang punggung keberanian Wati. Dadanya sesak napas menahan isak tangis yang tertahan. Bayangan anak-anaknya yang kelaparan membuat akal sehatnya runtuh seketika.

Wati memungut bungkusan kertas koran dan amplop cokelat itu dengan tangan bergetar parah. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyerah pada kekuasaan kotor istri pertama sang majikan.

Tiga puluh menit berlalu sejak Wati berpamitan ke kamar mandi. Udara di halaman belakang paviliun semakin panas membakar ubun-ubun. Bau harum lilin malam terus menguar dari wajan tembaga yang mendidih pelan di atas kompor minyak tanah.

Sumarni duduk bersila mengawasi para pekerjanya dengan ketelitian tingkat tinggi. Insting tajamnya segera menangkap keanehan saat Wati kembali dan duduk menunduk di barisan paling belakang.

Wajah gadis belia itu seputih kapas mati. Bibirnya kering dan terus digigit cemas hingga sedikit berdarah. Tangannya yang memegang canting tembaga bergetar hebat hingga tetesan malam jatuh mengotori alas koran.

Ada tonjolan kotak yang sangat mencurigakan di balik saku daster pudar yang dikenakan Wati.

Layar sistem berwarna hijau neon tiba-tiba berkedip terang di sudut pandangan mata Sumarni. Cahayanya menyilaukan dan membawa peringatan darurat.

[Peringatan: Deteksi Anomali pada Anggota Aliansi. Tingkat Loyalitas Wati turun drastis menjadi 10 persen.]

[Analisis Ancaman: Terdapat benda asing pembawa kontaminasi kimiawi di radius dua meter. Potensi kerusakan material mencapai 100 persen.]

Mata Sumarni menyipit tajam menembus udara panas. Rasa pening di kepalanya seketika menguap hilang, tergantikan oleh ketegangan fokus yang luar biasa. Ia menyadari ada tangan kotor yang sedang mencoba menyusup masuk ke dalam benteng pertahanannya.

Sumarni tidak langsung berteriak atau menghakimi pekerja mudanya itu di depan umum. Insting editornya menuntut penyelesaian konflik yang jauh lebih elegan dan mematikan bagi sang dalang utama. Ia butuh panggung yang tepat.

Ia berdiri perlahan dari duduknya. Suara gemerisik kain kebayanya membuat Wati tersentak kaget dan nyaris menjatuhkan canting panasnya.

"Wati, kemarilah sebentar," panggil Sumarni dengan suara bariton yang sangat tenang dan bersahabat. "Bantu saya mengaduk malam di wajan utama ini. Suhunya harus dijaga agar tetap stabil merata."

Wati menelan ludah dengan susah payah hingga tenggorokannya terasa sakit. Ia bangkit berdiri dengan kaki gemetar hebat. Ia menyembunyikan bungkusan getah pinus busuk itu di telapak tangan kirinya yang basah oleh keringat dingin.

Langkahnya terasa sangat berat bak menyeret batu besar berantai. Saat ia berdiri tepat di depan wajan tembaga yang mengepul panas, jantungnya berdegup gila-gilaan. Ini adalah kesempatan satu-satunya untuk melakukan sabotase mematikan tersebut.

Sumarni berdiri tepat di samping Wati. Jarak mereka sangat dekat hingga Wati bisa mencium wangi melati dari tubuh majikan barunya itu.

"Masukkan pelan-pelan apa yang kamu genggam erat di tangan kirimu itu, Wati," bisik Sumarni tepat di telinga gadis itu. Nada suaranya sangat pelan, namun terdengar seperti dentuman guntur memekakkan telinga Wati.

Mata Wati membelalak horor. Wajahnya pias tak berdarah. Tangannya membeku kaku di udara, tepat satu jengkal di atas cairan malam yang mendidih.

Sumarni menangkap pergelangan tangan kiri Wati dengan gerakan kilat. Cengkeraman jari-jari Sumarni terasa sangat kuat dan dingin, mengunci pergerakan sabotase gadis itu sepenuhnya tanpa ampun.

"Kamu pikir aku tidak mencium bau busuk getah pinus murahan dari jarak sepuluh langkah?" desis Sumarni dengan senyum miring yang membekukan aliran darah.

Wati jatuh berlutut seketika menghantam lantai semen. Air mata ketakutan tumpah deras membasahi pipinya yang masih merah berbekas tamparan. Bungkusan koran itu terlepas dari genggamannya dan jatuh menggelinding ke sudut lantai.

Para pekerja lain menghentikan pekerjaan mereka serentak. Mereka menatap bingung ke arah keributan tersebut. Yu Inem segera berdiri dan melangkah mendekat dengan raut wajah tegang.

"Ampuni saya, Nyonya!" tangis Wati tersedu-sedu, memeluk kaki Sumarni dengan sangat erat. "Nyonya Sulastri mengancam akan memecat suami saya dari pabrik jika saya tidak merusak wajan malam ini."

Wati mengeluarkan amplop cokelat tebal dari saku dasternya dan meletakkannya di atas lantai dengan tangan bergetar. Pengakuan jujur yang diiringi isak tangis itu membuat Yu Inem dan ibu-ibu lainnya menggeram marah. Mereka merasa dikhianati dan diinjak-injak oleh kelicikan Sulastri.

Kemarahan tertahan meledak kuat di dalam dada Sumarni. Sulastri benar-benar tidak pernah belajar dari kekalahan sebelumnya. Istri pertama itu terus memancing peperangan kotor tanpa henti.

Namun, Sumarni menolak keras membiarkan amarah merusak akal sehatnya. Ia membungkuk perlahan, mengambil amplop berisi uang sogokan itu, dan menimbangnya di telapak tangan. Senyum kepuasan yang sangat mematikan mengembang di bibirnya.

"Jangan menangis, Wati," ucap Sumarni sambil menarik bahu gadis itu agar berdiri tegak kembali. "Uang ini adalah modal tambahan gratis dari Mbak Sulastri untuk memperbesar dapur bisnis kita."

Sumarni menoleh ke arah wajan tembaga yang terus mendidih mengeluarkan gelembung panas. Otaknya yang tajam telah merajut sebuah jaring perangkap yang sangat sempurna. Ia akan menggunakan kelicikan Sulastri untuk menghancurkan wanita itu sendiri di depan mata Tuan Harjono.

"Kita tidak akan membuang getah pinus busuk ini," perintah Sumarni kepada seluruh pekerjanya dengan sepasang mata menyala terang. "Kita akan menuruti keinginan Nyonya Sulastri dengan sangat patuh, namun aturannya menggunakan cara permainanku."

1
sukensri hardiati
aneh banget ni suryo....dia kan andil ngrusak lastri....
sukensri hardiati
klo sulastri lolos lagi....?
Dede Dedeh
d gantung........ /Scream/
sukensri hardiati: yg digantung ni ceritanya othor ato sulastri dek De....?
total 1 replies
sukensri hardiati
sulastri akhirnya divonis gila ...dan sekarang bebas?
sukensri hardiati
jangan php lah thor....
nanti tahu2 lastri bebas lagi....
sukensri hardiati
mbok berhenti manggil suamimu dengan anda to marnii.
sukensri hardiati
cinta buta rendra bener2 bikin dia nubras2....nunjang palang...eror parah...
sukensri hardiati
klo marni dah nyiapin cerutu ...berarti
dah niat nyelamitin bisnis suaminya...
gina altira
masih ada antek" Sulastri
Dwi Agustina
Boleh g sih berharap Sulastri cpt mati sajaaaaa tp novel ini g cpt tamat🥹🙏
INeeTha: trus antagonis nya siapa🤣🤣🙏
total 1 replies
gina altira
Harjono gercep,
gina altira
Masih ada kroco"Sulastri.
gina altira
nahhh,, gitu Hardjono,,
gina altira
untung sistemnya balik lagii
gina altira
Sulastri belom kapok
Dwi Agustina
Ih syukaaaaa bngt sama Sumarni 👍👍👍💪
SaRW
Yooo... yoooo..... Ratna bin Sumarni di lawan.... 😄
𝐀⃝🥀Weny
wiiih... jadi penasaran thor.. lanjut lagi dong😁
Siskasuryaningsih
👍, keren
Dede Dedeh
lanjuttttty
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!