NovelToon NovelToon
Pembalasan Seorang ART

Pembalasan Seorang ART

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Imen Firewood

"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.

Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.

Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.

"Hey!"

"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.

"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 35

Kilas balik.

Di dalam sebuah hotel mewah berpemandangan langit malam yang indah. Anya dan Bara tengah duduk bersama menikmati makan malam. Bernuansa city light yang indah di samping mereka.

Karena terlalu sering merasa Bara terus memperhatikannya, Anya bertanya.

"Hmm ... kenapa malah melihat ku terus? Katanya tadi lapar. Ingin cepat-cepat makan ..." kata Anya, merasa risih karena sedari tadi Bara terus memperhatikannya.

Bara lalu membuang pandangannya. Tidak menatap Anya lagi dan melanjutkan menikmati makanan yang telah Anya sediakan.

Selama mereka makan malam bersama, tidak ada percakapan yang terjadi. Hanya denting suara beberapa kali dari alat makan mereka yang terdengar.

Sampai, Bara kembali menatap Anya beberapa saat kemudian.

"Soal pekerjaan, aku bisa membantu mu," ucap Bara. Di tengah, Anya yang masih belum selesai memakan mie yang menggantung di mulutnya.

"Hm?" Kata Anya. Menoleh ke Bara seraya menjaga makanannya agar tidak membuat tersedak. "Pekerjaan?" sambung Anya lagi, memastikan perkataan Bara yang sudah membuatnya berharap.

Mendengar ucapan Bara, merasa ini adalah kesempatan yang bagus. Bagi Anya yang baru saja kehilangan pekerjaannya dari keluarga Adiwijaya.

Anya merasa, ini adalah harapan kecil. Melihat dari ekspresi Bara yang terlihat dingin dan datar seraya terus menikmati asik makanannya sendiri.

Tringg~

Suara dari alat makan Bara yang sengaja ia jatuhkan sedikit keras sebelum melihat ke arah Anya dengan tatapan dingin.

"Aku akan memperkenalkan mu besok. Dengan seseorang teman ku yang juga bekerja di perusahaan yang sama," ucap Bara, mengambil tisu dan mengelap sisa-sisa makanan yang berada di mulutnya.

"Apa kamu juga bekerja di perusahaan itu?" tanya Anya, sedikit penasaran tentang siapa Bara sebenarnya. Karena beberapa hal tentangnya, sempat dan masih membuat Anya bingung.

Masih dengan tisu Bara untuk menyeka mulutnya, ia kembali menatap Anya. Namun kali ini, dengan bibir ujung Bara yang sedikit mengkerucut. "Cih ... iyaa."

"Aku sudah mengabarinya tadi ..." kata Bara, langsung di potong dengan Anya yang masih mengunyah makanan.

"Hah? ... kapan?" balas Anya, sedikit kaget dengan mata yang agak membesar.

"Sewaktu kamu masak. Katanya, bagian sekertaris kebersihan lagi kosong ... aku merasa, itu cocok untuk kamu."

"Apa kamu mau?" tanya Bara. Yang langsung di sambut cepat oleh Anya tanpa berpikir panjang lagi.

Di tengah kondisi Anya seperti ini, mana mungkin Anya menolak tawaran pekerjaan di kota seperti ini. Apapun itu, asalkan pekerjaannya baik. Pasti Anya terima.

"Mau-mau ... mau!" balas Anya, mengangguk beberapa kali seraya menunjukan senyum sumringah untuk Bara.

Keesokan harinya ...

Bara yang baru saja terbangun dari tidurnya merasa kaget, karena diatas tubuhnya mendapati selimut yang tidak ia tahu siapa yang memberinya. Dan jujur, selimut itu yang membuat Bara merasa tidak dingin saat tidur diatas sofa.

"Ini ..." gumam Bara pelan, seraya melihat dan memegang selimut yang bersarang di tubuhnya.

Bara beranjak bangun dari sofa. Berjalan perlahan menuju dan melihat Anya yang masih tidur di sebuah kasur mewah besar. Karena lauk sisa makan malam mereka masih ada, Bara mulai menghangatkan kembali dan menyiapkan masakan Anya diatas meja makan.

Sinar hangat mentari pagi, masuk tanpa permisi menerpa kulit Bara yang sedang memasak di pantry. Setelah semuanya selesai, Bara bergegas menyiapkan pakaian ganti untuk Anya bekerja hari ini.

"Ku kira hanya beruang yang bisa tidur lama saat hibernasi, ternyata ada juga yang lain," kata Bara, seraya melihat Anya yang sedang tidur dengan sangat pulas.

Bara kembali melanjutkan menata masakan keatas meja makan yang belum sempat ia pindahkan dari pantry.

Di saat itu juga, Anya terbangun. "Hoamm ..." Anya menguap, merenggangkan seluruh tangannya ke atas dengan mata yang masih terpejam.

"Baru kali ini, aku merasa tidur sangat nyaman," ungkap Anya. Ketika ia membuka mata, sebuah pakaian kerja kantoran terletak di tepu kasurnya. Dan ia langsung teringat perkataan Bara semalam.

"Ini ... apa dia yang menyiapkan?" gumam Anya pelan, menyapu pandangannya mencari sosok Bara yang terlintas di pikirannya.

Ketika sedang sibuk menyiapkan makanan di atas meja, Bara menyadari Anya baru saja bangun dari tidurnya. Dan keluar membawa baju yang ia ambil.

"Kamu bisa memakai itu untuk hari pertama mu bekerja."

Kalimat itu keluar ketika Bara sekilas sudah melihat Anya, ia dengan cepat kembali menata masakan berbicara tanpa melihat Anya lagi.

"Hmm?" kata Anya, mendadak kaget mendengar ucapan Bara yang sedikit membuatnya merasa kesal di pagi hari.

"Bisa nggak sih, kalau bicara tuh ... liat orangnya, emangnya aku patung apa?" gerutu Anya pelan di dalam hatinya, ketika melihat tingkah Bara yang berbicara sambil membelakanginya.

"Ada apa?" tanya Bara tiba-tiba berbalik badan. Dari kejauhan pandangannya, ia seperti merasakan sesuatu dari sorot mata Anya yang melihatnya kini.

"Ah, tidak ... tidak apa-apa."

"Kalau begitu, lekas mandi. Aku menunggu di meja makan, setelah itu baru kita berangkat bersama," sahut Bara, dengan nada bicara dan tingkah yang sama tidak melihat Anya saat berbicara.

"Baik!" jawab Anya cepat, seraya melihat Bara yang sudah siap duduk memandang langit kota yang indah. Walau rasa kesalnya masih terasa, Anya hanya bisa menahannya sendiri sambil berjalan kearah kamar mandi.

Beberapa saat kemudian. Setelah Anya selesai dari dalam kamar mandi dan mengenakan pakaian kerja yang di berikan oleh Bara. Anya berjalan perlahan keluar dari kamar menuju meja makan tempat Bara menunggu.

Tap ...

Tap ...

Tap ...

Padahal, Anya hanya mengenakan baju kemeja putih polos dan rok rutu pendek berwarna hitam. Dengan rambut panjangnya yang di gerai ke belakang dan sedikit poni yang terbelah.

Aura kecantikan Anya, menyebar setiap kali Anya mendekatkan diri kearah Bara yang terus memandanginya tanpa sadar. Sampai, lamunan itu buyar. Ketika kini Anya tengah duduk bersebrangan dengan Bara.

"Ada apa?" tanya Anya pelan. Seraya membenarkan kursi dan posisi duduknya.

Bara kehabisan ide. Ia tidak tahu harus merespon bagaimana. Hingga, ia tiba-tiba mendadak kikuk seraya membuang pandangannya kearah jendela di sampingnya.

"Tidak ada," jawab Bara dingin. Berusaha menetralkan ekspresi di wajahnya yang tanpa ia sadar sedikit memerah.

"Waah ... kamu membuat semua ini?" tanya Anya, yang merasa kagum saat baru pertama kali menemukan keahlian Bara. Matanya sedikit membesar saat melihat berbagai macam masakan yang sudah siap di hadapannya.

"Ini masakan kamu yang semalam. Aku hanya menghangatkan saja ... cepat habiskan, aku tidak ingin terlambat di hari pertamamu bekerja," ujar Bara dingin. Dengan tatapannya yang sama sekali tidak ingin melihat Anya terlalu lama.

"Aku kira ... aku baru saja menemukan satu keahlian mu ..." celetuk Anya tiba-tiba tanpa ia sadar membuat Bara menatapnya.

"Apa?" sambung Bara cepat karena merasa tersindir.

"Ah, tidak-tidak. Aku akan habiskan ... terimakasih, selamat makan~" Anya langsung bergegas mengambil alat makan. Mengalihkan pikiran Bara agar tidak berpikir yang aneh-aneh.

Ketika melihat Anya makan dengan lahap, tiba-tiba saja sebuah senyum kecil muncul di wajah Bara. Itu terjadi tanpa sepengetahuan Anya yang terus di pandangnya.

1
falea sezi
lanjuttt
Imenfirewood: Waah, terimakasih banyak ya, kak, udah mau membaca cerita ini. Mulai sekarang, ceritanya akan update setiap hari di jam 7 pagi. Pastikan kakak udah follow biar nggak ketinggalan cerita seru dari Anya. Terimakasih~ Luv!
total 1 replies
falea sezi
kpn mereka bangkrut🤣 ngemis klo. perlu sebel q
Imenfirewood: Kamu udah baca sampai sini?
total 1 replies
falea sezi
majikan laknat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!