Sepuluh tahun lalu, tragedi berdarah menghancurkan keluarga Samudra. Langit Bumi Samudra (7 tahun) tewas dalam sabotase kecelakaan mobil, sementara adiknya, Cakrawala Bintang Samudra (3 tahun) dinyatakan hilang dan dianggap tewas juga oleh publik. Nyatanya, Sang Kakek menyembunyikan Cakra di luar negeri dengan identitas rahasia demi melindunginya dari musuh.
Kini, Cakrawala kembali sebagai pemuda tampan dan jenius. Di bawah nama samaran Gala Putra Langit, ia menyusup ke dunianya sendiri sebagai mahasiswa biasa. Ia harus menghadapi pengkhianatan Om dan Tantenya sendiri yang haus harta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebanggaan
Malam hari di unit apartemennya yang sunyi, Gala baru saja selesai membersihkan diri. Ia mengenakan kaus oblong putih santai dan celana pendek hitam. Setelah meletakkan secangkir cokelat hangat di atas meja kerja, ia membuka laptopnya. Sebuah notifikasi panggilan video terenkripsi khusus dengan logo jangkar Samudra berkedip di layar. Gala tersenyum miring, lalu menekan tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.
Layar laptopnya terbagi menjadi dua bagian. Sisi atas menampilkan Kakek Wijaya yang duduk di kursi kebesarannya di mansion utama, lengkap dengan Pak Surya yang berdiri tegap di belakangnya. Sementara di sisi bawah, terlihat Papa Baskara dan Mama Shinta yang sedang duduk bersama di ruang keluarga mereka.
"Malam, semuanya," sapa Gala dengan nada slengean, melambaikan tangannya ke arah kamera web laptop.
"Tumben nih formasi lengkap. Ada rapat darurat keluarga konglomerat?"
"Kurang ajar kamu, Gala. Menyamar jadi mahasiswa beasiswa malah membuat Kakekmu ini hampir jantungan karena bangga," sahut Kakek Wijaya dengan kekehan berat yang sangat berwibawa.
Matanya yang tajam tampak berbinar-binar gembira. "Surya baru saja memberikan laporan utuh dari mata-mata kita di rektorat. Kamu membedah pergerakan short selling Vane & Co di bursa London di depan dekan? Gila kamu, ya!"
Papa Baskara ikut tersenyum lebar, menyandarkan punggungnya sembari melipat tangan di dada. "Papa bahkan mendapat telepon langsung dari Dr. Firmansyah sore tadi, Gala. Tentu saja dia menggunakan jalur formal perusahaan. Dia bilang, ada mahasiswa baru jalur beasiswa bernama Gala Putra Langit yang analisis makroekonominya jauh melampaui seluruh dosen senior di fakultas. Dia meminta Papa untuk memantau bakatmu agar bisa langsung ditarik ke kantor pusat setelah lulus nanti."
Gala tertawa lepas mendengar penuturan ayahnya. "Hahaha! Serius, Pa? Terus Papa jawab apa?"
"Papa jawab dengan formal," sahut Papa dengan kerlingan mata jenaka yang jarang ia tunjukkan.
"Papa bilang, Samudra Group selalu mengawasi aset-aset terbaiknya. Dr. Firmansyah sama sekali tidak tahu kalau dia sedang memujimu di depan ayah kandungmu sendiri."
Di sebelah Papa Baskara, Mama Shinta tampak menatap layar laptop dengan mata yang berkaca-kaca penuh haru. Senyum manisnya terpancar jelas. "Cakra... ah, Gala maksud Mama. Mama sangat bangga mendengarnya. Tapi, waktu kamu menjelaskan data serumit itu, teman-temanmu tidak ada yang curiga, kan? Mama selalu khawatir penyamaranmu terbuka sebelum waktunya."
Gala memajukan tubuhnya, menopang dagunya dengan tangan, lalu menatap wajah mamanya dengan lembut lewat kamera. "Aman, Ma. Ada Aluna, cewek pintar itu dia memang sempat curiga dan nanya-nanya. Tapi Adit langsung bantu mengalihkan perhatian pakai candaan. Gala juga beralasan kalau cuma baca forum ilegal di internet. Mereka percaya, kok."
"Aluna Pradipta," Kakek Wijaya menaikkan sebelah alisnya, mengetuk meja kerjanya perlahan.
"Anak dari Hendra Pradipta? Dia memang gadis yang sangat jeli. Ayahnya adalah mitra bisnis kita yang paling jujur. Jaga hubungan baik dengannya, Gala. Tapi tetap, jangan buka topengmu dulu."
"Iya, Kek. Gala tahu batasannya," jawab Gala tegas, mengubah raut wajah santainya menjadi penuh keseriusan seorang calon pewaris.
"Om Bramantyo pasti makin tertekan setelah mendengar berita ini. Kenzo diskors, sementara anak beasiswa yang mereka benci malah dipuji oleh dekan."
Pak Surya, yang sejak tadi diam di belakang Kakek Wijaya, akhirnya melangkah maju sedikit agar wajahnya tertangkap kamera. "Tuan Muda, Gala, intelijen kita mendeteksi bahwa Tuan Bramantyo mulai panik. Pergerakannya memindahkan aset anak perusahaan semakin agresif hari ini. Tampaknya, kesuksesan Anda di kelas tadi membuat dia merasa waktu miliknya di Samudra Group semakin sempit."
Papa Baskara mengangguk setuju dengan laporan Pak Surya, wajahnya kembali mengeras penuh wibawa. "Benar. Dia akan semakin nekat. Tetap waspada di kampus, Gala. Biarkan mereka membuat kesalahan sendiri karena panik. Begitu mereka melewati batas, kita akan menjatuhkan skakmat sekalian."
"Siap, Pa. Gala akan terus memantau mereka," ucap Gala dengan senyum miring yang penuh percaya diri.
Pembicaraan malam itu berlanjut dengan kehangatan sebuah keluarga yang telah lama berpisah oleh tragedi. Di balik penyamarannya yang sederhana sebagai Gala Putra Langit, dukungan penuh dari tiga pilar utama Samudra Group mengalir tanpa henti, siap membakar hangus para serigala yang mencoba merebut takhta mereka.