NovelToon NovelToon
DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mia AR-F

Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.

" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.

Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.

_

Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

07 : Mandor tumbal

Naya yang masih di perjalanan pulang tiba-tiba berhenti. Di tangan kanan dia hp batre 9%, di tangan satunya kertas kontrak lecek. Dia tidak berani menelepon Salsa di kontrakan karna takut akan ada yang mengadu kepada Pak Dermawan, bosnya.

Dia buka kontak, pencet Kak Salsa lalu menghubungi dan untungnya berdering.

Nada sambung, berdering.

'Haloo,' suara Salsa yang terdengar belum tidur menjawab telepon.

"Kak, aku mau resign," suara Naya pelan.

"Kamu gila?" langsung semprot Salsa. "Kakak aja belum ada seminggu balik. Kamu tau kan kalo Kakak mau istirahat, dan sebentar lagi mau buka usaha buat buka toko?"

Naya nelan ludah. Air matanya udah ngumpul hampir jatuh, "Kak... aku nggak kuat kerja di rumah makan Dermawan..."

"Nggak kuat? Nggak kuat apanya?" suara Salsa makin naik, "Kakak kerja selama 6 tahun cuman buat bangun usaha ini. Nggak gampang kerja sama orang, tapi memang begitu! Kakak pernah kerja jadi pembantu orang, tidur di gudang, makan sisa majikan, tapi apa Kakak pernah ngeluh?"

Naya nangis. Nggak bersuara. Cuma air mata netes ke layar hp.

"Yang penting kamu makan, Dek!" Salsa lanjut. "Kamu tinggal bareng Om, bareng Tante. Kalo bukan karna Kakak ngasih uang, nggak bakal mereka mau nerima kamu! Mereka minta tf ini tf itu, Kakak kasih. Buat apa? Buat kamu!"

Naya sesenggukan. Mau jelasin soal kontrak kerja, gentong, nametag, chat mati, kunci tergelinding, tapi mulutnya beku.

"Dan sekarang kamu udah dewasa," suara Salsa nggak melunak. "Udah mulai kerja juga di rantau orang. Masa belum seminggu udah mau nyerah? Mikir lah kau, Dek."

"Kak..." Naya nyoba nyela.

"Kakak dulu udah hampir mati kerja di rantau orang," potong Salsa. "Hampir nggak makan. Tidur cuma 3 jam. Dilecehin mandor. Tapi Kakak tahan. Karena Kakak tau, pulang kampung artinya nggak punya apa-apa."

Naya nutup mulut pake tangan.

"Selagi nggak mati kau di tanah rantau, berjuanglah cari jalanmu sendiri di sana," ujar Salsa dengan tegas.

TUT... TUT... TUT...

Sambungan mati sepihak.

Naya natap layar.

Panggilan berakhir 00:01:43

Batrenya sisa 7%.

Senyap.

Naya kembali melanjutkan langkahnya pulang. Membuka pintu mess yang sudah sepi. Naya ngejatuhin hp ke lantai. Terus nangis. Beneran nangis. Nggak ditahan. Bahunya guncang, tapi nggak ada suara agar yang lain tidak terbangun karna tangisnya.

Di kepala Naya muter semua.

30 juta. Kunci paku. Kata-kata nyelekit Pak Dermawan. Nametag NAYA. BUG! dari laci.

Semua bener. Kakaknya nggak nolong. Bos nggak lepasin. Om Tante nerima dia karena dibayar. Nggak ada rumah buat pulang.

Naya ngejatuhin hp ke lantai. Terus nangis. Beneran nangis. Nggak ditahan. Bahunya guncang, tapi nggak ada suara agar yang lain tidak terbangun karna tangisnya.

KREK.

Pintu kamar kebuka pelan. Rosa.

Rosa menjulurkan tangannya pada Naya yang menerima uluran tangan itu. Naya berdiri di bantu oleh Rosa.

Rosa pake daster tidur, rambut diiket asal. Matanya sembab kayak habis nangis, atau habis tidur. Melihat Naya jongkok di lantai, nangis nggak bersuara, hp sama kertas kontrak berceceran.

"Kamu kenapa?" Tanya Rosa.

Naya mendongak. Mukanya basah, mata merah. Dia mau jawab, tapi cuma bisa nunduk lagi. Malu.

Rosa jongkok. matanya melihat kertas kontrak lecek di lantai. PASAL 13. Angka 30 juta.

Rosa tentu kaget, "Udah ngomong sama Pak Dermawan?"

Naya ngangguk. Masih sesenggukan, "Udah... Enggak... Enggak bisa..."

"Hm."

Rosa ambil hp Naya dari lantai. Layar retak dikit. Batrenya 6%. Dia matiin, terus ngambil kertas kontrak, dilipet rapi.

"Ayo ke kamar. Jangan disini." Ajak Rosa.

"Kontrak kerja ini jangan sampe hilang." Rosa mengingatkan.

Mereka berdua pun udah di kamar sekarang, duduk di pinggir kasur.

"Kamu... kamu udah lama di sini, Sa?" suara Naya serak.

Rosa nggak langsung jawab. Dia liat ke pintu, mastiin nggak ada siapa-siapa.

"Setahun lebih." Bisiknya.

"Terus... terus kok betah?"

Rosa ketawa. Pendek. Pahit. "Siapa bilang betah."

"Terus kenapa nggak kabur?" Naya nekat nanya.

Rosa diem lagi, "Karena kabur lebih mahal dari tinggal."

Naya teringat sesuatu, " Tapi... Tapi... Sari... chat itu..." Naya udah nggak peduli ketauan. Dia butuh seseorang yang ngerti.

Rosa langsung nyekap mulut Naya. Cepet. Matanya melotot. "Ssst. Jangan sebut nama itu."

Tangannya dingin. Gemeter. Tapi bukan karena takut sama Naya. Takut kedengeran. Karna Rosa tahu akan ada yang mengadukan percakapan mereka.

Rosa lepasin tangan.

"Di sini tembok ada kuping. Laci ada mata. Kalau mau nangis, nangis di dalem selimut, jangan sama orang."

"Termasuk sama kamu?" Naya nanya lirih.

Rosa natap Naya. Cukup lama.

Akhirnya Rosa berdiri.

"Udah. Tidur. Besok kamu giliran kamu lembur karna Abel gak datangp. Kamu jangan sampe telat. Kalau telat, yg rugi bukan cuma kamu." Ujar Rosa ingin keluar kamar, dia mual sampai harus menutup mulutnya agar muntahannya tidak keluar.

"Sa," panggil Naya pelan.

Rosa berhenti. Nggak noleh.

"Makasih... Udah peduli."

Pundak Rosa naik turun. Sekali. Kayak nahan napas. Terus dia keluar. Tutup pintu.

Naya sendirian lagi. Tapi kertas kontrak udah nggak lecek. Udah dilipet rapi.

Di balik pintu kamar mandi, kedengeran suara air. Rosa muntah di kamar mandi. Pelan. Mengeluarkan semua isi perutnya.

Dia ngelap kasar mulut pake tangan. Napasnya putus-putus. Di mata masih kebayang kertas kontrak Naya. 30 juta, dan juga tangisan Naya.

'Makasih... Udah peduli.'

Teringat suara Naya.

Namun di sisi lain, Rosa ingat perbincangannya dengan Abel tadi siang.

Abel nyegat tangan Rosa yang sedang mencuci piring. Mukanya sembab. Hp masih di tangan. Layar sudah retak, chat vonis mati masih kebuka.

'Giliran kamu. Kamu yang akan mati. Abel.'

"Rosa.." Suara Abel pecah, "Tolong aku, Sa..”

Rosa nggak noleh. Tangan tetep gosok wajan, "Kenapa?"

"Chat ini... Pak Dermawan yg ngirim kan?" Abel sesenggukan, "Aku takut, Rosa. Aku nggak mau kayak Sari..."

Rosa diem. Dia teringat akan Sari.

"Rosa." Abel ngejatuhin diri megang kaki Rosa, memohon, "Tolong... Ganti aja sama Naya. Dia baru. Dia nggak tau apa-apa. Dia lebih gampang..."

Tangan Rosa berhenti gosok wajan. Air keran masih ngucur. Kedua matanya melotot kaget, darimana Abel tahu?

"Dia nggak punya siapa-siapa juga, dia yatim piatu." lanjut Abel. "Kakaknya aja nggak peduli. Kalo dia yg mati, nggak ada yg nuntut. Kalo aku... Ada ibu di Cianjur..."

Rosa pelan-pelan nutup keran. Hening.

Dia jongkok. Natap Abel.

"Darimana kamu tau?" Tanya Rosa serius.

"Teh Intan." Jawabnya.

Rosa membuang wajah benci, tentu saja Intan tahu kalo Rosa adalah mandor tumbal di Rumah Makan Dermawan. Intan pernah kerja di sana, tidak terikat kontrak kerja tapi terikat sumpah mati sebagai budak Pak Dermawan yang menjadi pengawas mereka di mess ini.

Di ingatan Rosa ada Wulan yang juga pernah melakukan hal seperti ini.

Rosa gigit bibir sampe berdarah. Tangannya gemeter mengingat semua masalalunya yang mengorbankan orang lain demi keselamatannya.

"Iya," akhirnya Rosa bisik. Cepet. Kayak takut didenger tembok.

"Iya, Naya aja." Jawab Rosa tidak ingin kejadian yang terjadi pada Wulan terulang lagi kepada Abel. Kejadian yang hanya dia sendiri yang tahu.

Abel nangis kenceng. Nempel ke Rosa, "Makasih, Sa... Makasih..."

Rosa nepuk punggung Abel. Sekali. Kaku, "Tapi kamu diem. Jangan bilang siapa-siapa. Anggep chat itu dari orang iseng. Besok kamu pura-pura sakit. Jangan datang ke rumah makan dulu."

Abel ngangguk-ngangguk. Paham.

Rosa melihat kaca di depannya yang memantulkan dirinya. Matanya merah. Bukan karena nangis tapi karena benci dengan apa yang di perbuatnya sendiri.

Dia ngomong sama bayangannya sendiri, pelan banget, "Gue udah 4x narik orang. Sari. Wulan. Dinda. Yuni. Sekarang Naya... Lima."

Rosa memukul wastafel.

Prang!

"Gue mandor tumbal, bukan malaikat, gue iblisnya." desisnya, "Gue gak nyelamatin Abel, gue cuman nyelamatin diri gue sendiri. Naya... Naya lagi sial aja karna dia yatim piatu dan emang bagusnya jadi tumbal."

Dia kumur. Buang air. Ngelap muka.

Pas buka pintu kamar, Naya udah tidur megang kertas kontrak yg udah dilipet. Di pipinya masih ada bekas air mata.

Rosa berjalan ke kasurnya. Tidur di sebelah Naya. Dia rebahan. Miring. Membelakangi Naya.

"4 hari lagi." Desis Rosa mengingat tanggal 13 akan terjadi sebentar lagi, hari keramat dia akan menumbalkan seseorang lagi selama 3 bulan sekali.

Namun disisi lain, pikiran Rosa masih tertuju kepada sosok mendiang adiknya, Nina.

1
Sarah
Btw thor, tandain dulu ini ceritanya udah tamat pake label end. 👍
Sarah
REVIEW: “Dhahar: Jangan Mati di Rantau Naya”
Hasil rekomendasiku secara pribadi: Cocok untuk yang pengen baca horor tapi singkat. Suka alur cepat. Atau gak terlalu mentingin narasi yang penting ceritanya bagus.
Banyak banget yang mau aku ungkapin. [Kemungkinan bakal kepanjangan komennya. Jadi kelanjutannya aku lanjutkan di komen]

Cerita: Menarik. Tadinya kukira suasananya bakal penuh kecurigaan, ternyata tetep friendly dan asik. Langsung bikin penasaran di bab 1.

Pacing: Enak dibaca. Kupikir 10 bab awal bakal penuh ketegangan yang kayak mainin tensi aja. Eh ternyata langsung masuk konflik berat. Padahal biasanya horor/thriller pelan-pelan baru menuju konflik. Tapi karena ceritanya emang mau dibuat pendek, pacing segini udah pas.
Karakter: Ditulis bagus banget, berasa manusia dan punya hati. Beda sama cerita sejenis MC kerja di tempat gak bener dan seringkali semua karyawannya juga jahat selain MC, di sini mereka korban keadaan (kecuali Rosa, Zuan, Gian, dll yang memang pilih salah).
Sarah: Sad ending, Naya mati dan Pak Dermawan makin sakti. Lebih mending gini daripada ceritanya gantung, setidaknya kita tau akhirnya gimana. Cuma sayang:

1. Gak ada reaksi Kak Salsa pas Naya meninggal. Padahal dia keluarga dan punya porsi cerita yang cukup banyak menuju ending.

2. Momen Naya menyerah lalu kendali sepenuhnya pada Sari hingga Naya jadi mati itu poin KRUSIAL BANGET. Tapi malah cuma diceritain lewat dialog. Jadinya berasa jauh dari tokoh utama, padahal menuju akhir Naya udah jarang muncul. Harusnya kita bisa lebih ngerasa dekat sama dia, kan dia tokoh utama dan ceritanya tentang dia. Meskipun aku gak bilang keputusan untuk gak memunculkan momen itu adalah salah. Cuma berasa kurang aja bagiku pribadi.

KESIMPULAN DARIKU PRIBADI: ⭐⭐⭐⭐⭐
Singkat tapi worth it. Bagus. Semangat untuk karya kedepannya. 💪😊
total 2 replies
Sarah
Ending kah? Meskipun sad ending, jujur aku lebih lega. Maksudku... aku pas kemarin lihat bab yang terpublikasi cuma bab 25. Jadi aku pas kemarin udah, “Hah... cliffhanger... ” Jujur aja, meskipun sedih Naya mati... tapi aku lebih benci Cliffhanger (ending gantung) daripada sad ending meskipun aku juga maunya happy ending. Soalnya kalau cliffhanger tuh bikin kayak... ‘Arghhhh!’ gitu. Jadi, terimakasih sudah melanjutkan sampai bab 27. Aku seneng banget tadi pagi karena rupanya endingnya bukan di bab 25. 🙏🏼😭
Sarah: Iya... ssebenarnya masih ada yang jadi pertanyaan sih. Jadi agak cliffhanger juga. Cuma kayaknya lebih ke sad deh soalnya kalau MC mati yaudah... MC kalah, villain menang. Dan ya... tentang salsa itu emang salah satu kekurangan terbesar ending ini sih. Makanya aku juga udah kasih rating + review panjang banget dan bahasa kekurangan ending.
total 6 replies
Sarah
Jujur, chemistry mereka emang gak sedalam itu... tapi ada... jadi sedih juga sih. Enggak, jauh sebelum bab ini, sejak bab dimana mereka saling adu mulut... aku udah ngerasa sedih sih. Karena melihat gimana mereka di 7 bab awal tuh kayak... manis banget.
Sarah
Kan di sini dia berharap bisa lebih terbuka... atau melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya...
Tapi emang ada caranya? Emang gak ada caranya... atau ada caranya tapi Rosa udah nyerah dan takut ambil resiko??
Sarah
😢
Sarah
...
Sarah
Balik ke setelan pabrik.
Sarah
Gak perlu lagi, Naya-nya emang udah mati, sayang.😭😩
Tapi... ini Abel dengan kesadaran penuhnya sendiri? Kalau Teh Intan taju Naya mati... harusnya dia berhenti ’kan?? Atau dia gak tahu tapi bohongin Kak Salsa doang? Hmmm...
Sarah
Yeyyyy!
Sarah
Rasa bersalah yah?
Sarah
Menurutku... itu lebih ke jasadnya doang sih yang digerakkan. Jiwanya harusnya udah gak ada. Tapi kalau itu emang cuma jasad... bukannya jasad Nesya ditemukan tidak utuh di taman? Harusnya masih ada di sana... ’kan?? Atau mungkin...! Ini tubuh ciptaan aja gitu? Semacam tubuh baru/wadah baru. Tapi modelnya Nesya.
Anyue: bisa jadi authornya bingung mau pakai tubuh siapa 😁
total 1 replies
Sarah
Ah, aku masih inget banget momen ini. Dan suka kalimatnya Nesya.
Sarah
Zuan...! 💢💢💢
Sarah
Buat apa pula... Si Zuan buang dia ke Taman Bermain? Ya kan meskipun nyari bukti mereka susah tapi kan jadi ketahuan Nesya mati... rada-rada pea juga ini Si Zuan. Tapi kalau buat pembaca seperti gue...
baguslah, setidaknya ada yg tahu Nesya mati. 😃😭
Sarah
Jujur, kasihan pacarnya sih... karena Si Rosa-nya... yah... tau sendirilah...
Sarah
Kok dia gak kenapa-napa meski ngasih rahasia itu? Gak ada bunyi... “TENG!” sialan itu. Apa karena dia membuat kontrak dengan
iblis? Atau karena apa?
Sarah
Tumben baik mau ngasih info.
Sarah
Btw, Thor. Ini serius tamat besok? Habis pas baca bab ke sini-sini rasanya kayak... belum ketemu titik terang buat resolusi konfliknya. Takutnya nanti jadi tamat terburu-buru dan endingnya jadi... apalah pula. Jujur takut sih. 😩
Sarah: Jujur takut sama endingnya. Karena gue belum melihat jalur resolusi/penyelesaian konflik. Tapi semangat. 😩
total 2 replies
Sarah
Mungkin ini “Nesya” dalam tanda kutip. Kayak bayangan gitu kah? Nesya palsu?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!