NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Xiao Chen

Jalan Pedang Xiao Chen

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Di tengah kehidupan yang penuh hinaan dan kesulitan, Xiao Chen kecil hanya memiliki satu mimpi—menjadi pendekar pedang terhebat di dunia.

Tanpa bakat luar biasa maupun latar belakang kuat, ia menapaki jalan pedang dengan tekad yang tak pernah padam. Bagi Xiao Chen, pedang bukan sekadar senjata, melainkan guru yang mengajarkannya tentang rasa sakit, pengorbanan, dan arti kehidupan.

Namun di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mampukah seorang anak dari keluarga buruk mengukir namanya hingga mengguncang langit dan bumi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Kilasan masa lalu

Setelah dentang lonceng raksasa itu mereda, atmosfer di puncak gunung berubah menjadi dingin yang mencekam.

Xiao Chen merasakan jantungnya berdegup kencang, namun bukan karena kelelahan, melainkan karena pedang hitam di dalam jiwanya bergetar dengan frekuensi yang menyakitkan.

​"Tahan aura itu, bocah bodoh! Jangan biarkan setetes pun bocor keluar jika kau masih ingin melihat matahari besok!" Suara Roh Pedang terdengar getir, ada nada ketakutan yang belum pernah Xiao Chen dengar sebelumnya. "Simpan teknik tebasan itu dalam-dalam. Ada orang di tempat ini yang pernah memburu pemilik asli pedang ini ribuan tahun lalu. Sekali kau terdeteksi, kau akan menjadi abu sebelum sempat berkedip!"

​Di titik tertinggi Sekte Pedang Langit, sebuah aula yang seolah menyentuh bintang-bintang berdiri dalam keheningan yang sakral.

Di tengah ruangan, ribuan pedang kuno tertancap di lantai batu, membentuk formasi melingkar.

​Seorang pria tua dengan rambut putih yang menjuntai hingga ke lantai perlahan membuka matanya.

Setiap helai rambutnya tampak seperti benang perak yang tajam. Saat ia terbangun, ribuan pedang di sekitarnya bergetar serentak, mengeluarkan suara denting logam yang memekakkan telinga.

​"Patriark! Apa yang terjadi sehingga Anda menghentikan kultivasi tertutup Anda?" tanya seorang pria paruh baya, Pemimpin Sekte yang kini bersujud dengan tubuh gemetar.

​Sang Patriark tidak menjawab. Pandangannya menembus dinding aula, menembus awan, dan berhenti tepat di kerumunan murid baru di platform bawah. Matanya yang keruh tampak mencari sesuatu.

​"Aura itu... tidak mungkin salah," gumam sang Patriark. Namun, ia kembali memejamkan mata. Aura yang ia rasakan terlalu samar, seolah-olah pemiliknya sedang berusaha keras menyembunyikannya. "Awasi semua murid baru tahun ini. Terutama mereka yang memiliki aura pedang yang 'berbeda'."

​Di platform utama, para Tetua mulai mengumpulkan peserta yang tersisa. Wajah mereka yang tadinya penuh senyum kini berubah menjadi kaku dan penuh penilaian.

​"Pembagian murid akan segera dimulai!" seru seorang Tetua dengan suara menggelegar.

​"Peserta yang melewati dua ratus tangga ke atas, maju! Kalian adalah Murid Inti." Kelompok ini terdiri dari para jenius berpakaian sutra, termasuk beberapa anak bangsawan yang berjalan dengan angkuh. Mereka akan menerima pil-pil suci dan bimbingan langsung dari para tetua hebat.

​"Peserta yang melewati 150 hingga 199 tangga, kalian adalah Murid Dalam." Mereka adalah kelompok berbakat yang akan mengisi posisi penting di masa depan. Feng Lin berdiri di barisan ini, wajahnya penuh kepuasan.

​Tetua itu kemudian menatap sisa peserta dengan tatapan dingin, seolah-olah melihat tumpukan sampah yang harus segera disingkirkan. "Dan bagi kalian yang hanya mencapai 50 hingga 100 tangga... kalian masuk ke Murid Luar."

​Xiao Chen berdiri di sana. Ia masuk ke faksi terendah bukan hanya karena jumlah anak tangganya, tapi karena para tetua melihat "akar spiritual"-nya yang tampak keruh dan latar belakangnya yang hanya seorang anak desa yang miskin.

​"Haha! Sampah tetaplah sampah," Feng Lin tertawa keras saat melewati Xiao Chen menuju paviliun Murid Dalam. "Nikmatilah tidur dengan kecoak, Xiao Chen!"

​Bao Hu menepuk pundak Xiao Chen dengan tangan gemuknya. "Sepertinya kita seangkatan, Bung. Murid Luar bukan akhir dari segalanya. Setidaknya kita punya tempat untuk berteduh."

​Para murid diperintahkan melakukan segel tangan bersama. Sebuah gerbang raksasa yang terbuat dari energi murni terbuka di hadapan mereka. Xiao Chen terpana saat melangkah masuk.

​Di depan matanya membentang aula raksasa yang seolah dipahat dari satu bongkah batu gunung. Air terjun spiritual mengalir dari puncak yang tak terlihat, membiaskan pelangi abadi.

Ia melihat murid-murid senior terbang melesat dengan pedang, arena duel yang dipenuhi ledakan energi, dan menara kitab yang menjulang tinggi hingga menembus awan.

​Dunia yang dulu hanya ia dengar dari dongeng penyair, kini berdiri nyata di depannya. Namun, kemegahan itu segera sirna saat mereka diarahkan menuju area Murid Luar.

​"Inilah tempat kalian," ucap seorang murid senior dengan nada malas.

​Pemandangannya berubah drastis. Asrama yang disediakan hanyalah bangunan kayu reyot yang berderit ditiup angin.

Makanannya tampak kasar, dan mereka langsung diberikan daftar pekerjaan mulai dari mencangkul kebun herbal hingga membersihkan kandang hewan tunggangan sekte.

​"Selamat datang di dasar rantai makanan," gumam seorang senior yang sedang bersandar di paviliun atas, menatap rendah ke arah mereka.

​Saat murid senior itu pergi, sekelompok pemuda berusia sekitar 15 tahun mendekat. Wajah mereka penuh seringai nakal yang menyimpan ancaman.

​"Hei, lihat. Kita kedatangan adik-adik baru yang segar," salah satu dari mereka, yang bertubuh jangkung, maju ke depan. "Serahkan sebagian perbekalan atau uang yang kalian bawa dari rumah. Anggap saja ini biaya 'perlindungan' dan cara menghormati senior."

​Murid baru lainnya gemetar ketakutan, beberapa mulai mengeluarkan koin mereka. Namun, Xiao Chen tetap diam, matanya menatap lurus tanpa rasa takut sedikit pun.

​Senior jangkung itu merasa tertantang oleh tatapan Xiao Chen. Ia melihat bungkusan kain di pinggang Xiao Chen, bekal pemberian ibunya. "Sepertinya kau punya barang bagus di sana, berikan padaku!"

​Saat tangan senior itu hendak menyambar bungkusan tersebut, Xiao Chen bergerak. Ia tidak menggunakan pedang, ia hanya mencengkeram pergelangan tangan senior itu dengan sangat kuat.

​"Jangan. Sentuh," desis Xiao Chen.

​Seketika, suhu di sekitar mereka seolah turun beberapa derajat. Senior itu merinding. Ia merasakan aura yang sangat gelap dan menakutkan terpancar dari anak kecil di depannya, seperti menatap mata seekor naga yang sedang tidur.

​"Ck, lepaskan! Dasar anak aneh!" Senior itu menarik tangannya dan mundur. "Ayo pergi! Biarkan mereka membusuk di sini." Mereka pergi dengan terburu-buru, mencoba menyembunyikan rasa takut mereka.

​Malam harinya, di dalam asrama yang dingin, Bao Hu mulai bercerita. Ternyata, si anak gendut ini memiliki wawasan yang sangat luas karena sering mendengarkan pembicaraan para pedagang di kotanya.

​"Dunia kultivasi itu keras, Xiao Chen. Ada tingkatan ranah yang harus kita daki," jelas Bao Hu sambil mencoret-coret lantai debu.

​Sistem Kultivasi (Ranah Kekuatan)

​1. Ranah Pemula

​2. Ranah Ahli

​3. Ranah Inti Spirit

​4. Ranah Master

​5. Ranah Grand Master

​6. Ranah Raja Langit

​Tingkatan Bela Diri (Teknik)

1.​ Pemula

​Ahli

​Master

​Grand Master

​Legenda

​"Dan di sekte ini, duel diperbolehkan selama tidak membunuh. Segalanya seperti batu Qi, pil, teknik harus diperebutkan melalui misi atau turnamen," tambah Bao Hu. Ia menatap Xiao Chen dengan serius. "Kebaikan tanpa kekuatan hanya akan membawamu pada kehancuran."

​Xiao Chen mengangguk kagum. "Kau benar-benar hebat, Bao. Aku harus banyak belajar darimu."

​Tengah malam, saat Bao Hu dan murid lainnya sudah terlelap, Xiao Chen duduk bersila. Ia mengeluarkan buku kuno yang ia temukan bersama pedang hitam.

​"Teknik Pernapasan jalan Pedang," bisiknya.

​Ia mulai menarik napas dengan tenang. Qi di Sekte Pedang Langit sangat murni dan padat.

Namun, saat Qi itu masuk ke tubuh Xiao Chen, Pedang Hitam di dalam jiwanya langsung beraksi. Ia menyerap Qi murni tersebut dan mengubahnya menjadi energi hitam yang tajam dan agresif.

​"Jangan biarkan orang lain melihat Qi-mu!" Roh Pedang memperingatkan.

​Xiao Chen merasa tubuhnya seperti disayat dari dalam. Keringat membanjiri tubuhnya. Tiba-tiba, pandangannya ditarik paksa ke sebuah dimensi lain. Ia melihat lautan mayat yang tak berujung di bawah langit berwarna merah darah.

​Di tengah ribuan pendekar dari berbagai faksi yang mengepung, berdiri seorang pria yang memegang pedang hitam.

Pria itu tampak tak terkalahkan, namun matanya penuh dengan kesedihan yang mendalam.

Sebelum penglihatan itu hancur, Xiao Chen melihat sebuah simbol pada pakaian robek pria itu, simbol Sekte Pedang Langit.

​Xiao Chen tersentak bangun, napasnya memburu. "Apa... apa itu tadi?"

​Di saat yang sama, di luar asrama, seseorang berjubah putih berdiri diam di atas atap. Ia menatap ke arah kamar Xiao Chen. Matanya yang tajam seolah menembus dinding kayu.

​"Aura itu... benar-benar berasal dari Pedang Iblis Surgawi..."

1
Maul
👍👍
Maul
latihan keras 😢
Maul
/Panic//Panic/
Maul
/Scare//Scare/
Maul
kenapa nih🤔
Maul
Benar-benar membingungkan Patriark itu🤭
Maul
/Smile/
Maul
Sepertinya Patriark baik🤔
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🌽🔥
Agen One
Bab 37 sabar guys/Sleep/
Agen One
Kakek roh/Whimper/
Agen One
jadi juga murid dalam/Frown/
Agen One
🤕🤔
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees boos 🌽🔥
Maul
keputusan apa ituh
Maul
takut itu wajar Qianer
Maul
/Frown/
Agen One
selamat Idul Adha ya semuanya/Smile//Pray/
Agen One
Bab 35 sabar ya/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!