NovelToon NovelToon
TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Iblis / Tumbal / Misteri
Popularitas:855
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keheningan yang Menakutkan

Endang menerjang, pisau dapur di tangannya memantulkan cahaya redup kamar. Ia tidak peduli pada aura kuno yang memancar dari sosok bersenjata lengkap di dekat ranjang. Fokusnya hanya pada pengkhianatan yang paling dekat: suaminya.

“Menjauh dariku, Endang!” teriak Agus, panik, berusaha menghindar dari pisau yang diarahkan ke perutnya. Ia berguling ke samping, menabrak lemari.

Titi Kusumo, yang masih memegang Sari yang kini menggeliat ketakutan, hanya mengamati drama manusiawi itu dengan kejijikan yang tak terlukiskan. Bagi entitas kuno yang berurusan dengan energi kosmik, kemarahan dan kekerasan fisik terasa remeh.

“Cukup,” desis Titi Kusumo, suaranya pelan, tetapi seketika mematikan semua suara lain di ruangan itu.

Udara di sekitar Endang tiba-tiba berubah menjadi cairan kental, menghentikan gerakannya seketika. Endang membeku, pisau itu terangkat di tengah ayunan, matanya melebar karena ketakutan yang baru, yang jauh lebih besar daripada amarahnya pada Agus.

Titi Kusumo melepaskan Sari, yang jatuh ke ranjang, terbatuk-batuk, jiwanya tampak robek. Titi Kusumo melangkah perlahan menuju Endang yang kaku.

“Dua Endang,” kata Titi Kusumo, nadanya seperti seorang guru yang kecewa. Ia menyentuh pisau di tangan Endang, dan pisau itu langsung meleleh, uapnya menghilang sebelum menyentuh lantai. “Sungguh penghinaan yang luar biasa. Kau pikir kau bisa menipu seorang Pangeran yang dikutuk untuk mencari koneksi spiritual sejati?”

Endang, yang kini bisa bergerak lagi, menjatuhkan tangannya yang kosong dan menatap Titi Kusumo. Ketakutan berganti menjadi keberanian putus asa.

“Kau tidak bisa menyalahkanku, Raden,” kata Endang, suaranya tercekat. “Suamiku yang memulai ini. Dia menipuku, dia menipu wanita itu, dan dia menipu Anda!”

Titi Kusumo tertawa kecil, tawa yang terdengar seperti gesekan perak tua.

“Menarik. Kau mengkhianati suamimu di depanku. Apakah ini pengorbanan yang tulus, Endang? Mengorbankan suamimu untuk menyelamatkan jiwamu sendiri?”

“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya!” teriak Endang. “Aku tidak pernah setuju untuk menumbalkan wanita lain. Aku tidak akan membiarkan kebohongan ini berlanjut!”

Agus, yang kini berdiri tegak di sudut, merasa terhina.

“Kau tidak bisa menyalahkanku sepenuhnya, Ndang! Kau setuju dengan rencana itu! Kau yang bilang kita bisa membatalkan, tapi kau tidak pernah menolak uangnya!” tuntut Agus.

“Diam, Manusia!” Titi Kusumo berteriak. Suara itu menghantam Agus seperti palu godam, membuatnya tersungkur lagi.

Titi Kusumo kembali fokus pada Endang.

“Kejujuran,” katanya, menatap Endang dengan mata birunya yang tajam. “Aku mencium sedikit kejujuran darimu, Nyonya. Tetapi itu tidak cukup untuk menebus penipuan yang kau izinkan ini.”

Ia berbalik, menunjuk ke arah Sari yang kini merangkak menjauh dari ranjang, air mata membasahi pipinya.

“Lihat dia, Nyonya,” kata Titi Kusumo. “Wanita ini, yang kau biarkan menjadi dirimu, memiliki aura pengorbanan yang jauh lebih murni daripada yang pernah kau miliki untuk suamimu yang pengecut itu. Dia menjual jiwanya demi keluarganya. Kau menjual dirimu demi kemewahan.”

“Tidak!” Endang menggeleng. “Aku mencintai Agus! Aku hanya ingin dia bahagia!”

“Cinta yang kau tawarkan adalah cinta yang rapuh, yang mudah dibeli. Cinta yang kuperoleh dari wanita ini, meskipun palsu secara identitas, adalah pengorbanan tulus yang dipaksa keluar oleh sihir kotor suamimu,” Titi Kusumo berjalan mendekati Sari.

Sari tersentak. “Aku bukan tumbalmu! Lepaskan aku!”

Titi Kusumo mengabaikannya. Ia menjulurkan tangannya dan menyentuh dahi Sari.

Tiba-tiba, Sari menjerit hebat. Jeritan itu tidak lagi terdengar manusiawi, melainkan seperti suara logam yang bergesekan, memotong keheningan.

“Apa yang kau lakukan padanya?” Endang berteriak, mencoba mendekat, tetapi kekuatan tak terlihat menahannya.

“Aku hanya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku,” jawab Titi Kusumo, matanya berkilat biru pucat. “Sihir Mbah Jari telah mengikat sukma wanita ini pada perjanjian kita. Dia adalah tumbal yang sempurna untuk membayar pengkhianatanmu.”

Titi Kusumo menutup matanya. Agus dan Endang menyaksikan dengan ngeri saat aura Sari yang rapuh ditarik keluar dari tubuhnya, seperti benang tipis yang ditarik dari kain.

Sari jatuh ke lantai, tubuhnya kejang-kejang. Ia tidak lagi menjerit. Ia hanya terbatuk-batuk, matanya menatap kosong ke langit-langit.

Agus merangkak mendekati Sari. “Sari! Bangun! Aku janji keluargamu akan aman!”

Titi Kusumo membuka matanya. Ia menatap Sari yang kini diam, dan kemudian menatap Agus.

“Keluarganya akan aman,” kata Titi Kusumo, suaranya kini kembali dingin dan mengancam. “Aku akan memastikan mereka mendapatkan uang. Karena aku menghargai pengorbanan sejati, meskipun pengorbanan itu disalahgunakan olehmu.”

Titi Kusumo menEndang tubuh Sari yang lunglai dengan ujung sepatu zirahnya, seolah ia hanya sampah.

“Tumbal yang malang. Dia mati karena keserakahanmu, Agus,” katanya.

Agus menatap tubuh Sari. Darah mulai merembes dari hidungnya. Sari benar-benar diam.

Agus merasakan kepalanya berputar. Sari... mati. Ia membunuh seseorang. Ia menumbalkan Sari, dan kini rencananya benar-benar hancur.

Titi Kusumo melangkah mendekati Agus, zirah peraknya berdecit.

“Sekarang, mari kita bicara tentang harga pengkhianatan spiritual,” kata Titi Kusumo. “Kau menipuku, Agus. Kau menawarkan cinta palsu, koneksi palsu, dan tumbal palsu. Kau menghina kutukanku.”

“Aku minta maaf, Raden,” bisik Agus, air mata mengalir. Ini bukan air mata penyesalan, tetapi air mata keputusasaan. “Aku akan mengembalikan uangnya. Aku akan melakukan apa saja!”

Titi Kusumo menggeleng. “Uang? Kekayaan yang kau dapatkan itu hanyalah ilusi. Aku sudah menariknya kembali. Kau sudah kembali miskin. Itu adalah harga kecil.”

Endang, yang kini berdiri di belakang Titi Kusumo, menatap Agus dengan mata penuh kebencian.

“Ya, Gus,” kata Endang, suaranya datar. “Kita miskin. Dan Sari mati karenamu.”

Titi Kusumo berbalik, menatap Endang dengan senyum tipis.

“Kemarahanmu, Nyonya, jauh lebih menarik daripada cinta palsu yang kau tawarkan tadi,” katanya. “Kau dan suamimu akan membayar harga yang jauh lebih besar dari sekadar uang. Aku adalah Pangeran yang dikutuk. Dan aku haus akan darah. Darah yang akan membersihkan kebohongan ini.”

Titi Kusumo mengangkat tangannya, dan ia tidak menunjuk ke arah Agus atau Endang. Ia menunjuk ke arah Endang, lalu ke arah Agus, lalu ke arah rumah mereka.

“Aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku,” katanya. “Aku akan mengambil jiwa yang tulus. Dan aku akan mengambil kehormatanmu. Kalian akan menyaksikan bagaimana hidup kalian dikoyak, satu per satu.”

Titi Kusumo menoleh ke pintu. Dua bayangan hitam yang merupakan pengawalnya, yang selama ini berdiri diam, bergerak maju.

“Aku akan pergi sekarang,” kata Titi Kusumo. “Nikmati keheningan malam ini, Manusia. Karena besok, teror akan dimulai.”

Ia melangkah keluar dari kamar. Sebelum benar-benar menghilang, Titi Kusumo menoleh kembali ke Agus dan Endang.

“Aku akan kembali untukmu, Endang yang asli,” bisiknya, suaranya menembus jiwa Endang. “Dan untukmu, Agus, aku akan mengambil semuanya. Aku akan mengambil jiwamu yang paling rapuh!”

1
Mega Arum
msh lanjut, wlpn agak aneh sih crtanya...
Mega Arum
pesugihan yg krg bs di pahami beda dg novel2 tntg pesugihan lain
Mega Arum
kasihan Endang.. dilema
Mega Arum
pemakaian bahasa yg perlu berimaginasi thor... baguus
Mega Arum
semoga kedepanya menarik....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!