Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.
Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:
Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran Yang Tak Terduga
Sudah berlalu tiga minggu sejak hari pertama aku melangkahkan kaki di lingkungan kampus Universitas Melbourne.
Tiga minggu yang terasa jauh lebih lama—seolah sudah berjalan selama tiga bulan penuh. Waktu yang dipenuhi dengan proses penyesuaian diri, kesibukan belajar, dan tentu saja rasa rindu yang tak pernah benar-benar pergi dari hati. Namun di samping itu, ada juga hal-hal baru yang mulai terasa menyenangkan: persahabatan dengan Sarah yang makin erat dan akrab, kemampuan menulisku yang perlahan mulai terasah dan berkembang, serta satu hal yang paling tak terduga dan tak pernah aku bayangkan sebelumnya… sebuah kesempatan emas yang datang di saat yang tepat.
Namun semuanya tidak terjadi secara instan seperti kisah-kisah yang sering kubaca di novel-novel populer—di mana tiba-tiba saja seorang editor terkenal menelepon dan menawarkan kontrak penerbitan tanpa proses yang jelas. Tidak, bagi aku, semuanya dimulai dengan cara yang sederhana dan wajar.
Semuanya berawal dari sebuah lomba menulis.
***
Pagi itu, tepat pukul sembilan pagi, di dalam Ruang Kuliah 301.
Profesor Williams berdiri di depan kelas dengan senyum yang lebar dan berseri—senyum yang jarang terlihat, seolah-olah dia sedang menyimpan sebuah kabar gembira yang ingin segera dibagikan.
“Good morning, everyone,” sapanya ramah. “I have an announcement.”
Seketika seluruh mahasiswa di ruangan itu mencondongkan tubuh ke depan, penasaran mendengar apa yang akan disampaikannya.
“Penerbit Mahakarya from Indonesia is holding a national short story competition. The theme is 'Love Across Boundaries' — love that transcends borders, cultures, and norms.”
Mendengar penjelasan itu, jantungku langsung berdegup lebih kencang.
Penerbit Mahakarya… nama yang sangat kukenal dan selama ini menjadi impian banyak penulis di tanah air. Sebuah lomba menulis dengan tema yang sangat dekat dengan apa yang sedang kutulis saat ini.
Cinta yang melampaui batas.
Cinta terlarang. Persis seperti kisah yang sedang aku tuliskan—kisahku dan Aldo.
“The winner will get a publishing contract for a full-length novel,” lanjut Profesor Williams. “The deadline is in two months.”
Suasana di dalam ruangan langsung menjadi ramai. Para mahasiswa mulai berbisik-bisik satu sama lain, saling bertukar pendapat, dan membicarakan kemungkinan siapa saja yang tertarik untuk ikut serta.
Di sampingku, Sarah segera menoleh dan berbisik lembut, “Tari, kamu harus ikut lomba ini.”
Aku hanya terdiam sesaat, lalu menjawab ragu, “Aku… aku belum yakin. Aku tidak tahu apakah aku sanggup.”
“Tidak ada alasan untuk ragu,” tegas Sarah dengan nada meyakinkan. “Cerita tentang cinta terlarang yang sedang kamu kerjakan itu sangat pas dan cocok dengan tema lomba ini.”
“Tapi…”
“Tapi apa? Tidak ada kata ‘tapi’ kali ini. Kamu harus mencobanya, setidaknya untuk membuktikan pada dirimu sendiri bahwa kamu mampu,” potongnya cepat.
Aku menggigit bibir bawahku, membiarkan pikiranku berputar cepat. Lomba berskala nasional, nama besar Penerbit Mahakarya, dan kesempatan untuk menerbitkan novel… apakah aku sudah cukup siap untuk melangkah sejauh itu?
“Tari?” panggil Sarah lagi, menyadari keraguanku.
“Baiklah… aku akan pikirkan baik-baik,” jawabku akhirnya.
***
Pukul dua belas siang, jam kuliah pun selesai.
Aku berjalan keluar ruangan dengan langkah yang terasa agak lambat dan berat. Pikiranku tak bisa lepas dari kabar tentang lomba itu. Sebenarnya aku sudah memiliki bahan cerita yang lengkap—kisah nyata yang hidup di dalam hatiku bersama Aldo. Yang perlu kulakukan hanyalah menyempurnakan tulisannya, merapikan alurnya, lalu mengirimkannya sesuai ketentuan.
Namun satu pertanyaan terus menghantui: apakah aku berani membuka diri dan mempertaruhkan perasaanku lewat tulisan itu?
“Baiklah, aku ikut,” ucapku tiba-tiba, seolah memutuskan sesuatu yang besar.
Sarah yang berjalan di sampingku langsung menoleh kaget, lalu wajahnya berseri-seri penuh kegembiraan. “Benarkah? Kamu benar-benar mau ikut?”
“Benar. Aku akan mendaftar dan mengirimkan ceritaku,” jawabku mantap, kali ini tanpa keraguan lagi.
“Ya ampun, Tari! Akhirnya!” Sarah langsung memelukku erat, seolah-olah aku baru saja memenangkan sebuah medali emas dalam ajang olahraga bergengsi.
“Tenang saja, Sarah. Aku baru saja mendaftar, belum tentu menang juga,” kataku sambil tersenyum melihat reaksinya yang berlebihan.
“Tapi sudah berani mencoba itu sendiri sudah merupakan kemenangan yang besar, lho. Itu hal yang paling penting,” jawabnya antusias.
Aku mengangguk, merasa lebih tenang. “Terima kasih sudah menyemangatiku, Sarah.”
***
Dua minggu kemudian, di dalam apartemen kecilku di kawasan Carlton, tepat pukul sepuluh malam.
Aku duduk di meja kerja sederhana yang terletak di dekat jendela. Layar laptop menyala terang di hadapanku, dan jari-jariku terus bergerak lincah menari di atas papan ketik. Cerita pendek yang selama ini kukerjakan akhirnya selesai juga. Tepat dua ribu kata, dengan judul yang aku pilih: “Sisa Rasa yang Terlarang”. Kisah tentang seorang perempuan yang tanpa sengaja jatuh cinta pada adik kandung mantan kekasihnya.
Sebuah kisah yang murni tentang aku dan Aldo.
Aku membaca ulang bagian terakhir tulisan itu, memastikan tidak ada lagi kata yang perlu diperbaiki.
“Ia memegang kedua pipiku dengan lembut, lalu perlahan menghapus butiran air mata yang menetes di wajahku. Aku terpaku diam, tak mampu bergerak, menatap wajahnya yang terlihat hampir mirip—kira-kira tujuh persepuluh sama persis—dengan wajah laki-laki yang baru saja aku tinggalkan setelah pertengkaran hebat. ‘Lalu apa artinya itu kalau aku ini adiknya?’ tanyanya dengan suara tenang namun tegas. ‘Putuskan saja dia. Dan mulai detik ini, bisakah kau hanya melihatku? Hanya aku seorang saja?’ ucapnya, matanya menatapku dalam-dalam dengan pandangan yang begitu kuat hingga aku lupa bagaimana cara menarik napas dengan benar.”
Aku menarik napas panjang, merasakan beban di dadaku terasa sedikit lebih ringan. Tulisan ini sudah selesai. Kini saatnya melangkah ke tahap berikutnya.
Aku membuka situs resmi Penerbit Mahakarya, mencari halaman pendaftaran lomba, lalu mengisi semua kolom data yang diminta dengan teliti.
Nama lengkap: Tari Winata.
Asal: Jakarta, Indonesia (sedang menempuh pendidikan magister di Universitas Melbourne, Australia).
Judul naskah: Sisa Rasa yang Terlarang.
Tema: Cinta yang Melampaui Batas.
Setelah memeriksa kembali semua isian, aku mengunggah berkas ceritaku, lalu menekan tombol bertuliskan “Kirim” dengan jantung yang berdebar kencang. Aku menutup laptop perlahan, seolah baru saja melepaskan sesuatu yang sangat berharga ke dalam dunia yang lebih luas.
“Semoga segala sesuatunya berjalan baik, Tari,” bisikku pada diri sendiri.
Aku merebahkan tubuh di atas kasur, menatap langit-langit kamar yang putih bersih.
“Aldo… aku sudah mengirimkan cerita tentang kita ke lomba itu. Aku harap aku tidak mengecewakanmu, dan juga tidak mengecewakan diriku sendiri,” gumamku pelan.
***
Dua minggu kemudian, tepat pukul dua siang, di kafe langgananku, Brew & Bites.
Aku sedang menikmati secangkir teh chamomile hangat sambil membaca novel The Great Gatsby untuk tugas kuliah, ketika ponsel yang tergeletak di meja tiba-tiba bergetar keras. Di layar tertulis: Panggilan masuk dari nomor tidak dikenal.
Aku mengernyitkan dahi, merasa penasaran sekaligus waspada. Siapa yang menelepon di jam seperti ini?
“Halo?” jawabku dengan nada hati-hati.
“Selamat siang. Apakah ini benar dengan Saudari Tari Winata?” terdengar suara wanita di ujung telepon—suara yang terdengar sopan, teratur, dan sangat profesional, seolah-olah berasal dari seorang sekretaris atau asisten pribadi.
“Benar, saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku balik.
“Perkenalkan, nama saya Sari. Saya asisten pribadi Ibu Ratna dari Penerbit Mahakarya. Ibu Ratna meminta saya menghubungi Anda untuk menyampaikan undangan mengikuti sesi wawancara dalam rangka penyeleksian lomba menulis tersebut.”
Mendengar kalimat itu, detak jantungku seolah berhenti sejenak. Rasanya sulit untuk mempercayai apa yang baru saja kudengar.
“W-wawancara?” ulangku dengan suara yang sedikit terbata karena kaget.
“Benar, Mbak. Naskah yang Mbak kirimkan berhasil masuk ke dalam daftar sepuluh besar karya terbaik. Sebagai bagian dari tahap seleksi berikutnya, kami akan mengadakan wawancara untuk menentukan tiga pemenang utama,” jelasnya dengan tenang.
Sepuluh besar. Ceritaku masuk ke dalam sepuluh besar dari sekian banyak peserta. Rasanya seperti mimpi yang tiba-tiba menjadi kenyataan.
“Baiklah, saya sampaikan jadwalnya. Besok pukul sepuluh pagi waktu Jakarta, yang berarti pukul satu siang waktu Melbourne, ya?”
“Saya bisa, Mbak. Saya siap mengikuti wawancaranya,” jawabku cepat, mencoba menenangkan diri.
“Baik, terima kasih. Saya akan segera mengirimkan tautan rapat lewat aplikasi Zoom ke nomor ini. Sampai jumpa besok.”
Panggilan pun ditutup. Aku masih menatap layar ponsel dengan mata terbelalak, seolah belum sadar sepenuhnya akan kabar yang baru saja kudapatkan.
“Tari? Kamu terlihat kaget sekali. Ada kabar apa?” tanya Mia, pelayan kafe yang melihat ekspresiku dari balik meja kasir.
Aku menoleh padanya, lalu tersenyum lebar yang tak bisa ditahan. “Aku… cerpen yang aku kirimkan tadi masuk ke dalam sepuluh besar lomba menulis itu.”
“Wah, luar biasa! Selamat ya, Tari!” Mia mengacungkan kedua jempolnya tanda bangga.
“Terima kasih banyak, Mia.”
Begitu saja aku bergegas menghubungi Aldo, ingin segera berbagi kabar gembira ini dengannya.
***
Pukul delapan malam waktu Melbourne, atau tepatnya pukul lima sore di Jakarta.
Panggilan video tersambung, dan begitu wajah Aldo muncul di layar, aku langsung berteriak kegirangan.
“Aldo! Aldo! Aldo!”
“Tari? Ada apa? Kenapa teriak-teriak begitu? Apa ada hal buruk terjadi?” tanyanya terlihat panik, khawatir mendengar nada suaraku.
“Bukan hal buruk, Aldo! Justru kabar yang sangat bagus! Cerpenku masuk ke dalam sepuluh besar lomba menulis itu!”
Aldo terdiam sejenak, matanya melebar tak percaya. “Apa?! Benarkah itu?”
“BENAR SEKALI! Besok aku akan mengikuti wawancara untuk masuk ke tahap berikutnya!” seruku lagi.
“TARI, INI SANGAT HEBAT! LUAR BIASA!” Aldo pun ikut berteriak kegirangan, tangannya melambai-lambai di udara seolah baru saja mendapatkan hadiah terbesar dalam hidupnya.
“Tapi ingat, aku belum menang sepenuhnya. Masih banyak tahapan yang harus dilalui,” kataku mengingatkan, meski hatiku juga meluap rasa senang.
“Tapi sudah masuk sepuluh besar itu saja sudah luar biasa! Bayangkan, dari ratusan bahkan mungkin ribuan peserta, karyamu yang dipilih. Itu artinya tulisanmu memang bagus dan bermutu. Kamu harus percaya diri,” katanya dengan semangat.
“Aku tahu… tapi jujur saja, aku merasa sangat gugup menghadapi wawancaranya besok. Takut salah bicara, takut tidak bisa menjawab pertanyaan dengan baik, takut…”
“Dengarkan aku, Tari,” potong Aldo dengan suara yang tiba-tiba menjadi tegas dan menenangkan. “Kamu sudah melewati banyak hal yang jauh lebih sulit dari ini. Kamu sudah melewati pertentangan dari keluarga, hidup sendiri di negeri orang, dan mampu mengikuti perkuliahan di universitas ternama. Wawancara ini hanyalah satu langkah kecil dari perjalanan panjangmu.”
“Aldo…”
“Kamu pasti bisa melewatinya. Aku percaya padamu sepenuhnya,” ucapnya mantap.
Air mataku tiba-tiba mengalir tanpa terasa, terharu mendukung yang selalu ia berikan. “Terima kasih, Aldo. Terima kasih sudah selalu ada dan percaya padaku.”
“Kamu harus berjanji satu hal padaku,” katanya tiba-tiba dengan nada bercanda.
“Apa itu?”
“Kalau nanti kamu berhasil dan menang, kamu harus ucapkan terima kasih dengan kalimat: ‘Untuk Aldo, yang selalu percaya padaku meski aku sering ragu.’”
Aku tertawa di sela tangis, merasa lega. “Dasar kamu, suka sekali berlebihan.”
“Janji ya?”
“Baiklah, aku janji,” jawabku sambil tersenyum.
***
Keesokan harinya, pukul satu siang waktu Melbourne.
Aku sudah duduk rapi di depan meja kerja, mengenakan kemeja putih lengan panjang yang terlihat sopan dan rapi—sesuai dengan suasana wawancara resmi. Rambutku aku ikat rapi ke belakang, dan aku memakai riasan tipis agar terlihat lebih segar namun tetap alami.
Di layar laptop, jendela rapat lewat aplikasi Zoom sudah terbuka. Aku hanya menunggu dipanggil dan diizinkan masuk ke ruang wawancara resmi. Jantungku berdegup kencang, iramanya terasa seperti ketukan genderang yang menandakan dimulainya sebuah pertempuran besar.
Tak lama kemudian, tampilan layar berubah. Seorang wanita paruh baya muncul di hadapanku. Rambutnya panjang dan diikat rapi ke belakang, wajahnya terlihat ramah dengan kerutan halus di sudut matanya, dan sepasang kacamata baca tergantung di lehernya. Ia tersenyum lembut menyapaku.
“Selamat siang, Mbak Tari. Saya Ratna, pemimpin tim penyuntingan di Penerbit Mahakarya. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk hadir hari ini.”
“Selamat siang, Ibu Ratna. Terima kasih banyak atas kesempatan yang diberikan kepada saya,” jawabku sopan sambil menahan rasa gugup.
“Baiklah, mari kita mulai saja. Saya sudah membaca naskah cerpen yang Mbak kirimkan, berjudul ‘Sisa Rasa yang Terlarang’. Menurut penilaian saya, tulisan itu sangat jujur, tulus, dan terasa sangat nyata—tidak dibuat-buat atau dipaksakan,” ucap Ibu Ratna dengan nada yang menyenangkan.
“Terima kasih banyak atas pujiannya, Bu,” jawabku lega.
“Saya ingin bertanya: apakah cerita ini benar-benar diambil dari pengalaman hidup Mbak sendiri?”
Aku menggigit bibir bawah sejenak, lalu mengangguk mantap. “Benar, Bu. Hampir seluruh isi cerita itu adalah gambaran dari apa yang sebenarnya aku alami dan rasakan.”
Ibu Ratna mengangguk paham. “Saya sangat menghargai kejujuran semacam ini. Banyak penulis pemula yang terlalu takut untuk menuliskan apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya. Mereka cenderung menulis apa yang mereka pikir akan disukai orang lain, bukan apa yang sesungguhnya mereka rasakan.”
“Aku hanya merasa, tulisan yang paling baik adalah tulisan yang lahir dari pengalaman dan perasaan sendiri, Bu. Itulah yang aku coba lakukan,” jawabku jujur.
“Dan itulah yang membuat karyamu terasa istimewa dan berbeda dari yang lain,” lanjut Ibu Ratna. Ia menatapku lekat-lekat seolah sedang membaca perasaan di mataku. “Baiklah, saya tidak akan memperpanjang waktu. Saya sampaikan saja langsung: cerpen Mbak berhasil masuk ke dalam jajaran tiga besar karya terbaik lomba ini.”
Aku tertegun tak percaya. “Tiga besar?”
“Benar. Dan sebagai bagian dari penghargaan serta kesempatan yang kami tawarkan, kami ingin mengajak kerja sama dengan Mbak untuk mengembangkan cerita ini menjadi sebuah karya panjang berupa novel.”
Mulutku terbuka sedikit, namun untuk sesaat tak ada suara yang bisa keluar. Rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan di depan mata.
“Apakah Mbak Tari tertarik untuk menerima tawaran ini?” tanya Ibu Ratna lagi.
“Saya… sangat tertarik, Bu. Sangat berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan,” jawabku akhirnya dengan suara yang sedikit bergetar karena haru.
“Baiklah. Saya akan segera mengirimkan draf perjanjian kerja sama ke alamat surel Mbak. Silakan dibaca dengan teliti, dan jika setuju, silakan dikirimkan kembali. Nanti soal tenggat waktu penulisan novelnya, kita bicarakan lebih rinci lagi kemudian.”
“Terima kasih banyak, Bu Ratna. Saya sangat menghargai kesempatan ini.”
“Tidak perlu berterima kasih. Semua ini adalah hasil kerja keras dan bakat Mbak sendiri. Sekali lagi, selamat ya.”
***
Pukul dua siang, aku menutup sambungan video itu dan meletakkan laptop dengan hati-hati.
Aku duduk terdiam di atas kasur, menatap dinding kamar yang sama sekali tak berubah, namun rasanya dunia di sekitarku terasa berbeda.
Aku masuk tiga besar.
Aku akan memiliki kesempatan untuk menerbitkan novel pertamaku.
Mimpi yang selama ini hanya terbayang dalam angan-angan perlahan mulai berubah menjadi kenyataan.
Tanpa sadar air mataku mengalir turun—bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa bahagia yang meluap-luap hingga sulit untuk ditahan.
Segera aku meraih ponsel, menekan nomor Aldo, dan begitu panggilan tersambung, aku langsung berteriak sekuat tenaga.
“Aldo! Aldo! ALDO!”
“Tari? Ada apa? Kenapa menangis dan teriak-teriak begitu?” tanyanya dengan nada khawatir namun penuh rasa ingin tahu.
“Aku masuk tiga besar! AKU BERHASIL MASUK TIGA BESAR! DAN AKU AKAN MENULIS SERTA MENERBITKAN NOVEL!”
“APA?! BENARKAN ITU?! TUHAN, INI LUAR BIASA!” Aldo pun ikut berteriak kegirangan di ujung telepon, dan aku bisa mendengar suaranya yang sedikit bergetar.
“Kamu menangis juga, Aldo?” tanyaku sambil tertawa di sela isak tangis.
“Enggak kok. Hanya… ada sedikit debu yang masuk ke mata,” jawabnya berusaha mengelak, meski suaranya jelas terdengar terharu.
Aku tertawa makin keras. “Debu bisa masuk lewat sambungan telepon?”
“Sudahlah, jangan mengganggu momen haru ini,” jawabnya sambil tertawa juga.
“Aldo… terima kasih ya,” ucapku lembut.
“Terima kasih untuk apa?”
“Untuk selalu percaya padaku, bahkan di saat aku sendiri sering meragukan diriku sendiri.”
Aldo menjawab dengan suara yang tenang dan penuh keyakinan, “Tari, aku akan selalu percaya padamu. Sampai kapan pun, dalam keadaan apa pun.”
Kami berdua tertawa bersama, dan untuk sesaat itu, terpisah jarak ribuan kilometer pun terasa tak berarti. Dunia terasa sempurna, seolah semua hal baik akhirnya datang menghampiri setelah perjuangan yang panjang.