evelyn mengakhiri hidupnya dimalam ketika supir pribadinya yang ternyata seorang Mafia, memaksa untuk menikahinya. namun setelah matanya terpejam, Tiba-tiba ia kembali ke masa lalu dimana semua kehancuran belum terjadi. Apakah langkah yang akan evelyn ambil agar tidak berakhir dengan kematian yang sia-sia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irma rofiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersiap ke kantor
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai kamar Evelyn.
Kelopak matanya bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya.
Untuk beberapa saat, ia hanya berbaring diam di atas ranjang lembut itu, menikmati keheningan pagi. Tubuhnya terasa jauh lebih baik dibanding kemarin.
Evelyn duduk perlahan. Kakinya menyentuh lantai dingin sebelum ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke halaman depan mansion.
Tirai dibuka. Sinar matahari pagi menerpa wajah pucatnya.
Dari lantai atas itu, halaman depan terlihat luas dan tertata rapi. Para tukang kebun mulai bekerja, beberapa pelayan berlalu-lalang menjalankan tugas mereka. Dan di dekat garasi...
Cristian sedang memanasi mobil. Pria itu mengenakan seragam sopir dengan rapi. Lengannya sedikit tergulung saat memeriksa kondisi kendaraan. Sesekali ia berbicara singkat dengan petugas keamanan sebelum kembali fokus pada pekerjaannya.
Evelyn bersandar di kusen jendela. Tatapannya tidak lepas dari sosok itu.
"Kalau dilihat seperti ini..." gumamnya pelan.
"Ian benar-benar terlihat seperti pria biasa."
Tidak ada yang aneh. Tidak ada aura berbahaya. Bahkan lebih sering terlihat tenang dan sopan. Siapa pun yang melihatnya pasti hanya akan berpikir bahwa Cristian hanyalah seorang sopir muda yang tampan dan pekerja keras.
Dan justru itulah yang membuat Evelyn merasa takut. Karena ia tahu kebenarannya. Seberapa sempurna Cristian menyembunyikan dirinya. Seberapa baik ia memakai topeng hingga tidak seorang pun menyadari kemarahan, luka, dan dendam yang disimpan jauh di dalam hatinya.
Evelyn menurunkan pandangan. Ia teringat pada kehidupan sebelumnya. Pria itu juga tampak biasa saja pada awalnya. Sampai semuanya terlambat.
Namun kali ini berbeda. Kali ini Cristian berada di dekatnya. Dan Evelyn berniat untuk mengubah akhir cerita mereka.
Setelah cukup lama memperhatikan Cristian dari balik jendela, Evelyn tiba-tiba teringat sesuatu. Matanya sedikit melebar.
"Hari ini..."
Ia menepuk dahinya pelan.
"Hari ini aku mau ikut ke kantor Ayah."
Sejak kembali mengingat kehidupan sebelumnya, Evelyn mulai berusaha memahami banyak hal yang dulu tidak pernah ia perhatikan. Termasuk urusan Alberto. Jika ada sesuatu yang bisa mencegah tragedi di masa depan, ia harus mulai mencari tahu sekarang.
Evelyn segera menjauh dari jendela.
"Kelly!" panggilnya sambil berjalan menuju pintu kamar.
Tak lama kemudian, Kelly datang tergesa-gesa.
"Nona? Apa ada yang Anda butuhkan?"
"Tolong siapkan pakaianku."
Kelly tampak bingung. "Anda mau ke mana?"
Evelyn tersenyum kecil. "Aku mau ikut Ayah ke kantor."
Kelly membeku beberapa detik. "Kantor Tuan Alberto?"
"Iya."
"Tapi... bukankah biasanya Nona tidak pernah keluar bersama beliau?"
Evelyn terdiam sejenak.
Benar. Di kehidupan sebelumnya, Evelyn jarang sekali mendekati Alberto. Bahkan bisa dihitung dengan jari berapa kali mereka benar-benar berbincang bersama. Namun kali ini ia tidak ingin hanya menjadi pengamat pasif.
"Aku hanya ingin mencoba sesuatu yang berbeda," jawab Evelyn pelan.
Kelly masih tampak terkejut, tetapi akhirnya mengangguk.
"Baik, Nona. Saya akan menyiapkannya."
Sementara Kelly sibuk memilih pakaian, Evelyn melirik sekali lagi ke arah halaman melalui jendela.
Cristian masih berada di sana. Tanpa menyadarinya, pria itu telah menjadi salah satu alasan terbesar mengapa Evelyn memutuskan untuk mulai mengubah hidupnya sendiri.
Karena jika ia ingin menyelamatkan hidupnya dan keluarganya atas tindakan Cristian yang penuh dendam... Maka ia juga harus cukup berani untuk keluar dari bayang-bayang ketakutannya sendiri.
Setelah Kelly menyiapkan semua keperluannya, Evelyn masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Berbeda dengan kemarin saat tubuhnya masih lemah karena demam, pagi ini kondisinya jauh lebih baik.
Kelly membantu menyiapkan pakaian, menyisir rambut, dan memastikan nona mudanya tidak kelelahan.
"Nona, kalau merasa pusing lagi, sebaiknya pulang saja, ya?" ujar Kelly sambil mengancingkan manset kemeja Evelyn.
Evelyn tersenyum kecil.
"Aku tidak selemah itu."
Kelly hanya menghela napas. "Itu yang selalu Nona katakan sebelum akhirnya pingsan."
Mendengar itu, Evelyn tertawa pelan. Tak lama kemudian, ia berdiri di depan cermin besar. Pantulan dirinya terlihat berbeda dari biasanya.
Ia mengenakan setelan sederhana namun elegan. Kemeja putih yang pas di tubuhnya dipadukan dengan celana panjang putih berpotongan rapi. Sebuah sabuk hitam kecil dengan pengait berwarna emas melingkar di pinggang rampingnya, memberi sentuhan tegas pada penampilannya.
Rambut panjangnya disisir rapi dan diikat ke belakang, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih. Tanpa banyak aksesori, kecantikannya justru tampak semakin menonjol dalam kesederhanaan.
Kelly tersenyum kagum. "Nona cantik sekali."
Evelyn memperhatikan bayangannya beberapa saat.
Dulu, ia tidak terlalu peduli dengan penampilannya. Ia lebih sering mengurung diri dengan buku-bukunya dan membiarkan hari-hari berlalu begitu saja.
Namun sekarang... Ia tidak ingin lagi hanya menjadi bayangan yang terlupakan di rumah ini.
"Sudah siap nona?" tanya Kelly.
Evelyn mengangguk pelan. "Sudah."
Saat ini jam menunjukkan pukul 06.30 pagi, Evelyn berjalan keluar dari kamarnya. Langkahnya tenang menyusuri lorong-lorong mansion yang luas.
Para pelayan yang berpapasan tampak sedikit terkejut melihatnya berpakaian serapi itu sejak pagi.
"Nona Evelyn, selamat pagi."
"Selamat pagi."
Evelyn membalas sapaan mereka dengan senyum tipis.
Tak lama kemudian, ia sampai di ruang makan. Ruangan besar itu masih lengang. Seperti kemarin, belum ada anggota keluarga Alberto lainnya yang datang.
Evelyn menarik kursinya perlahan lalu duduk dengan anggun di tempatnya. Punggung tegak. Tangan terlipat rapi di atas pangkuan. Tatapannya sesekali mengarah ke pintu masuk ruang makan.
Ia menunggu. Menunggu ayahnya. Menunggu kakak-kakaknya. Dan mungkin juga menunggu reaksi mereka ketika melihatnya ikut ke kantor Alberto untuk pertama kalinya.
Evelyn tetap duduk dengan anggun di kursinya. Jemarinya bertumpu lembut di atas pangkuan, sementara secangkir teh hangat tersaji di depannya.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki mulai terdengar dari luar ruang makan.
Orang pertama yang masuk adalah Charlie. Pria itu berjalan sambil menatap layar tablet di tangannya. Alisnya sedikit berkerut, seolah pikirannya masih tertinggal pada pekerjaan yang sedang dibacanya. Ia bahkan tidak menyadari siapa yang sudah duduk di ruang makan.
Setelah Charlie, Rachel masuk. Langkahnya terhenti seketika. Tatapannya jatuh pada Evelyn.
Untuk sesaat, Rachel hanya diam. Pandangan matanya bergerak dari rambut Evelyn yang ditata rapi, kemeja putih yang sederhana namun elegan, hingga celana putih yang membuat penampilannya tampak bersih dan berkelas.
Cantik. Bahkan sangat cantik. Rachel mengalihkan pandangan dengan cepat.
"Tidak buruk," ucapnya singkat sambil menarik kursi. Padahal dalam hati, ia cukup terkejut.
Selama ini Evelyn lebih sering tampil sederhana dan tidak terlalu memedulikan penampilan. Namun pagi ini, ia tampak berbeda. Rachel jelas tidak ingin mengakuinya.
Tak lama kemudian, Lauren muncul.
Sebagai seorang model yang terbiasa menjadi pusat perhatian, matanya langsung menangkap perubahan Evelyn. Dan reaksinya jauh berbeda dari Rachel. Lauren mengerutkan kening.
"Apa-apaan ini?" katanya sambil menyilangkan tangan. "Kamu berdandan seperti itu mau ke mana?"
Evelyn mengangkat wajahnya.
"Aku mau ikut Ayah ke kantor."
Lauren tertawa kecil. "Serius? Dengan penampilan seperti itu?"
Tatapannya menyapu Evelyn dari atas hingga bawah.
"Kemeja putih dan celana putih? Kamu pikir itu fashionable?"
Rachel melirik Lauren sekilas namun memilih diam.
Biasanya, ucapan seperti itu cukup untuk membuat Evelyn menunduk atau memilih menghindar. Namun pagi ini berbeda. Evelyn justru tersenyum lembut.
"Aku memang tidak terlalu mengerti soal fashion."
Lauren tampak sedikit terkejut.
Lalu Evelyn melanjutkan dengan tulus, "Kak Lauren kan seorang model."
"Aku ingin belajar. Jadi, kalau ada yang kurang dari penampilanku, tolong bimbing aku."
Ruangan mendadak hening. Rachel mengangkat alis. Charlie akhirnya mengalihkan pandangan dari tablet untuk melihat apa yang sedang terjadi. Sementara Lauren...
Wajahnya berubah aneh. Ia sudah menyiapkan berbagai balasan sinis jika Evelyn menangis, membantah, atau tersinggung. Namun gadis itu malah tersenyum dan meminta bantuannya.
Lauren mendecakkan lidah.
"Siapa yang mau membimbingmu?" katanya ketus sambil duduk.
"Tapi..." Evelyn tersenyum lagi, "aku senang kalau suatu saat Kak Lauren mau mengajariku."
Lauren menggenggam garpu sedikit lebih kuat. Entah kenapa, ia merasa seperti sedang memukul kapas.
Menyebalkan. Sangat menyebalkan.
Di sisi lain, Rachel diam-diam melirik Evelyn sekali lagi. Hari ini adiknya benar-benar berbeda. Lebih tenang. Lebih percaya diri. Dan tidak lagi mudah terluka oleh ucapan orang lain.
Sementara Charlie, yang memperhatikan interaksi itu dengan tenang, kembali menunduk menatap tabletnya. Namun sebelum fokus membaca, ia sempat melirik Evelyn. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia bertanya-tanya...
Apa yang sebenarnya berubah dari adik bungsunya itu?