NovelToon NovelToon
Istri Setelah Cerai Menjadi Or Terkaya

Istri Setelah Cerai Menjadi Or Terkaya

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Berubah manjadi cantik / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:229.3k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

"Setelah tiga tahun pernikahan, Dewi akhirnya sadar kalau dirinya tak lebih dari sekedar bank darah berjalan untuk Lina, wanita yang dijaga Rizky. Apapun keluhannya, semua Rizky tutup dengan uang. Hingga Dewi berpikir, 'Kalau begitu apa bedanya diriku dengan seorang pelacur? Sama-sama dibayar hanya berbeda pada apa yang ditawarkan.'

Akhirnya kata cerai keluar dari mulut Dewi dan saat itu juga, ia pergi tanpa menoleh. Namun, keduanya ditakdirkan untuk bertemu lagi, tapi kali ini dengan situasi yang berbeda.

Dewi sebagai pewaris Keluarga Konglomerat Wijaya yang jauh lebih berkuasa dari keluarga Rizky, menuntut balas Lina dan Rizky yang dulu menekannya!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Maya melangkah masuk lebih jauh ke dalam ruangan sambil masih memegang buket bunga besar yang hampir menutupi sebagian wajahnya, lalu dengan gerakan ringan ia meletakkannya di atas meja Dewi, seolah benda itu tidak memiliki arti khusus selain sebagai bahan candaan yang bisa ia gunakan untuk memulai percakapan.

“Dari Rendy,” katanya sambil menyeringai, jelas menikmati situasi yang menurutnya cukup menghibur. “Dia benar-benar tidak tahu cara bersikap biasa.”

Dewi melirik bunga itu sekilas, tidak menunjukkan ketertarikan, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke Maya.

“Dan Raka?” tanyanya.

Maya langsung tertawa kecil, seolah sudah menunggu pertanyaan itu.

“Dikirim ke luar negeri tadi malam,” jawabnya. “Kakeknya sendiri yang mengatur, katanya kalau nilai ujiannya tidak lulus, kakinya akan dipatahkan.”

Nada bicaranya terdengar ringan, tetapi isi kalimatnya cukup untuk menggambarkan tekanan yang sebenarnya.

Dewi tidak terlihat terkejut, ia hanya mengangguk pelan, lalu memberi isyarat kepada staf yang berdiri tidak jauh.

“Bawa keluar,” katanya singkat, merujuk pada bunga di atas meja. “Aromanya terlalu kuat.”

Staf itu segera bergerak tanpa bertanya, mengangkat buket bunga tersebut dan membawanya keluar, meninggalkan ruangan dengan suasana yang kembali bersih dari gangguan yang tidak perlu.

Maya kemudian menarik kursi di depan meja dan duduk, ekspresinya berubah sedikit lebih serius.

“Aku sudah selesai menyelidiki Grup Abadi,” katanya.

Dewi langsung fokus.

“Bagaimana?”

Maya menyandarkan tubuhnya sedikit ke depan.

“Lebih buruk dari yang kau bayangkan,” katanya. “Grup Abadi sekarang pada dasarnya hanya perusahaan cangkang, penuh dengan utang yang tidak bisa mereka bayar.”

Ia berhenti sejenak, memastikan Dewi mengikuti setiap detail.

“Mereka berutang besar ke bank,” lanjutnya, “dan proyek yang mereka punya hampir semuanya gagal. Tidak ada arus kas yang sehat.”

Dewi tidak menyela.

“Siapa pun yang bekerja sama dengan mereka,” tambah Maya, “akan ikut terseret.”

Ruangan menjadi hening sejenak.

“Rina ingin menjebakmu,” kata Maya akhirnya, nadanya tegas.

Dewi mengangguk pelan.

“Aku sudah menduganya,” jawabnya tenang.

Tidak ada keterkejutan dalam suaranya.

Seolah semua ini memang bagian dari sesuatu yang sudah ia perhitungkan sejak awal.

Maya menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas.

“Kadang aku tidak tahu kau ini benar-benar sudah tahu semuanya atau hanya terlalu tenang menghadapi risiko,” katanya setengah bercanda.

Dewi tidak menjawab, tetapi matanya menunjukkan bahwa ia tidak akan mundur hanya karena mengetahui bahaya di depan.

Maya kemudian tersenyum, suasana kembali sedikit ringan.

“Oh ya,” katanya, “ibuku baru kembali dari Hong Kong.”

Dewi mengangkat alis sedikit.

“Dia baru saja membeli sebuah perusahaan kosmetik,” lanjut Maya dengan nada yang tidak bisa menyembunyikan kebanggaannya. “Dan dia memberiku kesempatan untuk ikut dalam penelitian dan pengembangan produk.”

Ada sesuatu yang berbeda dalam cara Maya mengucapkan kalimat itu, sesuatu yang lebih personal.

“Itu impianmu,” kata Dewi.

Maya mengangguk.

“Ya,” jawabnya. “Akhirnya.”

Dewi tersenyum tipis.

“Selamat,” katanya tulus.

Maya terlihat puas, lalu berdiri dari kursinya.

“Kalau kau butuh bantuan,” katanya sambil berjalan menuju pintu, “hubungi aku.”

Dewi mengangguk.

Pintu tertutup.

Sore hari, ketika pekerjaan hampir selesai, Rina kembali muncul di depan kantor Dewi, kali ini tanpa membawa dokumen tebal atau sikap santai seperti sebelumnya, melainkan dengan ekspresi yang lebih serius, seolah ia datang dengan tujuan yang jelas.

“Aku hanya ingin memastikan satu hal,” katanya setelah masuk.

Dewi tidak mengalihkan pandangannya dari layar.

“Apa?”

“Untuk makan malam nanti,” lanjut Rina, “jangan membawa asisten atau sekretaris.”

Yudi yang berdiri di samping langsung mengangkat kepala, jelas tidak setuju dengan permintaan itu.

Namun Dewi menjawab lebih dulu.

“Baik,” katanya tanpa ragu.

Yudi menatapnya dengan cemas.

“Wakil Direktur—”

“Tidak apa-apa,” potong Dewi dengan tenang.

Nada suaranya cukup untuk menenangkan, meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran.

Rina mengangguk puas, lalu pergi tanpa berkata lebih jauh.

Malam hari, Dewi tiba di sebuah klub eksklusif yang terletak di pusat kota, tempat yang dikenal hanya menerima tamu tertentu dengan reservasi khusus, dan begitu ia memasuki ruang makan yang sudah dipesan, ia langsung melihat Rina yang sudah duduk di sana bersama seorang pria bertubuh gemuk dengan wajah yang menunjukkan usia dan pengalaman, tetapi juga sesuatu yang lain yang tidak menyenangkan.

Rina berdiri begitu melihat Dewi, lalu berjalan mendekat dengan senyum lebar yang terlihat dibuat-buat.

“Ini Pak Tono,” katanya sambil menjabat tangan pria itu dengan akrab, bahkan sedikit berlebihan.

Dewi merasakan sesuatu yang tidak nyaman di perutnya.

Bukan karena suasana.

Melainkan karena cara interaksi itu berlangsung.

Pak Tono menoleh ke arah Dewi.

Dan dalam sekejap, matanya langsung bersinar.

Tatapan itu tidak berusaha disembunyikan, penuh dengan ketamakan yang jelas, seolah ia tidak melihat Dewi sebagai mitra bisnis, melainkan sesuatu yang bisa ia manfaatkan.

“Ah, akhirnya bertemu,” katanya sambil tersenyum lebar.

Dewi hanya mengangguk tipis, tidak memberikan respons lebih.

Mereka duduk.

Tidak ada percakapan panjang sebelum Rina langsung masuk ke inti.

“Kontraknya,” katanya, menatap Dewi dengan tekanan halus. “Kita bisa langsung tanda tangan malam ini.”

Dewi tidak terburu-buru.

Ia membuka tasnya, mengeluarkan dokumen yang sudah ia siapkan, lalu meletakkannya di atas meja dengan gerakan tenang.

Pak Tono langsung mengambilnya, membuka halaman pertama, dan mulai membaca.

Beberapa detik pertama berjalan normal.

Lalu ekspresinya berubah.

Rina yang duduk di sampingnya ikut melihat, dan wajahnya juga langsung menegang.

“Ini…” katanya pelan.

“Poin komisinya naik tiga puluh poin,” ujar Pak Tono, nadanya berubah tajam.

Dewi tidak menunjukkan reaksi.

Ia hanya duduk dengan tenang, seolah perubahan itu adalah hal yang wajar.

“Sebagai Wakil Direktur,” katanya perlahan, “aku berhak memastikan perusahaan mendapatkan keuntungan terbesar.”

Nada suaranya tidak tinggi, tetapi tidak bisa dibantah.

Rina mengerutkan kening.

“Ini tidak masuk akal,” katanya.

Dewi menatapnya.

“Tidak masuk akal bagi siapa?” tanyanya balik.

Suasana menjadi tegang.

Dewi kemudian menyandarkan tubuhnya sedikit ke belakang, matanya berpindah dari Rina ke Pak Tono.

“Ngomong-ngomong,” katanya dengan nada yang tetap tenang, tetapi membawa tekanan yang jelas, “kau ini orang Grup Wijaya atau Grup Abadi?”

Pertanyaan itu langsung membuat Rina terdiam.

Tidak ada jawaban.

Dewi tidak berhenti.

Ia menatap langsung ke arah keduanya.

“Atau,” lanjutnya, “kalian sudah membuat perjanjian pribadi satu sama lain?”

Kalimat itu jatuh seperti pisau yang tajam.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi di wajah Rina dan Pak Tono benar-benar berubah.

1
Zheevanya Putri
bingung am alur cerita ny udah gitu Dewi ny gak tegas..
Punkpunk 234
kerreenn.. guyur aja Deekk.. se kali² mandi red wine tuu c sarijem 😆😆
syska
ᴄᴇʀɪᴛᴀ ʏᴀɴɢ ʙᴇɴᴀʀ ʙᴇɴᴀʀ ʙᴇᴅᴀ ᴅʀ sᴇᴍᴜᴀ ᴄᴇʀɪᴛᴀ ʏɢ ᴀᴋᴜ ʙᴀᴄᴀ....
ᴋᴇʀᴇɴ ᴀʙɪs ᴄᴇʀɪᴛᴀɴʏᴀ....
syska
ᴄᴏᴏʟ ᴅᴇᴡɪ.... 😍😍😍
Jetva
Dracin sih biasaaaa...byk omong...
Jetva
🤣🤣🤣..kamu cari mati Siti..🤣🤣🤣
Fitrian
gue bilang lo rina 🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🤮🤮
Fitrian
ciiiiiiiiihhhhhhhh itu kan gara-gara lo bego maya, dasar teman sinting 🖕
Ds Phone
darah dibayar darah lah hutang mesti dilunas kan
Ds Phone
dia jadi terlalu tegas
Ds Phone
ada muslihat muking
Ds Phone
kuasa dia lagi kuat rupa nya
Ds Phone
apa yang meraka rebut kan
Fitrian
cuuuuhhhhhhh dasar otak kodok 🤮🤮🤮🤮🖕
Fitrian
ba biiiii🐽🐽🐽🐽🐽🐽🔪🔪🖕🖕
Heriyani Lawi
sdh bercerai dari Arif? maksudnya apa?!!
Kirana Mahestri
ni tu cerita apa sih, tes nya panjang cuman kata katanya itu itu terus kaya diulang, alurnya mandek bikin jenuh
Fitrian
ciiiiiiiiihhhhhhhh bego, lo di bilang naik sebagai wakil karena naik ranjang kaka kandung lo💦💦💦💦💦💦💦🖕
Partini Minok Nur Maesa
pdhl rizky jg sering merendahkan dewi🤭
Partini Minok Nur Maesa
aku bingung arif itu sebenarnya siapanya dewi klp kkak kok panggilnya arif gx pake kak ato bang
Punkpunk 234: kirain cuma aku doang yg bingung.. ternyata ada temen yg sama bingung nya..🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!