NovelToon NovelToon
Merebut Kembali Takdirku

Merebut Kembali Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24

Ulang tahun Arga jatuh pada hari Minggu.

Ia tidak ingin merayakannya.

"Tidak ada gunanya," katanya saat Alya menyebut tanggal itu.

Alya menatap kalender. "Kamu takut kue?"

"Aku takut keramaian bodoh."

"Keramaian bisa dibuat berguna."

Arga langsung curiga. "Kamu ingin melakukan apa?"

"Syukuran kecil."

"Tidak."

"Di rumah ini. Tamu terbatas. Pak Bima, Dokter Mira, Satria, Karina, beberapa orang yang perlu melihat kamu tidak sekarat."

"Itu bukan ulang tahun. Itu demonstrasi medis."

"Kalau mau istilah lebih indah, kita sebut pemulihan."

Arga memijat kening. "Aku menikah dengan orang mengerikan."

"Kamu mulai pulih karena orang mengerikan."

"Itu bagian paling menyebalkan."

Alya tidak meminta izin lagi.

Ia mengatur acara itu dalam tiga hari. Tidak besar. Tidak ada dekorasi berlebihan. Hanya makan malam di halaman belakang kediaman Arga, meja panjang, lampu taman, menu yang disetujui Dokter Mira, dan satu kue kecil tanpa krim berat.

Yang penting bukan acaranya.

Yang penting siapa yang melihat.

Bima datang lebih awal. Ia membawa hadiah jam tangan lama milik Salma, ibu Arga. Saat kotak itu dibuka, ruangan menjadi hening.

Arga menatap jam itu lama.

"Aku kira hilang."

Bima suaranya serak. "Aku menyimpannya. Seharusnya kuberikan ketika kamu dua puluh satu."

"Aku hampir tidak bangun di ulang tahun itu."

Bima menunduk.

Alya berdiri tidak jauh, tidak menyela. Ada luka yang tidak bisa ia wakili.

Arga menutup kotak. "Terima kasih."

Hanya itu.

Namun bagi Bima, sepertinya sudah lebih dari cukup.

Karina datang bersama seorang asisten perempuan. Wajahnya terlihat lebih segar, tetapi sorot matanya berubah. Lebih keras. Ia menyalami Alya dengan genggaman yang kuat.

"Aku belum sempat berterima kasih dengan benar."

"Kamu sudah mengurus buktinya?"

Karina tersenyum kecil. "Langsung ke pekerjaan?"

"Lebih aman."

"CCTV sudah disimpan. Raka sedang ditekan keluarganya untuk minta maaf pribadi. Aku menolak. Staf Daren belum ditemukan."

"Dia akan muncul kalau merasa ditinggalkan."

"Aku berharap begitu."

Karina menatap halaman. "Kamu mengundangku bukan hanya untuk ulang tahun Arga."

"Benar."

"Bagus. Aku juga datang bukan hanya untuk makan."

Alya menyukai jawaban itu.

Satria datang terakhir. Ia membawa map, bukan hadiah.

"Kamu benar-benar tidak tahu cara datang ke ulang tahun," kata Alya.

"Aku membawa sesuatu yang lebih berguna daripada kue."

Arga yang mendengar dari kursinya berkata, "Kalau itu laporan yang membuatku bekerja di hari ulang tahun, aku benci kalian berdua."

Satria tertawa. "Setidaknya kamu terdengar hidup."

Arga mengangkat gelas air. "Katanya itu tujuan acara."

Malam berjalan lebih hangat daripada dugaan Alya.

Lilis dan Sari berkali-kali saling pandang karena melihat Arga duduk di meja luar selama hampir dua jam tanpa kolaps. Ia tetap pucat, tetap harus beristirahat di tengah acara, tetapi ia bicara. Ia mendebat Satria soal struktur yayasan. Ia menjawab pertanyaan Karina tentang program kesehatan. Ia bahkan menolak Bima saat ayahnya menyuruhnya berhenti membaca map.

"Aku sakit, bukan bodoh," katanya.

Bima terdiam, lalu tertawa pelan.

Tawa itu pendek, kaku, tetapi cukup membuat suasana berubah.

Tidak semua orang senang.

Daren dan Ratna datang menjelang makan utama.

Mereka tentu tidak bisa tidak datang. Jika tidak, orang akan bertanya. Jika datang, mereka harus melihat Arga duduk di tengah halaman rumahnya sendiri, dikelilingi orang-orang yang tidak berada di bawah kendali Ratna.

Ratna membawa hadiah mahal: lukisan kecil dari seniman terkenal.

"Untuk kamarmu," katanya lembut.

Arga menerimanya. "Terima kasih."

"Kamu terlihat lebih kuat."

"Aku memang lebih kuat."

Ratna tersenyum. "Syukurlah. Mama selalu berdoa."

Karina menunduk minum air.

Satria mengamati langit-langit seolah bintang tiba-tiba menarik.

Alya tidak menolong Ratna dari keheningan itu.

Daren mendekati Arga. "Selamat ulang tahun. Semoga pemulihanmu lancar."

"Terima kasih."

"Aku dengar kamu mulai membaca laporan yayasan."

"Sedikit."

"Jangan terlalu memaksakan diri. Yayasan sedang sensitif. Banyak hal bisa disalahpahami."

Arga menatapnya. "Aku justru ingin memahami sebelum disalahpahami."

Daren tersenyum. "Masih tajam."

"Mulai diasah lagi."

Alya melihat rahang Daren mengeras tipis.

Acara seharusnya tetap terkendali sampai Ratna melihat Karina duduk dekat Alya.

"Karina," kata Ratna, "Tante senang kamu datang. Semoga kejadian kemarin tidak membuatmu menjauh dari yayasan."

Karina menatapnya.

"Saya tidak menjauh dari program kesehatan, Tante. Saya hanya lebih berhati-hati dengan pengelolanya."

Suasana meja langsung diam.

Ratna tersenyum, tetapi matanya dingin. "Tentu. Itu hakmu."

"Saya juga sudah meminta tim ayah saya meninjau beberapa kerja sama. Bukan untuk menyerang. Hanya memastikan program tidak dipakai untuk kepentingan lain."

Daren meletakkan garpu.

Satria berkata santai, "Langkah yang baik."

Ratna menatap Satria.

Bima memperhatikan semuanya.

Arga bersandar sedikit, lelah tetapi puas. Alya melihat napasnya mulai berat, lalu memberi isyarat pada Lilis. Lilis segera mendekat dengan obat dan air.

Ratna melihat itu.

"Alya," katanya lembut, "kamu benar-benar mengatur semuanya. Bahkan kapan Arga minum."

Alya menjawab, "Iya."

Jawaban itu terlalu singkat untuk diserang.

Ratna tertawa kecil. "Kamu tidak takut orang mengira Arga berada di bawah kendalimu?"

Arga meletakkan gelas.

"Kalau orang melihat aku hidup lebih baik lalu menyebutnya dikendalikan, berarti selama ini mereka nyaman melihat aku tidak berdaya."

Ratna terdiam.

Bima menatap putranya.

Karina tersenyum kecil.

Satria menunduk, mencatat sesuatu di mapnya.

Malam itu, tanpa pidato dan tanpa pengumuman, posisi Arga berubah di mata beberapa orang.

Ia belum kembali ke Pradipta Group.

Belum punya jabatan.

Belum cukup kuat berjalan jauh tanpa tongkat.

Tapi ia tidak lagi tampak seperti pria yang menunggu mati.

Saat acara selesai, Arga duduk di ruang kerja dengan wajah sangat lelah.

"Aku membencimu," katanya kepada Alya.

"Karena?"

"Karena acara itu berhasil."

"Sama-sama."

"Aku belum berterima kasih."

"Aku menerima lebih awal."

Arga menatap kotak jam tangan Salma di meja.

"Dulu aku pikir ulang tahun hanya pengingat bahwa tubuhku bertahan satu tahun lagi tanpa tujuan."

Alya tidak menjawab.

"Malam ini menyebalkan," lanjutnya. "Terlalu ramai. Terlalu banyak tatapan. Tapi setidaknya aku tahu satu hal."

"Apa?"

"Mereka lebih takut melihatku duduk di meja daripada terbaring di ranjang."

Alya tersenyum tipis.

"Selamat ulang tahun, Arga."

Ia menatapnya.

Untuk pertama kalinya malam itu, senyumnya tidak sinis.

"Terima kasih, Alya."

Di rumah utama Pradipta, Ratna pulang dengan wajah tenang dan langkah yang terlalu pelan. Daren mengikutinya sampai ruang duduk pribadi. Begitu pintu tertutup, senyum Ratna hilang.

"Kamu lihat?" tanyanya.

"Arga lebih kuat dari dugaan."

"Bukan hanya Arga." Ratna meletakkan tasnya di meja. "Alya mengumpulkan orang-orang yang salah. Karina, Satria, bahkan Bima mulai mendengar dia."

Daren membuka kancing jasnya. "Aku bisa urus Satria."

"Jangan terlalu percaya diri. Satria tidak bisa dibeli dengan cara biasa."

"Lalu?"

Ratna menatap lukisan keluarga di dinding, lukisan yang tidak pernah memasukkan Arga. "Kalau Alya menguat karena dianggap satu-satunya orang yang bisa mengurus Arga, kita beri dia seseorang yang tampak lebih pantas membantu."

Daren mengerti perlahan. "Maya?"

Ratna tersenyum tipis. "Maya lembut. Terlatih. Dan punya sejarah yang cukup untuk membuat Alya terlihat cemburu kalau menolak."

Malam itu, hadiah kedua untuk Arga mulai disiapkan.

Di kamar kerjanya, Ratna membuka profil Maya Lestari.

Foto perempuan itu rapi. Senyumnya tidak terlalu lebar. Riwayat kerjanya bersih: perawat privat, pendamping rehabilitasi, konsultan keluarga untuk pasien pascaoperasi. Semua terlihat seperti jawaban bagi rumah yang sedang kacau.

Daren berdiri di dekat jendela. "Maya masih mau?"

"Orang yang pernah hampir masuk keluarga ini tidak mudah menolak kesempatan kembali."

"Arga dulu tidak memilih dia."

"Arga dulu tidak pernah benar-benar memilih siapa pun."

Daren menoleh. "Kalau Maya terlalu berharap?"

Ratna menutup berkas. "Harapan orang lain bisa dipakai selama tidak diberi janji tertulis."

Kalimat itu membuat Daren diam.

Ratna tidak peduli. Baginya manusia selalu punya pegangan: uang, status, cinta lama, rasa bersalah. Alya sulit karena ia mulai melepaskan semuanya. Maya berbeda. Maya masih ingin dilihat.

Dan orang yang ingin dilihat selalu bisa diarahkan ke panggung yang tepat.

1
Aisyah Suyuti
menarik
Rossy Annabelle
next thor 💪,alurnya menarik sih thor ada bab ambisius gitu .tentang orang² besar yah🤔tp seru sih
Irsyad layla
kapan lanjut lagi thor
Irsyad layla
tapi tadi dia bawa mobil sendiri
Rossy Annabelle
bayi tabung GX tuh yg Segede gaban/Facepalm/
Rossy Annabelle
next ,doble up-nya thor/Chuckle/
Rossy Annabelle
next💪
Rossy Annabelle
sampe sini bagus thor ceritamu ada vote buat author 😁
Rossy Annabelle
apakah Maya kartu as Ratna y thor
Dewi Sartika
lanjutt Thor
Dewi Sartika
bagus ceritanya.,ga bertele² ,gass thor
ririn nurima
cerita nya seru ...aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!