Pernikahan Amel yang sudah di depan mata itu mendadak batal karena calon suaminya terjebak cinta satu malam dengan perempuan lain. Demi untuk menutupi rasa malunya akhirnya Amel bersedia dinikahi oleh pria yang baru dikenalnya di acara pernikahannya tersebut. Revan yang bekerja sebagai hacker itu akhirnya menjadi suami Amel. Serba-serbi unik dua manusia asing yang terikat dalam hubungan pernikahan itu membuat warna tersendiri pada kehidupan keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rens16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 : Pindah rumah
Pagi itu Amel terbangun dalam belitan tangan kekar Revan. Amel mencoba mengurai pelukan itu tapi tangannya tak sengaja menyentuh perut Revan yang terekspos.
Amel melihat penampakan Revan yang lucu dan menggemaskan. Kaos milik Amel naik sampai ke atas dada sana, memang kaos itu pastinya kekecilan dipakai oleh Revan, dasarnya Amel saja yang iseng.
Revan menggeliat dan kembali tidur dengan memeluk guling. Tidurnya sudah mirip orang mati yang tak terganggu dengan keadaan sekitarnya.
Amel keluar dari kamarnya dan menjumpai Bibik sudah dateng ke rumah itu.
"Di depan ada motor, motornya siapa, Non?" tanya Bibik.
"Motornya Revan!" jawab Amel sambil menuangkan air dalam gelas dan meminumnya.
"Disusulin tho!" goda Bibik dengan senyum merekah.
"Nekat masuk ke rumah padahal udah aku kunciin!" ketus Amel membuat Bibik semakin tertawa.
Hidup puluhan tahun mengabdi di rumah itu dan mengasuh Amel sejak bayi, Bibik tahu Amel itu orang yang baik dan penyayang, meskipun kemarin dia uring-uringan karena suaminya tak bisa dihubungi, tapi Amel akan semudah itu memaafkan kalau alasan suaminya itu menghilang bisa diterima dengan akal sehatnya.
"Jadi masakin Amel sop iga, Bik?" tanya Amel.
"Jadi, tapi ini cuman beli iganya sekilo doang! Cukup nggak, Non?"
"Cukup itu, aku mah makan satu gelinding doang juga nggak masalah, biar itu dimakan Revan!" jawab Amel.
Bibik tersenyum, sekarang dia lega karena Amel di tangan suami yang tepat.
Jujur saat Amel memutuskan untuk menikah dengan Doni kemarin, Bibik sempat khawatir karena Amel lebih banyak berkorban untuk calon suaminya itu.
Amel tak segan keluar uang dan tenaga untuk memanjakan Doni. Sementara Revan bisa memberikan nafkah yang cukup untuk Amel, meskipun nafkah itu tak terlalu besar tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan Amel.
"Aku tuh sebenarnya pengen ngajakin Revan pindah ke sini, Bik! Sayang banget kalau rumah ini dibiarkan kosong, tapi dia harga dirinya terlalu tinggi makanya nggak bakalan mau nebeng istri!"
"Itu namanya cowok bener, Non! Bukan cowok jadi-jadian yang modal tytyd doang!" celetuk Bibik santai.
"Bibik ih, bawa-bawa begituan!" Amel menggeleng pelan.
Tanpa mereka sadari Revan mendengarkan pembicaraan keduanya. Iya sih rumah ini terbilang bagus dan nyaman untuk ditinggali, rasanya Revan terlalu egois memaksa Amel untuk tinggal dikontrakannya yang sempit.
"Ney!" panggil Revan pura-pura dari kamar.
"Eh udah bangun!" Amel berdiri lalu mengambilkan air untuk Revan.
"Makasih, Ney!" Revan meneguk air putih itu dengan rakus.
"Pinjem kaos lagi, Ney, tapi yang gedean jamgan yang kayak gini!' pinta Revan lembut.
"Bentar aku cariin!" Amel berlalu ke kamarnya dan mencari kaos di dalam lemari itu.
"Kamu beneran nggak papa aku numpang di rumah ini?" tanya Revan tiba-tiba.
Amel menoleh dan menatap Revan dalam. "Aku nggak mau jadi cowok yang memanfaatkan keadaan, aku nggak mau membebani kamu."
"Aku nggak masalah kita mau tinggal di mana, Be! Cuman rumah ini kan nggak ada yang nempatin, sayang aja sih dibiarkan kosong dan malah bakalan rusak nanti. Aku malah seneng kalau kamu mau menempati rumah ini!" ucap Amel sambil menyerahkan kaos oversize nya kepada Revan.
Revan menimbang sejenak, sewa kontrakannya sebentar lagi habis, mungkin memang lebih baik mereka tinggal di rumah ini, nanti tinggal bagaimana caranya Revan menambahi uang bulanan untuk Amel sebagai biaya keperluan rumah segede ini yang tak mungkin lebih murah dari rumah kontrakan mereka.
"Ya udah aku setuju kita pindah ke sini!"
Ucapan Revan itu membuat Amel tersenyum lebar lalu menghambur memeluk Revan.
"Makasih, Sayang!" ucap Amel dengan tulus.
Revan mengusap punggung itu dengan lembut dan mencium puncak kepala Amel dengan penuh kasih.
***
Revan dan Amel tak perlu menunggu lama untuk memindahkan barang-barang mereka ke rumah Amel.
"Itu kasur, kulkas sama yang lainnya kasihin ke orang aja, Ney!" ucap Revan saat mereka sedang duduk bersantai di teras rumah Amel.
"Kulkasnya sama dispensernya masih baru banget, mending kamu bawa ke warung, siapa tahu bisa dimanfaatin di sana!"
"Iya bener juga, warung lagi butuh kulkas lagi, kemarin Eza bilang gitu!"
"Ya udah buruan kabarin Eza nya biar nggak terlanjur beli lagi!"
Revan pun mengirimkan chat ke nomor Eza dan memintanya mengambil kulkas dari rumahnya.
"Ney..." panggil Revan.
"Hmmm." Amel menjawab.
"Paviliun belakang itu boleh aku jadiin ruang kerja nggak?" tanya Revan meminta ijin.
Amel ketap-ketip mendengar pertanyaan itu. "Maksud aku biar kalau kita ada kerjaan yang kayak kemarin lagi kamu nggak kepikiran sama aku. Karena namanya juga pekerjaanku kayak gitu jadi kadang suka lembur nggak kenal waktu!" lanjut Revan karena Amel tak menjawab pertanyaanya, Revan takut Amel keberatan.
"Nggak papa, Be! Pakai aja, aku malah bersyukur kamu mau pindah kantor ke sini." Amel semakin lebar senyumnya. Dia tahu dari hal ini saja Revan begitu peduli dan memikirkannya.
"Ya udah nanti aku bakalan pindahin semua server ke paviliun belakang!"
"Rapiin dulu tapinya, aku nggak pernah masuk-masuk ke sana sejak papa sama mama meninggal!"
"Nanti aku suruh anak-anak buat beresin!" Revan setuju.
"Sekalian aja aku beresin lemari arsip di lemari yang ada di paviliun itu!"
"Semangat banget, Ney!"
"Iyalah, aku seneng akhirnya bisa tinggal kembali di rumah ini!"
"Mbak Amel!" sapa Bu RT yang kebetulan melintas di rumah itu.
"Bu RT!" Amel mendekat lalu menjabat tangan Bu RT.
"Beneran mau tinggal lagi di rumah ini?" tanya Bu RT ramah.
"Iya, Bu! Sayang rumahnya kalau dibiarin kosong gini!" jawab Amel.
"Syukurlah kalau Mbak Amel beneran mau tinggal di sini lagi. Lingkungan sini tuh terkenal aman, Mbak. Bapak-bapak komplek aja masih pada mau ronda buat jaga keamanan, Ibu suka kasihan kalau ngebayangin Mbak Amel tinggal sendirian di luar sana!"
"Saya sekarang punya suami, Bu!" Amel terkekeh.
"Oh iya, Ibu sampai lupa!" Bu RT menepuk jidatnya pelan.
"Nanti sore saya ke rumah mau laporan sama Pak RT kalau suami saya sekarang tinggal di rumah ini sama saya!"
"Siap, Mbak! Sekalian nanti masnya diajakin arisan bapak-bapak biar tambah akrab dengan penghuni komplek sini!"
Mendengar itu Revan langsung waspada. "Gue disuruh ikut arisan bapak-bapak? Alamat amsyong nih hidup gue!" ucap Revan pelan.
"Nanti diusahakan ya, Bu! Suami saya meskipun masih muda tapi kerjaannya padet banget!"
"Aman, Mbak, aman!"
Lalu Bu RT pamit dari rumah itu menyisakan Amel yang tersenyum samar mengingat ajakan Bu RT agar Revan ikut kegiatan bapak-bapak di komplek itu.
"Lucu juga sih kalau dia beneran mau ikuta!"
Amel menyembunyikan tawanya dan masuk ke dalam rumahnya.