NovelToon NovelToon
Untuk Kehidupan Kedua Kami

Untuk Kehidupan Kedua Kami

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Isekai / Fantasi / Romansa / Mengubah Takdir
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: sila

Kalista, seorang food blogger dengan ribuan penggemar dimana mana.
setiap konten yang di upload nya di media sosial akan selalu mendapat jutaan views.
tentu saja hobinya yang paling jelas adalah makan.

Aruna, putri dari seorang paruh baya pemilik restoran terkenal, dia bekerja ditempat ibunya sebagai latihan karena setelah lulus SMA dia akan meneruskan usaha ibunya itu.
salah satu kebiasaan nya adalah melakukan beatbox.

Luna, anak dari seorang petani, didesa nya orang tuanya adalah yang paling kaya.
mereka punya banyak tanah yang dijadikan kebun buah dan sayur, padi dan juga dijadikan tempat ternak hewan yang salah satunya adalah sapi dan kambing.
Luna sendiri punya satu sapi kesayangan yang dia berikan nama blackmoo, sapi nya hitam dan selalu lapar hingga terus berisik.

secara tidak terduga ketiga gadis itu mati dan berpindah ke masa lalu dijaman kuno, abad pertengahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31

Caily menatap punggung Max yang menjauh, ia tidak tahu apa yang sudah dia bahas bersama gurunya, Thalgor.

Sepertinya itu sesuatu yang sangat serius bahkan sampai membuat guru Thalgor terdiam sejenak ditempatnya, tampak merenung.

Ia tidak bisa bertanya, ia tidak ingin bersikap lancang.

"Apa yang sedang kamu pikirkan?"

Caily tersentak pelan, terkejut dengan suara berat namun lembut yang akhir-akhir ini ia pikirkan.

Lysander tersenyum tipis saat melihat raut wajah Caily yang tampak kembali ceria.

Gadis itu menoleh sambil tersenyum lebar, mata biru lautnya yang berada dibalik kain sutra tampak berbinar.

"Ada perlu apa kau kemari?" Tanya Caily dengan wajah cerianya.

Lysander hanya tertawa kecil mendengar pertanyaannya.

"Tentu saja ingin bertemu guru, memangnya apa lagi? kau berharap aku ingin bertemu denganmu?"

Pria itu tersenyum sambil melontarkan candaan, namun Caily malah merasa detak jantungnya semakin meningkat.

Caily sempat terdiam sebelum senyum kecilnya melebar menjadi senyuman manis.

"Ya, mungkin saja, atau kau malu mengakuinya?"

Dia hanya berniat bercanda, namun ia tidak menyadari lubuk hatinya berharap jika Lysander menganggukkan kepalanya.

Lysander hanya tertawa geli, merasa tingkah Caily seperti anak-anak, tangannya terulur mengusap pucuk kepalanya dengan lembut.

Tanpa menyadari dampaknya begitu besar bagi Caily, gadis itu mengalihkan pandangannya dan menatap tanah, rona merah tipis muncul di pipinya.

"Baiklah, berhenti bercanda, aku ingin bertemu guru." Ucap Lysander masih dengan nada lembutnya.

Caily tahu, Caily sadar itu hanya candaan, tapi ia denial, menganggap semuanya masih bisa ia raih dengan usaha, dan ia akan terus berusaha.

Begitulah Lysander pergi.

.

.

.

Minggu ini adalah Minggu pertama ia kembali ke akademi, Caily tersenyum lebar.

Diujung sana, Rosetta dan Vione menjemputnya.

"Lama banget, betah lo di gunung?" Sindir Vione.

"Betah lah anjir, sekarang gue punya banyak kuda, mau berangkat perang juga bisa." Balas Caily sambil mengibaskan rambut putihnya.

Rosetta melirik kearah penutup matanya, lagi-lagi kain sutra putih.

"Lo gak ke ganggu sama tuh kain? bisa lihat?"

Caily mengangguk, ia melepas sejenak kain sutra itu hingga tampaklah netra biru lautnya yang cantik, khas keluarga Valkey.

Vione sekali lagi merasa takjub dengan warna itu, menurutnya warna itu cocok dengan visual Caily.

"Sans, gua malah ngerasa lebih nyaman kalau pakek penutup ini."

Kedatangan Caily cukup untuk membangkitkan banyak gosip, terutama pada kain sutra putih yang menutupi matanya.

Disisi lain, gosip yang dulunya tenggelam oleh prestasi Alisa kini kembali naik, gosip tentang hubungan Caily dan Shanez.

Tentu saja karena sekarang Caily kembali ke akademi, mereka menanti bagaimana reaksinya saat mengetahui jika tunangannya malah mencintai gadis lain, apalagi hubungan keduanya malah direstui oleh sebagian murid akademi.

Saat ini, Shanez hanya memandang dingin pada orang-orang yang memandangnya dan Alisa, ia juga sudah mendengar tentang kembalinya Caily.

Tapi ada banyak juga bangsawan yang menatap hubungan keduanya sebagai aib dan hal yang menjijikkan, terutama mereka yang selalu menjunjung martabat keluarga bangsawan mereka.

"Cih, seorang nona bangsawan dan pangeran? menurutku mereka hanya sekumpulan hewan yang sedang birahi."

Kata-kata tajam dan pedas itu benar-benar mengejutkan, selain keberaniannya, disisi lain itu juga terdengar seperti pernyataan.

"Benar juga, kemarin aku dengar seseorang mengatakan hal yang sama, tapi siapa, ya?"

"Bukankah itu Nona Vione dan putri Rosetta?"

"Benar juga, perdebatan dikantin waktu itu, kan?"

Begitulah kira-kira perbincangan mereka.

Sebagian murid yang tidak ingin ikut campur hanya mendengarkan, selebihnya mereka tetap tekun belajar dan meningkatkan kemampuan.

Hari ini adalah pelajaran sihir, dan Caily yang tidak memilikinya hanya bisa menahan diri dan tidak emosi saat beberapa dari mereka memandangnya sambil bergosip dan tertawa.

Dia diam-diam melepas kain sutra putih dimatanya, mengubah warna matanya sambil memandang jauh pada lapangan, tempat dimana para murid sedang berlatih sihir bersama hewan kontraknya.

Kening Caily berkerut samar saat mendapati sedikit keanehan, beberapa hewan kontrak itu langsung celingukan seolah sedang mencari sesuatu, bahkan mereka tampak mengabaikan tuan mereka sendiri.

Saat hewan hewan itu akhirnya menatap kearahnya, Caily tersentak pelan.

Lalu secara perlahan, ia menggerakkan tangannya seolah memanggilku mereka untuk mendekat, hanya untuk mengetes saja.

Namun yang tidak ia duga, hewan-hewan kontrak itu bergerak mendekatinya seolah mengerti akan panggilannya.

Caily tentu saja syok, namun sejenak kemudian ia tersenyum lebar hampir seperti seringai tajam.

Kemampuannya memang tidak sesederhana itu.

Caily segera menutup matanya sebelum mereka semua menyadari jika matanya bisa berubah warna, karena sekarang matanya kembali berwarna biru.

Sedangkan para tuan dari hewan-hewan yang kini mengelilingi Caily menjadi sangat bingung, bahkan saat mereka memanggil hewan kontrak mereka sendiri, hewan-hewan itu masih tidak mau meninggalkan Caily.

Mereka semua bingung kecuali Rosetta dan Vione, keduanya malah tertawa pelan.

Barulah saat Caily melambaikan tangannya seolah menyuruh hewan-hewan itu pergi, mereka benar-benar kembali kepada tuannya masing-masing.

Itu semakin membuat suasana semakin terasa membingungkan dan canggung.

.

.

.

Disisi lain, seorang gadis dengan buku catatan miliknya tengah menatap tumbuhan ditaman belakang akademi.

Ia mencatat tentang pertumbuhan setiap tanaman, terkadang ia mengernyitkan dahinya saat dirasa ada sesuatu yang aneh dari tumbuhan itu.

Saat ia mengulurkan tangannya untuk memeriksa semua tumbuh-tumbuhan itu, secara mendadak ia terbatuk keras dan segumpal darah hitam keluar dari mulutnya, mengalir dan jatuh ketanah.

Matanya berputar dan ia terus memukul dadanya seperti orang yang merasa sesak karena pasokan oksigen nya melemah, ia tersungkur ketanah dengan tubuhnya yang perlahan kejang.

Sekumpulan asap hitam, aura yang membungkus tanaman-tanaman itu keluar dan mendekati gadis itu, lalu masuk melalui telinga dan mulutnya.

Tubuhnya berhenti bergetar dan perlahan matanya kembali normal, namun pandangan matanya seolah kosong.

Dia bangkit dan pergi begitu saja meninggalkan buku catatannya yang tergeletak di tanah.

.

.

.

Sang profesor, Lay.

Dia mengerutkan keningnya dengan heran saat mendapati catatan yang tergeletak ditanah, dia mengambil buku itu dan mengamatinya sejenak.

Ia juga merasakan hal yang sama dengan catatan itu, keanehan dalam pertumbuhannya.

Dia mengamati tumbuhan itu melalui pandangannya yang tajam dan menemukan asap hitam yang menggumpal disetiap daun dan bunganya, bahkan tangkainya juga terlihat kurus kering padahal tumbuhan itu tumbuh tinggi seolah dia sangat subur.

Dia mengulurkan tangannya dan mengambil gumpalan asap hitam itu, memasukkannya pada botol kaca ukuran kecil lalu pergi sambil membawa benda itu.

.

.

.

Bruk!

Caily mendengus pelan saat tak sengaja bertabrakan dengan Alisa, dia menebak sesaat lagi akan ada drama baru.

Alisa, dalam pelukan Shanez tampak terkejut lalu segera menjauh seolah gugup dan takut, tentu saja Caily ada tunangannya Shanez, dan Shanez yang dijauhi oleh Alisa kini menatap tajam pada Caily karena menganggap semua itu adalah ulahnya.

Belum sempat dia menegur Caily, sosok Lysander muncul dibelakang Caily hingga gadis itu terkejut dan seluruh atensinya jatuh pada pria tampan dan lembut itu, mengabaikan Alisa dan Shanez.

"Sejak kapan kau disana?" Tanya Caily dengan antusias.

Lysander hanya tertawa kecil, tangannya terangkat hendak menyentuh kepala Caily namun terhenti saat mendengar suara yang sangat familiar baginya.

Rosetta dan Vione datang mendekat, Caily menoleh dengan senyumannya yang masih lebar, tidak menyadari jika Lysander kini menaruh seluruh perhatiannya pada Vione, pandangannya tampak sangat lembut dan penuh kehati-hatian.

Rosetta menyadarinya dan sedikit menjadi canggung, ia diam-diam melirik kearah Caily.

"Lyan, sedang apa kau disini?" Tanya Vione dengan rasa ingin tahu.

Caily menoleh kearah Vione saat mendengar panggilan akrab itu, dan belum sempat ia bertanya, suara berat namun lembut milik Lysander terdengar.

"Hanya mendapat panggilan dari kepala akademi, ada kelas yang harus aku bantu."

Ya, terkadang dia menjadi pengajar diakademi itu berkat pengetahuannya dibidang sihir yang luar biasa.

Vione mengangguk mengerti, dia mengalihkan pandangannya dan menyadari jika Alisa dan Shanez berada disana.

"Bukankah kita harus pergi?" Tanya Vione sambil menatap kearah Rosetta dan Caily.

Keduanya hanya mengangguk, lalu serentak menatap kearah Lysander yang hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya, terutama pada Vione.

"Ya, mungkin nanti kita bisa bertemu lagi dikantin."

"Untuk apa?" Vione mengernyitkan dahinya, ia selalu merasa Lysander sangat sibuk, jadi untuk bertemu lagi tentunya hanya masalah kesibukan juga, begitulah pikirnya.

Lysander hanya tertawa. "Orang sibuk juga butuh makan, Vio."

Vione mendengus pelan sedangkan Caily menatap Lysander dengan sedikit keterkejutan, tampaknya keduanya lebih akrab dari yang ia pikirkan.

Rosetta semakin merasa canggung.

Disisi lain, ternyata Shanez menyadari semuanya, terutama pada pandangan Caily yang tidak pernah lepas dari wajah Lysander.

Dan diam-diam ia mengejek kondisi itu, mengejek betapa menyedihkannya Caily, selain ia sampah tanpa kemampuan sihir, ia juga gagal dalam perasaannya.

Ia berpikir, seluruh hidup Caily adalah kegagalan.

1
Dewiendahsetiowati
kapan ketahuan belangnya si biang kerok Alisa
UMMI HABIBAH
lanjut thorrr
Dewiendahsetiowati
gak ada jari emas kah untuk salah satu MC nya
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Dia Fitri
/Good/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!