(Series kedua dari novel HOLPY)
Memasuki lintas waktu dan terlempar ke masa lalunya melalui buku yang ada di ruang kerja ayah. Mi'er sempat bingung dunia apa itu, namun perlahan dia mulai mengerti dan mengetahui banyak rahasia yang telah terjadi.
Memiliki banyak seseorang yang berada di pihaknya, tidak lupa banyak juga yang menjadi musuhnya. Namun mi'er bertekad untuk tetap bertahan hidup di dunia itu, dia berkata bahwa dirinya tidak mau berakhir menyedihkan seperti ibunya.
Mi'er terlahir sebagai anak yang berbakat dan kuat, tapi dirinya belum mengetahui bagaimana cara menggunakan kekuatan itu, menyebabkan dirinya harus masuk perguruan Zhen dan bertemu banyak orang.
Cinta pertama, sahabat, serta musuh bermula dari sana. Hingga kehidupan itu membuatnya nyaman dan tidak ingin meninggalkan. Tapi suatu kejadian membuatnya merasa sedih dan harus mengulangnya kembali.
Season 2 :
Ratusan tahun berlalu, Mi'er telah di angkat menjadi seorang Dewi bunga yang tinggal di paviliun hwamei. Seorang penari yang terkenal cantiknya.
Putra mahkota Yong Sicheng telah jatuh cinta sejak pandangan pertama pada penari di paviliun hwamei tersebut, namun dia sudah memiliki tunangan yang akan menjadi putri mahkota.
Segala cara dilakukan agar Sicheng mendapatkan hati Mi'er, begitu pula dengan Mi'er yang tak luput dari ingatan lamanya.
Namun ada satu hal yang membuat hubungan mereka sedikit berjarak, yakni antara calon kaisar dan rakyat biasa atau bahkan manusia dan Dewi bunga.
Bagaimana kah kisah cinta perjuangan mereka? Bisakah Yong Sicheng menjadikan Mi'er pasangan hidupnya? Lalu apakah Mi'er akan mendapatkan restu dari Maha Nuwa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crieestalies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 : hari kerajaan barat
Mi'er berlari kesana kemari, ada banyak makanan dan kue kelinci kesukaannya. Tak lupa ia mengunyah kue itu dengan penuh perasaan, bahkan di tangan kirinya sudah ada surat kuno kelulusan murid putri terbaik di perguruan Zhen.
"Niang!!!" Teriak mi'er sambil berlari ke arah Permaisuri Shen.
Mi'er memeluk permaisuri Shen dia sangat senang pada akhirnya bisa kembali kesini dengan selamat, dengan wajah sumringah permaisuri Shen menerima surat kelulusan itu rasa bangga.
"Suami ku! Lihat, mi'er mendapatkan gelar murid terbaik." Permaisuri Shen sangat senang.
Kaisar Yuwen menggusak-gusak puncak kepala Mi'er tanda ia sangat menyayangi putri angkatnya itu.
"Karena kamu sudah berhasil mendapatkan gelar terbaik, Die akan membuat acara selamat bertepatan dengan hari kerajaan barat besok." Senyum kaisar Yuwen.
Mi'er kegirangan, sudah lama ia tidak di buatkan acara, bisa jadi dia bisa menikmati banyak makanan. Usai mengobrol dan menyantap makan malam, mi'er kembali ke kamarnya sembari merenung menatapi bintang-bintang.
Dia suka sekali membuat teka-teki dari bintang-bintang yang muncul di langit, dengan cara menyatukan bintang itu menggunakan tangannya meski tak nyata. Betapa terkejutnya mi'er ketika berhasil menyatukan semua bintang-bintang yang ada.
Tertuliskan disana hanzi Chengyun, tak sadar mi'er meneteskan air matanya. Berusaha untuk melupakan pun sepertinya tidak bisa, mi'er merasa laki-laki itu terlalu baik untuk hadir di kehidupannya.
"Maaf." Ucap mi'er di dalam sunyi.
Keesokan harinya tepat dimana pesta besar-besaran yang akan di ikuti rakyat maupun keluarga kerajaan, mereka menikmati setiap detik yang ada. Mi'er bersenang-senang sembari menari-nari sesama kawanan penari, lalu dirinya di tarik oleh Zimo dan di minta untuk mengambilkan layangan di atas pohon.
Mi'er ingin mengambil layangan itu dengan kekuatannya tetapi ada banyak orang awam barat yang mungkin akan terkejut dengan kekuatan mi'er, ia pun mengurungkan niatnya.
"Zimo, nanti jiejie belikan yang baru ya? Sekarang kita nikmati dulu saja acaranya." Ajak mi'er.
Zimo menggelengkan kepalanya dia membalas. "Zimo tidak mau, Zimo hanya ingin layang-layang itu." Katanya.
"Baik! Orang barat membutuhkan penerus yang setia!" Seru mi'er.
Ia pun berlari ke arah pohon, "haish." Dengusnya, sesekali melirik ke arah Zimo, terlihat disana anak itu sangat memohon, Mi'er tidak tega jika meninggalkannya begitu saja, tapi dia harus berhadapan dengan pohon yang kira-kira tingginya lebih dari 3 meter.
"Ayo jie semangat!!" Teriak Zimo.
Mi'er mulai memanjat, dirinya tidak pandai melakukan itu namun demi Zimo, Mi'er berani memanjat pohon. Saat sampai di dahannya, tangan mulai ter ulur ke arah layang-layang yang tersangkut, tapi keseimbangannya mulai terganggu.
Kaki mi'er bergoyang-goyang, di tambah lagi panggilan dari permaisuri Shen mengejutkan dia, Mi'er takut di marahi.
"Mi'er! Apa yang kamu lakukan di atas sana!" Teriak permaisuri Shen.
Krak! Batang yang Mi'er injak patah, dirinya terjerit dan jatuh pasrah. Permaisuri Shen terkejut tapi untungnya seseorang datang dan menyelamatkan Mi'er.
"Apakah aku sudah mati?" Tanya Mi'er sembari membuka perlahan matanya.
Sekali melihat ada sosok laki-laki yang menangkap tubuhnya, Mi'er terkejut lalu sontak mendorong laki-laki tersebut dan ia terjatuh.
"Putri ku! Kamu tidak apa-apa?" Tanya permaisuri Shen.
"Uhh Niang, punggung ku sakit sekali." Keluh Mi'er.
"Makanya kamu jangan memanjat pohon." Oceh permaisuri shen.
Mi'er terfokus dengan laki-laki yang menangkapnya tadi, setelah di lihat lebih teliti ternyata ada bambu panjang di samping pohon, laki-laki itu menggunakannya untuk mengambil layangan lalu memberikannya pada Zimo.
Zimo berterima kasih dan pergi, sedang Mi'er berusaha menahan rasa malunya, bodoh sekali pikirnya.
"K-kamu sebenarnya siapa?!" Tanya mi'er.
"Ah iya, Saya Rong jue pangeran dari keluarga rong. Salam kenal putri mi'er." Ucapnya.
Rong? Tatapan mi'er terpaku ke arahnya, seketika mi'er teringat dengan laki-laki bertopeng rambut putih. Marga nama yang sama tetapi ciri-ciri yang berbeda, sepertinya Mi'er harus lebih dekat dengan laki-laki itu untuk menyelidiki hal lebih dalam.
"Perkenalannya kita tunda dulu, mari melihat acara inti." Ajak permaisuri Shen.
Mi'er merasa tak tenang, sepanjang acara inti dia selalu curi pandang ke arah pangeran Rong jue. Tangannya berada di pinggang sembari mengusap pinggul yang sakit. Akhirnya mi'er memutuskan untuk mengobrol dengan pangeran Rong Jue, sialnya malah tersandung lalu jatuh di hadapan pangeran itu.
Mi'er menutup wajahnya malu, menjadi pusat perhatian yang sangat ia benci. Demi kebaikan pangeran Rong Jue membawa mi'er pergi dari acara itu, mereka duduk di bawah pohon dimana kesepian melanda.
Mi'er masih menahan rasa malunya dengan menutup wajah melalui kedua telapak tangan, pangeran Rong Jue pun menarik tangan Mi'er.
"Nanti dulu, aku masih merasa malu." Kata mi'er.
Pangeran Rong Jue tertawa, dia bukan berasal dari keluarga istana. Tapi keluarga rong juga termasuk marga yang di hormati, akhirnya mi'er berani menatapnya.
"Wajah mu tak asing bagi ku, apakah kita pernah bertemu?" Tanya Mi'er dengan sengaja untuk memancingnya.
Pangeran Rong Jue menyikapi dengan santai. "Benarkah? Dimana kita bertemu?" Senyumannya sangat manis.
"Hiy!!! Jangan dekat-dekat." Mi'er menjauh.
Setelah menjauh Mi'er melihat tangan Rong Jue yang tertutup, dengan cepat dia menarik tangan itu lalu menyingkirkan lengan pakaian. Ternyata tangannya masih utuh tidak seperti laki-laki bertopeng, mungkin saja mi'er salah paham.
"Ada apa?" Tanya Rong Jue.
"Uhum, tidak ada! Hei lain kali kita mengobrol lagi ya? Aku ada urusan penting." Jawab Mi'er lalu pergi.
"Tunggu!" Rong Jue hendak menahan mi'er namun perempuan itu telah pergi, di tangannya ada jepit rambut yang terjatuh tentu saja itu punya Mi'er.
Mi'er kembali menyusul keramaian, dia tertawa kecil akhirnya bisa bertemu lagi dengan Rong Jue. Dia sengaja meninggalkan jepit rambut itu, agar mempunyai alasan untuk datang ke kediaman keluarga Rong.
Tuk! Gu Yao menepuk pundak mi'er sambil memakan tomat tanghulu yang di buat kala itu, dia mengunyah pelan dan bertanya kemana saja Mi'er pergi.
Bukannya menjawab mi'er minta di temani datang ke kediaman keluarga rong besok, alhasil mereka menyusun sedikit rencana demi melakukan hal itu.
"Putri hari ini peringatan tentang seluruh perempuan, anda harus diam berkurung di dalam paviliun selama sehari dulu. Jika permaisuri tahu kalau anda keluar, dia bisa saja marah." Pelayannya takut memperbolehkan putri Mi'er keluar.
"Aish, kalau gitu kamu tinggal berbohong. Atau menggantikan aku tidur di atas kasur itu." Tunjuk mi'er.
"Putri tapi..." Ragu pelayannya.
"Shtt..." Mi'er menutup mulut pelayan itu, hari berkunjung ke kediaman keluarga Rong telah tiba.
Setelah pelayan itu mau menuruti perintah Mi'er ia pun memanjat tembok belakang untuk keluar secara diam-diam.
"Mi'er." Panggil Gu Yao yang baru saja membuka pintu gerbang belakang, di pikir Mi'er pintu itu terkunci.
"Kenapa kamu tidak bilang dari awal!" Kesal mi'er karena dirinya sudah terlanjur memanjat tembok.
kau rela meninggalkan dunia demi org yg kau cintai 😘😘
lanjut ....😭😭😭😭
asli ngakak abis di sini .
adik nya yg terobsesi dg mier
dan sang kakak yg bingung dg prasaan ny menyukai seorang pangeran
masak cemburu sama cowok ... ?? hahahaha