Karena Maya tidak bisa mencintai Tama suaminya sendiri, Maya berselingkuh dengan Fadil. Hingga pada saat pengakuan itu terjadi, Maya benar-benar diceraikan.
Apa penyebabnya?
Penyatuan tubuhpun tidak bisa membuat Maya mencintai Tama.
Lalu Fadil? Siapa sebenarnya Fadil? Kenapa Maya begitu mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita dibalkon hotel
"Sayaaang... " panggil Tama pada istrinya yang sedang sibuk mem'facum karpet diruang tengah.
"Sayaaaaang...."
Rupanya ngga dengar karena bunyi vacum sangat keras. Tangan Tama terulur untuk mengambil sandwich yang terhidang dimeja. Sarapan selalu siap sebelum Tama berangkat bekerja. Dengan mulut yang masih mengunyah makanan, Tama mencolek bahu istrinya.
"Sayaaang!!"
Maya menoleh, lalu mematikan vacum. "Apa?!"
"Aku mau berangkat, cium aku!"
"Cup!" satu ciuman mendarat dibibir Tama, merasa disayang, Tama tersenyum senang.
Tama membalas Maya dengan membombardir ciuman sebanyak-banyaknya lalu memeluk mesra sang istri. "Makasih sayang... Cup, cup,cup."
Dalam hati Tama berharap hubungannya semakin baik. Ya, Tama yang akan memulainya demi pernikahan ini. Tama harus bahagia walaupun tanpa kehadiran anak. Apa boleh buat? Maya tidak bisa memberikannya. Tama tidak akan menuntut apa-apa.
"Mas, aku mau kerja lagi. Aku bosan dirumah!" pinta Maya pada suaminya, tangannya mengalung dileher merayu laki-laki yang umurnya lebih tua empat tahun itu.
"Mas ngga nglarang, yang penting sore mas pulang rumah ini sudah rapi. Makanan udah ada, kamu juga sudah ada dirumah."
Laki-laki mana yang tidak tergoda, tangan Maya mengelus-elus dada Tama. Suatu hal yang baru bagi Tama, selama ini Maya tidak pernah punya inisiatif seperti itu. Apa Maya sudah mulai mencintainya?
"Jangan membuatku kembali ketempat tidur!"
"Ya sudah sana, katanya mau berangkat."
"Daaah!"
Maya mengantar kepergian suaminya sampai mobil Tama benar-benar menghilang dari pandangan. Berkali-kali Tama mengecup kening Maya.
Maya merasa dilema, disaat niatannya yakin akan berpaling malah Tama memperlakukan baik dirinya seperti hari ini. Jungkir balik rasanya, juga terus ditarik ulur membuatnya capek! Apakah Maya mau membuka hatinya kembali?
Tampaknya Maya membutuhkan banyak waktu untuk membuktikan bahwa Tama benar-benar berubah.
***
Sebuah tangan kekar memegang pundak Maya dan mengelusnya lembut. Maya yang sedang menghadap view dibalkon hotel itu menoleh dengan senyum mengembang.
"Sudah menunggu lama?" tanya Fadil lembut.
Maya mencium aroma maskulin yang menenangkan. Sedikit jambang didagunya semakin menjadi daya tarik Fadil yang semakin dewasa. Sekarang mengenakan kemeja berwarna putih, semakin keluar aura ketampanannya. Ditatapnya lamat-lamat wajah tampan itu seolah-olah sedang memotretnya untuk disimpan dimemori keabadian. Kedua tatapannya terkunci. Fadil semakin mendekatkan wajahnya, terasa hembusan nafasnya yang hangat. Namun sebelum bibir itu mendarat...
"Stop Fadil, kita ngga boleh lebih dari ini..." Fadil menghentikan aksinya, tak ada kemarahan ataupun kecewa. Fadil malah tersenyum menanggapi ucapan Maya.
"Maaf, aku melupakan hal itu."
"Apa kamu masih mencintaiku?"
Tangan Fadil menunjuk kebagian dadanya. "Sampai kapanpun kamu akan tetap berada disini."
"Tapi aku wanita bersuami Fadil..."
"Tidak masalah, mencintai tidak dilarang."
Maya mendudukkan badannya kekursi, disusul oleh Fadil juga. Mereka duduk berhadapan. "Jika aku menjauhimu apa yang kamu lakukan Dil?"
"Aku akan hargai setiap keputusanmu. Aku akan belajar untuk tidak menjadi orang yang egois. Aku akan membiarkan orang yang kucintai bernahagia dengan pilihannya."
"Kalau aku tetap ditakdirkan bersama Tama, lalu bagaimana denganmu?"
"Beri aku kenang-kenangan yang indah."
"Hahahaha...apa yang kamu minta dariku Fadil, kamu bahkan sekarang bisa dibilang punya semuanya.."
"Tapi itu tidak ada artinya karena aku tak mempunyai dirimu."
"Ahh gombel !!"
"Bisa kan memberikan kenangan itu? Sekali saja. Setelah itu aku akan pergi."
"Kamu gila!"
"Ya sudah, terserah..."
"Dil, kok aku masih penasaran kenapa kamu bisa berada disini? Trus apa coba tiba-tiba sudah punya usaha yang begitu besar. Kenapa kamu bisa jadi kaya sih?"
Fadil terkikik memang Fadil tidak pernah menceritakan apapun pada Maya selama ini. "Ini hotel milik almarhum kakekku, sudah berganti kepemilikan. Kalau restoran itu memang sengaja aku beli agar aku bisa melihatmu setiap hari..."
"Hish jahatnya, nggak main-main caranya mau nguntit aku... totalitas banget."
"Aku ingin tetap ngelindungin kamu walaupun jauh. Lagian ngapain kamu kerja dicafe? kenapa ngga kerja dikantor seperti dulu. Aneh, punya IPK bagus ngga kepakai. Bodoh kamu!"
"Sembarangan ngatain aku bodoh, gini-gini aku ada maksudnya. Aku nyari yang bisa setengah hari, karena kalau bekerja dikantor seperti kita dulu pasti menghabiskan banyak waktu. Trus hubungan kita makin renggang."
"Trus gimana, walaupun kerjanya setengah hari hubunganmu juga ngga lebih baik dari sebelumnya."
"Ngg tau deh... yang penting aku bisa ngilangin penat dan bisa punya teman baik-baik kaya mereka." Maya menjeda ucapannya lalu bertanya lagi. "Kamu bohong katanya dah punya istri, mana? Mana buktinya kamau punya istri. Bohong!"
"Aku takut kamu naruh harapan."
"Percaya dirinya kelewatan."
.....
To be continued.
Like sebelum next.
ayoo lanjutkan😅😁😆