Seorang murid SMA yang tertabrak train-kun dan di reinkarnasi ke dunia lain bersama seorang dewi, namun bukan kebahagiaan ataupun kemampuan cheat yang diperoleh olehnya melainkan tubuh tanpa tambahan kekuatan.
Mungkinkah bagi Rein untuk dapat bertahan hidup di dunia penuh sihir yang dipenuhi oleh makhluk mengerikan?
Saksikanlah petualangan yang menguras emosi. Hidup baru yang dimulai dari nol, dengan kerja keras, dan semangat bersama seorang dewi yang tidak berguna!
Cover by: Narachii1 (IG)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raraey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 30: Masalah di Restoran
Rein kembali dengan membawa 20 keping emas yang dia sembunyikan di dalam saku celananya. Entah bagaimana dia harus bersikap, antara bersyukur karena dapat membayar kerugian yang dialami oleh penginapan atau merasa kesal karena telah kehilangan 180 koin emas atau setara 180 juta begitu saja.
Dia tidak tahu akan seberapa berharga uang yang dia dapatkan saat ini dan memilih untuk membeli perlengkapan sesegera mungkin.
Dia tetap akan berada pada rencananya yang pertama untuk membuat perangkap ikan. Karena memang dari awal, itu adalah rencana yang telah Rein siapkan beberapa hari sebelumnya.
Dia melihat ke arah seorang wanita yang terduduk di lantai dengan ekspresi sedih. Dia memeluk lututnya sendiri dan terus menggerutu.
Pasitheia menolehkan wajahnya ketika bayangan mulai menutupi tubuhnya. Dia mengangkat kepalanya dan menyadari keberadaan Rein, dengan segera memukul perut Rein tanpa sebab yang jelas.
Namun, tentu, dengan tangan yang lembut dan lemah seperti itu, dia tidak akan dapat mengalahkan Rein begitu saja.
“Apa yang kau lakukan?” Rein dibuat heran karenanya. ‘Kenapa gadis ini terlihat marah?’ batinnya.
“Apa yang aku lakukan, katamu? Kau seharusnya tahu betapa dinginnya udara di malam hari karena kau membiarkan mereka mengusirku begitu saja!” Pasitheia menaikkan nada bicaranya, karena hari sudah malam, tentu lokasi tersebut sepi dan tidak mengundang perhatian.
Rein menghembuskan nafas berat, dia mendapatkan sebuah jubah dari Amane sebelumnya. Jadi dia memberikannya kepada Pasithiea begitu saja.
“Ayo kita pergi.” Rein melangkahkan kaki pergi, membawa seluruh sisa apel yang dia miliki.
Meski dia kehilangan 180 koin emas karena apa yang Pasitheia lakukan, dia mencoba untuk tidak mempermasalahkannya. Dia mencoba untuk tetap sabar karena posisi Pasitheia di sini adalah partner perjalannya.
Pasitheia melamun sebentar setelah Rein pergi meninggalkannya dengan memberikan jubah. Pada dasarnya dia tahu jika pakaian yang Rein gunakan saat ini tipis, dan hal ini mengganggu pikirannya.
Ketika Rein berbalik dan memanggilnya dengan nama, Pasitheia tersadarkan.
“Tunggu aku, bodoh!”
Rein kembali menggerakkan kepalanya ke depan dan berjalan. Berbagai macam toko telah tutup, namun beberapa bar masih terbuka, begitu pula dengan penginapan.
Suara perut Pasitheia kembali berbunyi sebagaimana mestinya. Dia heran tentang bagaimana wanita ini dapat terus lapar setelah menerima dua potong pai apel sebelumnya.
Di waktu bersamaan, perut Rein juga menyahut teriakan perut Pasitheia yang lapar. Mengundang tawa dari wanita tersebut.
“Rein, kau seharusnya mentraktirku! Aku tahu kau mendapatkan uang, kan? Tetapi tenang saja, bukan berarti aku akan mencurinya.”
Setelah dikatakan seperti itu hanya membuat Rein semakin meragukannya. Dia mencoba untuk melupakannya dan sebuah kedai makan yang memiliki aroma makanan yang kuat menarik perhatian kedua insan tersebut.
“Rein! Kita makan di sana saja!” ajak Pasitheia.
Kali ini Rein setuju dengan pendapatnya. Apalagi cukup ramai orang di sana dan memberikan kesan aman. Dia tidak tahu bagaimana watak orang di dunia ini, dan mencoba untuk berhati-hati.
Ketika Rein memasuki tempat tersebut, pandangan mata kembali menoleh kepada mereka. Lebih tepatnya jika itu tertuju pada Pasitheia yang terlalu mencolok dengan gaun yang dia kenakan.
Beberapa orang berbisik dan beberapa lainnya mencoba untuk mengalihkan perhatian setelah pasangan mereka memarahi. Dan Pasitheia sama sekali tidak mempedulikannya.
Meja kosong menjadi tempat pemberhentian mereka. Seorang pelayan datang dan memberikan daftar makanan dan harga, namun sekali lagi, Rein sama sekali tidak dapat memahaminya.
Rein menyodorkan daftar menu tersebut pada Pasitheia karena dia mencoba untuk mempercayainya.
“Pilihlah yang sewajarnya saja, kita harus menghemat uang, kau tahu? Selain itu aku akan memasakkan makanan yang lebih enak lagi setelah kita mendapatkan tempat berlindung,” ucap Rein dengan tenang.
Pasitheia terdiam untuk beberapa saat, dia merasa tidak percaya dengan pendengarannya sendiri, dan mencoba untuk memperbaikinya.
“Apa yang kau bilang barusan? Tolong jangan katakan kalau gadis penyihir itu telah mengubah ingatammu, Rein!”
Pasitheia berdiri, menggoyang-goyangkan tubuh Rein hingga pria itu terjatuh karena posisi kursi yang tidak seimbang. Sekali lagi mereka menarik perhatian, dan beberapa orang mulai terganggu.
“Maaf, Tuan dan Nona, jika kalian masih mengganggu ketenangan pelanggan lainnya, mau tidak mau saya harus mengeluarkan kalian.” Pelayan berhasil mewakili perasaan pelanggan lainnya, jadi mereka berusaha untuk kembali pada kegiatan.
Rein berdiri dan membenarkan posisi kursi, dia mengelus lembut kepalanya dan Pasitheia kembali ke tempat duduk dengan tatapan curiga yang terpasang di matanya.
“Tidak, jangan katakan jika itu benar, Rein!”
Namun Rein menggelengkan kepala, daripada dihapus ingatannya, sangat memungkinkan dia untuk kehilangan ingatan karena kepalanya terbentur, dan saat itu terjadi, entah bagaimana Pasitheia menghadapinya.
“Pilihlah makanan yang sederhana, sesuai apa yang aku katakan. Kita perlu menghemat dan faktanya aku mencoba untuk mempercayaimu.”
Bagaimanapun Pasitheia bersikap, Rein tidak mencoba untuk meninggalkannya dan memarahi Pasitheia. Lebih dari itu, tanpa kehadiran wanita ini mungkin dia akan merasa kesepian di dunia ini dan tak ingin merasakan mimpi buruk.
“Tapi aku ingin makanan yang enak, Rein!”
Pelayan dengan sabar menunggu pesanan mereka karena sampai sekarang belum ada pelanggan lainnya yang datang, namun koki yang memasak tanpa sengaja mendengar perkataan Pasitheia.
“Oi, Nona Kecil, kau seharusnya tahu jika restoran kami selalu menyediakan makanan enak. Harga itu dapat disesuaikan dengan kantong pelangganku. Tidak peduli seberapa murah makanan yang kalian pesan, makanan yang kalian terima tetap enak dan semua pelanggan setuju akan hal itu!” tegas koki tersebut.
“Itu benar, masakan Tuan Eron memang yang terbaik!”
“Kau harus mencoba pasta buatannya dengan harga yang miring! Itu sangat enak dibandingkan dengan restoran lainnya!”
“Pada dasarnya, tempat ini adalah tempat semua orang dipandang setara! Tak peduli seberapa miskin dirimu, kau akan tetap diperlakukan baik oleh pemilik toko!”
Pelanggannya mulai memberikan tanggapan atas apa yang koki ini masak, seakan-akan mereka lupa bahwa hal itu juga dapat mengganggu pelanggan lainnya.
Memang ada benarnya jika restoran ini memberikan pelayanan terbaik, begitu pula dengan perlakuan dari pemilik. Namun tidak dengan pelanggannya yang bersikap 180 derajat terbalik setelah memberikan tatapan yang mengganggu.
Pasitheia menatap tajam koki tersebut. Dia berusaha untuk tidak termakan dengan omong kosong yang diberikan oleh orang-orang bodoh itu dan berdiri dari sana.
“Rein, kita pergi dari sini. Sekarang aku yakin jika makanan di sini memang tidak enak.” Pasitheia menarik paksa tangan Rein.
“Ta-tapi ....”
“Nona Kecil, kau menjadi tidak sopan, tetapi aku akan berusaha untuk menganggap kejadian ini tidak pernah terjadi. Selain itu, kau seharusnya merasakan dulu setiap masakan yang aku hidangkan, bagaimana?”
“Bagaimana jika kalian melakukan lomba memasak dan membuktikan bahwa masakan restoran ini memang enak rasanya? Namun jika tidak, kalian harus memberikan voucher makan gratis selama kami berkunjung ke sini.”
Rein berpikir cepat dan tahu Pasitheia baru saja membawanya pada sebuah permasalahan yang seharusnya tidak dia ikuti.
“Omong kosong apa yang kau katakan?!” Rein mengerutkan kening dan berbisik.
“Aku lupa dengan orang bodoh yang bilang akan memasakkanku makanan yang enak? Seharusnya seorang pria tidak menarik ucapannya sendiri, bukan?”
Pelayan yang dari awal mendengar menyetujui apa yang dikatakan oleh Pasitheia. Di dunia ini, seorang laki-laki pantang menarik ucapannya dan dengan segera memberitahukannya kepada koki tersebut.
Koki mengepal tangannya dengan kuat dan kini, mereka menjadi tontonan setiap pengunjung yang ada. Beberapa orang mulai berbisik dan berkata baik-buruk tentang Rein.
“Baiklah, aku terima tantanganmu! Kalau kau kalah, aku akan mengambil seluruh uang ini!”
Dengan tiba-tiba, koki tersebut menggenggam kantung emas milik Rein. Rein menjadi begitu terkejut, dia baru saja kecolongan tanpa dapat menyadarinya.
“Berikan itu kembali padaku!” Rein berusaha untuk merebutnya, namun gerakan koki lebih cepat darinya.
“Anak muda yang tidak aku ketahui namanya, kau harus mengalahkan aku terlebih dahulu.”
Mau tidak mau Rein harus mengikutinya karena apa yang Pasitheia lakukan. Rein berusaha untuk percaya diri, dia sudah berlatih memasak makanannya sendiri sejak kecil, dan berharap bisa menghadapi lawannya di dunia penuh sihir ini.
payah. . . . !
(RYUJI THE GOD OF ELEMENTS)
mungkin ini novel bercerita kayak kehidupan sehari-hari tapi anda akan seperti menonton anime seperti gintama, Naruto, fairy tail dan lainnya jangan bilang "males ah" ayo mampir dulu wokeh di sana sudah ada 1 prolog 5 Episode Episode 6 akan rilis sekitar 1 atau 2 hari saya tunggu kedatangan kalian