Aku tidak suka jalan cerita cintaku di samakan oleh fiksi-fiksi romantis atau film-film yang berujung bahagia. Nyatanya dalam kehidupan nyata tidak semua kisah cinta akan berujung bahagia. Kehidupan cintaku tidak seseru yang kalian bayangkan. Benci menjadi Cinta adalah hal lazim yang biasanya mencumbui hati manusia. Tapi bagaimana denganku? Aku juga tidak tahu. Karena aku masih dalam proses menuju ujung dari sebuah cerita. Sedih senangnya akhir dari sebuah cerita adalah hal yang selalu di nantikan, aku pun juga sedang menantikan bagaimana akhir ceritaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon srizqya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Epilog
Akhir-akhir ini aku sering merasa mual dan pusing. Kukira tadinya aku hanya mengalami flu menyangkut cuaca yang sedang berganti secara tiba-tiba. Seminggu kemudian aku baru ingat seharusnya tiga hari yang lalu tamu bulananku datang namun kali ini tidak. Aku sampai mengecek pada kalender harian dan memastikan kapan terakhir aku datang bulan.
Pulang praktik aku tidak langsung ke pintu utama untuk pulang. Ku belokkan langkahku ke apotik di dalam rumah sakit.
"Test pack nya dua ya sus," kataku.
Kemudian sang suster mengambilkan apa yang kuminta. Setelah membayar dan mendapatkan test pack nya, barulah aku berjalan keluar dan mencari taksi. Semenjak menikah dengan Rafa aku sudah tidak di perbolehkan lagi mengendarai motor ke rumah sakit. Karena takut jika aku mendadak ada jaga malam.
Aku masuk ke rumah dan menyalakan lampu-lampu di dalam rumah seperti ruang tv dan dapur. Aku berjalan ke kamar mandi sembari membawa dua test pack tersebut. Sebelum mandi aku terlebih dahulu mengeceknya dan membiarkannya begitu saja karena keterangannya tunggu 5 menit untuk tahu hasilnya.
Selesai mandi aku mengeringkan rambutku dan berjalan ke arah test pack tersebut. Kuambil dalam genggamanku dan melihat ada dua garis merah namun samar di dalamnya. Buru-buru aku mengambil keterangannya.
"Jika hanya bergaris satu maka hasilnya negatif," aku membaca keterangan. "Jika bergaris dua maka hasilnya positif."
Punyaku bergaris dua. Apa itu artinya------------aku positif?
Tapi tidak, garis kedua berwarna samar-samar dan tidak terlalu kentara. Kuputuskan untuk membuka test pack satunya lagi dan mengecek kembali.
Kutunggu dengan was-was hasilnya, sudah lebih dari 5 kali aku berjalan bolak-balik di dalam kamar mandi. Dari luar kudengar pintu kamar terbuka dan samar-samar kudengar suara Rafa memanggilku.
"Caramel?" katanya. "Kamu dimana?"
Tahu bahwa Rafa telah pulang membuatku semakin was-was dan gugup. Aku mengambil test pack satunya lagi dan ku pukul-pukul di tangan kiriku.
"Ayoo muncul!" langkahku semakin cepat untuk berjalan bolak-balik.
Ketukan pintu kamar mandi menghentikan aktivitasku, "Sayang, kamu di dalem?"
Refleks aku menggigit bibir bawahku, "I-iya, aku—bentar lagi keluar kok."
"Jangan lama-lama nanti kamu kedinginan—aku bawa makanan."
Aku tak membalas perkataannya dan masih menunggu hasilnya. Kupukul-pukul lagi test pack tersebut.
Dan,
Dua garis merah muncul dan kali ini lebih tebal dari test pack yang pertama. Apa itu artinya aku benar-benar positif hamil?
Perlahan aku keluar dari kamar mandi dan mendapati tak ada Rafa disana. Syukurlah, mungkin ia sedang di meja makan atau menonton tv. Aku memakai baju tidurku dan mengeringkan rambut dengan hair dryer. Setelah kering aku keluar dari kamar dan tak lupa mengantongi test pack di dalam saku baju tidur yang ku kenakan.
"Kita makan sekarang?" tanya Rafa yang melihatku keluar.
Aku mengangguk dan duduk di kursi makan, "Raf," panggilku.
Rafa yang baru akan duduk sontak tidak jadi dan menatap kearahku. Kemudian aku merogoh test pack yang ada di sakuku. "Kamu tau ga maksudnya ini apa?"
Kuberikan test pack itu padanya dan detik selanjutnya senyumnya mengembang dan ia berjalan memutar kearahku dan memelukku dari samping.
"Selamat ya, sayang." bisiknya tepat di samping telingaku.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sejujurnya daritadi aku tidak bisa tidur, kulirik jam di meja samping tempat tidur dan menunjukkan pukul 1 dini hari. Aku bergerak-gerak gelisah lagi menimbulkan suara yang cukup hingga membuat Rafa terbangun.
"Kenapa?" suara khas orang bangun tidur langsung memenuhi telingaku.
Aku melepaskan tangan Rafa yang setiap malam selalu melingkari pinggangku. Aku duduk bersandarkan tiang kasur.
"Kenapa sayang?" ulang Rafa dan ikut bangun juga. Ia menguap sejenak dan baru kembali menatapku.
"Aku mau sate padang." gumamku sambil memainkan ujung bantal guling.
"Sate padang? Dini hari kaya gini mana ada yang jualan."
"Pokonya aku mau sate padang!"
"Iyaa nanti pagi-pagi aku beli buat kamu."
"Aku maunya sekarang, Rafa."
"Tapi jam segini ga ad—"
"Yaudah kalo kamu gamau beliin aku bisa beli sendiri." aku menyibakkan selimut yang menutupi dari kaki sampai bawah dan menjatuhkan kakiku ke lantai.
Melihat gelagatku yang sepertinya benar-benar ingin pergi. Rafa buru-buru menarik tanganku untuk mencegah. "Iyaa aku beliin, tapi kamu diem aja disini jangan kemana-mana."
Senyumku langsung mengembang mendengarnya, "Gitu dong jadi suami!"
"Gini ya rasanya jadi suami pas istrinya lagi ngidam." gumam Rafa sambil berjalan ke wastafel di dalam kamar mandi dan mencuci mukanya. "Aku pergi dulu ya!"
"Ati-ati dijalan."
Sudah satu jam Rafa pergi membeli sate padang yang kuminta. Aku juga sebenarnya tidak tahu apakah masih ada yang jualan sate padang di jam se-dini hari ini? Tapi, apa boleh buat, tiba-tiba aku merasa ingin sekali sate padang.
Bunyi deru mobil terparkir di garasi membuatku sontak keluar dari kamar. Kudapati Rafa berjalan masuk sambil membawa seplastik yang pastinya berisi sate padang.
"Ini pesenan kamu," katanya.
"Makasiiiihhh,"
"Makasih aja nih?"
"Iya makasih aja!" aku berjalan ke dapur dan mengambil piring untuk kujadikan tatakan sate padang. Aku menarik satu kursi di meja makan dan duduk disana.
Satu suapan telah masuk ke dalam mulutku, tiba-tiba mulutku terasa aneh. Suapan berikutnya aku merasa rasanya menjadi tidak sama seperti biasanya dan aku sudah badmood untuk memakannya. Lagipula sepertinya aku sudah tidak nafsu untuk makan.
"Kenapa ga di abisin?"
"Udah ga minat."
"Kok gitu? Aku muter-muter juga buat nyari itu sate."
"Yuadah buat kamu aja gih."
Rafa berjalan mendekatiku yang tengah berdiri di depan kamar, "Kam—"
Malas mendengar ocehannya kudaratkan bibirku ke bibirnya, "Aku males denger kamu marah-marah." kataku setelahnya.
"I love you, Azrafa."
"I love you more, Nyonya Azrafa."
Dan kalimat-kalimat selanjutnya ditutup dengan bibirnya yang telah menyentuh bibirku lagi.
------------------------------------------------------------------------------------------------
Hari ini aku melakukan percobaan membuat kue rangi di rumah. Resepnya ku dapat dari google, setelah berpikir sekian lama aku memutuskan untuk mencoba membuatnya karena jarang-jarang tukang jualan kue rangi beredar. Jika aku sedang memasak resep baru dan selalu hasilnya akan hancur, Rafa lah yang harus mencoba pertamanya. Dia adalah kelici percobaanku.
"Jangan yang itu sayang! Yang ini aja, okay?" suara Rafa yang sedang berbicara dengan Gamy terdengar hingga dapur. "Nah anak pinter, baru itu anak papa—kenapa? Mau yang ini juga? Gaboleh, itu punya papa."
Kebiasaan Rafa semenjak punya mainan baru—maksudku anak. Dia sering kali berbicara pada Gamy yang padahal tidak tahu apa-apa tentang yang di bicarakan oleh papa nya.
"Udah selesai nih, yang mau makein baju buat Gamy aku ato kamu?" sahut Rafa dari kamar Gamy, anak pertama hasil pernikahanku dengan Rafa yang lahir 5 bulan yang lalu.
Aku melepaskan celemek yang ku kenakan dan membasuh tanganku di wastafel baru kemudian aku berjalan ke kamar Gamy. Rafa tengah berdiri dengan lehernya di balut handuk Gamy berwarna biru laut. Tangannya telah siap dengan baju kecil Gamy.
"Aku aja sini," dengan cekatan aku mengambil baju Gamy di tangan Rafa dan memakaikannya pada Gamy, tak lupa sebelum itu kupakaikan popok terlebih dahulu.
"Gamy aja udah mandi, masa mama nya belum?"
"Nyadar dong! Papa nya juga belom kaliii," aku menggendong Gamy ke dalam dekapanku, mengelus-ngelusnya agar tertidur. Biasanya sehabis mandi pagi, Gamy selalu tidur.
"Yaudah aku mandi nih sekarang," kata Rafa mendekatkan dirinya padaku dan memelukku dari belakang menempelkan dagunya di bahuku. "Tapi mandinya sama kamu,"
Buru-buru aku keluar dari pelukannya, "Ngomong apasih! Kalo Gamy denger gimana? Dia masih kecil juga!"
"Well, dia ga ngerti kali maksud kita,"
"Ngga!"
"Ayo dong masa udah hampir dua tahun kita nikah ga pernah mandi bareng?"
"Aku bilang ngga ya ngga!" kataku tegas. "Udah sana aku mau nidurin Gamy dulu! Kamu bau banget nanti Gamy muntah lagi—udah sana hus hus!" aku mendorong-dorong Rafa keluar kamar.
"Ko Gamy doang sih yang di tidurin? Suami kamu sendiri ga tidurin juga?"
"Kaya gue punya suami aja!" aku menutup pintu kamar Gamy dan menguncinya. Terdengar suara Rafa dari luar sana.
"Bahasanya sayang!"
"Bodo!"
"I love you!"
"Peduli apa!" balasku. "Eh, tapi—I love juga deh!"
"Aku tunggu di kamar mandi sayaaaang!" suara Rafa makin menjauh.
"Berisik! Gamy udah mau tidur!"
***