NovelToon NovelToon
AMERICAN CROWS

AMERICAN CROWS

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Bad Boy
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kazeo24

Cikampek adalah kota yang selama berabad-abad hidup dalam keterasingan dan dikenal sebagai wilayah yang sangat berbahaya. Banyak para petarung kuat berambisi menaklukkannya, tetapi hanya sedikit yang berani menginjakkan kaki di sana karena adanya perjanjian lama dengan berbagai pihak. Dahulu, satu-satunya cara membebaskan dan menguasai Cikampek adalah menaklukkan seluruh petarung terkuat hingga mencapai puncak dan memperoleh gelar Kaisar, sebuah gelar warisan sejak era awal yang pertama kali dikenal di Jakarta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazeo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 THE HOLLOW COUNCIL

​Flashback — Beberapa Minggu Lalu, Malam Perang Besar di Cijalu

​Langit Cijalu malam itu merah membara, bukan oleh matahari, melainkan oleh kobaran api dari drum-drum minyak yang terguling dan kilatan cahaya lampu motor ratusan anggota Slonong Boys.

​Suara benturan besi dan teriakan kemarahan bergema di antara gedung-gedung pabrik tua yang terbengkalai. Di tengah kekacauan itu, Ryuka dan Gilang tergeletak bersimbah darah, sementara Zela dan sosok legendaris bernama Irsyad berdiri tegak menghadapi ratusan musuh.

​Jauh di atas sana, di puncak sebuah gedung yang tak terjangkau oleh cahaya lampu sorot, sesosok pria berdiri tenang. Ia berdiri di kegelapan, hanya ujung rokoknya yang menyala merah saat ia menghisapnya dalam-dalam. Angin malam yang kencang menyapu mantel gelapnya, namun pria itu tak bergeming sedikit pun.

​Matanya yang tajam mengawasi setiap pergerakan di bawah, khususnya pada sosok pria tinggi berjaket bulu yang sedang meratakan barisan musuh dengan gerakan yang sangat efisien.

​"Ah... lu sepertinya nggak pernah berubah, Irsyad," gumam pria misterius itu dengan nada suara yang berat, hampir tenggelam dalam deru angin. Ada nada pengakuan sekaligus rasa muak dalam suaranya.

​Pandangannya kemudian bergeser, mengunci sosok Zela yang sedang bertarung mati-matian menahan gempuran Friza. Ia menatap Zela selama beberapa detik dengan tatapan yang sangat tajam, seolah sedang menilai sesuatu yang berharga di dalam diri anak itu. Kemudian, ia mendengus kesal.

​"Cih."

​Tanpa menunggu akhir dari pertempuran tersebut, pria itu mematikan rokoknya ke dinding beton, lalu berbalik dan menghilang ke dalam bayangan atap gedung. Kehadirannya yang singkat itu tak disadari oleh siapa pun di bawah, namun hawa keberadaannya meninggalkan kesan bahwa ada mata yang jauh lebih besar sedang mengawasi Cikampek.

​Masa Sekarang — Basecamp Rooftop Gedung Tua

​Matahari siang menyengat permukaan rooftop yang kini sudah jauh lebih rapi. Ryuka sedang duduk di sofa bekas, menatap kosong ke arah deretan gedung di Sukaseri. Sudah satu minggu, dan bangku di pojok kelas 2-A masih tetap kosong. Keberadaan Zela yang hilang tanpa jejak mulai benar-benar mengusik ketenangannya.

​Denza masuk ke area rooftop dengan wajah yang tampak lebih lelah dari biasanya. Ia melemparkan kunci motornya ke meja kayu.

​"Gimana, Bang? Ada kabar?" tanya Ryuka cepat, matanya penuh harap.

​Denza menggeleng pelan sambil menyandarkan punggungnya ke pagar pembatas. "Buntu, Ka. Gua udah keliling nemuin jaringan old generation yang gua kenal. Gua bahkan udah nyoba masuk ke sisa-sisa informan jalanan. Hasilnya nihil. Gak ada yang tahu di mana si Zela."

​Ryuka mengepalkan tangannya. "Bukannya lu bilang Mahkamah Agung punya intelijen di mana-mana?"

​"Itu dia masalahnya," jawab Denza serius. "Semenjak gertakan kakek lu kemarin, para petinggi Mahkamah Agung bener-bener menutup diri. Jalur informasi dari atas ke bawah seolah-olah diputus sengaja. Gua gak dapet info apa-apa, baik dari level petinggi maupun sisa-sisa intelijen yang biasanya berkeliaran di bawah tanah."

​Ryuka menghembus napas kasar. "Sialan. Dia nggak mungkin ilang gitu aja."

​Sukaseri — Di Waktu yang Sama

​Sementara Ryuka berkutat dengan rasa frustrasinya, Elisa memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar Sukaseri. Ini adalah pertama kalinya ia berani berjalan di ruang publik tanpa rasa takut akan ditangkap, karena status DPO-nya sudah dihapus total dari sistem. Ryuka, melalui Sebas dan Denza, bahkan telah membelikan rumah masing-masing untuknya dan Gilang sebagai bentuk kompensasi atas semua penderitaan mereka.

​Langkahnya terhenti saat ia melewati sebuah gang sempit di dekat pasar lama. Matanya menangkap sosok seorang cewek dengan rambut berantakan yang sedang mencoba menghindari keramaian. Elisa mengenali punggung itu.

​"Raisya?" gumam Elisa.

​Sosok itu menoleh kaget. Benar, dia adalah Raisya, mantan wakil ketua Ghost Gril yang sempat mengambil alih kepemimpinan dan mengkhianati Elisa demi bekerja sama dengan Dewan Intelligent.

​Melihat Elisa, Raisya langsung membelalakkan mata. Tanpa berpikir panjang, ia berbalik dan berlari sekencang mungkin. Ia masuk ke dalam lorong-lorong sempit, mencoba menghilang, namun Elisa yang sudah sangat hafal dengan jalur pelarian Sukaseri berhasil mengejarnya. Di sebuah gang buntu, Raisya terpojok.

​"Pergi, Eli! Mau ngapain lu?!" teriak Raisya histeris. Wajahnya tampak pucat dan penuh ketakutan. "Lu mau bales dendam, kan? Lu mau hajar gua karena gua udah khianatin lu?!"

​Raisya gemetar, air mata mulai mengalir di pipinya. "Lakuin aja! Gua tau gua pantes dapetin itu! Gua emang bajingan karena udah bikin Ghost Gril jadi anjing suruhan orang-orang gede itu! Hajar gua sampai mati, Eli!"

​Elisa hanya berdiri diam menatap temannya itu. Ia melihat Raisya yang hancur, jauh dari sosok wakil ketua yang dulu selalu ia andalkan. Elisa melangkah maju, dan bukannya melayangkan pukulan, ia justru memegang bahu Raisya dengan lembut.

​"Gua udah maafin lu, Rai," ucap Elisa pelan namun mantap.

​Raisya terdiam, tangisnya mendadak berhenti karena kaget. "Hah? Lu... lu bilang apa?"

​"Gua bilang gua udah maafin lu. Gua gak butuh dendam lagi. Hidup gua sekarang udah beda," lanjut Elisa. "Tapi gua mau lu janji, jangan pernah terjerumus lebih dalam lagi ke dunia itu. Kota ini bakal makin gila, Rai."

​Elisa kemudian merogoh sakunya dan menunjukkan sebuah alamat. "Ikut gua. Gua punya tempat tinggal sekarang. Ryuka beliin gua rumah, dan lu bisa tinggal di sana bareng gua kalau lu mau."

​Rumah Elisa — Sore Hari

​Raisya masih tampak tak percaya saat ia duduk di ruang tamu rumah Elisa yang rapi dan nyaman. Mereka berdua mengobrol sangat panjang, mengenang masa-masa awal ketika mereka membangun Ghost Girl dari nol—sebuah tim intelijen cewek yang paling disegani di Cikampek.

​"Sekarang gimana keadaan yang lain, Rai?" tanya Elisa sambil menyeruput tehnya.

​Raisya menunduk, menatap kosong ke cangkirnya. "Ghost Girl udah bubar, Eli. Semuanya udah nggak ada lagi. Setelah insiden pengkhianatan itu terbongkar dan Ilman agrazi ditangkap, anak-anak pada mencar. Gak ada lagi yang mau bertahan."

​Raisya menghela napas panjang. "Sebenernya... secara wajar, gua sekarang harusnya jadi DPO atau mendekam di penjara bareng Ilman. Tapi entah kenapa, nama gua nggak pernah masuk daftar pencarian orang. Gua kayak sengaja 'dilupain' sama sistem."

​Elisa tersenyum tipis. Ia tahu itu adalah hasil campur tangan Denza, Ryuka, dan Sebas yang memaksa Mahkamah Agung untuk membersihkan semua data terkait kasus mereka menggunakan nama besar Black Dragon.

​"Ilman Agrazi dan adiknya, si pemimpin Dewan Intelligent itu, sekarang udah di penjara. Tapi Cikampek nggak lantas jadi tenang, Rai," kata Elisa.

​"Iya, gua denger Dewan Intelligent udah punya pemimpin baru sekarang," sahut Raisya. "Tapi yang aneh itu Mahkamah Agung."

​Elisa mengernyitkan dahi. "Aneh gimana?"

​"Mahkamah Agung Cikampek itu sangat kaku soal struktur. Seharusnya pimpinannya harus estafet sesuai kehendak pimpinan sebelumnya. Mengingat Ilman udah jatuh, seharusnya ada yang naik ngegantiin," jelas Raisya dengan nada suara yang merendah. "Tapi sekarang, Mahkamah Agung cuma tersisa tiga orang. Mereka susah nyari penggantinya karena pimpinan sebelumnya nggak sempet atau nggak mau nunjuk penerus."

​Elisa terdiam sejenak, mencoba memproses informasi itu. "Kenapa cuma tiga, Rai? Kalau satu berkurang, seharusnya kalau mau lengkap jadi empat, kan apa sebelum nya emang ada empat bukan lima?"

​Raisya menggelengkan kepala, matanya menunjukkan rasa bingung yang sama. "Gua gak tau jawabannya, Eli. Itu masih jadi misteri besar di bawah tanah. Kenapa kursi keempat itu dibiarin kosong padahal aturannya mutlak harus lima? Gak ada yang tahu siapa yang harusnya duduk di sana atau kenapa proses estafetnya berhenti."

​Di luar, matahari benar-benar sudah tenggelam, menyisakan kegelapan yang menyelimuti Sukaseri. Elisa menatap bayangannya di jendela, menyadari bahwa meski satu masalah selesai, kabut misteri yang menyelimuti Mahkamah Agung dan hilangnya Zela justru semakin menebal, seolah-olah Cikampek sedang menyiapkan badai baru yang jauh lebih besar.

1
DANZ XYZ
/NosePick//NosePick//Applaud/
Arashiii22
keren bangat sialan
Dongo Dipelihara
siapa yang di maksd maruyama abang nya zela kah?
Kazeo24: Yap itu abang nya zela
total 1 replies
Dongo Dipelihara
prolog yang keren
Kada Wijaya
DAMN BROO
Ekaa
/Plusone/
damai kami sepanjang hari
THISS IS PEAK BRO!!
AZIKAZUE
GOKSS PARAH SELAMA INI 22 BAB TERNYATA CMN PROLOG🤭
Kazeo24: BENER SEKALII
total 1 replies
AZIKAZUE
terus bekarya bang✌🏻
Kada Wijaya
OH GITU🤭
Kada Wijaya
👍👍👍
Kada Wijaya
lanjutt perang nya
Kada Wijaya
BADASSS🔥🔥🔥
kaka pelenger
GOKILLL
RezaFitra
/Casual//Casual/
Dongo Dipelihara
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!