NovelToon NovelToon
Buku Merah Maroon : Pembunuhan Di Perkemahan

Buku Merah Maroon : Pembunuhan Di Perkemahan

Status: tamat
Genre:Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / TKP / Dendam Kesumat / Balas Dendam / Misteri / Tamat
Popularitas:91k
Nilai: 5
Nama Author: bung Kus

Buku Merah Maroon seolah menebar kutukan kebencian bagi siapapun yang membacanya. Kali ini buku itu menginspirasi kasus kejahatan yang terjadi di sebuah kegiatan perkemahan yang dilakukan oleh komunitas pecinta alam.

Kisah lanjutan dari Rumah Tepi Sungai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan masa lalu

Rasa takut menjalar dari sudut hati, menyebar bagai virus. Menggerogoti nyali, menciptakan sensasi berdebar dalam dada. Pandangan menyempit dalam kegelapan. Merasa diawasi oleh banyak mata, meskipun sejatinya hanya sendirian di tengah hutan.

Aldo terengah-engah, bersimpuh di atas rerumputan yang basah. Di hadapannya tergeletak tubuh Yuzi yang sudah menjadi mayat hangus. Aroma sangit dari kulit yang mengelupas sekilas tercium seperti ayam bakar. Tubuhnya kaku, dengan senyum di bibir yang menghitam.

Kecantikan Yuzi telah lenyap. Bedak tebal yang biasa digunakan nyatanya tak berguna kini. Penampilan di penghujung hidup benar-benar menyedihkan. Mungkin dirinya sendiri akan meratap jika melihat kondisi yang demikian itu. Tidak ada kecantikan dan keanggunan. Kematian memang selalu menjadi misteri. Tidak ada yang tahu bagaimana ia datang. Apakah kamu akan tersiksa? Apakah lidahmu akan terjulur? Ataukah wajahmu akan menunjukkan kedamaian?

Aldo menatap wajah Yuzi dengan nanar. Ia baru saja menolak cinta dari gadis itu. Aldo berpikir semua akan baik-baik saja. Namun ternyata tidak. Meskipun dia tidak memiliki perasaan yang sama dengan Yuzi, tetapi Aldo menyayangi gadis pesolek itu.

"Kenapa jadi begini?" gumam Aldo meratap. Otaknya terasa membeku dan gelap.

Kobaran api yang membakar mobil berikut pengemudinya, Pak Dolah, membawa ingatan Aldo pada masa lalu. Kenangan yang terasa samar, dan berkabut. Namun suara-suara yang mengikuti terdengar jelas.

Aldo yang masih kecil, mungkin usia SD kelas dua atau tiga, duduk di bangku taman sendirian. Bocah kecil itu tampak riang meski sendirian. Rumput taman berwarna hijau, dengan langit yang terlihat kontras, gelap.

Mulut bocah berparas tampan itu mendendangkan lagu anak-anak, naik delman. Dia sedang merindukan Ayahnya yang saat itu tengah menempuh pendidikan di luar kota. Aldo menginginkan naik delman saat nanti Sang Ayah sudah pulang.

Dari kejauhan terdengar suara anak-anak tertawa. Derap langkah kaki kecil mendekat. Aldo kecil melompat turun dari bangku taman. Dia hendak menyambut gerombolan bocah yang berlari ke arahnya.

Ingatan Aldo kembali berkabut. Tiba-tiba saja terlihat, tubuh Aldo kecil terdorong hingga jatuh. Seorang anak membantunya berdiri, mengangkat tubuh Aldo kecil dari belakang. Ternyata bukan membantu berdiri, anak kecil itu memegangi Aldo.

"Pegangi bocah manja itu!" Terdengar suara nyaring. Sebuah perintah dari bocah yang terlihat paling besar.

Sederet petasan ditali pada belakang celana Aldo kecil. Suara tawa kembali terdengar nyaring. Aldo kecil menangis meraung. Ekspresinya ketakutan, dan terlihat menyedihkan.

Petasan dinyalakan. Bunyinya cukup keras. Percikan api membakar betis Aldo. Bocah itu berguling di rumput taman. Suara tawa kembali terdengar dari seluruh penjuru.

Ingatan kembali terhalang kabut. Aldo kecil muncul kembali dengan kondisi tengah menangis terisak. Ia memeluk lututnya. Tampak beberapa luka bakar di kulit betis Aldo. Hanya kecil, tetapi cukup membuat bocah itu tersedu.

Telapak tangan lebar terjulur. Aldo kecil mendongak dan menemukan Ayahnya tersenyum meneduhkan. Ayahnya sudah pulang.

"Apa yang membuatmu menangis?" tanya Ayah Aldo. Rambutnya masih terlihat tebal. Tidak seperti sekarang yang sudah tipis dan beruban.

"Teman-teman membakar petasan di celanaku Yah." Aldo kecil merengek, mengadu.

Untuk sesaat rahang Ayah Aldo tampak mengeras. Namun kemudian dia menoleh dan tersenyum pada Aldo kecil.

"Jangan pernah menyebut orang yang menyakitimu sebagai teman, Nak," sergah Ayah Aldo.

"Lihat dan dengarkan Ayah. Jangan biarkan dirimu disakiti orang lain. Carilah teman yang bersedia menolongmu, baik padamu, atau bahkan menjadi tamengmu. Kamu terlalu istimewa. Kamu anak Ayah. Tidak boleh ada yang merundungmu," lanjut laki-laki berkumis tipis itu meyakinkan. Mata Aldo kecil berbinar. Ucapan Ayahnya terpatri ke dalam hati.

"Dimana Ibumu?" tanya Ayah Aldo kemudian.

"Di rumah, memasak," jawab Aldo kecil lugu.

Ingatan Aldo kembali berkabut. Warna yang sebelumnya putih, kini berangsur berubah abu-abu. Ada kegelapan yang membuat dada terasa nyeri.

Tirai kabut kembali terbuka. Sosok Aldo kecil duduk di sudut ruang makan. Ayah dan Ibunya berdiri di depan meja dengan magic com lusuh di atasnya. Kedua orangtua Aldo menguarkan aura kemarahan yang membuat gerah.

"Apa saja yang kamu kerjakan hingga Aldo sendirian di taman depan? Hah? Kamu tahu tidak, dia dirundung teman-temannya!" bentak Ayah Aldo. Nada bicaranya masih halus, tetapi urat di lehernya sudah menggambarkan amarah.

"Aku sedang mencuci baju di ruang belakang. Aldo sendiri yang minta untuk bermain sendirian di taman," kilah Ibu Aldo.

"Halah! Memang dasarnya kamu tak becus! Aku kerja banting tulang dan kamu tugasmu mudah, hanya mengurus keluarga di rumah. Jika saja aku tahu kamu tidak kompeten seperti ini, lebih baik cari istri yang berkarier saja sekalian. Urusan rumah bayar pembantu!" Ayah Aldo memberondong isterinya dengan kata-kata yang menyakitkan.

Wajah Ibu Aldo tampak memerah. Nyaris saja air matanya tumpah. Tapi dia mampu menahannya. Perempuan itu menelan ludah dan bersiap membalas hujatan suaminya.

"Tugasku mudah katamu Yah? Setiap jengkal rumah ini bersih tanpa debu. Setiap lemak dan minyak di piring bekas makanmu dan anakmu selalu mengkilap dalam hitungan detik. Baju kerjamu yang kotor bahkan ada bekas lipstik di kerahnya bersih dan minggu esok hari. Kamu pikir siapa yang mengerjakan semua itu? Perempuan karier selingkuhanmu?" balas Ibu Aldo dengan suara bergetar. Bola mata Ayah Aldo sempat melirik ke kiri, menunjukkan jika hatinya gusar. Ada kebohongan yang dia simpan dan terbongkar. Laki-laki itu tak pernah menduganya.

Aldo terkesiap, tersadar dari lamunan. Kobaran api di hadapannya mulai padam. Tubuh Pak Nafi' benar-benar meleleh, nyaris menyisakan tulangnya saja di belakang kemudi.

Setelah menguasai ketakutan di hatinya, Aldo beranjak dari rerumputan basah. Ia berlari menuju ke tenda. Laki-laki itu sadar, sekarang dia sendirian. Harus menyiapkan benda yang bisa digunakan sebagai senjata untuk berjaga.

Aldo menemukan sebuah cutter kecil di salah satu kantong di dalam ranselnya. Benda itu sedianya hendak digunakan untuk mengerjai Rana atau Anggoro. Sesuai perkiraan cuaca, hujan akan mengguyur. Dan Aldo berniat melubangi bagian atas tenda tempat Anggoro dan Rana tidur agar keduanya terguyur air hujan.

Kebimbangan menggelayuti hati Aldo. Dia bingung memutuskan hendak kembali ke rumah Bu Anggun, atau memilih berjalan kaki dan keluar dari hutan. Keduanya memiliki faktor resiko yang berbeda.

Jika kembali ke rumah Bu Anggun, Aldo pasti bertemu lagi dengan Pak Dollah. Laki-laki itu mencurigakan. Jika berjalan keluar hutan, tentu jarak tempuhnya cukup jauh. Tanpa persiapan dan perbekalan, mungkin saja dia akan kelelahan di tengah jalan nanti. Pagi masih sangat lama untuk ditunggu kedatangannya. Berdiam dan tidur sendirian di tenda juga bukan pilihan yang tepat. Apalagi ada mayat Pak Nafi' dan Yuzi yang terpanggang tak jauh dari sana. Aldo menghitung kancing baju untuk mengambil keputusan demi keselamatan dirinya. Sebuah tindakan konyol di saat yang genting. Mungkin remaja itu mulai kehilangan akal sehatnya.

1
Tia Supriyanto
Teror Author kok tiba2 menghilang?
estycatwoman
ceritanya bkin ngelus dada ,anak sekloah dah tau balas dendam se ngeri ni serem yakkk 😓
estycatwoman
nice
Alexander
aku merasa novel ini ditamatkan dengan agak tergesa gesa sehingga ada beberapa detail yang lepas.

terima kasih banyak atas karyanya.
Alexander
walaupun sudah diskenario sedemikian rupa, polisi seharusnya menangkap banyak kejanggalan. dari jenis mobil nya saja sudah berbeda.
Alexander
bagaimana dengan bastian ?
Alexander
tetap saja akan meninggalkan jejak rumput yang terbakar.
Alexander
tapi harus diingat bahwa rombongan itu berangkat dengan menggunakan minibis berwarna hitam, bukan mobil bak terbuka.
Alexander
kalau IIk nya memilih bungkam, mau seperhatian apapun seorang kakak, tetap tidak akan tahu isi hati adiknya.
Alexander
kenapa tidak kabur saja ? menjauh dari keluarga. cari uang sendiri, masak sendiri , makan sendiri, tidurpun sendiri.
Alexander
mereka pembunuh yang pintar memainkan kata kata 🤣
Alexander
mungkin sebenarnya ada yang mencari, tapi si Anggun menutupi fakta
Alexander
jika dimakamkan dengan layak, juga akan menjadi pupuk.
Alexander
tentu saja orang normal tidak akan pernah mengerti jalan pikiran orang gila. 🤣
Alexander
orang berpikiran sempit bernama anggun.
Alexander
di bab awal narasinya rambut mereka memiliki potongan yang sama.
Alexander
itu bukan cinta. itu obsesi.
Alexander
posisi mereka kan ada di halaman belakang ? pak dolah berdiri di bawah tiang pemancar wifi. kok bisa ada meja makan ?
Alexander
geng bocah ini tidak ada sopan santunnya sama sekali kepada orang yang lebih tua.
Alexander
kuku yang masih kuat menempel di jari mana bisa lepas hanya karena memasak, utuh pula.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!