Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.
Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.
Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.
Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.
Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.
Sistem 2Bit.
Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.
Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.
Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.
Padahal baru dimulai.
━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️
Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.
🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Satu minggu berlalu.
Hujan di Desa Tidar sepertinya enggan berhenti. Langit selalu abu-abu, tanah selalu becek, dan udara selalu lembap. Kondisi ideal untuk depresi. Atau untuk latihan gila-gilaan.
Di dalam gubuk, Raka tidak lagi tidur di kasur. Dia tidur di lantai, tepat di atas tikar yang sudah tipis. Alasannya sederhana: bangun dari lantai lebih cepat daripada bangkit dari kasur empuk. Setiap detik berharga.
Pagi hari dimulai pukul empat. Bukan karena alarm, tapi karena disiplin diri yang menyakitkan.
Raka membuka matanya. Langsung masuk ke simulasi.
[!] Simulasi Level 3: Boneka Bersenjata.
[!] Lawan: Boneka dengan Pedang Kayu.
[!] Tujuan: Bertahan 2 menit tanpa terkena luka fatal.
Dunia putih muncul. Boneka hitam itu sekarang memegang sebatang kayu panjang yang diujungnya runcing. Gerakannya lebih lambat dari tinju, tapi jangkauannya lebih jauh. Lebih mematikan.
Raka menghindar. Melompat ke kiri. Kayu itu menebas udara di tempat kepalanya tadi.
Whush.
Dia mencoba mendekat. Tapi boneka itu memutar pergelangan tangannya. Ujung kayu berubah arah, menusuk ke arah perut Raka.
Raka menepis dengan lengan bawah. Dug! Rasa sakit menjalar hingga bahu. Tulangnya terasa retak dalam simulasi.
[!] Luka Ringan Terdeteksi.
[!] Efisiensi Gerakan: 40%.
"Gagal," gumam Raka dalam hati. Dia restart.
Lagi. Dan lagi.
Di dunia nyata, tubuh Raka berkeringat dingin meski dia hanya duduk diam. Otot-ototnya tegang, meniru gerakan menghindar yang dia lakukan di pikiran. Ini adalah teknik mental rehearsal yang dipaksakan oleh Sistem 2bit sampai batas ekstrem.
Sore harinya, saat hujan reda sejenak, Laras datang membawa dua bungkus nasi goreng.
"Kau terlihat seperti mayat yang dibangkitkan paksa," komentarnya, melemparkan satu bungkus ke pangkuan Raka.
Raka menangkapnya dengan tangan gemetar. "Terima kasih."
"Aku melihatmu kemarin malam," kata Laras sambil duduk bersila di depannya. "Kau berteriak dalam tidur. Berkali-kali. 'Kiri! Kanan! Blokir!' Kau mengganggu tetangga."
Raka tersenyum pahit. "Maaf. Simulasinya... sulit."
"Boneka itu?" tanya Laras.
"Ya. Sekarang dia pakai senjata. Jangkauannya lebih panjang. Aku belum bisa menemukan celah untuk mendekat."
Laras mengunyah nasinya pelan. Matanya menatap Raka serius.
"Senjata panjang punya kelemahan," katanya tiba-tiba.
Raka mengangkat alis. "Apa?"
"Jarak dekat. Jika kau berhasil masuk ke dalam jangkauan ayunannya, pedang atau tongkat itu tidak berguna. Mereka butuh ruang untuk berayun. Kau harus berani mati untuk masuk ke zona mati itu."
Raka terdiam. Memproses kata-kata itu. Zona mati. Selama ini, dia terlalu fokus menghindari serangan dari jauh. Dia lupa bahwa pertahanan terbaik terhadap senjata panjang adalah keberanian untuk menerobos jarak.
"Contohkan," pinta Raka.
Laras meletakkan nasinya. Dia mengambil sendok plastik dari bungkus makanannya. Dianggapnya sebagai pisau pendek. Lalu dia mengambil sapu lidi yang bersandar di dinding. Dianggapnya sebagai tombak.
"Coba tusuk aku dengan sapu ini," perintah Laras.
Raka ragu. "Aku bisa melukaimu."
"Lakukan. Atau kau tidak akan pernah paham."
Raka menghela napas. Dia mengambil sapu lidi. Mengambil ancang-ancang. Menusuk ke arah dada Laras.
Laras tidak mundur. Dia malah melangkah maju. Cepat. Agresif. Masuk ke dalam jarak sapu. Sebelum ujung sapu menyentuh bajunya, tangan Laras sudah mencengkeram gagang sapu, dan "pisau" plastiknya sudah menempel di leher Raka.
"Mati," bisik Laras dingin.
Raka terpaku. Dia tidak melihat langkah Laras. Dia hanya fokus pada ujung senjata. Kesalahan fatal.
"Ingat itu," kata Laras, melepaskan cengkeramannya dan kembali memakan nasi gorengnya seolah ничего не произошло. "Jangan takut pada ujung senjata. Takutlah pada orang yang memegangnya. Jika dia nekat, jarak adalah ilusi."
Raka menatap sapu lidi di tangannya. Lalu menatap Laras yang sedang asyik mengunyah.
Pemahaman baru terbentuk di otaknya. Bukan sekadar teori. Tapi wawasan taktis.
Malam itu, Raka masuk ke simulasi lagi.
Boneka dengan pedang kayu menyerang. Raka tidak menghindar ke samping. Dia menunggu sampai ayunan pedang mulai turun. Lalu, dengan segala keberanian yang dia kumpulkan, dia menerjang ke depan. Masuk ke dalam dekapan boneka.
Pedang itu terhantam punggung boneka sendiri karena tidak punya ruang untuk berayun.
Raka memukul dada boneka dengan telapak tangan.
[!] Serangan Berhasil.
[!] Waktu Tersisa: 1 menit 45 detik.
Dia tersenyum. Pertama kalinya dalam seminggu, dia merasa kemajuan nyata.
Sementara itu, di kedalaman hutan belakang desa, jauh dari pemukiman warga, seorang pria muda berdiri di bawah guyuran hujan.
Bima.
Dia tidak memakai baju. Tubuhnya kurus, tulang rusuknya terlihat jelas. Tapi otot-ototnya kencang. Keras. Seperti kawat baja yang ditarik sampai batas putus.
Di hadapannya, ada sebuah batu besar seukuran kepala manusia.
Bima meninju batu itu.
Bruk.
Darahnya mengalir dari buku-buku jarinya. Kulitnya sobek. Tulangnya retak.
Dia tidak berhenti.
Dia meninju lagi.
Bruk.
Wajahnya datar. Tidak ada erangan kesakitan. Hanya napas yang teratur. Tarik. Buang. Tarik. Buang.
Di sampingnya, Hendra dan Joko berdiri memegang payung, wajah mereka pucat ketakutan. Mereka tidak berani mendekati Bima. Mereka tidak berani berbicara. Mereka hanya menyaksikan tuan mereka menghancurkan dirinya sendiri secara metodis.
"Satu ribu," gumam Bima pelan.
Itu hitungan tinjunya hari ini.
Setelah pukulan ke seribu, Bima berhenti. Dia menatap tangannya yang hancur. Darah bercampur air hujan, mengalir ke tanah lumpur.
"Dikit lagi," bisiknya. Matanya bersinar aneh di kegelapan. Cahaya obsesi yang membakar akal sehatnya.
Dia tidak melatih teknik bela diri indah. Dia tidak mempelajari jurus rahasia. Dia hanya melatih ketahanan nyeri dan kekerasan murni. Dia ingin tubuhnya menjadi senjata yang tidak bisa dihentikan oleh rasa sakit. Karena baginya, rasa sakit adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa hidup setelah penghinaan di pasar itu.
Raka berlatih dengan otak. Bima berlatih dengan daging.
Dua jalur berbeda. Menuju tujuan yang sama: Dominasi.
Dan ketika kedua jalur itu bertemu nanti... desa ini tidak akan pernah sama lagi.
Di gubuknya, Raka tiba-tiba merinding. Bulu kuduknya berdiri tanpa alasan jelas. Sistem di kepalanya diam. Tidak ada peringatan. Hanya firasat instingtif bahwa lawan utamanya sedang melakukan sesuatu yang mengerikan.
Raka menggigil. Bukan karena dingin. Tapi karena antisipasi.
Dia menutup mata. Masuk ke simulasi lagi.
Klik.
Permainan terus berlanjut.
Bersambung.