"Paksu... Calla janji tobat dan bakal jadi istri yang solehot buat Paksu! Asal... jangan taroh Calla di barak militer, Calla enggak mau merangkak dilumpur!"
Demi wasiat Papa, Callanta (21 tahun) terpaksa menikah dengan pria berbaju kumal yang dikira karyawan biasa. Namun pasca-nikah, pria itu membuka jaketnya dan berubah menjadi Komandan Pasukan Khusus berusia 38 tahun yang kaku, galak, dan seumuran pamannya!
Takut dididik fisik di barak karena sifat manjanya, Calla langsung mengeluarkan mode cegil (cewek gila): merayu sang suami dengan janji jadi "Istri Solehot" (Solehah tapi Hot).
Dimulailah perang domestik yang kocak: disiplin militer vs daster mini, tangisan bombay vs bentakan bariton, hingga aksi sang Komandan yang terpaksa lari maraton tengah malam demi menjaga imannya—sementara Calla asyik ronda di pinggir lapangan sambil bawa raket nyamuk listrik!
Mampukah Komandan kaku menjinakkan istri kecilnya? Atau justru ia yang takluk di bawah kuasa raket nyamuk sang Ismut (Istri Imut)?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 24
"Ayo, Paksu Komandan kesayangan Ismut! Larinya yang cepat dong, masa kalah sama abang-abang ojek komplek!"
Suara cempreng nan merdu milik Calla seketika memecah keheningan pagi di pinggir lapangan hijau utama pangkalan militer. Teriakannya yang teramat lantang membuat barisan puluhan prajurit bertubuh kekar yang sedang berlari keliling lapangan langsung kehilangan ritme langkah kaki mereka.
Alaric yang memimpin di barisan paling depan dengan kaos dalam militer hijau tua dan celana training hitam mendadak menghentikan langkah tegapnya. Pria bertubuh raksasa itu menoleh ke arah sumber suara, memijat pangkal hidungnya yang mendadak berdenyut nyeri demi melihat tingkah ajaib istri kecilnya.
Di bawah rindangnya pohon cemara pangkalan, Calla berdiri dengan anggun namun sarat akan kecentilan. Gadis itu tampil sangat cantik dan modis mengenakan dress selutut berwarna pastel yang sangat sopan, dipadukan dengan flat shoes putih. Rambut panjangnya dicepol asal ke atas, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajah putihnya yang segar tanpa riasan tebal. Di tangan kanannya, sebuah es krim corong rasa stroberi sudah meleleh perlahan, siap untuk dinikmati.
"Callanta, kembali ke rumah," perintah Alaric dengan suara baritonnya yang berat, melangkah lambat mendekati pembatas lapangan dengan napas yang sama sekali tidak memburu.
"Nggak mau ah, Paksu!" Calla malah maju dua langkah, sengaja menjilat ujung es krimnya dengan gerakan lambat yang super genit, membuat mata elang Alaric seketika menggelap. "Ismut kan ke sini mau jadi cheerleader pribadi Paksu. Biar otot dada Paksu makin mengkeras diterpa angin pangkalan."
Pfft!
Suara tawa tertahan terdengar dari barisan prajurit di belakang Alaric. Kopral Bagas, ajudan Alaric, bahkan harus pura-pura batuk keras untuk menutupi rasa gelinya melihat sang Komandan Pasukan Khusus yang ditakuti di medan perang kini mati kutu di depan istri mungilnya.
"Semangat juga ya buat abang-abang tentara ganteng di belakang Paksu!" seru Calla lagi, melambaikan tangan kirinya dengan ceria ke arah barisan prajurit. "Ayo larinya yang semangat! Nanti Ismut doain biar dapet pacar yang secantik dan se-cegil Ismut!"
"Siap, terima kasih, Ibu Komandan!" sahut puluhan prajurit itu serempak dengan suara menggelegar, membuat suasana lapangan mendadak riuh dan penuh tawa.
Alaric langsung membalikkan tubuhnya, menatap tajam ke arah barisannya dengan pandangan membunuh. "Kopral Bagas! Ambil alih barisan. Tambah lima putaran lagi untuk semuanya!"
"Siap, laksanakan, Komandan!" jawab Bagas tegas, langsung memimpin pasukan menjauh sebelum terkena amukan sang macan pangkalan yang tampaknya mulai terbakar api cemburu.
Setelah pasukannya menjauh, Alaric kembali berbalik menatap Calla. Pria 38 tahun itu melangkah melewati pembatas, berdiri tepat di depan Calla hingga tubuh raksasanya sepenuhnya menghalangi pandangan istrinya dari lapangan.
"Kamu... apa tidak bisa diam di rumah saja, Calla?" tanya Alaric dengan nada suara yang teramat lambat dan rendah, menyeka keringat di pelipisnya sendiri. "Kenapa harus menyemangati mereka juga? Pangkat mereka tidak ada yang bisa memberimu ijin libur dari rumah dinas."
Calla mendongak, menatap wajah kaku suaminya dengan binar mata kucing yang penuh kemenangan. "Ih, Paksu cemburu ya? Mengaku saja deh, Komandan kaku!"
"Saya tidak cemburu, Callanta," jawab Alaric datar, meski rahang tegasnya mengeras menahan rasa kesal yang aneh di dadanya. "Saya hanya menegakkan disiplin di lapangan."
"Halah, bohong banget!" Calla terkekeh renyah, melangkah maju hingga ujung sepatunya menyentuh sepatu lars Alaric. Ia menjinjitkan kakinya, mengarahkan es krim stroberinya ke depan bibir Alaric. "Nih, makan es krimnya biar hatinya yang panas jadi adem lagi. Tadi malam kan udah mandi air es, masa pagi ini mau mandi api cemburu?"
Alaric menatap es krim berwarna merah muda itu, lalu beralih menatap bibir Calla yang sedikit belepotan krim stroberi. Tanpa diduga, Alaric malah menundukkan kepalanya perlahan, bukan menjilat es krim di tangan Calla, melainkan menggunakan ibu jarinya untuk mengusap sudut bibir istrinya yang kotor dengan sangat lembut.
"Makan es krimmu dengan benar, Ismut," bisik Alaric rendah, suaranya terdengar sangat dalam di dekat wajah Calla. "Jangan memancing saya di depan umum seperti ini."
Calla langsung tersenyum manis, membiarkan sentuhan tangan kapalan Alaric memanjakan kulit wajahnya. "Biarin, biar semua orang tahu kalau Komandan paling galak di sini itu aslinya bucin akut sama Ismut."
"Ya ampun, Jeng Calla! Bener-bener ya, pengantin baru ini pangkalan berasa milik berdua saja!"
Suara tawa ibu-ibu berpakaian olahraga hijau khas Persit tiba-kira terdengar dari arah pendopo pinggir lapangan. Ibu Ketua Cabang bersama beberapa istri perwira lainnya berjalan mendekat dengan wajah penuh senyum geli melihat interaksi sepasang suami istri baru itu.
"Eh, Ibu Jenderal!" Calla langsung berbalik, menyapa para seniornya dengan wajah ceria tanpa ada rasa canggung atau takut sedikit pun. "Pagi, Ibu-ibu cantik! Ini Ismut lagi ngasih asupan glukosa buat Paksu biar nggak hobi hukum prajurit terus."
Ibu Ketua Cabang tertawa terkekeh, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Calla. "Duh, Alaric... kamu ini beruntung sekali ya. Rumah dinasmu yang biasanya sepi kayak kuburan, sekarang jadi ramai dan segar sejak ada Jeng Calla."
"Siap, benar, Ibu," jawab Alaric formal, kembali memasang sikap tegak militernya di depan para istri senior, meski telinganya mulai memerah halus.
"Jeng Calla ini paling muda di komplek kita, tapi gayanya paling modis dan berani ya," puji seorang istri kapten di sebelahnya, menatap kagum pada cepol rambut Calla yang terlihat sangat segar. "Kami yang sudah emak-emak ini sampai kalah semangatnya kalau lihat Jeng Calla subuh-subuh sudah heboh di depan rumah."
"Ah, Ibu bisa saja!" Calla cengengesan, merapatkan tubuhnya ke lengan Alaric yang basah oleh keringat. "Ismut kan harus selalu kelihatan segar, Bu. Biar Paksu kalau pulang latihan langsung melek, nggak kepikiran barak terus."
Ibu Ketua Cabang menepuk bahu Calla dengan sayang. "Bagus itu, Jeng. Pertahankan ya sifat cerianya. Menjadi istri tentara itu memang harus tangguh, tapi punya selera humor dan keceriaan seperti Jeng Calla ini justru yang bikin suami betah di rumah."
"Siap, laksanakan, Ibu Ketua!" sahut Calla mantap dengan gaya hormat militernya yang lagi-lagi membuat ibu-ibu Persit itu tertawa gemas.
Setelah rombongan ibu-ibu Persit melanjutkan jalan paginya, Alaric kembali menatap Calla yang kini sedang asyik menghabiskan sisa kerupuk corong es krimnya.
"Sudah puas membuat kehebohan di lapangan saya, Ibu Alaric?" tanya Alaric dengan nada menyindir yang halus, namun matanya memancarkan kehangatan yang mutlak.
"Puas banget dong!" Calla membersihkan tangannya dengan tisu, lalu kembali menatap suaminya dengan kerlingan nakal yang melelehkan. "Paksu... Ismut haus nih setelah teriak-teriak menyemangati ketampanan Paksu tadi."
Alaric menghela napas panjang, merangkul pundak mungil Calla dengan lengan kekarnya, menuntun istrinya berjalan pelan kembali menuju arah rumah dinas mereka yang terletak di ujung koridor pohon cemara.
"Kita pulang ke rumah. Saya akan buatkan teh manis untukmu," ujar Alaric lambat.
"Asyik! Dibuatin sama Komandan seksi!" seru Calla riang, memeluk pinggang Alaric dari samping sepanjang jalan. "Tapi nanti di rumah, Ismut mau bonus peluk dari depan ya? Yang erat, sampai dada Paksu nempel banget di punggung Ismut kayak pas belajar nyapu tadi."
Alaric tidak menjawab, ia hanya mempererat rangkulannya di pundak Calla sambil terus melangkah lambat di bawah hangatnya mentari pagi pangkalan, menyembunyikan senyuman tipisnya yang penuh rasa bahagia.
resepsi tinggal menghituung hariii detik demi detiik ,,
aseeek aseeek ,, 💃💃💃💃💃
pak komandan udh mulai mencair niiih 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
pengaman tingkat tinggi pak su ,,
jgn lupa kolam air di isi penuhh ,,
sypa tau nnti mlm mau jdi pangeran duyung lgii🤭🤭🤭🤣🤣🤣
kak mksiih buat up ny ,,
sehat selalu
sabar yx pak suu ,,
meski menghadapi calla tu membuat kesabaran setipis tissue 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Perbedaan usia, kepribadian yang bertolak belakang, serta tingkah kocak sang istri menciptakan banyak momen lucu, menggemaskan, sekaligus romantis. Di balik segala kekacauan yang dibuat istrinya, sang komandan perlahan menunjukkan sisi lembut dan posesif yang hanya ia tunjukkan untuk wanita yang dicintainya.
Cocok untuk pembaca yang menyukai romcom penuh tawa, kemesraan pasangan suami istri, dan kisah cinta yang hangat tanpa terlalu banyak drama berat. Selamat membaca dan semoga terhibur!" 💕✨