NovelToon NovelToon
Dari Terpaksa Jadi Cinta

Dari Terpaksa Jadi Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romantis
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Amillea24

"Menikahlah. Jadi orang tua utuh untuk Kenzie. Jangan biarkan dia merasa kehilangan sosok ayah dan ibu. Tolong, jangan biarkan dia sendirian."

Demi wasiat kedua kakaknya. Aruna dan Gavin terpaksa menikah saat itu juga. untuk menggantika peran kedua kakaknya pada keponakan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amillea24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Satu minggu kemudian.

Sesuai dengan kesepakatan bersama, urusan administrasi dan pendaftaran Kenzie di kelas khusus batita tempat Aruna mengajar akhirnya rampung. Hari yang dinanti-nanti pun tiba: hari pertama Kenzie bersekolah.

Pukul 06.45 WIB, suasana di depan apartemen sudah tampak sibuk. Gavin berdiri di dekat mobilnya sambil merapikan letak kemeja kasual yang sengaja ia pilih agar terlihat santai namun tetap berwibawa di depan guru-guru lain nanti. Sesuai komitmen barunya, mulai hari ini dan seterusnya, Gavin mengambil alih tugas sebagai sopir pribadi untuk mengantar dan menjemput Aruna serta Kenzie.

"Ayo, jagoan Daddy, siap-siap berangkat!" seru Gavin saat melihat Aruna keluar dari lobi apartemen sambil menggandeng Kenzie.

Yap. Mulai hari ini Gavin dan Aruna akan membiasakan pada Kenzie untuk memanggil Gavin dengan panggilan Daddy dan untuk Aruna Mami. Sudah tidak ada panggilan Oom dan Ante lagi.

Kenzie tampak sangat menggemaskan dengan ransel kecil berbentuk dinosaurus menempel di punggung mungilnya. Topi ember berwarna kuning cerah menutupi rambut lebatnya, membuat pipi bulatnya semakin menyembul ke depan.

"Eji osah! Eji osah! (Kenzie sekolah!)" celoteh bocah satu setengah tahun itu dengan riang, menepuk-nepuk tangannya sendiri.

Aruna tersenyum tipis melihat antusiasme keponakannya. Ia menatap Gavin yang membukakan pintu mobil untuk mereka. "Semua perlengkapan Kenzie sudah masuk bagasi, Vin? Baju ganti, pampers, sama botol susunya?"

"Aman, Nyonya. Tas tempur semuanya sudah siap di belakang," jawab Gavin dengan nada bercanda sambil memberikan gestur hormat.

Aruna hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Gavin, namun tak bisa dipungkiri ada rasa lega di hatinya. Setidaknya, Gavin benar-benar membuktikan ucapannya untuk berubah dan bertanggung jawab.

Perjalanan menuju sekolah memakan waktu sekitar lima belas menit. Begitu mobil mewah Gavin memasuki area parkir sekolah taman kanak-kanak tersebut, beberapa pasang mata guru dan orang tua murid langsung tertuju pada mereka. Maklum saja, pesona seorang Gavin memang sulit diabaikan, apalagi sekarang ia turun dari mobil sambil menggendong seorang batita dengan begitu telaten.

"Ingat ya, Vin. Untuk tiga hari ke depan, kamu yang harus menemani Kenzie di dalam kelas khusus batita itu," bisik Aruna saat mereka berjalan menyusuri koridor sekolah menuju area Daycare "Aku gak bisa mendampingi dia karena jam mengajar aku di kelas TK B padat banget pagi ini. Baru nanti setelah tiga hari masa adaptasi, Kenzie harus dilepas sendiri tanpa ditemani orang dewasa."

Gavin mendadak menghentikan langkahnya, matanya membelalak menatap Aruna. "Tunggu, Ru. Maksudnya... Aku harus ikut duduk di dalam kelas? Sama ibu-ibu dan anak-anak kecil lainnya?"

"Iyalah. Namanya juga kelas batita, masih butuh pendampingan orang tua di awal masuk. Kenapa? Gak mau?" tantang Aruna sambil menaikkan satu alisnya.

Gavin menelan ludah, melirik ke arah ruangan kelas batita yang dipenuhi oleh perosotan plastik mini, bola-bola warna-warni, dan... rombongan ibu-ibu yang sudah menunggu di dalam ruangan itu

"B-bukan gak mau. Cuma... Kamu bayangin aja muka tampan aku begini harus ikutan nyanyi 'Potong Bebek Angsa' di dalam sana," gumam Gavin pasrah, meratapi harga dirinya sebagai playboy papan atas yang kini resmi bergeser menjadi hot daddy siaga untuk keponakan kecilnya.

Aruna menahan tawa melihat raut wajah Gavin yang mendadak pias. Ia menepuk bahu Gavin pelan. "Anggap saja ini latihan tanggung jawab. Ya sudah, aku ke kelas dulu ya. Kenzie, baik-baik sama Daddy Apin di kelas, oke?"

Aruna masih merasa geli dan kagok ketika memanggil Gavin dengan sebutan Daddy.

"Hmm" sahut Kenzie sambil menganggukkan kepala kecil dengan semangat.

Setelah Aruna pergi, Gavin menarik napas dalam-dalam, menguatkan mentalnya. Ia melangkah masuk ke dalam kelas dengan Kenzie yang berada di gendongannya. Begitu kakinya melewati pintu, jepretan pandangan dari para ibu-ibu di dalam ruangan langsung menyambutnya. Beberapa di antaranya bahkan mulai saling berbisik, terpesona melihat sosok pria muda nan tampan yang mendadak tersesat di lingkaran ibu - ibu tersebut.

Mana dia sendiri yang laki - laki disini. Sisanya para Ibu - ibu yang menemani anak - anaknya sekolah.

"Wah, ada Papa muda nih! Ganteng banget ya ampun," bisik salah satu wali murid di pojok ruangan yang masih sempat terdengar oleh telinga tajam Gavin.

"Tumben ya zaman sekarang ada seorang ayah mau nemenin anak sekolah." Saut ibu - ibu yang lain.

Gavin hanya bisa melemparkan senyum canggung, lalu mendudukkan dirinya di atas karpet puzzle angka, melipat kakinya yang panjang dengan posisi yang agak menyiksa. Sementara itu, Kenzie sudah langsung merangkak ceria, merebut mainan balok kayu dan membaur dengan anak-anak lainnya tanpa rasa takut sedikit pun.

Selama dua jam ke depan, Gavin benar-benar diuji lahir dan batin. Ia harus ikut bertepuk tangan saat guru di depan kelas memandu lagu, membantu Kenzie menyusun lego, hingga membersihkan air liur keponakannya yang menetes karena terlalu bersemangat bermain.

Meskipun melelahkan dan membuat pinggangnya agak encok, ada letupan rasa bahagia yang asing di dalam dada Gavin saat melihat tawa renyah Kenzie yang lepas tanpa beban. Rasa bersalah yang sempat menghantuinya beberapa minggu ini perlahan-lahan terkikis, digantikan oleh rasa hangat yang begitu menenteramkan.

Dari balik jendela kaca kelas Kenzie, Aruna sempat melirik ke arah area bermain kelas batita di luar. Ia tersenyum tipis saat melihat Gavin sedang kewalahan memegangi botol susu Kenzie sambil membiarkan rambut rapinya diacak-acak oleh tangan mungil batita tersebut.

'Ternyata... kamu gak seburuk yang aku kira, Gavin,' batin Aruna hangat, sebelum kembali fokus memandu anak-anak didiknya untuk menuju ke arah taman.

Bersambung...

1
partini
lihat yg dia beli atuh ,dia beli buat kamu juga ga semua buat dirinya sendiri
partini
semangat Thor ,semoga di kontrak novel nya
partini
siapa wanita itu yg bikin salah faham
tapi bagus run keren Badas Banggt dari pada pusing Meding enjoy sama ponakan
partini
diem itu lebih baik dari pada cuap 👍👍
partini
dalam bahaya Tah
partini
paling bagus tuh diem sih dari pada bertengkar ga bagus buat anak" dengar kata" kasar
lagi dong Thor
partini
run semoga ga cinta duluan kamu , soal nya yg kebanyakan terjadi cewe yang suka duluan makanya nyesek
Namjachinggu: tenang aja kak, Aruna ngga akan cinta duluan ko 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!