Dara dan Gadis adalah saudara kembar identik yang terpisah sejak kecil, Nasib mereka sangat berbeda. Dara tumbuh dikeluarga yang sederhana sedangkan Gadis, ia tumbuh dikeluarga yang bergelimang harta. Gadis mempunyai calon suami bernama Valen Bramanta dan Dara, Ia hanya mempunyai teman Azka. laki laki yang sering membuatnya kesal. Suatu hari tanpa sengaja Dara bertemu dengan Gadis mereka kemudian bertukar posisi. Dara menjadi Gadis dan Gadis menjadi Dara, Bagaimanakah kisah percintaan mereka? Akankah mereka bertukar pasangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nety purbasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit hati
Valen mengusap matanya merasakan udara pagi ya memasuki ruangan itu, Mata Valen membulat ketika ia melihat Gadis berdiri tidak jauh dari tempat tidurnya tidur.
Valen ingin berpura pura tidak tahu jika wanita yang sedang berdiri menatapnya adalah Gadis. Valen ingin bertanya. Dara sedang apa kamu disini? tapi sepertinya itu tidak mungkin.
Jelas jelas kaki Gadis keselo dan ia tidak bisa menemani Valen, kenapa tiba tiba Gadis bisa tidur bersama Valen.
Bukankah sudah jelas Valen tahu. bahwa wanita yang tidur dengannya, itu adalah Dara bukan Gadis. Valen pikir, ia tidak bisa dengan mudah membohongi Gadis sama seperti ia membohongi Dara.
Valen menggeser tubuh Dara berlahan lahan agar Dara tidak tidur diatas dadanya. Dara terbangun lalu ia duduk. Dara menatap Valen dengan tatapan penuh cinta, ia tersenyum malu malu pada Valen.
Valen tidak membalas senyum Dara, Wajahnya justru terlihat sinis dan tidak senang, Ia besikap seperti itu karena ingin menjaga perasaan Gadis. Valen turun dari tempat tidurnya, ia menghampiri Gadis.
"Gadis, kaki kamu sudah sembuh?" Valen bertanya, tingkahnya bagai suami yang sangat perduli dan sayang pada istrinya.
Gadis merasa heran karena Valen justru membicarakan hal yang lain, hal yang sangat tidak penting. Kaki Gadis hanya keseleo dan sudah hampir sembuh. Meskipun pelan pelan, Gadis masih kuat berjalan sendiri.
Dari pada menanyakan keadaan kaki Gadis yang sudah mau sembuh, Bukankah Sebaiknya Valen menjelaskan. Kenapa ia bisa tidur bersama Dara?
Gadis tidak menjawab pertanyaan Valen, pertanyaan itu bagi Gadis hanya sekedar basa basi yang tak perlu ia ladeni.
Sementara itu Dara Tentu saja terkejut melihat kehadiran Gadis. Dara tidak menyangka Kalau Gadis akan datang mencari Valen. Ia juga tidak menyangka kalau Gadis bisa menemukan dirinya dan Valen, Dara berjalan mendekati Valen dan Gadis.
"Gadis, kenapa kamu bisa ada disini?" Tanya Dara penasaran.
Gadis sedih bercampur emosi karena Dara menanyakan sesuatu yang seharusnya tidak ia tanyakan. Sama seperti Valen Dara menanyakan sesutu yang tidak perlu.
"Kalau aku tidak disini, aku tidak akan tahu suami dan saudara ku sendiri berselingkuh." Ucap Gadis dengan pipi yang sudah basah oleh air mata.
"Gadis, Kamu salah paham." Dara berusaha menjelaskan, tapi sepertinya Gadis tidak mau mendengarkannya.
"Tidak usah, aku sudah melihatnya sendiri. Kamu pernah bilang, kamu mau suamiku.kalau begitu, kamu ambil saja."
Suara Gadis terdengar serak, wanita itu sedang menahan tangisnya. Gadis ingin pergi dari tempat itu, ia sakit hati pada Valen dan Dara.
Sedangkan Valen, Ia sangat kecewa mendengar penuturan Gadis. Apa Gadis pikir dirinya itu adalah barang, sehingga Gadis bisa memberikannya dengan mudah pada orang lain.
Dara berusaha menghalangi kepergian Gadis, ia tetap ingin menjelaskan pada Gadis. Meskipun ia tidak tahu Gadis akan pecaya atau tidak padanya, Setidaknya ia sudah berusaha.
"Gadis, tunggu kamu harus dengarkan penjelasanku dulu. Valen tidak tahu kalau aku ini Dara." Dara memang mengira Valen tidak tahu kalau ia adalah Dara bukan Gadis karena itu Valen tidur sambil memeluk Dara. Itulah yang Dara pikirkan.
"Kamu salah Dara, Valen sudah tahu kamu itu Dara karena sebelum pergi Valen berpamitan padaku dirumah. aku tidak bisa menemani Valen karena kakiku kemarin keseleo."
Cerita Gadis membuat Dara merasa dibohongi oleh Valen, namun jauh dilubuk hatinya Dara merasa sedikit senang. itu berarti Valen tahu, Wanita yang ia peluk semalaman adalah Dara bukan Gadis.
"Kalau Valen tidak tahu kamu Dara, kenapa kamu tidak memberi tahunya?" Gadis menatap penuh rasa kecewa terhadap Dara.
"Dan kamu Valen, kamu munafik. kamu marah besar, waktu aku meminta Dara menemani kamu keacara pernikahan temanmu. Sekarang apa yang kamu perbuat? kamu tahu dia ini Dara, tapi kamu pura pura tidak tahu."
Gadis sudah tidak dapat menahan kesedihan dan amarahnya dengan berurai air mata Gadis berjalan meninggalkan Valen dan Dara.
Gadis sebenarnya ingin berlari, tapi karena kakinya belum sembuh benar. ia tidak dapat melakukannya.
Valen yang semula diam saja segera berjalan. ia ingin menyusul Gadis, tapi Aska menghalanginya.
Aska ternyata sejak tadi berdiri didepan pintu, laki laki itu menyaksikan semua yang terjadi.
"Biarkan istrimu pergi, mungkin dia butuh waktu sendiri setelah ia melihat suaminya berselingkuh. dia perlu menjernihkan pikirannya."
Ucapan Azka membuat Valen kesal, Valen kesal karena lagi lagi Azka mencampuri urusannya.
"Minggir." Dengan kesal Valen mendorong Azka hingga tubuh Azka terhuyung kesamping pintu.
Valen buru buru berlari untuk mengejar Gadis.laki laki plin plan itu sepertinya tidak memperdulikan Dara.
Ia pergi begitu saja tanpa menghiraukan perasaan Dara, Valen datang bersama Dara harusnya ia juga yang mengantarkan Dara pulang.
Dara hampir saja menangis, Seandainya saja tidak ada Azka mungkin ia sudah menangis. ia mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh karena ia sangat malu pada Azka.
"Dara, aku tidak menyangka. aku pikir kamu baik, tapi ternyata kamu tidak lebih dari seorang pelakor." Kata kata Azka sungguh membuat hati Dara sakit.
Azka kemudian pergi meninggalkan Dara sendirian, Dara takut ditinggal ditempat itu sendiri. ia buru buru berlari menyusul Azka.
Sementa itu Gadis menghentikan langkahnya, ia bingung tidak tahu harus pulang dengan siapa. Gadis tadi memang sempat melihat Azka, tapi karena ia sedang sedih, ia mengabaikan kehadiran Azka.
Gadis ingin memesan taksi online, tapi apa ada taksi yang mau melewati tempat sepi seperti itu. Saat Gadis sedang berpikir, Valen muncul dihadapannya.
"Gadis, ayo kita pulang. kita bicarakan semua dirumah." Valen berharap Gadis mau mendengarkan penjelasannya, meskipun pada akhirnya Valen terpaksa berbohong.
"Semuanya sudah jelas." Gadis merasa tidak ada gunanya ia bicara dengan Valen, yang ia lihat sudah cukup jelas. Apapun yang akan Valen katakan, bagi Gadis itu hanyalah sebuah alasan.
"Gadis, aku ini suami kamu, kalau aku bilang pulang ya pulang. Jangan membantahku." Nada suara Valen mulai meninggi.
Saat Valen sedang bersusah payah membujuk Gadis, Azka datang dan seperti dugaan Valen. Pria menyebalkan itu ikut campur.
"Biar aku yang mengantar Gadis pulang." Ucap Azka dengan wajah yang tampak kesal.
Valen tidak tahu, kenapa juga Azka terlihat marah, apa mungkin Azka cemburu karena Azka melihat Dara tidur bersamanya. Apapun itu Valen tidak perduli yang pasti Gadis adalah istrinya jadi sudah sewajarnya Gadis pulang bersamanya.
"Kamu lupa? Gadis itu istriku." Ucap Valen sinis.
"Tapi dia kesini bersamaku, kau pulang saja dengan selingkuhanmu itu." Sindir Azka.
Valen amat kesal rasanya ingin sekali ia memukuli Azka sampai babak belur, Kenapa Azka ingin mendekati istrinya. Apa Azka mau menjadi pebinor alias perebut istri orang.
"Aku pulang sama Azka. kamu pulang saja sama Dara." Gadis tidak ingin pulang bersama Valen, ia lebih memilih pulang bersama Azka. Gadis masih sakit hati pada Valen.
"Aku tidak mau. Azka saja yang pulang sama Dara." Didepan Gadis dan Azka Valen menolak pulang bersama Dara, ia lebih memilih pulang bersama istrinya Gadis.
"Aku juga tidak mau." Azka juga menolak untuk mengantar Dara pulang, hatinya terasa sakit ketika tadi ia melihat Dara tidur dengan Valen.
Tanpa mereka sadari Dara sudah berada ditempat itu dan ia mendengar pembicaraan mereka.
"Kalian tidak usah repot repot, aku bisa pulang sendiri." Ucap Dara dengan wajah yang tampak sedih.
"Gadis, sebelum aku pulang aku akan memberi tahumu. Semua ini hanya salah paham. Aku mau menemani Valen datang keperkebunan ini, itu karena Valen mengira aku ini bukan Dara. Sebenarnya aku ingin memberi tahu Valen kalau aku bukan Gadis, aku tidak memberi tahunya karena aku yakin Valen tidak akan percaya. Kemarin hujan deras, kita berdua tersesat. kita memang tidur dikursi yang sama, tapi kita melakukan apa apa. Kamu lihat sendiri aku masih memakai pakaian lengkap." Dara menjelaskan sambil sesekali menghapus air matanya.
"Ada lagi, aku tidak serendah itu. Aku bukan pelakor yang mau merebut suamimu." sambung Dara, ia lalu berjalan melewati Valen, Gadis dan juga Azka. Dari raut wajah Dara, Gadis bisa membaca bahwa Dara sakit hati padanya.