NovelToon NovelToon
Takdir Baru di Malam Lamaran

Takdir Baru di Malam Lamaran

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Chicklit / Tamat
Popularitas:67.8k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 09 - Cincin dari Orang Sakit

Rumah Sari semakin sempit setelah barang-barang Nadia masuk.

Tas besar diletakkan di sudut kamar. Kotak seserahan ditumpuk di dekat lemari plastik. Rani berputar-putar mengelilinginya dengan mata berbinar.

"Tante Nadia, ini semua punya Tante?"

Nadia jongkok di depan keponakannya.

"Sebagian. Tapi jangan dibuka dulu."

"Ada kue?"

"Pasti ada."

Rani langsung menoleh ke ibunya. "Bu, boleh satu?"

Sari melotot. "Tunggu tamu pulang dulu."

Rani cemberut, lalu berlari ke luar.

Nadia tersenyum. Di kehidupan lalu, ia jarang menikmati hal kecil seperti ini. Setiap hari pikirannya penuh cara agar Arman tidak marah, agar Bu Lilis tidak menyindir, agar makanan cukup, agar dirinya tidak menangis di depan orang.

Sekarang ia duduk di rumah sempit kakaknya, tapi hatinya tidak sesempit dulu.

Sari menuang teh untuk Raka dan Pak Harun. Raka duduk di ruang depan, menjaga jarak dengan sopan. Ia tidak masuk ke kamar, tidak menyentuh barang tanpa izin, bahkan ketika membantu membawa kotak, ia selalu bertanya.

Joko, suami Sari, pulang menjelang siang. Wajahnya kusut setelah kerja malam, tapi ia tetap menyalami Raka dengan sopan. Ketika Sari menjelaskan singkat, Joko hanya mengangguk.

"Selama Nadia nyaman, tinggal saja dulu di sini."

Sari tampak lega.

Nadia memperhatikan Joko.

Di kehidupan lalu, laki-laki itu tidak buruk, tapi terlalu diam saat keluarganya menyudutkan Sari. Diam bisa menjadi bentuk kelemahan. Kadang juga menjadi pisau yang tidak terlihat.

Nadia menyimpan catatan itu.

Setelah makan siang sederhana, Raka pamit sebentar. Nadia mengira ia pulang, tapi sore harinya ia datang lagi bersama Tante Mira.

Kali ini ia membawa kotak kecil berwarna merah marun.

Sari langsung gugup.

"Mas Raka, ini apa?"

Tante Mira tersenyum.

"Lamaran yang tadi pagi terlalu ramai. Kami ingin menyerahkan cincin secara lebih pantas. Tidak perlu acara besar. Yang penting ada saksi keluarga."

Nadia melihat kotak itu.

Di kehidupan lalu, cincin lamaran Arman dipakaikan Bu Lilis dengan wajah penuh perhitungan. Cincin itu kemudian sering dipakai Arman sebagai alasan. "Kamu sudah masuk keluargaku. Jangan banyak menuntut." Bahkan benda kecil pun bisa menjadi borgol kalau diberikan oleh orang yang salah.

Raka membuka kotak.

Cincinnya sederhana. Emas tipis dengan batu kecil bening di tengah. Tidak mencolok, tapi bersih.

"Saya tidak tahu ukuran jarimu," kata Raka. "Kalau longgar atau sempit, nanti kita sesuaikan."

Tante Mira menyikutnya pelan.

"Raka, masa menyerahkan cincin seperti menyerahkan nota toko?"

Raka tampak sedikit kikuk.

Nadia hampir tertawa.

Tante Mira mengambil alih.

"Nadia, cincin ini tanda bahwa Raka datang dengan niat baik. Bukan untuk mengikatmu sebagai barang, tapi sebagai janji bahwa setelah kekacauan semalam, masih ada jalan yang lebih pantas."

Nadia menatap Tante Mira. Ia menyukai perempuan ini. Bicaranya tenang, tapi tidak lembek.

Raka mengulurkan cincin.

"Boleh?"

Nadia mengangguk.

Ia mengulurkan tangan kanan. Raka memasangkan cincin itu perlahan. Jari-jarinya dingin, mungkin karena obat atau karena gugup. Cincin itu sedikit longgar.

"Kebesaran," kata Raka.

"Tidak apa-apa."

"Nanti jatuh."

"Kalau jatuh, saya cari."

Raka menatapnya.

"Jangan. Kalau sesuatu tidak pas, diperbaiki. Jangan membiasakan diri mengejar yang jatuh karena dari awal salah ukuran."

Nadia terdiam.

Tante Mira juga diam, lalu tersenyum kecil.

Sari menatap cincin di tangan Nadia sambil menahan haru.

Joko membawa Rani keluar rumah, mungkin agar acara kecil itu lebih khidmat. Rani tetap mengintip dari pintu.

"Tante cantik," bisiknya.

Nadia tertawa.

Suasana hangat itu rusak oleh suara motor berhenti mendadak di depan rumah.

Bella turun dari boncengan Arman.

Ia memakai kerudung warna pastel dan wajah lelah. Arman tampak kesal, mungkin tidak ingin datang tapi dipaksa. Di belakang mereka, Bu Ratna turun dari ojek lain.

Sari langsung berdiri.

"Ada apa?"

Bu Ratna tersenyum canggung.

"Kami mau mengantar beberapa barang Nadia yang tertinggal."

Nadia melihat tangan Bu Ratna kosong.

"Barang apa?"

Bu Ratna menoleh ke Bella.

Bella mengeluarkan sebuah kantong plastik kecil.

"Ini jilbab Kak Nadia."

Nadia mengenali jilbab itu. Jilbab lama yang sudah pudar, bahkan ia sengaja tinggal karena tidak butuh.

Sari jelas tidak percaya.

"Cuma itu?"

Bu Ratna tetap tersenyum.

"Sekalian ingin melihat keadaan Nadia. Bagaimanapun dia anak kami."

Nadia menatap Raka.

"Mas Raka, lihat. Aku baru pergi beberapa jam, sudah dirindukan."

Raka tidak tersenyum, tapi matanya bergerak lembut.

Arman melihat cincin di tangan Nadia.

Wajahnya berubah.

"Cepat sekali."

Nadia mengangkat tangan sedikit.

"Bagus, kan?"

Bella memandang cincin itu dengan iri yang sulit disembunyikan.

"Cincin dari Om Raka?"

"Dari calon suamiku," jawab Nadia.

Arman mendengus.

"Kamu benar-benar mau menikah dengan orang sakit."

Sari langsung marah.

"Arman!"

Raka mengangkat tangan, memberi isyarat tidak perlu.

Nadia menatap Arman.

"Mas Arman, semalam kamu bilang cinta tidak bisa dipaksa. Hari ini kenapa repot sekali mengomentari pilihanku?"

"Aku hanya mengingatkan. Jangan karena marah padaku, kamu menghancurkan hidupmu."

Nadia menatapnya beberapa detik.

Laki-laki ini benar-benar luar biasa.

Ia mengkhianati, lalu masih merasa berhak menjadi pusat keputusan Nadia.

"Hidupku hampir hancur saat aku menerima lamaranmu," kata Nadia pelan. "Untung kamu menyelamatkanku dengan cara paling memalukan."

Wajah Arman mengeras.

Bella menggenggam tangannya.

"Mas, jangan diladeni."

Nadia menatap genggaman itu.

"Iya, Bella. Pegang yang erat. Barang yang suka pindah kamar harus diawasi."

Bella pucat.

Bu Ratna cepat berkata, "Nadia, jangan terus menyindir. Kami datang baik-baik."

"Dengan membawa jilbab pudar sebagai alasan?"

Sari mengambil kantong plastik dari tangan Bella, membukanya, lalu menatap ibunya tiri dengan wajah datar.

"Ini bahkan bukan barang penting."

Bu Ratna menahan malu.

Tante Mira berdiri.

"Bu Ratna, kalau ingin bicara, sebaiknya langsung saja. Raka sedang tidak sehat. Jangan membuat kunjungan ini panjang tanpa tujuan."

Raka tampak hendak mengatakan ia baik-baik saja, tapi Nadia menatapnya. Ia diam.

Bu Ratna akhirnya menghela napas.

"Baik. Kami ingin membicarakan tanggal akad Bella dan Arman. Karena Nadia dan Raka pekan depan, Bella juga ingin hari yang sama."

Sari terkejut.

"Hari yang sama?"

Bella menunduk.

"Supaya tidak ada omongan. Kalau Kak Nadia lebih dulu akad, orang akan bilang aku ditinggal."

Nadia tertawa pelan.

"Jadi sekarang akadku juga harus menyesuaikan rasa takutmu?"

Arman berkata, "Tidak ada salahnya akad bersamaan. Hemat biaya."

"Biaya siapa?"

Arman terdiam.

Nadia melanjutkan, "Kalau kalian ingin akad, silakan. Tapi jangan menempel pada acaraku. Aku tidak mau hari akadku menjadi tempat Bella mencuci malu."

Bella menangis.

"Kak, kenapa kamu selalu melihatku seburuk itu?"

"Karena kamu berdiri di depan rumah kakakku membawa rencana buruk."

Bu Ratna mulai marah.

"Kalau kamu tidak mau membantu adikmu, katakan saja."

"Aku tidak mau membantu adikku menutupi aib yang ia buat sendiri."

Arman tiba-tiba menatap Raka.

"Om, kamu diam saja Nadia bicara seperti ini? Nanti setelah menikah, dia bisa lebih tajam dari sekarang."

Raka menjawab tenang.

"Bagus. Berarti rumah saya tidak akan sepi."

Tante Mira tertawa kecil.

Nadia menunduk menyembunyikan senyum.

Arman kehilangan muka.

Bella tidak tahan melihat itu. Ia menatap cincin Nadia lagi, lalu berkata pelan tapi cukup terdengar.

"Setidaknya Mas Arman sehat."

Ruangan seketika dingin.

Sari membelalakkan mata.

Bu Ratna menarik lengan Bella, tapi terlambat.

Nadia berdiri.

Raka juga, tapi Nadia memberi isyarat kecil agar ia diam.

Ia berjalan ke depan Bella.

"Ulangi."

Bella mundur setengah langkah.

"Aku tidak bermaksud..."

"Ulangi, Bella. Katakan lagi bahwa laki-laki yang kamu rebut lebih baik karena dia sehat."

Bella menunduk.

Nadia mendekat, suaranya rendah.

"Kamu tahu apa yang paling lucu dari orang seperti kamu? Kamu menilai masa depan dari permukaan. Mobil, seragam, badan sehat, keluarga terpandang. Kamu pikir itu jaminan bahagia."

Bella menggigit bibir.

"Kak..."

"Tidak apa-apa. Pegang keyakinanmu itu. Aku doakan Mas Arman selalu sehat untuk mendampingimu."

Arman merasa kalimat itu aneh.

Raka memperhatikan Nadia, seolah menangkap lapisan lain.

Nadia kembali duduk.

"Sekarang pergi. Aku masih ingin menikmati cincinku dari orang sakit."

Bella menangis sambil berlari keluar.

Bu Ratna mengejarnya.

Arman berdiri beberapa detik, menatap Nadia dan Raka bergantian.

Sebelum pergi, ia berkata dingin, "Kamu akan menyesal."

Nadia mengangkat tangan bercincin.

"Antre. Banyak orang di rumah itu lebih dulu menunggu aku menyesal."

Arman pergi dengan wajah gelap.

Setelah suara motor menjauh, Sari mengembuskan napas panjang.

"Mulutmu makin tajam."

Nadia melihat Raka.

"Mas Raka tersinggung?"

Raka menggeleng.

"Tidak. Tapi saya penasaran."

"Apa?"

"Kenapa doamu untuk Arman selalu terdengar seperti ancaman?"

Nadia tersenyum, memutar cincin longgar di jarinya.

"Mungkin karena Tuhan punya selera humor."

1
Murni Sumiarti
Bingung
🤣🤣🤣
Endang Sulistia
di bab atas anak sari namanya Rani...trus mereka buka warung ..🤔🤔kok makin bingung ya thor🤦🤦
Endang Sulistia
bingung mbak Lilis apa Bu Lilis 🤦🤦
Endang Sulistia
Arman cucu pak Hendra,trus ortunya siapa ya..🤔🤔
Endang Sulistia
🤭🤣🤣🤣 biar hemat ya
Endang Sulistia
setajam silet ya nad
Endang Sulistia
oke Tante..🤪🤪🤪
Endang Sulistia
🤪🤪🤪🤪
ria sopingi
gw bingung cerita ini, raka adik Hendra tp manggil lilis ibu sementara si Arman manggil ibu katanya keponakan raka hadohhhh
Yan Wui
Kok anaknya sari mana ya kak
chataleya
sakit jiwa nih Arman 🤭
Ari Peny
d sini rada bingung kok sari panggil kak k nadia dan aq penasaran raka kerjanya apa kok uangnya d pakai buat arman
chataleya
dasar Bella.... andalannya cuma tangisan...
chataleya
semestinya keluarga adalah tempat yang teraman bukan membuat rasa terancam. gimana sih pak Darto??!!!
chataleya
sebenarnya Nadia kehilangan. tapi kehilangan kesempatan masuk neraka rumah tangga bersamamu Arman. 🤣 dan kesempatan itu diambil Bella 🤭
chataleya
untung ada mbak sari....👍
chataleya
bagaimana Arman, apa kamu seperti merasa kehilangan sesuatu??? 🤭
chataleya
duar..duar..duar... Shok kan kaliannnn... 🤣🤣🤣 jantung aman kan Arman... Bella... 🙈
chataleya
detik-detik kemerdekaan Nadia 😍
chataleya
aku bacanya seperti sedang menonton film India 🤭 jadi agak greget gitu dengan kelakuan keluarga Nadia 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!