Salsa mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Fariz, yang paling menyebalkan semuka bumi, dan yang anehnya kakaknya itu mempunyai asisten sekaligus bodyguard yang tidak kalah menyebalkan, namanya Ares. Laki-laki yang selalu berpakaian serba hitam, jarang bicara dan beraura dingin. Berada didekat Ares selalu membuat Salsa seperti berada ditengah-tengah pemakaman.
Ares jauh dari tipe lelaki idaman Salsa. Tapi, sayangnya atau sialnya, perintah Fariz tidak bisa diganggu gugat ketika ia memerintahkan Ares untuk menikah dengan Salsa!
Peristiwa demi peristiwa yang membahayakan nyawa Salsa justru membuat Salsa dapat melihat sisi manis Ares. Sebuah sisi yang membuat rasa aneh tumbuh diantara keduanya.
Akankah rasa itu akan terus tumbuh dan berbunga? Ataukah mati berguguran ketika rahasia dari sebuah jawaban yang selama ini Salsa cari telah terungkap?
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekarang Atau Tidak Selamanya
Dua hari berlalu semenjak insiden penyerangan tengah malam di kediaman Salsa dan Ares, dan selama dua hari itu juga Ares dibuat salah tingkah oleh sikap Salsa yang tiba-tiba menjadi sedikit bicara dan terkesan dingin. Apakah semua wanita yang merasakan datang bulan bisa berubah karakter seperti itu? Entahlah, Ares tidak terlalu memahami wanita. Tapi sejujurnya perubahan Salsa mengejutkan Ares. Selama ia mengenal Salsa, gadis itu tidak pernah tidak irit bicara. Dan perubahan sikap itu tidak membuat Ares nyaman sama sekali. Ares diam-diam merindukan omelan Salsa, rajukannya yang membuat wajahnya memberengut, ekspresinya saat melebarkan mata atau saat sedang menangis apa lagi saat sedang tertawa.
Tapi, setiap kali Ares berusaha untuk bertanya pada Salsa, gadis itu selalu menghindar. Bahkan saat tidur di kamar yang sama, Salsa menggunakan selimut yang berbeda dengan Ares, gadis itu menggelung dirinya di dalam selimunya sendiri seperti sayuran dalam kimbab yang terjebak dalam gulungan nasi dan rumput laut.
Bahkan pagi ini, Salsa tidak menyapanya - lagi - ketika Ares sedang mengecek pekerjaan pada layar laptop di bar table. Gadis itu hanya melewati Ares begitu saja seolah Ares adalah makhluk tak kasat mata. Juga saat Ares pamit untuk pergi, Salsa hanya menyahut singkat tanpa mengajukan protes apa pun.
"Bagaimana Salsa?" tanya Fariz. Suaranya parau, wajahnya meringis menahan nyeri.
"Salsa baik-baik saja, Tuan." jawab Ares yang berdiri tepat disisi brankar dalam kamar perawatan khusus.
Suara monitor yang menunjukkan detak jantung Fariz sedikit membuat fokus Ares teralihkan sejenak.
"Lalu bagaimana dengan keamanan?"
"Semuanya terkendali, Tuan. Saya juga sudah menempatkan orang-orang tambahan di berbagai titik buta."
"Bagus." Fariz meringis lagi. "Kudengar dari laporan Nura, sudah dua hari ini kamu dan Salsa nggak terlalu banyak interaksi. Benar?"
"Benar Tuan." Ares tidak menyangkal bahwa ia tahu kedatangan Nura ke rumah itu bukan hanya dipekerjakan sebagai ART yang merangkap sebagai bodyguard pribadi Salsa, tapi juga dikirim sebagai mata-mata oleh Fariz.
"Tapi aku senang kalian tetap satu kamar."
Ares mengangguk.
"Mendobrak pintu lagi hanya untuk mengecek adikku, kurasa itu sesuatu yang romantis." kata Fariz seraya terkekeh pelan, meski setelahnya ia kembali meringis, merasai setiap aliran darahnya seperti tersetrum.
Ares menipiskan bibirnya, tak tahu harus bagaimana menanggapi penilaian Tuan sekaligus kakak iparnya itu.
"Nah, sekarang katakan padaku, apa yang membuat gadis cerewet itu nggak bicara padamu?"
"Untuk itu saya juga kurang paham, Tuan. Tapi Salsa bilang karena dia mau datang bulan, jadi malas bicara."
Fariz kembali terekeh. "Omong kosong." katanya. "Apa kamu percaya dia berhenti membuat rusuh hanya karena datang bulan? Justru dia semakin rusuh karena datang bulan."
Ares tidak membantah karena biasanya Salsa justru semakin mencari gara-gara setiap datang bulan.
"Saya akan mencari tahunya, Tuan."
Tapi Fariz lagi-lagi terkekeh. "Kamu benar-benar kaku, Res. Apa kamu nggak bisa melihatnya?"
"Melihat apa, Tuan?"
"Astaga! Kamu harus banyak menonton film romantis."
Ares mengerutkan keningnya samar. Apa hubungannya menonton film romantis dengan perubahan sikap Salsa.
"Anak itu menyukaimu. Ah bagaimana kamu ini." Fariz terkekeh lagi. Meringis lagi.
"Salsa? Menyukai...saya?" Untuk kali pertama Fariz melihat ekspresi terkejut Ares. Saat Fariz memutuskan untuk meminta Fariz menikahi Salsa pun, ekspresi Ares tetap datar. Tapi, mendengar kemungkinan Salsa menyukainya bisa memancing pria sedingin gunung es itu bisa menunjukkan ekspresinya.
"Tentu saja."
"Tidak mungkin, Tuan. Saya... Saya bukan siapa-siapa."
"Aku mengenal adikku, Res. Dia bukan seseorang yang peduli dengan status sosial." Fariz mendesah lega ditengah rasa nyerinya. "Akhirnya aku bisa pergi dengan tenang. Setidaknya sebelum aku pergi, aku tahu bahwa dua orang yang aku sayang rupanya kini sudah menemukan pelabuhaannya, hanya saja kalian belum menyadarinya."
Kerutan samar pada kening Ares berubah menjadi jelas. "Maksud Tuan?"
"Jangan kamu pikir aku memilihmu untuk menikahi adikku hanya karena kamu tangan kananku dan bisa menjaganya. Fo dan Jon juga bisa menjaga Salsa sebaik kamu, tapi mereka nggak melihat Salsa seperti kamu melihat Salsa."
Ares mengusap tengkuknya. Ia merasakan dirinya salah tingkah, seperti murid yang keperegok menyimpan contekan di balik kertas ulangannya.
"Maafkan saya, Tuan." kata Ares merasa berdosa.
"Nggak, nggak, aku justru berterima kasih padamu, kamu menyelamatkan adikku dari bajingan-bajingan di luar sana."
Ares tidak tahu harus merespon apa. Jadi dia hanya tersenyum rikuh.
"Jadi, katakan padaku kenapa kamu masih menjaga jarakmu dengan Salsa? Ah. kamu tau waktuku nggak banyak Res, setidaknya kamu bisa memberikan kabar bagus sebelum itu terjadi, mungkin seperti kabar tentang aku akan mempunyai keponakan, yeah, meski aku nggak akan bisa melihatnya."
"Tuan akan baik-baik saja, dan akan melihat keponakan Tuan tumbuh besar, sehat dan pintar." kata Ares dengan nada khawatir.
"Ah, senang mendengarnya, seenggaknya, kamu berniat untuk membuatnya dengan Salsa, kan?" Cengiran lemah pada wajah pucat Fariz membuat Ares menutup mulut.
"Katakan padaku, apa yang membuatmu menahan diri?"
"Karena saya pikir Salsa tidak mungkin memiliki rasa pada saya, Tuan."
"Oke, sekarang aku jamin anak itu sudah memilikinya, hanya saja terlalu gengsi untuk mengakuinya, kamu hanya perlu memancingnya saja."
Ares menipiskan diri. Tak yakin dengan apa yang dikatakan Fariz. Karena masalahnya tidak sesederhana itu.
"Sekarang kamu sudah tahu, apa lagi yang mau kamu tahan? Berikan aku keponakan, itu tugas terakhirmu dariku!" Titah Fariz dengan tegas meski dengan suaranya yang lemah.
Ares mengangguk, meski ia sendiri meragu dengan keberhasilan misi terakhir itu.
* * *
Salsa sudah memutuskan, dia akan mengatakan semuanya pada Ares. Dia tidak lagi bisa menyembunyikan sesuatu yang besar seperti ini. Bukan, Salsa bukan tipe perempuan yang bisa memendam semuanya sendirian, apa lagi ini soal rasa. Mungkin keputusannya kali ini akan berakhir dengan nasibnya yang menyedihkan dan memalukan, karena pria tangguh dan hebat seperti Ares tidak mungkin menyukai perempuan cengeng, penakut, pemarah, dan tidak bisa apa-apa seperti dirinya. Perempuan seperti dirinya pasti hanya merepotkan Ares. Benar kata teman-temannya, mungkin pria seperti Ares lebih menyukai perempuan tangguh seperti Nura. Perempuan yang bisa bela diri dan tidak takut apa-apa, oh dan pasti bisa berenang.
Suara deru mesin mobil terdengar, seiring dengan suara mesin itu, debaran jantung Salsa pun mulai membuatnya gugup. Ia tidak pernah segugup ini, bahkan saat dulu ia didekati oleh barisan para mantannya, dia tidak pernah merasakan debaran jantungnya sampai membuat gugup seorang Salsa.
Tapi, Salsa malu! Astaga dia benar-benar malu! Bagaimana dia akan memulai pengakuannya? Bagaimana kalau Ares hanya diam mematung, tidak merespon apa pun dan malah meninggalkannya? Atau mungkin malah menyindirnya karena dulu Salsa menolak Ares mentah-mentah. Ah, apakah ini yang namanya menjilat ludah sendiri?
Pintu kamar tiba-tiba saja terbuka dan membuat Salsa terlonjak saking terkejutnya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Ares.
"Gu-eh, a-aku baik-baik aja." Mungkin dimulai dari merubah cara panggilan kepada dirinya sendiri dan kepada Ares. Mendengar bagaimana Salsa menjawab dengan cara yang berbeda membuat Salsa dapat melihat kedua alis mata tebal Ares bergerak naik.
"Tapi Nura bilang kamu tidak keluar kamar seharian ini. Ada apa? Sakit?"
"Sakit?" Salsa menggeleng. "Gu-aku nggak sakit."
Ares mendekat. Jantung Salsa semakin memberontak. Salsa sekuat tenaga untuk tidak pingsan. Tiba-tiba saja Ares menyentuhkan tangannya pada kening Salsa.
Astaga! Jangan pingsan! Jangan pingsan Salsa!
"Oke, istirahat lah." kata Ares hendak beranjak dari tempatnya. Tapi tangan Salsa menahan lengan Ares, membuat pria itu kembali melihatnya.
"Butuh sesuatu?" tanya Ares.
"Eng..." Sekarang atau nggak sama sekali, Salsa!
Salsa menggerakkan tangannya dari lengan Ares ke lipatan jas bagian depan, dia mencengkram lipatan itu, Salsa menarik napas panjang sebelum akhirnya ia menarik jas itu seraya menjinjitkan kakinya, menengadahkan wajahnya dan mendaratkan bibir mungilnya pada bibir Ares.
Demi seluruh seri Harry Potter yang dimilikinya, Salsa akan menjitak kepala Mesya dengan novel yang kelima karena sudah menyarankan Salsa mencium Ares, karena sekarang setelah Salsa melepaskan bibirnya dari bibir Ares, pria itu malah diam mematung, tidak bereaksi seperti apa yang diramalkan oleh Mesya, Rere dan Sita.
Ini MEMALUKAN! Teriak Salsa dalam hatinya. Tamat riwayat kalian, gue akan-
Otak Salsa pun menjadi beku untuk meneruskan umpatan dan ancaman untuk ketiga sahabatnya ketika ramalan Sita, Rere da Mesya menjadi nyata.
Ketika tangan besar Ares menangkup wajah Salsa dan membalas kecupan singkat Salsa dengan ciuman yang lembut dan memabukkan.
.
.
.
Bersambung~