Sequel Kembalinya Sang Agen Rahasia & Heroes
Zyan kembali menjalani misi. Kali ini akan menjadi misi terakhirnya, mencari keberadaan Arkan, juniornya.
Siapa sangka kembalinya pria itu ke lapangan malah menemukan konspirasi sejumlah petinggi menggagas Project Black Lock. Diam-diam mereka mengembangkan virus yang diberi nama Regalis-V.
Ada enam target yang sedang dibidik untuk memproduksi Regalis-V. Salah satunya adalah Arsela, anak presiden.
Ketegangan semakin bertambah ketika Zyan tahu target terakhir adalah anaknya sendiri.
Bersama dengan Arkan, pria itu berjibaku, berusaha menyelamatkan target dan menghancurkan Black Lock.
Dalam aksinya, mereka mendapatkan bantuan dari seorang agen tambahan.
Siapakah agen tersebut?
Jangan lupa ikuti medsosku di
FB : Khairunnisa (Ichageul)
IG : ichageul9563
TT : @novelme @ichageul21
Threads : Ichageul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kode Dari Kael
Mobil yang dikendarai Erik terus melaju meninggalkan mobil dua personel lain yang ditugaskan menghambat kejaran musuh. Pria itu terus memacu mobilnya, sampai akhirnya memasuki garasi yang sudah terbuka pintunya. Begitu mobil masuk, pintu langsung tertutup.
Arsela segera keluar dari mobil. Yang dibutuhkannya sekarang hanyalah tidur. Rasa sakit karena pembedahan dadakan tadi sudah mulai berkurang, tapi masih menyisakan sedikit nyeri. Begitu masuk ke dalam kamar, Arsela langsung merebahkan tubuhnya di kasur.
“Kenapa Arsela belum dipulangkan?” tanya Kenzo pada Erik. Keduanya berada di ruang tengah.
Tidak ada jawaban dari Erik. Hanya hembusan napas panjangnya saja yang terdengar. Namun akhirnya keluar juga cerita dari mulut pria itu.
Sejak Kael menghilang, sudah berulang kali Erik membujuk Arsela untuk pulang. Bahkan beberapa kali dia sampai memaksanya.
Namun penolakan Arsela jauh lebih ekstrim. Wanita itu sempat mengancam akan menusuk lehernya sendiri kalau mereka berani membawanya pulang.
Arsela bersikeras menunggu Kael kembali, hidup atau mati.
“Kenapa kalian lemah sekali menghadapinya?” kesal Kenzo. “Beri dia obat tidur, lalu angkut ke pesawat. Kalau sudah di pesawat, dia bisa apa? Tidak mungkin dia mengancam akan loncat dari pesawat.”
“Arsela anak presiden, mana berani kami melakukan itu.”
“Kamu tidak berani melakukan itu, dan hasilnya … kalian harus berpindah safe house. Itu lebih berisiko dibanding membawa paksa dia pulang.”
“Presiden sudah mengizinkan Arsela tetap tinggal sampai Kael kembali. Entahlah, kepalaku pusing jadinya.”
Erik beranjak dari duduknya, lalu menuju dapur, hendak membuat kopi. Tanpa bertanya, dia pun membuatkan kopi untuk Kenzo. Sambil membawa dua cangkir kopi, pria itu kembali ke tempatnya semula.
Bertepatan dengan itu, dua personel yang tadi di belakang mereka sudah datang. Keduanya berhasil menghadang musuh yang hendak menyergap. Bahkan dua dari mereka berhasil dihabisi.
“Situasi aman?” tanya Erik pada Bima dan Dimas. Tentu saja nama mereka semua bukan nama asli.
“Aman. Tim Elang sudah di posisi masing-masing untuk pengintaian.”
Erik menganggukkan kepalanya. Pria itu melihat pada Kenzo, sejak kedatangan pria itu, sepertinya tongkat komando akan diberikan padanya.
“Teruskan saja apa yang kalian lakukan. Tujuanku ke sini untuk mencari jejak Kael,” ujar Kenzo yang menyadari sorot mata Erik. “Aku butuh semua informasi tentang Kael,” lanjutnya.
Tentu saja Kenzo alias Zyan tidak ingin membuang waktu lama. Dia harus segera menemukan Kael. Semakin cepat ditemukan, peluang pria itu masih hidup lebih besar.
“Kael bilang, dia harus pergi ke suatu tempat. Ada informasi tentang penculikan Arsela. Dia bilang penculikan Arsela tidak sesederhana yang terlihat.
Dia juga bilang, kami harus segera membawa Arsela kembali ke Jakarta kalau dia tidak kunjung kembali. Sepertinya Kael sudah merasa kalau apa yang dilakukannya berisiko besar.”
“Apa kamu bisa menghubunginya selama dia menghilang?”
“Tidak bisa. Kami berusaha melacaknya, tapi tetap tidak ditemukan.”
“Kapan terakhir kali ponselnya aktif?”
“Seminggu yang lalu.”
“Kirimkan padaku nomornya.”
Erik segera mengirimkan nomor Kael pada Kenzo, walau pria itu tidak yakin kalau jejak Kael bisa ditemukan.
Begitu nomor Kael diterima, Kenzo langsung mengirimkan nomor tersebut pada Armin, sahabat sekaligus ahli IT kepercayaannya.
Setelah nomor terkirim, Kenzo langsung menghubungi Armin. “Tolong lacak nomor itu, terakhir aktif seminggu yang lalu,” Kenzo langsung memberikan perintahnya.
“Apa ini nomor Kael?”
“Ya. Tolong temukan dia, bagaimanapun caranya. Aku mengandalkanmu.”
“Tenang saja. Aku akan berusaha keras menemukannya.”
Usai menghubungi Armin, Kenzo menghabiskan kopinya. Setelah itu, dia segera bangun dari duduknya. “Aku mau istirahat. Bangunkan aku tiga jam lagi.”
“Baik.”
Sambil membawa tasnya, Kenzo berjalan menuju kamar lain di rumah ini. Sebelum beristirahat, lebih dulu dia membersihkan tubuhnya.
Menempuh perjalanan selama 24 jam, ditambah langsung melakukan aksi yang cukup memacu adrenalin, cukup membuat tubuhnya lelah.
Kenzo merebahkan tubuhnya di kasur. Pria itu mengambil alat berupa kotak kecil seukuran kunci mobil. Dipencettnya tombol yang ada di bagian tengah. Seketika hologram istri dan kedua anaknya terpampang di hadapannya.
“Abang pasti lelah. Beristirahatlah,” ujar Nisa sambil tersenyum.
“Aku sayang Ayah,” sambung Alya.
“Aku juga sayang Ayah. Jangan khawatir, Abi akan jaga Bunda dan Kak Alya,” sambung Abi.
Tak ayal sudut bibir pria itu tertarik ke atas. Melihat hologram di depannya, membuatnya kembali ke identitas sebenarnya walau hanya sebentar.
Perlahan Zyan menutup matanya saat kantuk mulai menjemputnya. Hologram istri dan kedua anaknya lenyap sendiri setelah lima belas menit.
***
Tiga jam untuk beristirahat sudah cukup bagi Kenzo untuk mengembalikan kembali energi dan semangatnya. Pria itu keluar dari kamar, lalu duduk di ruang tengah dengan tablet di tangannya.
Sedikit demi sedikit, Armin sudah mengirimkan informasi yang didapatnya dari hasil penelusuran terhadap Kael.
Ponsel Kael terdeteksi berpindah tempat sebanyak tiga kali. Terakhir sinyal ponselnya tertangkap di terminal bus. Setelahnya sinyal ponsel Kael sepenuhnya hilang.
Dua hari kemudian Kael tertangkap CCTV di bandara Amsterdam AMS. Bukan wajah yang tertangkap, tapi hanya sweater berwarna abu-abu gelap dengan tulisan huruf A di dalam lingkaran ditambah angka +62 di bagian punggung.
Ini adalah kode untuk menunjukkan keberadaan Arkan. Hanya Zyan alias Kenzo dan Armin yang tahu kode ini.
Sudut bibir Kenzo tertarik ke atas. Perasaannya sedikit lega saat tahu Arkan masih dalam keadaan hidup dan baik-baik saja.
Besoknya dia kembali tertangkap kamera di bandara internasional Novaris Sentral, Republik Verentis.
Selama dua hari, Arkan selalu meninggalkan jejak. Terakhir dia tertangkap di depan gedung rumah sakit. Setelah itu, jejak Arkan alias Kael tidak terlihat lagi.
Dengan cepat Kenzo menghubungi Armin. “Apa jejaknya benar menghilang di sana?” tanya Kenzo begitu Armin menjawab panggilannya.
“Ya. Republik Verentis adalah negara kecil. Aku langsung melacak semua CCTV rumah sakit. Dia tertangkap sekilas di CCTV yang menghadap jalan belakang rumah sakit. Aku menelusuri semua tempat, tapi tidak ada.”
“Apa kamu sudah memeriksa semua CCTV di hari ini?”
“Sudah. Dan ada satu tempat yang belum kulacak, sistem keamanannya begitu tinggi dan berlapis-lapis.”
“Di mana itu?”
“LP Verentis Sentral. Kalau Abang memberiku waktu sedikit lebih lama, aku akan meretas sistem keamanan di sana. Bersabarlah, siapa tahu ada kabar baik.”
“Baiklah. Terus kabari aku.”
Panggilan di antara keduanya berakhir. Kenzo menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Pria itu melihat jam yang tergantung di dinding, waktu menunjukkan pukul tiga dini hari.
Suasana di dalam safe house pun terasa sunyi. Para personel sudah beristirahat, menyisakan dua personel untuk berjaga.
Matanya kemudian melihat ke arah tangga. “Keluarlah!” seru Kenzo.
Pelan-pelan Arsela keluar dari persembunyian. Diam-diam tadi dia mencuri dengar pembicaraan Kenzo dengan seseorang di telepon. Namun sayang, dia tidak mendengar kalimat apa pun dari mulut Kenzo mengenai keberadaan Kael.
“Apa kamu sudah menemukan Kael?” tanya Arsela hati-hati. Wanita itu cukup segan dan takut berbicara dengan Kenzo. Sikapnya dingin, tidak ada basa-basi dan sorot matanya selalu tajam.
“Tidak usah memikirkan Kael, lebih baik kamu kembali.”
“Tidak mau! Aku ingin tahu keberadaan dia!” Arsela bersikeras.
Kenzo menghembuskan napas kasar. Kalau tidak ingat wanita di depannya ini anak seorang presiden, mungkin sudah dimasukkan ke dalam karung lalu dipaketkan ke Jakarta.
Pria itu membutuhkan kesabaran ekstra untuk menghadapi Arsela.
“Kenapa kamu peduli sekali pada Kael?”
“Karena dia sudah menyelamatkan nyawaku.”
“Itu sudah tugasnya. Dia ditugaskan untuk menyelamatkanmu dan membawamu pulang.”
“Aku akan pulang kalau bersama Kael.”
“Apa kamu memiliki perasaan padanya?” todong Kenzo langsung dengan nada kesal.
***
Hayo ... Ngaku ora, Sel?😂
Ada yg tanya, kalau hitungan detik ada kata lainnya nggak, kayak Mike untuk menit?
Biasanya disebut second. Tapi istilah detik jarang disebut. Karena detik itu terlalu singkat, jadi biasanya mereka langsung bertindak.
Sekian informasi yang berhasil kudapatkan🤗
iddiiiihhhh Arman ngaamuk....
coba Kamu kerjakan sendiri becus gk nangkep mereka 😏