Bukan Pengantin Pilihan Hati
"Dua hati yang terikat wasiat, dua masa lalu yang belum usai. Sanggupkah pernikahan tanpa cinta ini bertahan?"
Dunia Naura runtuh seketika. Kecelakaan tragis yang merenggut nyawa sang ayah memaksanya mengubur mimpi indah bersama Rama, kekasihnya. Demi wasiat terakhir, Naura terpaksa menikah dengan Arka,pria asing pilihan sang ayah.
Luka Naura kian menganga saat mengetahui Arka pun sebenarnya sudah memiliki kekasih. Mereka hanyalah dua orang asing yang terjebak dalam sangkar pernikahan tanpa cinta.
Namun, hari-hari di bawah satu atap perlahan mengubah segalanya. Di balik ketampanannya, Arka ternyata sosok suami yang sangat sopan, bertanggung jawab, dan penuh perhatian. Kelembutan dan sikap penyayang Arka pelan-pelan mulai meruntuhkan dinding pertahanan hati Naura.
Saat benih-benih cinta tulus mulai tumbuh di antara mereka, akankah masa lalu merelakan mereka bahagia? Ataukah mereka akan selamanya menjadi pengantin yang salah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Panggung Sandiwara
Fajar menyingsing di langit Jakarta dengan warna abu-abu keperakan yang suram. Sisa-sisa hujan semalam masih meninggalkan genangan air di sepanjang jalanan aspal ibu kota, memantulkan bayangan gedung-gedung tinggi yang mulai menggeliat seiring dimulainya aktivitas pagi.
Bagi Valen, pagi ini seharusnya menjadi pagi kemenangan. Ia bangun dengan senyuman kepuasan, membayangkan Naura yang saat ini pasti sedang mengemas barang-barangnya atau menangis meratapi nasib di sudut kamar.
Sambil mengenakan jubah tidur sutra berwarna merah marun, Valen melangkah anggun ke dapur minimalisnya untuk menyeduh secangkir kopi espreso.
Namun, ketenangannya terus terusik oleh getaran ponsel pribadinya di atas meja pulau dapur yang tidak berhenti sejak pukul enam pagi.
"Ada apa dengan orang-orang ini? Kenapa berisik sekali sepagi ini?" gumam Valen dengan nada kesal. Ia akhirnya meraih ponsel tersebut dan melihat belasan panggilan tak terjawab serta puluhan pesan singkat dari manajernya, silih berganti dengan notifikasi dari media sosial.
Sebelum ia sempat membuka salah satu pesan, sebuah panggilan masuk kembali berdering. Nama "Rico, Manajer" tertera di layar. Valen menggeser tombol hijau dengan helaan napas malas.
"Halo, Rico. Ada apa? Jangan bilang kamu mengganggu waktu tidur kecantikanku hanya untuk urusan pemotretan kecil yang ..."
"Valen! Buka matamu dan dengarkan aku baik-baik!" potong Rico dari seberang telepon. Suaranya terdengar panik, gemetar, dan napasnya memburu seperti orang yang sedang dikejar setan. "Kita hancur, Valen! Semuanya habis!"
Valen mengernyitkan keningnya, tawa sumir keluar dari bibirnya yang dipulas lipstik tipis. "Apa yang kamu bicarakan, Rico? Berhenti bercanda sepagi ini. Itu tidak lucu."
"Aku tidak sedang bercanda, bodoh! Cek emailmu! Cek berita keuangan dan hiburan sekarang juga!" teriak Rico histeris.
"Pratama Media Group baru saja memutus kontrak kerja sama dengan kita. Pemilik saham mayoritas mereka meneleponku langsung lima menit yang lalu, membatalkan seluruh agenda landasan pacu (catwalk) dan pemotretan internasionalmu di Asia Tenggara! Mereka bilang namamu sudah masuk daftar hitam (blacklist)!"
Secangkir kopi yang baru saja dipegang Valen terlepas begitu saja dari jemarinya, jatuh menghantam lantai marmer dapur dan pecah berkeping-keping. Cairan hitam pekat berserakan, persis seperti rasa aman yang mendadak menguap dari dalam dadanya. Wajah Valen seketika berubah pucat pasi.
"M-maksudmu apa, Rico? Bagaimana bisa Pratama Media membatalkan kontrak sepihak? Mereka harus membayar denda penalti yang sangat besar jika .... "
"Mereka tidak peduli dengan denda penalti, Valen! Bank Arka Mandiri baru saja menarik seluruh investasi modal mereka dari konsorsium yang mendanai Pratama Group!" potong Rico lagi, suaranya kini terdengar putus asa. "Bukan hanya itu, tiga merek kosmetik raksasa yang menjadikanmu brand ambassador baru saja mengirimkan surat pemutusan hubungan kerja resmi. Alasan mereka sama: klausul moralitas dan reputasi publik. Kamu didepak, Valen! Kamu tidak punya panggung lagi di negara ini!"
Telepon ditutup sepihak oleh Rico, meninggalkan bunyi bising yang berdengung panjang di telinga Valen. Ponsel di tangannya terasa begitu dingin.
Tubuh sang model internasional itu perlahan merosot, bersandar pada kabinet dapur dengan mata yang melotot tidak percaya.
"Arka ..." bisik Valerie dengan bibir yang bergetar hebat.
Nama itu meluncur dari mulutnya bukan lagi dengan nada pemujaan, melainkan dengan rasa ketakutan yang teramat sangat.
Ia baru menyadari satu hal yang teramat fatal: ia telah meremehkan kekuatan seorang Arka.
Pria itu tidak menggunakan emosi kasar untuk membalasnya, melainkan menggunakan tangan besi gurita bisnisnya untuk mencekik seluruh urat nadi kehidupan dan karier yang telah ia bangun dengan susah payah di Paris selama bertahun-tahun.
Di saat yang sama, sebuah mobil sedan mewah Rolls-Royce hitam bergerak pelan membelah jalanan perumahan sederhana di pinggiran Jakarta Timur.
Arka duduk di kursi belakang dengan setelan jas abu-abu gelap yang rapi, namun garis-garis keletihan yang mendalam tidak dapat disembunyikan dari wajah tampannya.
Sepanjang malam ia tidak memejamkan mata, memantau setiap perkembangan boikot finansial terhadap Valen yang dijalankan oleh Dimas dan timnya.
Kini, setelah memastikan wanita ular itu menerima balasan setimpal, fokus utamanya kembali pada hal yang paling berharga di hidupnya: Naura.
Mobil mewah itu berhenti tepat di depan sebuah rumah berlantai satu dengan cat dinding putih gading yang mulai memudar,rumah peninggalan orang tua Naura. Arka menatap rumah itu dari balik kaca jendela mobil yang gelap. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak beraturan, sebuah perasaan yang jarang ia rasakan bahkan saat menghadapi negosiasi bisnis bernilai triliunan rupiah.
"Pak Arka, kita sudah sampai," ucap sopir pribadinya dengan sopan.
Arka menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk mengusir sisa-sisa kegugupan.
Ia membuka pintu mobil, melangkah keluar menapakkan sepatu pantofel kulitnya di atas tanah yang masih basah oleh sisa air hujan semalam.
Di tangannya, ia memegang sebuah map kulit berwarna hitam yang berisi seluruh bukti otentik: rekaman CCTV, data aliran dana, serta pengakuan tertulis dari fotografer lepas bernama Doni yang telah diamankan oleh Dimas subuh tadi.
Arka melangkah mendekati teras rumah. Suasana di sekitar rumah itu tampak begitu sepi dan damai, sangat kontras dengan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya.
Sebelum tangannya sempat mengetuk pintu kayu jati tua di hadapannya, pintu tersebut sudah bergeser terbuka dari dalam.
Sosok Bi Minah berdiri di ambang pintu dengan memegang sebuah sapu lidi. Begitu melihat siapa yang datang, wajah wanita paruh baya itu langsung berubah menjadi dingin dan kaku. Tidak ada lagi sapaan ramah atau senyuman takzim yang biasanya ia berikan setiap kali Arka berkunjung.
"Mau apa Den Arka datang kemari?" tanya Bi Minah dengan nada suara yang ketus dan penuh dengan penekanan.
Arka menundukkan kepalanya sedikit, memberikan penghormatan yang tulus kepada wanita tua yang telah menjaga Naura sejak kecil itu. "Selamat pagi, Bi. Saya datang untuk menjemput istri saya. Saya ingin bertemu dengan Naura."
"Non Naura tidak ingin bertemu dengan Den Arka," potong Bi Minah cepat, menghalangi jalan masuk dengan tubuh ringkihnya. "Semalam dia datang kemari sambil menangis histeris sampai muntah-muntah karena stres. Sebagai suaminya, tega-teganya Den Arka menyakiti hati wanita yang sedang mengandung anakmu sendiri!"
Kalimat Bi Minah terasa seperti tusukan pisau yang tepat mengenai ulu hati Arka. Rasa penyesalan kembali mendera dadanya dengan hebat. "Saya tahu saya bersalah karena lalai, Bi. Tapi demi Tuhan, demi almarhum kedua orang tua Naura, saya tidak pernah mengkhianati pernikahan kami. Semua foto itu adalah jebakan yang dirancang oleh mantan kekasih saya untuk menghancurkan rumah tangga kami. Saya memiliki semua buktinya di sini."
Arka mengangkat map kulit hitam di tangannya, menatap Bi Minah dengan sepasang mata elang yang kini memancarkan permohonan yang teramat tulus dan penuh keputusasaan. "Tolong izinkan saya meluruskan kesalahpahaman ini, Bi. Saya tidak akan bisa hidup dengan tenang jika istri dan calon anak saya berada jauh dari saya dalam kondisi terluka seperti ini."
Melihat ketulusan dan gurat frustrasi yang nyata di wajah sang CEO muda, ketegangan di wajah Bi Minah sedikit mengendur. Sebagai orang tua, ia bisa membedakan mana pria yang sedang bersandiwara dan mana pria yang benar-benar ketakutan kehilangan belahan jiwanya. Namun, sebelum Bi Minah sempat memberikan jawaban, sebuah suara lembut namun terdengar sangat datar dan dingin terdengar dari arah dalam rumah.
"Bi Minah ... biarkan dia masuk."
Arka langsung mendongak. Di ujung koridor ruang tengah yang temaram, berdiri Naura dengan mengenakan daster katun longgar berwarna pastel. Wajahnya masih tampak pucat pasi dengan lingkaran hitam yang samar di sekitar matanya, menandakan bahwa wanita itu juga melewati malam yang panjang tanpa tidur.
Bi Minah menghela napas panjang, lalu melangkah ke samping, memberi ruang bagi Arka untuk masuk. "Bicarakan baik-baik di dalam. Jangan ada bentakan lagi seperti semalam. Ingat kondisi janin di dalam perutnya," bisik Bi Minah penuh peringatan sebelum melangkah pergi menuju halaman belakang, memberikan privasi bagi kedua pasangan muda tersebut.
Arka melangkah masuk ke dalam rumah yang sederhana itu dengan perasaan yang campur aduk. Ia berjalan mendekati Naura yang berdiri terpaku di dekat meja makan kayu tua. Jarak di antara mereka hanya tersisa dua meter, namun Arka merasa ada sebuah tembok es raksasa yang tidak terlihat, yang memisahkan jiwa mereka.
"Naura ..." panggil Arka, suaranya bergetar hebat penuh dengan kerinduan yang membuncah. Ia ingin sekali melangkah maju dan mendekap tubuh mungil itu ke dalam pelukannya, namun tatapan mata Naura yang kosong dan hampa menghentikan niatnya.
"Aku mengizinkan Kakak masuk bukan untuk mendengarkan janji manis atau bantahan tanpa bukti, Kak Arka," ucap Naura pelan, suaranya terdengar begitu serak dan parau di telinga Arka. Ia menatap suaminya dengan pandangan yang sarat akan sisa kekecewaan. "Jika Kakak datang hanya untuk meminta maaf tanpa bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di foto-foto itu, lebih baik Kakak pulang sekarang juga."
"Kakak datang membawa kebenaran, Sayang," ucap Arka lembut namun tegas.
Ia melangkah mendekati meja makan, meletakkan map kulit hitam itu di atas permukaan kayu yang kasar, lalu perlahan membukanya.
Ia mengeluarkan selembar demi selembar dokumen finansial, salinan pernyataan tertulis yang sudah ditandatangani di atas meterai oleh fotografer Doni, serta sebuah diska lepas (flashdisk) yang berisi rekaman penuh CCTV dari berbagai sudut luar dan dalam kantor eksekutif Arka Group.
"Semua foto yang kamu terima kemarin adalah hasil rekayasa sudut pandang kamera yang sengaja dirancang oleh Valen," jelas Arka, matanya menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Naura, mencoba menyalurkan seluruh kejujuran yang ia miliki. "Dia memanfaatkan kelalaian sekretarisku untuk menyelinap masuk. Dia sengaja menumpahkan kopi ke kemejaku agar aku membuka jas, lalu merapatkan tubuhnya secara paksa tepat saat kaki tangannya mengambil gambar dari jendela gedung kosong di seberang jalan."
Naura menatap lembaran-lembaran dokumen dan pernyataan hukum di hadapannya dengan tangan yang mulai gemetar kembali.
Matanya membaca setiap baris kalimat pengakuan dari fotografer lepas yang menyatakan bahwa mereka dibayar mahal oleh agensi yang terafiliasi dengan Valen untuk menciptakan skandal visual guna menghancurkan reputasi rumah tangga Arka.
"Ini ... ini semua benar, Kak?" tanya Naura, seiring dengan setetes air mata yang kembali lolos dari sudut matanya. Kali ini, air mata itu bukan lagi karena amarah, melainkan karena rasa lega yang teramat sangat yang mendadak menyeruak memenuhi rongga dadanya. Tembok es kesalahpahaman yang semalam berdiri kokoh, kini mulai retak dan runtuh berkeping-keping di bawah hantaman fakta otentik yang tak terbantahkan.
"Demi Tuhan dan demi anak kita yang ada di dalam rahimmu, Naura ... Kakak tidak pernah menyentuhnya. Kakak mendorongnya menjauh dan mengusirnya hari itu juga," lirih Arka.
Pria itu akhirnya tidak bisa lagi menahan dirinya. Ia melangkah maju, berlutut di atas lantai ubin yang dingin tepat di hadapan Naura yang masih berdiri terpaku. Arka meraih kedua tangan mungil istrinya, menggenggamnya dengan erat lalu membawa jemari tangan Naura ke bibirnya, mengecupnya berulang kali dengan air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya sendiri.
"Maafkan Kakak karena telah merahasiakan kedatangannya dari awal ... Kakak hanya tidak ingin kamu stres dan memikirkan masa lalu yang sudah tidak ada artinya bagi Kakak," ucap Arka dengan suara yang tercekat oleh buncahan emosi dan rasa penyesalan yang mendalam. "Rumah Kakak hanya kamu, Naura. Hanya kamu dan anak kita. Tolong, jangan pernah pergi lagi dan menghukum Kakak dengan jarak seperti ini."
Melihat seorang Arka,pria agung yang biasanya selalu berdiri tegak penuh kepongahan di puncak dunia bisnis,kini berlutut di hadapannya sambil menangis dan memohon dengan penuh kerapuhan, seluruh sisa kemarahan di hati Naura menguap tanpa sisa.
Perasaan cinta yang teramat dalam yang sempat tertutup oleh kabut cemburu kini kembali membubung tinggi, memenuhi seluruh relung jiwanya.
Naura perlahan ikut berlutut di atas lantai, menyejajarkan posisinya dengan sang suami. Dengan jemari tangan yang masih gemetar, ia mengulurkan tangannya, mengusap lembut air mata yang mengalir di wajah tampan Arka.
"Kak Arka ..." lirih Naura sebelum akhirnya menghamburkan tubuhnya ke dalam dekapan hangat suaminya.
Arka dengan sigap langsung mendekap erat tubuh mungil istrinya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Naura, menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita itu yang selalu menjadi penenang jiwanya.
Di bawah atap rumah sederhana peninggalan orang tuanya, dua jiwa yang sempat terpisah oleh akal licik pihak ketiga itu kini kembali menyatu dalam sebuah dekapan penuh kehangatan, menyongsong runtuhnya panggung sandiwara yang meleleh bersama sirnanya kabut kesalahpahaman.