Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.
Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.
Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Dua jarum jam di dinding ruang rapat pleno lantai tiga puluh lima Baskara Tower tepat berhimpit di angka tiga sore. Ruangan megah berbentuk oval dengan dinding kaca antipeluru itu telah dipenuhi oleh dua puluh lima orang paling berpengaruh di dalam korporasi, jajaran dewan komisaris, perwakilan pemegang saham mayoritas, serta tim hukum perusahaan. Atmosfer di dalam ruangan terasa begitu pekat oleh intrik politik.
Surya Adiguna duduk di salah satu kursi utama di sisi kanan meja oval besar dari kayu mahoni. Di depannya terhampar tablet digital yang menampilkan draf Proyek-X versi manipulasi miliknya, siap untuk dipresentasikan. Ia melirik kursi kebesaran Direktur Utama di ujung meja yang hingga detik ini masih kosong.
"Selamat sore, Bapak dan Ibu anggota dewan komisaris yang terhormat," Surya membuka suara, memecah keheningan dengan nada bicara yang sengaja dibuat berat dan penuh keprihatinan artifisial.
"Waktu sudah menunjukkan pukul tiga tepat. Mengingat signifikansi agenda kita hari ini mengenai stabilitas kepemimpinan dan pengesahan proyek strategis nasional, saya rasa kita tidak bisa menunda rapat lebih lama lagi, Pak Narendra Baskara, belum juga menampakkan batang hidungnya."
Komisaris Utama, seorang pria sepuh bernama Pak Subroto, mengetuk palu sidang kecil di depannya sekali.
"Sesuai dengan anggaran dasar perusahaan, jika Direktur Utama berhalangan hadir tanpa pemberitahuan resmi dalam waktu lima belas menit sejak rapat dibuka, maka pimpinan rapat dapat dialihkan kepada jajaran direksi senior. Pak Surya, silakan ambil alih kendali sidang."
Surya Adiguna menahan senyum kemenangannya agar tidak meledak di wajahnya. Ia berdiri, merapikan kerah jasnya, lalu melangkah menuju podium utama di depan layar proyektor raksasa.
"Terima kasih, Pak Subroto. Seperti yang kita semua ketahui, beberapa hari terakhir ini Baskara Group diterpa badai spekulasi akibat insiden penyerangan yang menimpa salah satu eksekutif muda kita, Reza Baskara," ujar Surya dengan intonasi teatrikal yang meyakinkan.
"Absennya Pak Narendra hari ini memvalidasi kekhawatiran faksi kami bahwa masalah pribadi keluarga Baskara telah mengganggu objektivitas dan profesionalisme kepemimpinan korporasi. Oleh karena itu, sebelum kita membahas pengesahan draf Proyek-X yang baru, saya secara resmi mengajukan mosi tidak percaya untuk meninjau ulang posisi Direktur Utama."
Beberapa komisaris dari faksi Surya langsung mengangguk setuju, menciptakan gumaman kasak-kusuk yang mendukung di sekeliling meja.
Namun, tepat saat Surya hendak menekan tombol pada remote presentasinya untuk menampilkan draf manipulasi miliknya, layar proyektor raksasa di belakangnya mendadak berkedip kasar.
Barisan grafik keuangan yang seharusnya muncul justru berganti menjadi layar hitam pekat, sebelum barisan kode-kode enkripsi berwarna hijau mulai bergulir cepat ke bawah.
Surya mengerutkan kening, menekan tombol remotenya beberapa kali dengan panik. "Divisi TI, apa yang terjadi dengan sistem presentasi? Kenapa layarnya eror?"
Di saat yang bersamaan, di dalam ruang steril nomor 901 Rumah Sakit Pusat Medika, Reza Baskara sedang bersandar pada tumpukan bantal dengan wajah yang memucat dan pelipis yang dibasahi keringat dingin.
Di atas pangkuannya, laptop militer hitam itu menyala terang, menampilkan visualisasi jaringan interkom ruang rapat pleno yang berhasil ia retas secara langsung.
"Pintu belakang siber sudah terbuka sempurna, Ayah," bisik Reza dengan napas yang agak memburu, menahan denyut nyeri yang menyengat dari bekas jahitan di perutnya. "Aku sudah memutus kendali remote Surya. Sekarang... giliran Ayah."
Jemari Reza menekan tombol Enter dengan mantap, mengirimkan perintah eksekusi data terakhir dari server bayangan di Jakarta Selatan langsung ke sistem utama Baskara Group.
BRAAAKKK!
Pintu ganda ruang rapat pleno yang terbuat dari kayu jati tebal mendadak terbuka lebar, menghantam dinding dengan suara dentuman yang mengejutkan seluruh hadirin. Semua pasang mata di dalam ruangan langsung menoleh ke arah ambang pintu.
Narendra Baskara melangkah masuk dengan aura otoritas yang mutlak dan mengintimidasi. Langkah kakinya terdengar tegas di atas lantai marmer, seolah meremukkan seluruh narasi mosi tidak percaya yang baru saja dibangun oleh Surya Adiguna. Namun, Narendra tidak datang sendiri.
Di sebelah kirinya, seorang pria paruh baya dengan pakaian safari abu-abu berjalan dengan bahu kanan yang tampak kaku, Pak Gibran. Dan di sebelah kanannya, seorang wanita muda dengan blazer hitam melangkah dengan dagu terangkat dan pandangan mata yang lurus mengarah tajam ke arah Surya Adiguna. Itu adalah Hani.
Surya Adiguna membelalakkan matanya tidak percaya. Wajahnya yang semula necis mendadak kehilangan seluruh rona darahnya saat menatap sosok Pak Gibran yang selama delapan tahun ini ia kira sudah lenyap terkubur sejarah. "G-Gibran?! Bagaimana mungkin..."
"Selamat sore, para anggota dewan komisaris yang terhormat," suara Narendra Baskara menggema, berat dan sarat akan kekuatan yang menuntut kepatuhan.
"Maaf atas keterlambatan saya. Saya harus menjemput beberapa saksi kunci dan bukti fisik yang telah terkubur selama delapan tahun untuk menyelamatkan perusahaan ini dari lintah darat yang sesungguhnya."
Narendra berjalan menuju ujung meja, namun ia tidak duduk di kursinya. Ia menunjuk ke arah layar proyektor di belakang Surya yang kini mendadak menampilkan sebuah dokumen draf audit keuangan tahun 2018 dengan cap merah bertuliskan PROPOSAL REKENING CANGKANG - SURYA ADIGUNA.
"Pak Narendra, apa maksud dari lelucon ini?!" teriak Surya, mencoba memulihkan suaranya yang sempat tercekat, meskipun keringat dingin mulai membasahi bagian dalam kemeja mahalnya.
"Siapa orang-orang asing yang Anda bawa masuk ke dalam ruang rapat rahasia korporasi ini? Keamanan! Usir mereka!"
"Tidak ada keamanan yang akan masuk ke ruangan ini, Surya," potong Pak Gibran dengan suara baritonnya yang dingin.
"Seluruh perimeter lantai tiga puluh lima ini sudah diambil alih oleh tim independen eksternal atas perintah Direktur Utama. Dan mengenai siapa kami..." Pak Gibran melangkah maju, menatap seluruh komisaris. "Saya adalah Gibran, mantan Kepala Pengamanan Internal yang delapan tahun lalu difitnah mencuri aset perusahaan karena menolak bekerja sama dalam pencucian uang."
Ruangan pleno langsung riuh oleh bisik-bisik kepanikan. Pak Subroto, sang Komisaris Utama, mengetuk palunya berulang kali. "Harap tenang! Pak Narendra, tolong jelaskan apa relevansi semua ini dengan agenda rapat pleno hari ini?"
Narendra menatap Hani, memberikan isyarat dengan anggukan kepala yang penuh rasa hormat. Hani maju satu langkah, meletakkan buku harian cokelat milik ayahnya dan sebuah folder dokumen asli yang mereka bawa ke atas meja pleno, tepat di hadapan Pak Subroto.
"Nama saya Hani," ucap wanita muda itu, suaranya terdengar jernih, tegas, dan tidak bergetar sedikit pun di hadapan orang-orang paling berkuasa di perusahaan tersebut. "Saya berdiri di sini sebagai putri kandung dari almarhum Gunawan, mantan Kepala Auditor Internal Anda. Dan saya juga berdiri di sini sebagai korban kejahatan finansial yang dilakukan oleh pria di depan podium itu, Surya Adiguna."
Hani menatap lurus ke mata Surya yang kini mulai bergetar panik. "Delapan tahun lalu, saat saya masih seorang anak sekolah yang mengenakan seragam putih-abu-abu dan tidak tahu apa-apa tentang dunia korporasi, Surya Adiguna secara ilegal mencuri identitas dan data dokumen keluarga saya. Dia mendaftarkan nama saya sebagai pemilik sah dari tiga rekening cangkang di luar negeri untuk menampung aliran dana haram senilai ratusan miliar rupiah."
"Kau memfitnahku, Bocah sialan!" bentak Surya, wajahnya memerah padam karena murka dan ketakutan yang memuncak. "Kamu tidak punya bukti apa pun! Ayahmu mati sebagai pengkhianat yang merekayasa laporan keuangan!"
"Bukti itu ada di atas meja Komisaris Utama, Pak Surya," balas Hani dengan nada yang sangat tenang namun mematikan. "Buku catatan harian ayah saya mencantumkan setiap nomor seri dokumen pencurian identitas yang Anda lakukan. Dan jika itu belum cukup..."
Tepat pada detik itu, speaker di ruang rapat pleno berbunyi statis, sebelum sebuah rekaman audio berformat lama berputar dengan volume yang sangat jelas, memenuhi setiap sudut ruangan dengan suara interaksi rahasia delapan tahun lalu.
"...Justru karena Hani masih di bawah umur dan berstatus pelajar, pihak otoritas pajak tidak akan pernah mencurigai aliran dana ke rekening atas namanya. Tanda tanganmu di atas draf ini adalah jaminan hari tua yang tenang untuk Hani. Jika kau menolak, skema saham bodong atas namanya ini akan tetap berjalan, tapi posisimu di perusahaan akan kuhancurkan..."
Mendengar suaranya sendiri yang picik dan penuh ancaman menggema di ruang pleno, Surya Adiguna mundur dua langkah hingga punggungnya menghantam tepi podium.
Seluruh anggota dewan komisaris menatap Surya dengan pandangan jijik dan tidak percaya. Kebohongan besar yang ia rajut dengan rapi selama hampir satu dekade kini telah robek sepenuhnya dalam hitungan menit.
Narendra Baskara melangkah maju, menatap Surya dengan tatapan skakmat yang dingin. "Permainanmu sudah berakhir, Surya. Langkah caturmu hari ini resmi terhenti."