Dua saudara berstatus kakak beradik tinggal bersama sejak usia remaja tanpa kedua orang tua. Karena kedua orang tuanya sudah bercerai dan memilih tinggal bersama keluarga baru masing-masing.
Hal itu membuat mereka harus berjuang untuk bertahan hidup, dan takdir mereka berubah ketika dewasa.
Namun, suatu ketika kedua orang tuanya memperebutkan anak kedua , di situlah kakak membela adiknya tidak membiarkan mereka mengambil adiknya.
Lalu, bagaimana mereka melalui masa-masa sulit?
Ikuti terus kisahnya dan dukung karya author,
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25.
“Sepertinya kita harus segera pindah dari rumah ini secepatnya, kita tidak aman tinggal di sini," kata Jayanti melihat ke seluruh ruangan dengan perasaan tidak menentu.
Salindra merasakan hal yang sama dengan kakaknya. Setelah kejadian demi kejadian di rumah ini terasa menyakitkan dan menyedihkan. Ia mulai berpikir realistis, jika masih di sini kedua orang tuanya begitu juga dengan Marcella akan terus mengusik hidup mereka berdua.
"Aku setuju. Bagaimana kalau sekarang kita bersiap?" Salindra memberi ide sambil berdiri.
Jayanti mengangguk paham, kemudian mereka merapikan barang-barang yang akan di bawa pergi. Membutuhkan waktu hampir dua jam karena mereka juga membereskan barang elektronik untuk dibawa menggunakan mobil dan pindah ke rumah yang sudah mereka beli.
Begitu selesai Jayanti menghubungi seseorang untuk membantu mereka barang-barang. Sebuah mobil open cup berhenti di depan rumah mereka dua orang pria masuk membantu membawa barang bawaan diangkut ke mobil.
Mata Salindra berkaca-kaca melihat isi rumah sudah kosong. Semua kenangan di rumah ini telah berlalu, saatnya ia menata kehidupan baru dan suasana baru. Pengalaman kemarin sangatlah terlalu berharga baginya. Banyak kenangan manis pahit mereka lalui bersama kedua orang tuanya, sampai saat ini masih di kenang dalam ingatan.
Salindra dan Jayanti mengendarai motor masing-masing menuju rumah baru. Sebenarnya Salindra berat meninggalkan rumah kenangan itu. Tapi, kalau masih terus berada di sana akan ada orang yang terus mengintai dan membuatnya semakin tertekan dan terganggu.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata memperhatikan kepergian mereka dan mengikuti sampai rumah baru. Salindra dan Jayanti memarkirkan motornya di garasi kemudian memasukkan barang-barang ke dalam rumah dibantu dua pria yang membantu mereka. Begitu selesai Jayanti memberikan upah kepada dua pria tersebut. Kemudian, merapikan semua barang yang tersisa.
Berhubung hari libur mereka membersihkan rumah baru dengan bekerja sama agar cepat selesai. Salindra merebahkan tubuh begitu selesai membereskan kamar. Tidak lama kemudian, terlelap sampai tidak mendengar panggilan dari kakaknya.
Jayanti melihat adiknya tidur, akhirnya memutuskan membeli makanan untuk mereka. Ada warung makan tak jauh dari rumah mereka tepatnya di seberang jalan. Jayanti membeli nasi sama lauk juga air mineral. Tak lupa dia membeli beberapa lauk untuk siang nanti biar tidak bolak-balik. Selesai membayar ia berjalan menuju rumah.
Ponsel Salindra berdering beberapa kali, ia mengerjapkan mata sambil meraih benda pipih tersebut lalu, mengangkatnya. Terdengar suara seorang pria membuatnya terkejut karena merasa tidak memberikan nomor ponsel kepada orang lain.
Salindra mendengarkan suara pria tersebut dengan perasaan heran. "Kamu siapa dan darimana tahu nomorku?"
"Kamu tidak perlu khawatir, aku hanya memastikan kamu baik-baik saja," katanya kemudian mematikan panggilan sepihak.
Salindra melihat layar ponsel gelap sedangkan hatinya diselimuti rasa penasaran. Kemudian turun dari tempat tidur berjalan keluar rumah melihat sekitar mencari seseorang yang baru saja menelponnya, siapa tahu ada di sekitar rumah barunya. Tapi, tidak ada yang membuatnya curiga. Akhirnya memutuskan masuk kembali ke dalam rumah dengan perasaan campur aduk.
Jayanti keluar dari ruang dalam melihat Salindra heran. "Kamu kenapa?"
Salindra mengatur napas lalu duduk di ruang tamu. "Tadi ada yang menelponku."
Dalam hati Salindra bertanya-tanya, siapa orang yang menelponnya, apakah sama dengan orang yang memberinya makanan saat lembur waktu itu? Salindra seperti berada di sebuah kehidupan yang serba teka-teki namun, tidak bisa menemukan jawabannya.
Jayanti mengernyitkan alisnya. "Kamu di teror orang tuh, apa kamu punya masalah dengan orang lain?" tanya Jayanti duduk tak jauh dari Salindra.
Salindra menggelengkan kepala baginya masalah kantor tidaklah mungkin sampai ke rumah karena Citra hanya berlaku sekehendak hati kepadanya ketika berada di kantor.
"Aku tidak punya masalah apapun," kata Salindra berbohong soal perselisihan dengan Citra teman satu Divisi.
"Tapi... Dia bilang aku tidak perlu khawatir dan dia juga bilang hanya memastikan aku baik-baik saja, kok tahu ya Kak, kalau kita pindah rumah?“ sahut Salindra.
"Berarti dia mengenalmu eh tunggu... Apakah dia pria yang mengantarmu pulang malam itu?" tanya Jayanti memgingat pria yang mengantar Salindra pulang.
Salindra berpikir sejenak mengingatnya. Merasa kalau suara itu bukan milik Arya tapi siapa? lagi dan lagi Salindra semakin penasaran, seseorang yang sengaja menguntitnya. Ia beranjak dari tempat duduk melihat ke arah luar melalui jendela.
Di luar tidak ada orang ataupun kendaraan yang melintas depan rumahnya. Hatinya mulai gelisah dan takut. Tiba-tiba teringat Arman, Deg.
Jantung Salindra berdegup cepat, Jayanti melihat perubahan sikap adiknya merasa ada yang tidak beres.
"Salindra, kamu kenapa sih... wajahmu membuatku takut?" Jayanti mengalihkan pandangannya ke arah lain menghindari tatapan adiknya.
"Kakak tahu kan Arman, apa jangan-jangan dia yang menghubungiku," kata Salindra kemudian.
"Apa katamu... Arman!" sepersekian detik Jayanti teringat masa lalunya ketika dirinya berteman baik dengan Arman.
Masa di mana keduanya sering menghabiskan waktu bersama waktu kecil, hingga masuk sekolah tingkat pertama. Mereka menjalin hubungan akrab karena, kedua orang tua mereka bersaudara. Tapi, setelah kedua orang tua mereka berselisih paham akhirnya hubungan mereka pun renggang dan jarang bertemu hingga saat ini.
“Lebih baik kamu tidak usah berhubungan dengan dia," kata Jayanti beranjak pergi masuk ke dalam kamar.
Salindra menatap heran kakaknya sambil geleng-geleng kepala. "Memangnya kenapa, bukannya kita masih saudara sama Arman," gumam Salindra.
“Pokoknya Kakak minta sama kamu, jangan berhubungan dengannya, titik," sahut Jayanti meninggalkan Salindra sendirian dengan wajah terkejut.
...----------------...
Di sebuah kamar lain Marcella merasa gelisah. Ia ketakutan kalau orang suruhannya melibatkannya soal rencana balas dendam terhadap Salindra. Seharian Marcella di kamar terus tidak berani keluar. Kamila beberapa kali membujuknya keluar dan makan justru ditolak dengan keras oleh Marcella.
Pintu rumah diketuk oleh seseorang, Ardi dan Kamila sedang menikmati makan siang. Seorang pembantu berjalan membukakan pintu, matanya terbelalak melihat dua orang polisi berdiri di depan rumah Ardi.
“Apakah benar ini kediaman Nona Marcella?" tanya salah satu Petugas kepolisian.
"B-benar, Pak!" jawab Pembantu dengan suara bergetar.
"Kami ingin menangkap beliau atas tindak kriminal terhadap Nona Salindra, tolong panggilkan beliau," sahut Petugas dengan tegas.
"Baik, Pak. Silahkan masuk!" Pembantu itu mempersilahkan masuk kemudian pergi menemui majikannya.
"Maaf, Pak, Ibu. Ada tamu dari kepolisian, beliau ingin bertemu dengan Nona Marcella," kata Pembantu dengan wajah takut.
Deg
Ardi dan Kamila terkejut mendengar perkataan pembantunya segera menyelesaikan makannya dan menemui petugas kepolisian di ruang tamu.
"Bi, tolong panggilkan Marcella, tapi jangan bilang kalau ada petugas kepolisian datang," perintah Ardi.
"Baik, Pak," Pembantu itu berpamitan menuju kamar Marcella.
Tok tok tok
Marcella membukakan pintu dengan wajah kesal. “Ada apa sih, Bi? Aku sedang malas keluar," keluhnya.
“Nona Marcella di suruh temuin bapak sama ibu di ruang tamu," kata Pembantu sambil menundukkan wajah.
"Memangnya ada apa?" tanya Marcella penasaran.
"Bibi, tidak tahu, Non. Bibi cuma di suruh panggil Non, sama bapak," jawabnya berbohong.
“Baiklah, aku akan temui mereka," sahut Marcella berdecak.
Sepeninggal pembantu, Marcella segera menemui kedua orang tuanya di ruang tamu dengan langkah malas. Ketika tiba di ujung jalan pembatas ruangan, ia melihat petugas kepolisian duduk bersama kedua orang tuanya.
Jantung Marcella berdegup sangat cepat, perasaannya tidak enak, tubuhnya bergetar. Ardi melihat ke arah Marcella dengan tatapan sangat tajam, Kamila di sampingnya meneteskan airmata, hatinya merasa sangat kecewa dan sakit dengan ulah Marcella sudah melakukan tindak kriminal.
Marcella rasanya ingin melarikan diri tapi, kakinya terasa kaku tidak bisa melangkah. Sepasang mata petugas menatapnya bukan kasihan justru heran. Karena ia termasuk anak orang terpandang dan sangat berpengaruh di dalam dunia bisnis.
"Marcella, sini kamu," panggil Ardi.