* Tolong jangan lompat Bab agar tidak merusak Retensi Penulis, Terima kasih sebelumnya *
Menjaga dua anak yang sangat nakal bukanlah hal mudah apalagi yang selalu di manja oleh papanya.
Ya, Violetta terpaksa menjadi baby sister mereka demi melanjutkan hidup keluarganya, sampai akhirnya dia terjebak dengan selembar kertas yang menjadikannya Istri kontrak dengan Arthur CEO kaya raya idaman semua kaum hawa.
Harga diri, cita-cita semuanya telah luruh hilang bersamaan dengan waktu yang harus menjadikannya wanita kuat.
Follow Sosmed Author juga ya 👇
Tiktok : cherrypen
IG : cherrypen_
Terima kasih sahabat sudah mampir membaca dan tidak lompat bab🥰
Salam Bahagia semoga rejeki kalian semua berlimpah. Amin🤲
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cherrypen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mabuk
"Lama 'kah kamu menungguku?" Laura bertanya seraya menarik kursi kemudian duduk di samping Violetta.
Setelah Laura selesai menyelesaikan pekerjaan yang tingginya sampai se gunung.Ia langsung bergegas menyusul sahabat perempuannya. Di mana ada Violetta yang bersedih di situ ada Laura yang menghibur, begitu juga sebaliknya.
"Lumayan, tapi tidak apa-apa Aku selalu sabar menunggumu," sahut Violetta yang terlihat raut wajahnya nampak kesedihan.
"Kenapa? Sepertinya kamu sedang tidak baik-baik saja, ceritakan padaku. Aku sebagai sahabat sejatimu bak ultramen siap selalu mendengar dan membantu mu, ciatttt," goda Laura sembari mempraktekkan gerakan ultramen seraya tersenyum lebar.
"Haha ... Haha, kamu 'tuh ya bisa saja gak berubah dari dulu. Kamu memang teman terbaikku," ucap Violetta seketika memeluk erat Laura.
Laura membelai lembut punggung Violetta. "Kenapa? Ceritakan padaku," tanya Laura seraya memegang kedua bahu Violetta.
Mata Violetta seakan tak mampu lagi menahan air mata yang menumpuk di pelupuk matanya. Buliran-buliran derai air mata mulai menetes di pipi sembari mengusap pipinya Violetta berbicara. "Keysa telah menjebakku di depan Arthur dan Arthur lebih percaya pada Keysa daripada Aku. Yang lebih membuat aku sakit hati adalah Arthur membentakku di depan Keysa. Aku bukan seorang pencuri, Laura."
Laura menghela nafas pelan seraya menatap bola mata Violetta. "Aku percara sama kamu. Malam ini kamu tidurlah di apartemenku." Violetta menganggukan kepalanya. "Sekarang kita makan dulu. Kamu sudah lapar 'kan? Mau minum yang bersoda?" tanya Laura tersenyum manis.
"Boleh," sahut Violetta.
Dua sahabat sejati itu saling bercerita dan tertawa selayaknya saudara. Beban di pundak mereka seperti berkurang. Satu gelas ataupun dua gelas minuman bersoda tidak ada artinya buat mereka.
"Laura, kamu masih ingat saat kamu terpeleset dan masuk ke dalam got, sumpah itu bau kamu busuk sekali seperti sampah udah gitu badanmu kotor kena lumpur hitam. Aku pengen muntah waktu itu, tetapi karena kamu sahabatku, aku tidak jadi pergi meninggalkanmu meskipun malu. Haha ... Haha, " ucap Violetta sembari tertawa lepas.
"Ahhhh ... kamu beneran tega. Aku bakalan ceraikan kamu dari sahabatku kalau waktu itu berani meninggalkanku sendirian," sahut Laura sembari meminum segelas soda beralkohol.
Tak terasa mereka sudah menghabiskan waktu berjam-jam.
"Letta sudah jam berapa sekarang? Kita pulang yuk,"
"Gak tau jam berapa, kalau mau pulang kita pulang saja," sahut Laura. "Eh kenapa Kinos belum sampai juga," ucap Laura pelan.
Mereka berdua beranjak keluar dari meja dengan setengah sempoyongan.
"Ehhh ... Nona, bayar dulu jangan langsung pergi." Salah satu pelayan itu berbicara seraya menarik pergelangan tangan Violetta.
"Lepaskan! Iya, akan Aku bayar," jawab Violetta sembari menarik tangannya kasar.
Violetta berusaha mencari dompetnya di dalam tas, tetapi karena masih dalam pengaruh minuman, dia belum juga menemukannya. "Di mana dompetku?" tanya Violetta seraya mengeluarkan semua isi tasnya di atas meja.
"Itu letta. Mata kamu di buka dompet segede itu gak kelihatan," sahut Laura seraya jari telunjuknya mengarah ke dompet hitam Violetta.
"Oh iya. Haha ... Haha," sambung Violetta sembari mengambil dompetnya.
"Pakai kartu saya saja, pak," ucap Pria tampan itu sembari menyodorkan kartu miliknya.
Violetta dan Laura tertegun melihat Pria tampan nan gagah berdiri di hadapannya seraya menghela nafasnya.
"Baik-baik, pak," sahut pelayan itu kemudian menggesekkan kartu dan meminta PIN ATM nya.
"Kinos, bagaimana kamu tahu kami ada di sini?," tanya Violetta sembari kepalanya mendongak ke atas.
"Aku sebelum berangkat memberitahunya kalau kita akan pergi minum-minum dan juga kamu merasa sedih, tetapi dia datangnya lama sekali jalannya kayak kura-kura saja" sahut Laura seraya memegang kepalanya. "Kita bertiga ini 'kan sahabat baik," tambah Laura.
Kinos hanya menatap sendu melihat Violetta sembari menggelengkan kepala. "Aku antar kalian berdua pulang," ucap Kinos seraya tangannya menarik bahu Violetta dan Keysa. "Kalian ini minum berapa botol sampai sempoyongan begini," ucap Kinos pelan.
Pria tampan rupawan berjalan mendekati meja mereka. Tangannya seketika menarik bahu Violetta sampai terlepas dari genggaman tangan Kinos, dengan tegas dia berkata. "Biar Violetta pulang bersamaku," lirih pria itu sembari menatap tajam mata Kinos.
Kinos hanya terdiam melihat pria itu di hadapannya yang tak lain adalah Arthur. Disaat Violetta pergi dari kantor Arthur merasa bersalah karena telah membentaknya, tetapi dia tidak membenarkan penjelasan Violetta ataupun menyalahkannya karena belum mengetahui yang yang sebenarnya. Karena khawatir Arthur bergegas mencari keberadaan Violetta melalui lokasi dari jam tangan yang masing-masing mereka pakai.
"Dia pria dingin dan kaku, berhati jahat. Dia sudah membuat sahabat kita sedih dan menangis," sela Laura spontan menunjuk ke arah Arthur.
"Jaga dia dengan baik dan jangan menyakitinya," ujar Kinos memperingatkan Arthur seraya menekan suaranya.
Arthur hanya diam mendengar Kinos berbicara padanya. Dia seketika bergegas membopong Violetta masuk ke dalam mobilnya sedangkan Kinos hanya bisa menatap punggung Arthur membawa Violetta pergi sampai tak nampak lagi.
"Laura, Aku antar ke apartemen kamu. Hati-hati jalannya," ucap Kinos sembari memapah Laura.
***
"Kalau Aku bawa pulang Violetta dalam keadaan seperti ini, Mama, Papa pasti akan berfikiran negatif padanya. Sebaiknya malam ini Aku bawa dia ke hotel saja," batin Arthur sembari memalingkan wajahnya melihat Violetta yang tengah tertidur.
Arthur segera mencari hotel dan memasan kamar VIP di resepsionis. Setelah mendapatkan kamar, dia bergegas membopong tubuh mungil Violetta masuk ke dalam kamar.
"Ah .... lama-lama berat juga," ucap Arthur sembari merebahkan tubuh Violetta di atas ranjang. Arthur menelan ludah kasar kala mata tajamnya sepersekian detik melihat kaki yang jenjang dan mulus milik Violetta, kemudian dia menarik selimut guna menyelimuti tubuh Violetta.
"Dia kalau sudah tidur mau ada gempa bumi juga gak bakalan bangun," batin Arthur sembari menatap wajah Violetta.
"Aku tidak mencurinya," ucap Violetta di saat mengigau seraya anak rambutnya menutup separuh wajahnya.
Arthur hanya menghela nafas pelan yang sedang duduk di pinggir ranjang. Matanya belum bisa terlepas memandang wajah imut Violetta, sembari tangannya menyingkirkan anak rambut, tiba-tiba tangan Violetta menggenggam pergelangan tangan Arthur sembaru menggesekkan lembut di pipinya.
"He lembut sekali bantalnya." Violetta mengigau kembali.
Dengan pelan Arthur menarik tangannya, kemudian beranjak berdiri dan duduk di sofa. Dia hanya memandang Violetta tertidur pulas sembari menekan layar tipis ponsel miliknya.
"Kenapa Evan belum juga memberi kabar. Apakah Dia kesulitan mencari kejadian tadi siang. Coba aku tanya langsung sama dia," gumam Arthur seraya mengirim pesan pada Evan.
To: Evan
Evan, masih di kantor? Bagaimana apakah tugas yang Aku berikan ada kendala, jika ada beritahu Aku secepatnya.
Setelah selesai mengiri pesan Arthur merebahkan tubuhnya di atas sofa sembari menunggu informasi dari Evan.
Bersambung 🫶🫶🫶🫶🫶🫶