Aditya , seorang remaja miskin , karena dosa yang tidak sengaja dia buat , terpaksa di kejar kejar dua kelompok gangster .
lalu ada lagi para pembunuh bayaran yang mengincar nyawa nya , atas suruhan seseorang .
Ada pula sekelompok preman , yang mencari nya , juga atas suruhan seseorang .
Dapatkah Aditya mengatasi masalah nya .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putaran Roda Nasib .
Pagi itu pak Leo tiba ke kantor pusat Duyung Mas Group lebih awal dari para karyawan nya Lang lain .
Laki laki bertubuh gemuk dan berperut sangat buncit itu sempat membentak penjaga kantor yang terlambat membuka ruangan nya .
Baru saja ruangan nya di buka , sekretaris nya yang seorang wanita cantik serta asisten pribadi nya yang juga seorang wanita cantik itu segera masuk kedalam ruangan pak Leo .
"Bruak !" ...
Baru saja sampai di belakang meja nya , pak Leo langsung menggerak meja nya dengan sangat keras .
"Bagai mana bisa kapal Tangker kita bisa terbakar di lau lepas heh ?, mana pas waktu kita membawa sebagian besar minyak ilegal yang akan kita jual ke Eropa , rusak !, rusak !, semua nya rusak !" teriak pak Leo sambil menghempaskan pantat nya di korsi nya .
Pak Leo ini seorang penyelundup minyak ilegal , yaitu minyak subsidi yang di beli nya dari para pengepul nakal , lalu di bawa ke perbatasan negeri tetangga , dan di tampung dalam kapal Tangker , untuk selanjut nya di jual ke luar negeri .
"Bu,,,!, bukan cuma itu pak !, Uni Eropa juga membatalkan pembelian CPO kita pak , alasan nya tentang isu lingkungan !" kata sekretaris nya .
"Batu bara yang kita ekspor , ditahan pemerintah , karena tidak memiliki ijin resmi pak !" kata asisten pribadi nya pula .
"Proyek Bandara baru di Timur , di batalkan pemerintah , karena kurang nya penyertaan modal awal pak !" tambah sekretaris nya lagi .
Pak Leo terduduk lesu , kini seluruh jalan tertutup sudah , tinggal tunggu masa kehancuran nya saja lagi .
"Hancur !, hancur !, hancur sudah , ooh semua nya hancur sudah , apa yang harus ku perbuat sekarang ?" ratap pak Leo sambil meremas rambut tipis yang ada di kepala nya .
"Masih ada pak , penjadwalan ulang utang perusahaan di Eropa , di tolak pak , alasan mereka sudah tiga kali jadwal ulang , bila bulan ini tidak juga dilunasi , mereka akan menempuh jalur hukum pak !" kata sekretaris nya .
Kini seluruh jalan terasa gelap bagi pak Leo , Disamping dia bangkrut dan jatuh miskin , kini dia pun terancam di pidana karena kasus penyeludupan minyak ilegal .
Semakin terasa gelap dan semakin gelap , akhirnya pak Leo tumbang kelantai .
Pagi itu seluruh karyawan kantor pusat Duyung Mas Group menjadi geger karena pak Leo , presdir nya , merangkap owner perusahaan tiba tiba pingsan .
Setelah tiba di rumah sakit, pak Leo langsung ditangani oleh unit gawat darurat (UGD) .
Dari analisa awal dokter , diperkirakan pak Leo mengalami stroke dan jantung .
Di sekolah SMK Bina Bangsa , beberapa orang Dewan guru , buru buru mencari Jain .
Kebetulan mereka bertemu Jain di samping sekolah bersama Anita Chan , yang sedang membully Aditya di depan teman teman nya .
"Jain ! Jain !, cepat kemasi tas mu dan pulanglah hari ini , ayah mu masuk rumah sakit !" kata bu Wiwiek .
"Apa ? , mana mungkin !, tadi pagi pagi ayah buru buru ke kantor masih sehat sehat saja !" teriak Jain marah .
"Ayah mu terkena serangan jantung dan stroke , sekarang di rumah sakit pusat !" kata bu Wiwiek sambil berlalu kembali ke ruangan guru .
Di ruang parkir , nampak sebuah mobil jemputan sudah menunggu nya .
Aditya bangkit berdiri , berlalu dihadapan Jain dan Anita yang menghina nya tadi , "permainan ini baru saja di mulai Jain , jangan takut , masih ada lanjutan nya !" ucap nya pelan di dekat sepasang remaja yang tadi membully nya itu , sambil ngeloyor pergi .
Namun belum jauh dia berjalan , terdengar suara panggilan dari seseorang di samping kelas yang lain .
Aditya segera mendatangi asal suara yang memanggil nya tadi .
Ternyata di tempat itu ada Helen yang sudah menunggu nya dengan dua buah eskrim di tangan nya , yang satu nya di sodorkan kepada Aditya , sambil menyuruh Aditya duduk di dekat nya .
Aditya duduk di sebelah Helen , makan eskrim sambil ngobrol berdua .
Tanpa disadari nya , dari kejauhan , terlihat Roy menatap kearah mereka dengan tatapan kebencian nya .
Di kepalkan nya tangan nya , lalu di pukul kan nya pada tembok sekolah .
Bel pertanda masuk ke dalam kelas berbunyi , para murid berdesakan masuk kedalam kelas mereka masing masing .
Sementara itu mobil Alphard yang menjemput Jain , memasuki halaman parkir rumah sakit pusat .
Seorang pembantu rumah tangga mengantarkan Jain ke ruang UGD , dimana Bu Dea dan kedua adik Jain sudah menunggu nya .
Mata Bu Dea nampak sembab memerah dan agak membengkak , karena terlalu banyak menangis , begitu juga dengan kedua adik nya Tia dan Heny .
"Kakak !, papa kak !, papa !" cuma itu yang bisa di ucapkan Tiba adik nya , di sela sedu sedan nya .
"Apa yang terjadi dengan papa Tia ?, katakan apa yang terjadi dengan papa !" tanya Jain sambil mengguncang bahu adik nya itu .
"Duduklah nak !, duduklah dulu , kau putra tertua papa mu , kau sekarang yang mengambil alih tanggung jawab papa mu nak , kita sudah tiba di titik nadir , seluruh usaha ayah mu mengalami kegagalan total nak , papa mu juga memiliki utang yang sangat banyak di Bank luar negeri , aset kita berupa rumah , tanah , beberapa mobil tidak cukup untuk melunasi utang papa nak , secepat nya kita harus pindah rumah ke kontrakan , karena beberapa rumah dan tanah milik kita , serta perusahaan , akan segera di lelang guna melunasi utang papa mu , itupun belum dapat lunas sepenuh nya , ibu akan memulai usaha kecil kecilan , untuk biaya hidup kita nak !" kata Bu Dea di sela Isak tangis nya .
Lemah lunglai tubuh Jain , tidak pernah sedikitpun dia mengira jika semua nya bisa berakhir sedemikian cepat nya .
Sementara itu , selama ini dia sibuk ber hura Hura menghabiskan harta papa nya yang dia anggap tujuh turunan tidak bakalan habis itu , dengan mentraktir teman teman nya ke Club' malam , pesta minuman keras hingga teler , serta mengkonsumsi obat obat terlarang .
Setelah beberapa jam berlalu , seorang dokter keluar dari ruang UGD , dan berjalan menghampiri mereka .
"Dok !, bagai mana keadaan suami saya ?" tanya bu Dea .
"Alhamdulillah !, masa kritis nya sudah lewat , serangan jantung nya sudah tertangani dengan baik bu , cuma sayang , bapak terkena stroke dan kemungkinan beliau akan lumpuh total bu !" kata dokter itu .
Seperti tersambar petir rasa nya bu Dea dan anak anak nya , mendengar berita itu .
"Stroke ?, lumpuh total ?, tidak bisa kah di tangani rumah sakit ini Dok ?" tanya bu Dea .
"Bisa sih bu , lewat terapi terapi , tetapi kemungkinan pulih nya sangat kecil sekali bu , kalau boleh saya katakan cuma satu persen saja bu !"jawab dokter itu sambil mohon diri kembali ke ruangan nya .
Hening suasana seketika , cuma Isak tangis Tia dan Heny saja yang terdengar menyayat hati .
"Bagai mana dengan sekolah Tia mah ?" tanya Tia pada bu Dea .
Tia dan Heny sekolah di sekolah Kebangsaan tempat para anak orang kaya bersekolah .
Bu Dea tidak bisa menjawab nya , cuma terdiam membisu .
Dia ingat dahulu , betapa kedua orang putri nya itu tidak mau bersekolah , bila bukan di SMP dan SMA kebangsaan .
"Entahlah nak , gimana nanti aja !" sahut bu Dea .
"Bu Tia tidak mau bila sampai keluar dari sekolah itu , Tia tidak mau sekolah di tempat lain !" rengek Tia .
"Heny juga bu , Heny enggak mau sekolah bila tidak di SMP kebangsaan bu !" kata putri bungsu nya itu pula .
"Iya !, iya nak !, iya !" sahut bu Dea sedapat nya , meskipun hati nya sendiri tidak yakin .
Meskipun suami nya donatur tetap Sekolah itu , tetapi itu dulu , semasa masih jaya , bukan sekarang setelah kejatuhan mereka .
Hati nya hanya berharap bisa mendapat keringanan , mengingat jasa jasa sang suami dulu sewaktu masih jaya .
...****************...