S.1.
Cinta bertepuk sebelah tangan ternyata memang amat sangat menyakitkan. Hal inilah yang Vanilla rasakan. Karena kecewa yang tak terperi, akhirnya membuat Vanilla memilih pergi. Di saat Vanilla menghilang, barulah Sky menyadari akan arti kehilangan. Mampukah Sky meraih kembali belahan jiwanya, sementara ia tahu Vanilla sudah memiliki pasangan bahkan sudah akan menikah.
S.2
Kecelakaan yang menimpa calon pengantinnya membuat Thierry memaksa Earth, si penabrak menjadi pengantin pengganti dan mengandung anaknya. Sikap Thierry yang dingin perlahan menghangat saat mengetahui Earth mengandung, tetapi perubahan itu ternyata hanya sementara. Semua berubah saat Helen akhirnya sadar dari koma. Semua masalah semakin rumit. Hingga suatu peristiwa tak terduga terjadi membuat Earth akhirnya memilih pergi jauh dengan membawa kedua anak kembarnya.
Akankah mereka kembali dipertemukan dan akankah Earth mampu memaafkan kesalahan Thierry?
Sekuel Benih Sang Cassanova
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'wie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Thirty One (Earth 3)
Sebenarnya Earth gugup bukan main. Tapi Earth yang sudah sering menghadapi berbagai situasi berusaha bersikap setenang mungkin setibanya di kediaman orang tua Thierry. Tak ada genggaman tangan apalagi rangkulan. Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah yang cukup besar tapi tidak sebesar dan semewah mansion orang tuanya maupun uncle-nya, Axton. Tapi rumah ini terlihat asri dan nyaman. Membawa ketenangan dalam diri Earth yang untuk pertama kali akan bertemu dengan orang tua dari Thierry.
"Thierry, kau sudah datang?" sambut seorang wanita paruh baya yang terlihat cantik dan anggun. Earth yakin, dia adalah ibu dari Thierry sebab bagian mata kedua orang itu sama persis. Namun perawakan wajahnya berbeda, mungkin lebih mirip ke sang ayah.
"Mom," sapa Thierry yang langsung memeluk tubuh sang mommy. Ibu Thierry pun balas memeluknya.
"Dia istrimu?" tanya sang mommy. Thierry yang sudah melerai pelukan pun mengangguk.
"Iya, Mom. Perkenalkan, dia Earth. Earth, ini mommy ku."
"Hallo, Mom. Senang bisa bertemu dengan mommy," ucap Earth ramah. Ia memeluk tubuh ibu Thierry. Melihat Earth, ibu Thierry pun tersenyum lebar.
"Hallo, Earth. Ternyata kau sangat cantik, Sayang. Mommy tidak menyangka ternyata sudah memiliki seorang menantu," Mommy Thierry terkekeh. Earth tersenyum ramah. Ia tidak menyangka sikap ibu Thierry ternyata cukup terbuka. Bahkan ia menerimanya dengan ramah. Meskipun ia belum tahu pasti apakah ia benar-benar menerimanya dirinya, tapi Earth berusaha berpikir positif kalau semua akan berjalan lancar dan baik-baik saja.
Kini Thierry dan Earth sudah berada di meja makan. Mereka akan segera makan malam bersama.
"Mommy belum tahu makanan kesukaanmu. Semoga kau suka apa yang mommy siapkan," ujar Mommy Thierry.
"Mommy tidak perlu terlalu memikirkannya, aku tidak pilih-pilih makanan kok." Earth memang tipe yang tidak pemilih. Apapun itu, asalkan bisa dimakan, ia pasti akan memakannya.
"Wah, baguslah. Sebenarnya sebagian besar makanan yang terhidang merupakan makanan kesukaan Thierry. Ayo, makan!" ucap mommy Thierry.
"Ayo nak, dimakan. Semoga masakan mommy sesuai seleramu." Kini giliran ayah Thierry yang berbicara.
"Baik, dad."
Mereka lantas menyantap makan malam itu dengan sesekali berbincang.
"Jadi kau bekerja dimana, Earth?" tanya ayah Thierry.
"Saya bekerja di Luxurious restoran, Dad."
"Wow, kau hebat bisa bekerja di sana, Earth. Restoran itu bukankah sangat terkenal di kalangan atas."
"Kapan-kapan aku akan mengundang mommy dan Daddy makan di sana."
"Benarkah?"
"Tentu saja, kenapa tidak?"
Mommy dan daddy Thierry terkekeh, sementara Thierry sibuk dengan ponselnya.
"Terima kasih, mommy senang mendengarnya. Tapi menu di sana pasti sangat mahal. Mommy tidak mau gajimu habis hanya karena ingin mentraktir mommy dan daddy," ucap mommy Thierry membuat Earth tersenyum dalam hati. Memang tidak ada yang tahu kalau dirinya lah pemilik restoran itu sekarang. Bahkan Thierry pun tidak tahu. Meskipun sebenarnya mereka pernah saling mengenal sebelumnya, tepatnya ketika masih duduk di bangku senior high school, tapi Earth menyembunyikan identitasnya. Jadi Thierry tidak tahu identitas Earth sebenarnya.
Pun setelah menikah, Thierry tampaknya tidak berniat mengetahui tentang Earth. Di apartemen mereka selayaknya orang asing yang tinggal di satu atap. Tak ada kehangatan apalagi interaksi berbau romantisme. Bahkan percintaan mereka hanya didasari atas kebutuhan batin. Tak lebih.
Namun setidaknya Earth senang sebab orang tua Thierry menerima keberadaannya.
"Daddy harap kau segera menemui orang tua Earth, Thierry. Tak peduli alasan di balik pernikahan kalian, kini kalian adalah sepasang suami istri. Sudah sewajibnya kau menemui orang tua Earth dan meminta maaf karena menikahinya tanpa izin. Atau perlu mommy dan daddy ikut serta?" ucap ayah Thierry.
Ingin rasanya Thierry menolak titah ayahnya tersebut, tapi dari raut wajah sang ayah, Thierry tahu ia tidak memiliki alasan untuk menolak. Apalagi ia tidak tahu sampai berapa lama pernikahan ini akan bertahan.
"Tidak perlu ayah. Aku akan menemani mereka terlebih dahulu untuk meminta maaf. Bila situasinya sudah kondusif, baru aku akan mempertemukan ayah dan orang tua Earth," balas Thierry.
"Bagus. Sebagai seorang laki-laki, kau memang harus bersikap gentle. Pertanggung jawabkan perbuatanmu. Semoga ayah dan ibu Earth mau menerima dan memaafkan mu."
"Earth, maafkan putra mommy yang membuatmu terjebak dalam pernikahan ini, ya. Semoga kalian bisa terus bersama selamanya," tukas ibu Thierry.
'Apa itu mungkin sementara yang Thierry cintai hingga saat ini adalah Helen?' batin Earth.
Sebenarnya Earth pun sedikit was-was bagaimana reaksi ayah dan ibunya serta saudara kembarnya nanti. Ia khawatir mereka justru marah dan memintanya berpisah.
***
"Earth," sapa seorang pria tampan yang baru saja masuk ke ruangan kerjanya.
"Leonard?" pekik Earth senang saat melihat teman lamanya datang.
Earth pun segera berdiri dan masuk ke pelukan laki-laki bernama Leonard tersebut.
"How are you? Kenapa kau lama sekali menghilang, hm? Rasanya aku ingin marah padamu." Protes Earth membuat Leonard terkekeh.
"Maaf. Aku harus kembali ke negaraku untuk membantu perusahaan orang tuaku yang nyaris bangkrut."
"Benarkah?"
Leonard mengangguk, "tapi kau tenang saja. Semua sudah aku atasi."
"Aku senang mendengarnya. Kau mau makan? Aku akan memanggil pelayan untuk menyiapkan makan siang untuk kita."
"Baiklah. Aku pun sudah sangat lapar siang ini."
***
"Thierry, makan malam sudah siap." Earth mengetuk pintu ruang kerja Thierry untuk mengajaknya makan malam.
Seperti biasa, makan malam itu terasa sunyi sepi. Sangat berbeda dengan di rumah laki-laki itu maupun di rumahannya yang hangat. Earth seketika merindukan kedua orang tua serta kedua saudaranya.
Thierry yang diam-diam memperhatikan Earth yang tampak sesekali melamun saat makan. Ia lantas berdeham setelah lebih dulu menyelesaikan makan malamnya.
"Selesai makan, segera ke temui aku di ruang kerja." Hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Thierry sebelum beranjak dari hadapan Earth.
Earth menghela nafas panjang.
"Pernikahan macam apa ini?" gumamnya sebelum beranjak untuk membereskan piring kotor.
Setelah selesai membereskan piring kotor dan mencucinya Earth pun segera beranjak menuju ruang kerja Thierry.
"Apa sebenarnya yang ingin kau bicarakan?"
Thierry mengangkat wajahnya sejenak kemudian kembali fokus ke pekerjaannya.
"Besok kita akan menemui orang tuamu. Aku harap kau bisa menunjukkan kalau hubungan kita baik-baik saja."
Dahi Earth berkerut, kemudian ia terkekeh.
"Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?" tanya Thierry bingung.
"Tidak, bukan apa-apa," ujarnya masih dengan tawanya. "Tapi ... haruskah kita berakting? Apakah kau khawatir terkena bogeman mentah ayah dan saudara kembarku karena sudah menjebakku ke dalam pernikahan gila ini?"
Thierry sempat terkejut saat mendengar kalau Earth memiliki saudara kembar.
"Untuk apa aku takut?" kilahnya. "Aku hanya malas membuat keributan."
"Ya, ya, ya, terserah kau saja." Earth malas berdebat. Tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Senyum Earth seketika merekah.
"Kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi, aku pergi sekarang."
Kini giliran dahi Thierry yang berkerut. Apalagi saat ia melihat ekspresi bahagia dari wajah Earth.
...***...
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...