Kakinya baru saja menginjak pintu masuk area bermain di mana putrinya berada, namun Jihan di kejutkan dengan suara Clara yang sedang bermain boneka beruang.
" Ayo lebih cepat sayang aku hampir sampai. " ucap Clara dengan suara khas anak kecilnya.
" Kamu sangat hebat sayang. " ucap Clara lagi sambil menggoyangkan boneka beruangnya ke kanan dan ke kiri.
Degh...
Jihan diam mematung di ambang pintu mendengar celotehan Clara, Jihan bukan anak kemarin sore yang tidak mengetahui suara apa itu, tapi siapa yang sudah berani berbuat tak senonoh di rumahnya sampai putri kecilnya mengetahui hal itu. Jihan murka dan juga emosi terhadap siapapun itu yang sudah berani mengotori otak polos putri kecilnya dengan suara laknat itu.
Sementara selama ini Clara tidur di dalam kamarnya sendiri yang di apit oleh kamar kedua saudarinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pindah
Setelah di usir oleh kakaknya Jannah keluar dengan hati yang terasa sangat sakit serta air mata yang sudah tumpah membasahi wajahnya. Jannah masih tidak percaya jika kakaknya setega itu padanya padahal ia sangat menyayangi kakaknya dengan tulus.
Di dalam taksi Jannah masih saja menangis meratapi nasibnya yang sekarang, tadinya Jannah mengira kakaknya tulus menerimanya setalah dirinya di ceraikan oleh suaminya karena tidak memiliki anak setelah 10 tahun membina rumah tangga.
Jannah berpikir kakaknya adalah tempatnya untuk pulang setelah kedua orang tua mereka kembali kepada sang pencipta tapi ternyata kakaknya menyimpan amarah yang terpendam sejak lama. Jannah kembali pulang ke rumah kakaknya untuk mengambil pakaian dan barang-barang miliknya.
Setelah semuanya masuk ke dalam koper, Jannah segera keluar dari dalam kamar yang sudah bertahun-tahun ia huni, Jannah berjalan dengan gontai keluar dari dalam rumah kakaknya lalu ia segera mengunci pintunya terlebih dahulu dan menyimpannya di bawa keset seperti biasanya.
Setelahnya Jannah mulai melangkah keluar dan ia kembali melihat ke belakang setelah ia sudah berada di tepi jalan raya. Jannah menghela napas panjang mengeluarkan rasa sesak yang ada di hatinya, setelah itu ia segera masuk ke dalam taksi dan Jannah memutuskan untuk mencari rumah kontrakan yang jauh dari rumah kakaknya dan yang terpenting sesuai dengan uang yang ia miliki.
Setelah satu jam berjalan akhirnya ia menemukan rumah yang ukurannya kecil hanya dua petak namun berada di pinggir kota yang sangat strategis karena berdekatan dengan sekolah. Setelah membayar uang sewa untuk beberapa bulan ke depan ia segera masuk ke dalam dan ternyata tempatnya sudah rapi dan bersih sehingga ia tinggal menempati tanpa harus membersihkannya lagi.
Setelah menyimpan seluruh pakaiannya di sebuah lemari plastik, Jannah keluar dari dalam rumah dan duduk di teras depan yang menampilkan banyak anak-anak sekolah yang sedang riuh untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.
" Apa aku jualan saja ya di sini? Sepertinya akan laku? " gumam Jannah dengan pelan.
Ya, ia memutuskan untuk berjualan di depan rumah kontrakannya untuk menyambung hidup mengingat dirinya tidak ada yang menafkahi selain dirinya sendiri. Di hari itu juga Jannah pergi ke pasar untuk membeli beberapa kebutuhan dapur dan persiapan untuknya berjualan siomay dan jus buah.
Beruntung kontrakannya memiliki peralatan yang lengkap jadi Jannah hanya membeli kebutuhan untuknya berjualan saja. Sore harinya ia sudah selesai menyusun barang-barang serta belanjaan yang sudah ia beli di pasar tadi.
" Aah capeknya. " desah Jannah saat ia mendudukkan dirinya di sebuah kursi santai berbahan plastik.
" Semoga besok daganganku laris deh, oh iya soal Jihan apa aku saja yang mengatakannya ya? Kasihan sekali dia sudah di khianati oleh suami dan adiknya, sekarang ia malah di manfaatkan oleh Ibunya juga. " Ucap Jannah yang teringat dengan keponakannya yang satu itu.
Setelah berperang dengan hati dan pikirannya akhirnya Jannah memutuskan untuk memberitahukan Jihan tentang semuanya, Bagaimana tanggapan Jihan ke depannya itu ia pikirkan nanti tapi yang terpenting ia memberitahukan keponakannya terlebih dahulu.
Sebelum menemui Jihan, Jannah menghubungi Jihan terlebih dahulu untuk memastikan apakah Jihan ada di rumah atau masih di butik. Setelah menghubungi Jihan, Jannah langsung membersihkan diri lalu bersiap-siap untuk untuk menemui Jihan yang ternyata masih berada di butik karena ia harus lembur lagi malam ini.
Dengan menggunakan ojek online Jannah meninggalkan rumah kontrakannya menuju ke butik Jihan yang membutuhkan waktu sekitar 35 menit dari tempat tinggalnya saat ini. Setelah sampai di depan butik Jannah segera membayar ongkos ojek lalu ia segera masuk ke dalam butik Jihan dan ia langsung menuju ke ruangannya.
Tok...
Tok...
Tok...
" Jihan ini Bibi. " ucap Jannah sambil mengetuk pintu ruangan Jihan.
" Iya masuk saja Bi. " sahut Jihan dari dalam ruangannya.
Ceklek...
Jannah langsung membuka pintu lalu ia segera melangkah masuk ke dalam, setelah menutup pintu Jannah langsung di sambut hangat oleh Jihan yang langsung mencium punggung tangannya.
" Ayo silakan duduk Bi, Bibi tumben sekali datang ke sini? " ucap Jihan yang ikut duduk di kursi sofa ada di dalam ruangannya.
Jannah memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman lalu ia menghela napas panjang sebelum berbicara.
" Begini Jihan kedatangan Bibi ke sini ingin mengatakan sesuatu hal yang sangat penting. " ucap Jannah dengan ekspresi wajah yang serius.
Jihan yang tadinya masih tersenyum langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi ikut serius juga.
" Memangnya apa yang ingin Bibi sampaikan? " tanya Jihan dan Jannah pun langsung mengatakannya.
" Begini Jihan Bibi tahu kamu penasaran kan siapa yang sudah menghamili Juwita? " ujar Jannah dan Jihan pun langsung mengangguk.
" Iya Bi, apa Bibi sudah tahu siapa orangnya? Dan apa Juwita sudah mengatakannya? " tanya Jihan beruntun.
Jannah kembali menghela napas menetralkan denyut jantungnya yang berdetak dengan sangat kencang.
" Iya Juwita sudah mengatakannya tetapi Bibi minta kamu bersabar dan hadapi semuanya dengan kepala dingin. " jawab Jannah.
Jantung Jihan mendadak berpacu dengan kencang dan perasaannya mendadak menjadi sangat tidak enak.
" Ayo katakan Bi, siapa yang menghamili Juwita jangan buat aku penasaran. " ujar Jihan dengan tidak sabaran.
" Sebenarnya yang menghamili Juwita adalah suami kamu Jihan, Bagas. " Akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Jannah.
.
.
.
Sementara itu di rumah sakit...
Juwita masih berbaring sambari melihat Ibunya yang masih tertidur di atas sofa, namun tidak lama kemudian Jenar terbangun dan ia merenggangkan otot tubuhnya yang terasa sangat kaku karena tidur di atas sofa.
" Juwita Ibu pulang dulu ya? Mau ambil pakaian sekalian melihat Bibi kamu udah pergi dari rumah apa belum. " pamit Jenar sambil berjalan menuju ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Selesai mencuci wajah Jenar segera keluar dari dalam kamar mandi lalu menghampiri Juwita yang masih berbaring di atas ranjang.
" Iya Bu, tapi Ibu yakin ngusir Bi Jannah? Kasian Bi Jannah Bu tidak memiliki siapa-siapa? " tutur Juwita yang ternyata masih kepikiran dengan Bibinya.
" Sudah Ibu bilang kamu jangan ikut campur ini urusan Ibu, ya sudahlah Ibu mau pulang kamu jangan kemana-mana Ibu cuma sebentar. " pamit Jenar yang segera menyambar tas miliknya lalu keluar dari dalam kamar rawat Juwita.
Jenar mengayunkan kakinya menuju ke area luar rumah sakit untuk mencari angkutan umum yang akan membawanya kembali pulang ke rumah, dengan menggunakan taksi Jenar segera kembali ke rumah dan ketika ia sampai di depan pintu Jenar mendapati pintu rumahnya terkunci.
Iya segera mengambil kunci yang biasanya selalu mereka letakkan di bawah keset, dan benar saja Jenar menemukan kunci rumahnya di sana. Tanpa menunda waktu Jenar segera membuka pintu rumahnya dan ia langsung menuju ke kamar yang selama ini ditempati oleh adiknya yang bernama Jannah.
Sampai di dalam kamar keadaannya sunyi senyap dan ia langsung menuju ke lemari pakaian lalu membukanya dan ternyata semuanya kosong tidak ada satupun pakaian milik Jannah yang tertinggal.
" Bagus deh dia sudah pergi. " ucap Jenar ketika mendapati seluruh pakaian dan barang-barang milik adiknya sudah tidak berada lagi di dalam kamar tersebut.
baguslah di selingkuhi poroti Bagas abisin aj harta Jihan wanita oon
baik boleh tapi harus cerdas,masa sekelas pemilik butik bodoh,ga ada firasat ga curiga.