Hanya sebatas cerita perjalanan hidup yang mungkin pernah dialami oleh sebagian orang.
Aku yang merasa hidupku dipermainkan oleh takdir dan hanya menjadi boneka kehidupan dari skenario Tuhan, terasa setelah pernikahan.
Belum sempurna rasa cinta ini tumbuh untuknya, kini kuketahui jika ada wanita lain di kehidupannya. Jika kami—aku dan wanita itu—disandingkan, kuakui jika aku kalah segala-galanya. Seharusnya mudah baginya untuk memilih siapa wanita yang pantas di sisinya.
Perceraian yang sejak awal aku minta, tidak pernah dikabulkan olehnya entah karena alasan apa. Yang ada hanya kesakitan lahir dan batin yang kurasakan.
Lalu, apakah alasan dibalik penolakannya itu? Sedangkan yang kutahu dia tidak pernah mencintaiku karena dia tidak pernah mengatakan cinta padaku.
Ikuti kisahnya sampai akhir....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Shandivara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Double Date
List pertanyaan untuk Donna alias Savana:
Apa dia sedang berpacaran?
Apa pekerjaan pacar/kekasihnya?
Sudah berapa lama menjalin hubungan?
....... dst.
xx. Siapa nama pacarnya?
Itu sebagai pertanyaan terakhirnya. Itu sudah cukup untuk menginterogasi dan membuktikan jika dia itu Savana si jomlo atau Savana selingkuhan suamiku.
"Serius banget, mulis apa, sih? Tumben nulis?" Tanya Mas Rezky yang tiba-tiba sudah berada di belakangku. Duduk di atas dirajang dan tengah memperhatikanku, entah sejak kapan.
Greb! Kututup rapat-rapat buku itu.
"Apa sih, kok, rahasia-rahasiaan begitu?" Tanyanya menggoda.
Malam ini ada senyumam di wajahnya. Mungkin hari ini suasana hatinya sedang baik, saat yang tepat untuk meminta izin padanya untuk ikut makan malam dengan Kak Andra dan Donna besok.
Kututup buku itu dan menyimpannya di dalam laci, di depan pantulan cermin kami bersitatap.
"Mas, boleh tidak kalau besok aku pergi makan malam?" Tanyaku dengan baik-baik, semoga responsnya sama.
"Sama siapa?" Benar, tidak akan mudah mengiyakan setiap perizinan yang kuminta.
"Sama teman-temanku," jawabku yang kini mulai menyurutkan senyuman merayu.
Lagi, dia tidak akan berhenti bertanya sampai menemukan jawaban yang menyudutkanku berakhir dengannya yang tidak akan memberikan izin padaku.
"Memang, acara apa?"
Jengah, lantas kujawab, "reuni SMA. Kalau gak boleh juga gak masalah."
...🍁🍁🍁...
Acara makan malam yang semula rencana dinner date Donna dan Kak Andra menjadi acara reuni SMA betulan karena Mas Rezky pun turut bergabung di acara makan malam ini.
Ini benar-benar seperti acara reuni versi minimalis karena kami berasal dari 1 almamater SMA yang sama, hanya berbeda angkatan saja.
Kedatanganku membawa Mas Rezky membuat dua orang lainnya tercengang tidak percaya, Kak Andra yang menaikan kedua alisnya. Niat hati hanya ingin mengajakku di acara kencannya sebagai mediator, malah aku membawa suami tanpa seizin darinya. Terlebih Donna yang semula hanya mengajak Kak Andra, tetapi sekarang malah ada aku plus suamiku.
Ini semua karena kemauan Mas Rezky yang minta ikut denganku, sedangkan aku sudah kadung bilang acara dinner itu malam ini. Tidak enak kan kalau bilang tidak jadi ikut dinner, sedang dia minta ikut? Dikira aku tidak percaya diri membawa dia sebagai pasanganku.
Sudah kuduga jika makan malam ini tidak akan berjalan kondusif, hanya ada suara dentingan sendok, garpu, dan pisau tanpa ada suara manusia di sana. Antara kami berempat, semua sibuk dan menunduk menikmati makanan masing-masing. Dengan meja berbentuk bundar, aku dan Donna berhadapan, sedangkan kanan kiriku diapit oleh Kak Andra dan suamiku. Yang artinya, Mas Rezky dan Donna duduk bersebelahan. Malah kursinya cenderung lebih dekat kepada Donna ketimbang aku, istrinya.
Sedikit mencurigakan—poin 1.
Sekilas memang tidak terjadi apa-apa antara dua orang yang sedang kucurigai ini. Semua berjalan lancar, menikmati makanan, ya, hanya menikmati makanan tanpa perbincangan. Tidak layak disebut acara reuni yang pada umumnya mengobrol banyak dan bahas sana sini, serta ketawa ketiwi. Kali ini berbeda, mungkin akan cocok jika acara reuni ini diberi tema silent treatment.
Tidak ada hal mencurigakan lain yang kutemui, selain kami yang berjabat tangan secara formal dan Donna yang tidak banyak tingkah, berbeda seperti saat pertemuan dengan Kak Andra kemarin—mencurigakan poin 2.
Namun, yang menyita perhatian ialah saat Donna meminta izin ke kamar mandi dan beberapa menit berikutnya setelah ponsel Mas Rezky berbunyi dan nama Savana ada di layar pop up-nya, seketika dia bangkit dan menyusul ke kamar mandi—mencurigakan poin 3.
Tidak, aku tidak boleh ikut menyusul juga meninggalkan Kak Andra seorang diri atau nanti dia akan curiga padaku atau dia juga akan ikut-ikutan ke kamar mandi dan acara reuni hanya akan berpindah tempat. Itu tidak lucu.
Kini hanya ada kami berdua, "kenapa kamu bawa-bawa suamimu itu?" Tanya Kak Andra.
"Bukan aku niat membawa, tapi dia yang mau ikut atau aku gak dibolehin pergi sama sekali," jelasku.
"Damn it, suami posesif!" Dumal Kak Andra.
"Jadi, bagaimana? Acaranya jadi kacau, aku pulang saja?" Tanyaku.
Tanpa menjawab, Kak Andra malah membawaku pergi dari tempat itu setelah meninggalkan beberapa lembar uang ratusan ribu di bawah piring kecil.
"Hei, Kak. Aku ada suami," ujarku seraya mengangkat gaun midiku sedikit ke atas hanya untuk mengambil langkah lebih lebar untuk menyesuaikan dengan langkahnya.
"Aku tahu, siapa juga yang mau membawaku kabur?" Balas Kak Andra yang masih menarik tanganku untuk ikut dengannya.
Kak Andra yang kini membawaku ke lantai bawah di tepian kolam renang yang estetik, penuh lampu neon bercahaya temaram dan tambah menenangkan. Perbukitan di belakang sana menambah nilai plus pemandangan kolam renang dengan air terjun mini desain eksterior restoran itu.
"Kenapa kamu masih bertahan? Kalau dia selingkuh, kamu juga bisa kali selingkuh buat selingan. Haha," kelakarnya saat kami berhenti di tepian kolam renang yang disambut dengan musik orkestra melodi melow.
"Gila! Siapa yang selingkuh?" Sergahku cepat.
"Suamimu. Kamu yang diselingkuhin, kan? Kata Donna dia tidak diselingkuhin, kok," ujar Kak Andra yang ternyata sudah mencari tahu sejauh itu.
"Kan sudah kubilang, bukan Donna yang itu," kesalku melipat tanganku di dada. Kenapa dia tidak mau percaya dengan kebohonganku itu?
Kak Andra yang semula menatap lurus ke depan, kini dia memutar tubuhnya, menghadapku dan tersenyum melihatku yang sedang cemberut.
Dengan gerakan perlahan, dia mengangkat tangannya dan merapikan anak rambutku, lalu menyelipkannya di telinga kiriku, satu hal yang membuatku terperangah saat dengan lancarnya dia berkata, "selingkuhannya bernama Savana. Dan, kamu mengira jika Savana itu Donna, benar?" Ujarnya menatapku pasti.
Mataku membulat sempurna. Detik berikutnya, kututup mulutku dengan kedua telapak tangan.
"Tidak perlu terkejut seperti itu, semua gerak-gerikmu dapat kutangkap semua dengan jelas apa yang ada di kepalamu, Daisya. Mungkin mereka juga menyadarinya," ujar Kak Andra dengan kekehannya.
Apa mungkin sikapku yang tadi sangat kentara di depan mereka? Jadi, benar mereka adalah sepasang kekasih backstreet itu?