Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.
Namun takdir berkata lain.
Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.
Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 – Langit yang Kembali Tenang
Kesadaran Aurelia perlahan kembali. Hamparan langit malam yang dipenuhi jutaan bintang perlahan memudar dari pandangannya. Sosok wanita berjubah putih yang mengaku sebagai Penjaga Terakhir Astralis pun menghilang bersama cahaya konstelasi.
Kini, yang Aurelia dengar hanyalah dentuman keras yang mengguncang langit. Tubuh Aurelia tersentak saat kedua matanya kembali terbuka, kesadarannya telah kembali di Arena Celestia, namun keadaan sekelilingnya masih jauh dari kata aman.
Raungan makhluk dari balik retakan langit kembali menggema, bahkan jauh lebih keras dibanding sebelumnya. Cahaya putih keperakan yang menghubungkan Aurelia, Lyra, Aeron, dan Selene masih membentuk konstelasi bintang bersudut tujuh di langit Aetherion, seolah dunia belum mengizinkan keajaiban itu menghilang.
Di balik retakan, makhluk bermata merah itu menatap konstelasi tersebut dengan kebencian yang begitu dalam. “ASTRALIS.” Raungannya kembali mengguncang langit dan untuk pertama kalinya ia terlihat benar-benar murka, hingga aura hitam meledak dari seluruh tubuhnya.
Retakan langit yang sebelumnya mulai stabil kembali melebar beberapa meter. Kedua lengannya kembali mencengkram tepian retakan dengan kekuatan yang mengerikan, seolah ia rela menghancurkan batas dua dunia demi mencapai satu tujuan—mencapai Aurelia.
“Dia mencoba masuk lagi.” Seru Profesor Cedric.
“Aegis Lumina.” Puluhan lingkaran sihir emas kembali memenuhi langit. Professor Elowen menumbuhkan akar-akar raksasa yang melilit fondasi akademi dan professor Lyren kembali menghunus pedangnya. Namun kali ini makhluk itu tidak lagi menyerang secara membabi buta, tatapan merahnya hanya tertuju pada satu sosok—Aurelia Evandria, Armand mengepalkan gagang pedangnya.
“Jangan pernah berpikir aku akan membiarkanmu menyentuh putriku.” Dalam sekejap ia kembali melesat ke udara. Pedangnya kembali berbenturan dengan cakar hitam raksasa itu.
Gelombang kejut yang tercipta menyapu langit hingga awan hitam terbelah menjadi dua, namun berbeda dengan sebelumnya. Kini makhluk itu jauh lebih kuat, cakar keduanya ikut keluar dari balik retakan. Kemudian kepalanya mulai tampak, wajah kelam yang dipenuhi retakan merah perlahan muncul dari balik kegelapan. Melihat pemandangan itu, wajah Aldric berubah drastis.
“Kalau kepalanya berhasil keluar, segelnya akan runtuh sepenuhnya.” Ucap Aldric. Keheningan seketika menyelimuti seluruh arena, Orion yang sejak tadi hanya mengamati akhirnya melangkah maju, tatapan abu-abunya tidak lagi tenang.
“Cukup.” Orion mengangkat tongkat sihirnya dengan tinggi. Mana keperakan mulai memenuhi udara, dan sejak kemunculannya di akademi, baru itu Orion memperlihatkan kekuatan yang selama ini ia sembunyikan.
Ratusan lingkaran sihir kuno bermunculan memenuhi langit, simbol-simbol itu begitu tua hingga Aldric mengenali sebagian besar bentuknya. “Mustahil, itu sihir era pertama.” Gumam Aldric.
“Armand.” Teriak Orion yang mengabaikan semua tatapan yang tertuju padanya. “Hanya ada satu kesempatan.” Ucapnya lagi dan di sambut anggukan oleh Armand tanpa menoleh.
Armand mengerti dengan maksud Orion. Sedangkan dibawah arena, Selena perlahan memejamkan kedua matanya, dan kristal di ujung tongkatnya bersinar semakin terang. “Sanctum Asteria. Bentuk terakhir.” Cahaya keemasan pun memenuhi seluruh Akademi Aetherion.
Cahaya itu bukan lagi sekedar menjadi kubah pelindung, melainkan berubah menjadi ribuan untaian cahaya yang menyatu dengan seluruh lapisan segel kuno akademi. Pada saat yang sama, Aldric mengangkat tongkatnya.
“Seluruh professor, salurkan mana kalian.” Tanpa ragu, Cedric, Elowen, Lyren dan seluruh professor Aetherion, bahkan para penyihir tingkat akhir yang mampu membantu ritual itu, semua menuangkan mana mereka ke dalam lingkaran sihir yang memenuhi langit.
Arena Celestia kini berubah menjadi lautan cahaya. Sementara itu, Aurelia masih berdiri di tengah konstelasi. Ia tidak mengucapkan mantra apapun, namun tongkat Astralis di tangannya kembali berdenyut untuk sekali, dua kali, lalu cahaya putih keperakan mengalir sendiri menuju langit.
Bukan hanya dari Aurelia, melainkan juga dari Lyra, Aeron, dan Selene. Empat aliran cahaya itu kembali bertemu, konstelasi bersudut tujuh bersinar jauh lebih terang di banding sebelumnya, seolah tengah menjawab panggilan dunia, Orion pun mendongakkan wajahnya, ia menatap konstelasi Astralis yang bersinar semakin terang, dan ingatan akan pesan terakhir ayahnya kembali terngiang.
“Jika Konstelasi Astralis benar-benar bangkit, jangan pernah ragu. Percayakan pedangmu pada Keluarga Arvendis.”
Orion menggenggam tongkatnya dengan begitu erat. “Armand.” Teriakannya menggema ke seluruh arena. “Sekarang.” Seru Orion yang langsung di pahami oleh Armand.
“Lux Severa.” Armand kembali mengayunkan pedangnya.
Pada saat yang sama, seluruh cahaya dari konstelasi Astralis mulai menghantam lingkaran penyegelan, mana emas, mana putih keperakan dan mana seluruh para professor seluruhnya berpadu menjadi satu sehingga membuat langit seakan kehilangan warna, kemudian sebuah pilar cahaya raksasa melesat menuju retakan.
BOOOOOOOMMM~
Raungan panjang menggema hingga ke seluruh penjuru Aetherion, dan makhluk itu terlihat tengah berusaha untuk bertahan. Kedua tangannya masih mencengkram tepian retakan, namun dunia seolah mulai menolaknya, retakan yang sebelumnya melebar perlahan menyusut dan cengkraman makhluk itu mulai terlepas.
“TIDAAKK.” Suara beratnya itu kembali mengguncang langit dan untuk terakhir kalinya mata merah itu menatap lurus ke arah Aurelia. “.. pewaris Astralis, aku akan kembali saat kelima penjaga telah terbangun.” Kalimat itu membuat jantung Orion berdegup lebih keras.
Mendengar hal itu membuat Armand langsung menoleh, dan Aldric bahkan sampai membelalakkan kedua matanya. Belum sempat siapapun bereaksi lagi, retakan langit akhir menutup sedikit demi sedikit sampai benar-benar tertutup rapat.
Hening. Tidak ada lagi suara raungan, tidak ada lagi mana hitam maupun tekanan yang menyesakkan dada, yang tersisa hanya langit biru yang cerah.
Matahari yang sebelumnya seakan menghilang perlahan menembus awan yang mulai tercerai berai. Konstelasi Astralis di atas Arena Celestia perlahan memudar, bukan menghilang, hanya larut menjadi butiran-butiran cahaya yang jatuh seperti hujan bintang.
Lapisan demi lapisan penghalang sihir yang dibangun bersama Kepala Akademi Aldric, para professor, serta mantra pemulihan milik Selena Arvendis perlahan kembali utuh. Retakan-retakan yang memenuhi kubah pelindung menghilang.
Mana hitam yang memenuhi udara pun lenyap seolah tak pernah ada. Para murid yang sejak tadi diliputi ketakutan terlihat terkulai lemas. Beberapa dari mereka ada yang menangis, tertawa karena masih hidup, ada pula yang saling berpelukan tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun—Akademi Aetherion selamat.
Di bawah kubah cahaya yang mulai memudar, Aurelia masih berdiri mematung, tatapannya tak pernah lepas dari kedua orang tuanya. Armand perlahan menurunkan pedangnya, Selena menghentikan mantranya. Kael yang semula membantu melawan Shadow Wraith yang berkeliaran saat yang lain tengah fokus melawan makhluk raksasa itu pun mulai menyarungkan kembali pedangnya.
Setelah memastikan retakan langit sudah benar-benar tertutup, ia langsung menoleh ke arah Aurelia, tatapannya mengamati saudarinya dari kepala hingga ujung kaki. “Kau terluka?” Aurelia menggeleng pelan. Kael menghembuskan napasnya lega, meski wajahnya terlihat datar, semua orang tahu ia baru saja menahan kekhawatiran yang luar biasa.
Rowan yang pada saat itu usai menyelesaikan misinya membantu Kael pun langsung berlari ke arah Aurelia. Dia bahkan langsung memeluk saudarinya tersebut. “Relia. Kau hampir membuatku mati karena panik.” Tutur Rowan ditengah pelukannya, namun tiba-tiba saja Kael menarik kerah jubahnya.
“Lepaskan dia. Kau membuatnya sulit bernapas.” Sahut Kael.
Berbeda dengan dua saudaranya, usai retakan langit tertutup, Lucien justru tengah mengamatinya. Setelah melihat apa yang terjadi dan juga potongan soal Astralis, Lucien langsung membuka buku catatannya dan mencatat apa yang terjadi, seperti konstelasti yang muncul, empat resonasi mana, dan juga ruang konstelasi sekaligus makhluk raksasa yang menyebutkan soal lima penjaga.
“Aku rasa, perpustakaan Agung menyembunyikan jauh lebih banyak rahasia dari pada yang ku kira,” gumamnya pelan yang masih menatapi apa yang baru saja ia tulis.
Sementara itu, Selena yang melihat ketiga putranya tengah mengelilingi Aurelia pun tersenyum hangat, kemudian tatapannya pun bertemu dengan mata Aurelia. Lalu, tanpa perlu sepatah kata pun, Aurelia menghampiri Selena.
“Ibu.” Selena langsung menyambut putrinya dalam pelukan hangat. Tangannya mengusap lembut rambut Aurelia yang sedikit berantakan.
“Syukurlah,” gumamnya lirih. “Kau baik-baik saja.” Sejak semua kekacauan itu dimulai, air mata Aurelia baru bisa benar-benar jatuh. Armand pun menghampiri keduanya. Tak banyak bicara, ia hanya meletakkan telapak tangannya di atas kepala putrinya.
“Kau sudah tumbuh, Relia.” Kalimat sederhana itu justru membuat air mata Aurelia semakin deras.
Momen itu membuat Rowan pura-pura batuk alih-alih hanya untuk mengusap sudut matanya yang sedikit basah, Lucien hanya menggeleng pelan seraya tersenyum tipis, sedangkan Kael? Ia hanya memalingkan wajahnya, meski begitu semua tahu bahwa sorot matanya menyimpan kelegeaan yang begitu besar.
Saat semua orang sibuk dengan pertempuran sebelumnya, disaat semua orang sibuk memeluk keluarganya usai pertempuran berakhir, ada satu pria bermata merah yang berdiri sendirian mengamati semuanya—Caelum.
Pria bermata merah itu berdiri sendirian di atas menara gedung Akademi Aetherion seakan menghilang di saat semua tengah mengalami kesulitan. Ia menatap langit yang telah kembali biru, lalu perlahan mengepalkan tangannya.
Di telapak tangannya muncul sebuah simbol merah, namun tak lama simbol itu menghilang. “Jadi, Astralis benar-benar telah bangkit.” Gumamnya pelan seraya memandangi Aurelia dari atas sana. Usai itu, tanpa berpamitan maupun melihat siapapun, pria bermata merah itu berjalan pergi.
Disaat yang bersamaan, saat semua orang fokus kepada Armand, Selena dan Aurelia, Kael tanpa sadar melihat Caelum pergi, tatapan keduanya sempat bertemu, namun Caelum hanya tersenyum tipis kepadanya.
Melihat senyum itu membuat Kael mengernyitkan keningnya dan Lucien pun ikut mengalihkan pandangannya ke arah mana Kael melihat. “Dia pergi.” Gumam Lucien.
“Mau dikejar?” Sahut Rowan dan Kael langsung menggeleng.
“Belum, jangan sekarang. Tapi suatu saat nanti, aku akan mencari tahu siapa dia sebenarnya."