Jembatan Merah 16 Februari, penuh dengan cerita untuk Satria Esa. Kisah cintanya dimasa lalu, membuat dirinya banyak memilih pasangan. Apalagi sang keponakan Amora Andini Tama, anak dari Almarhum mantan kekasih nya yang menikah dengan saudara kembarnya, kini di asuh oleh Satria Esa.
Amora, gadis cantik tumbuh dewasa dalam asuhan Satria Esa, memiliki hobby memotret. Sehingga dirinya menjadi seorang Photographer.
Siapa sangka, ada rasa tak terduga dalam diri Amora, namun seorang Tentara muda berpangkat Kapten, Eldrian Barack mencoba untuk memasuki hati Amora, Jatuh cinta pada pandangan pertama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Herliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bebas Dengan Syarat.
"Makan yang banyak, biar kamu tidak sakit." ucap Purba.
"Ini juga sudah banyak, makasih sudah bawakan makanan. Ini saja kiriman dari Ayah, gimana mau masuk. Pasti saya akan bagi, sama teman - teman di dalam." ucap Amora makan chicken saos keju.
"Amora, sementara kantor saya tutup. Para model, saya lempar ke management lain. Semuanya sudah saya gaji, tidak ada hutang. Namun ada beberapa kontrak yang kita batalkan, terpaksa kita harus ganti rugi, karena berhenti di tengah jalan." ucap Purba menjelaskan.
"Kita tidak punya hutang kan?" tanya Amora.
"Tidak, eh saya dengar penjahat itu mati. Vonis belum sempat di jatuhi, Jack terkena serangan jantung." ucap Purba.
"Kamu dengar dari siapa?" tanya Amora.
"Saya baca di internet, dan televisi." jawab Purba, saat di rumah Purba sempat menonton dan membaca berita tersebut.
"Ternyata akhir dari penjahat itu, mati langsung, tidak di siksa dulu." ucap Amora.
"Kamu itu hanya ditekan, kamu pasti tidak di hukum berat."
"Tanpa saksi dari pelaku, kini saya sendiri." ucap Amora.
"Hukum pasti membela yang benar."
"Tetap saja saya salah, saya sudah merencanakannya."
****
Pak Satria Esa menatap Jenazah yang sudah di proses, untuk di serahkan pada pihak keluarga. Rasa marah, bila mengingat apa yang di lakukan penjahat tersebut. Terlihat beberapa pihak keluarga yang datang, menangis di depan peti Jenazah.
Saat itu seorang wanita muda, datang menghampiri Pak Satria Esa. Matanya yang sembab, terlihat sangat kusut, bahkan tubuhnya yang kurus.
"Apa anda salah satu petugas?" tanya wanita itu.
"Saya adalah, orang tua korban dia, bahkan harus mendekam di penjara karena ulah keluarga kalian." ucap Pak Satria Esa.
"Karena ulah kotornya, memakan korban hingga satu terbaring di rumah sakit, satu lagi di penjara. Bahkan anak kamu dan suami kamu, telah menodai anak saya." ucap Pak Satria Esa lantang, hingga membuat beberapa petugas dari kepolisian menoleh ke arah Pak Satria Esa.
"Maafkan mereka, maafkan." ucapnya.
"Kata maaf buat saya itu tidak ada artinya, maaf tidak akan mengembalikan semuanya. Anak saya sudah hancur, tapi kalian beruntung hukum berhenti sampai sini, tapi hukum di akhirat akan tetap ada." ucap Pak Satria Esa langsung pergi meninggalkan wanita itu.
Di dalam mobil, Pak Satria Esa menangis. Memikirkan nasib Amora, hilang semua mimpi - mimpinya. Hilang semua, apa yang sudah raihnya.
"Maafkan Ayah nak, maafkan." ucap Pak Satria Esa yang merasakan dirinya adalah orang yang bersalah.
****
Eldrian berusaha untuk bangun, bahkan berbicara. Hampir tiap menit, Eldrian tidak akan pernah putus asa.
"Ya Allah, saya ingin bisa bicara dan bergerak lagi. Saya ingin menyelamatkan Amora, wanita yang saya cintai." ucap Eldrian dalam hati.
Eldrian terus mencoba, dan saat itu Eldrian mengeluarkan suara, dan jemari bergerak namun tubuhnya masih lemas.
Ceklek
Pintu kamar rawat terbuka, Pak Santoso dan Ibu Salsa masuk. Eldrian berusaha untuk bersuara, memanggil keduanya.
"Mah, Pah. " panggil Eldrian dengan suara masih terbata.
"Ya Allah El." ucap Ibu Salsa langsung berlari ke arah Eldrian.
"Alhamdulillah ya Allah." ucap Pak Santoso.
"Pah, Mah." ucap kembali Eldrian.
"Panggil Camelia, suruh dia kesini." ucap Pak Santoso pada Ibu Salsa.
Ibu Salsa pun berlari keluar kamar, mencari dokter Camelia. Dan Pak Santoso menangis haru, selama satu minggu lebih Eldrian bagai mayat hidup.
"Alhamdulillah ya Allah nak." ucap Pak Santoso.
Camelia pun langsung datang dan memeriksa Eldrian. Jari - jarinya bisa di gerakan, namun tangan dan kaki masih terasa lemas, bahkan Eldrian bisa berbicara walau terbata.
"Alhamdulillah ini mukjizat, sekarang tinggal di latih untuk menggerakkan kaki dan tangan. Sedikit demi sedikit, bertahap akan sembuh, asal usaha dan doa. Alhamdulillah di rumah tetap obat di konsumsi, dan sebulan 3 kali nanti cek kondisinya bagaimana." ucap Camelia.
"Alhamdulillah ya Allah El."
Setelah Camelia pergi, Eldrian memanggil kedua orang tuanya. Eldrian meminta mereka untuk mendekat, dan kedua nya mendekatkan telinga nya karena Eldrian masih bersuara pelan.
"El, mi - minta cabut hu - kuman Amora." ucap Eldrian pelan.
"Nggak, Mamah tidak setuju. Penjahat tetap penjahat, buat apa kamu maafkan dia." ucap Ibu Salsa.
"El, sa - sayang sama A - Amora." ucap Eldrian dengan terbata.
"Nak, hapus rasa sayang dan cinta kamu. Amora itu tidak mencintai kamu, Papah bisa cabut laporan itu, tapi hapus rasa sayang itu." ucap Pak Santoso.
"El mo - mohon."
"Tidak! mamah tidak setuju." ucap Ibu Salsa.
"Mah." ucap Eldrian.
"Mah, apa salahnya kita cabut. Memang saat itu Amora juga, keadaannya di tekan sana sini. Asal Eldrian dan Amora di pisahkan, anak kita jangan sampai sakit hati kedua kalinya, Amora itu tidak cinta." ucap Pak Santoso.
"Baik, satu syarat. Kamu jangan cintai Amora lagi, Mamah dan Papah, tidak mau kamu memiliki rasa. Untuk jodoh, biar Mamah carikan." ucap Ibu Salsa.
****
Pintu penjara terbuka, Amora yang di panggil namanya bangun dari duduknya, berjalan ke arah petugas lapas.
"Amora, kamu bebas." ucapnya.
"Be - bebas!" ucap Amora.
"Iya, mereka cabut dan menganggap kamu tidak bersalah."
Amora tersenyum dan menangis, Amora langsung sujud syukur. Amora pun lantas langsung keluar dari sel tahanan, dan melihat Pak Santoso dan Ibu Salsa yang kini berada di lapas.
"Duduk kamu." ucap Ibu Salsa.
"Apa Om dan Tante yang mencabutnya?" tanya Amora.
"Iya, kalau bukan kami siapa lagi!" jawab Ibu Salsa dengan angkuh.
"Terima kasih, maafkan saya." ucap Amora.
"Kalau bukan permintaan anak kami, hukum tetap berlanjut. Buat apa kami membela kamu, kalau fakta kamu tidak mencintai El." ucap Pak Santoso.
"El bagaimana?" tanya Amora.
"Dia masih lumpuh, baru bisa bicara dan menggerakkan jemarinya. Kalau bisa di tukar nyawa, dia sembuh total. Saya ingin menukar dengan nyawa kamu, tapi sayang nyawa kamu tidak berharga." jawab Ibu Salsa.
"Maafkan dia saya."
"Setelah bebas, pergilah jauh agar El tidak lagi mencintai kamu atau mencari tahu lagi. El tidak pantas untuk kamu, kami sebagai orang tuanya tidak akan mau memiliki menantu seperti kamu." ucap Pak Santoso.
"Saya akan pergi jauh, maafkan saya." ucap Amora.
Lalu kedua nya pergi, Amora hanya diam duduk sendiri sambil menundukkan kepalanya. Lalu petugas Lapas pun datang, menepuk pundak Amora.
"Kami akan hubungi Ayah kamu, kamu bersiap - siaplah. Ingat jangan pernah lagi kaki kembali kesini, bahkan keturunan kamu pun." ucap wanita petugas Lapas.
"Iya Bu."
****
"Amora bebas!" ucap Pak Satria Esa saat menerima telepon.
"Baik saya akan segera jemput dia." ucap Pak Satria Esa senang.
Saat itu di rumah sedang ada Kakek Aji dan Nenek Retno, Pak Satria Esa langsung memberikan kabar bahagia ini.
"Ayah Ibu, ada kabar bahagia." ucap Pak Satria Esa.
"Kabar Apa?" tanya Nenek Retno.
"Amora bebas, keluarga Eldrian cabut tuntutannya." jawab Pak Satria Esa.
"Alhamdulillah ya Allah, berarti kita bisa jemput Amora." ucap kakek Aji.
"Iya kita bisa jemput Amora."
"Kita harus segera ke sana, kasihan cucu kita menunggu." ucap Nenek Retno bersiap - siap.
****
Amora memeluk tubuh Pak Satria Esa, berganti kakek dan Neneknya. Amora menangis begitu juga nenek Lidia, hari tangan Pak Satria Esa langsung mengusap air mata putri angkatnya.
"Selamat menempuh dunia baru, kita akan awali lembaran baru nak. Lupakan masa lalu, kita berjuang dari nol lagi untuk masa depan." ucap Pak Satria Esa.
"Ayah jangan mundur dari Militer, Amora sekarang bebas." ucap Amora.
"Seperti janji Ayah, akan bawa kamu dari negara ini. Kita habiskan waktu bersama disana, hingga waktu kita berakhir." ucap Pak Satria Esa.
"Saya ingin tinggal di kampung, dimana Ayah Satria Esa, Ayah Satria Ade dan Ibu Tiara meninggalkan sebuah kisah, yang masih banyak Amora belum tahu. Amora ingin di sana, Ayah mau kan?"
Pak Satria Esa pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, menyetujui apa yang di inginkan putrinya.
"Sekarang kita pulang, Satria kamu hubungi Ayah Agus suruh mereka datang ke sini."ucap Pak Aji.
" Ok siap Ayah."
.
.
biarkan Ayah mu mencari kebahagiaan dia sendiri, umurnya uda setengah abad
dan untuk Amora lupakan masa lalu, suatu saat akan Ada karma bagi pelaku kejahatan yg melecehkan dirimu. raihlah masa depanmu dengan orang yg benar2 mencintai dan menyayangi mu,
ditunggu kelanjutannya novel novel yang lain...
koq gini sih 😭😭😭😭😭😭😭😭
ᥬ😭᭄ ᥬ😭᭄ ᥬ😭᭄