Arsy Aprilia janda muda memulai kehidupan barunya di Kota Sidney, Australia. Awal kehidupannya di Negara orang terasa baik-baik saja dengan keseharian mengurus toko bunga miliknya. Namun, siapa sangka? Berawal dengan satu buket mawar hitam mengubah kehidupannya hingga harus menikah dengan pria aneh dari masa lalunya.
Dominic Jovano Abraham, pria misterius dan memiliki kehidupan masalalu yang berkaitan dengan Arsy.
Bagaimana kisah cinta mereka?
Yuk ikutin terus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Windii Riya FinoLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Mungkin yang dialami semua orang ketika menjadi pengantin baru hampir sama dengan yang dilakukan Dominic kepada Arsy. Pria itu benar-benar tidak mengizinkan Arsy untuk keluar apartemen karena selalu saja minta jatah. Seakan tidak ada bosan sama sekali.
Arsy juga tidak menyangka Dominic akan segila ini menjamah tubuhnya. Padahal ia tidak sedikitpun mencoba menggoda Dominic. Entahlah, ia tak menyangka bila dinikahi pria yang memiliki tingkat birahii sangat tinggi.
Tapi, di samping itu semua. Harapan Arsy adalah segera hamil. Ketakutan tentu ada, mengingat pernikahan pertamanya hancur karena dirinya tidak kunjung hamil.
Suara Dominic mengganggu tidurnya sampai akhirnya ia membuka mata dan melihat suaminya itu tengah berbicara dengan seseorang. Penasaran, tetapi dihalangi oleh Dominic agar tidak berada di depan ponsel.
"Alasan. Bonus bulan ini aku tahan." Dominic mengakhiri panggilan video secara berpihak lalu menaruh ponselnya di atas nakas.
"Kenapa bonus tuan Evan, kamu tahan?" tanya Arsy penasaran.
"Panggil Evan saja. Ingat, dia adalah bawahan suami kamu. Dan lagi, bonus dia memang harus di tahan karena sudah melakukan kesalahan." jawab Dominic menjelaskan sambil menahan tubuh Arsy agar tetap berada dalam dekapannya.
"Kesalahan apa sampai kamu tahan? Biasanya di setiap perusahaan pasti ada aturan bisa menahan upah atau bonus pekerja jika sesuai prosedur. Berarti kesalahan Evan sangat fatal?" tanya Arsy tanpa sadar ia menjadi lebih bawel.
Dominic terkekeh kemudian menarik hidung Arsy saking gemasnya. "Memang benar, sayang. Kamu pasti tahu perusahaan aku lebih maju dari perusahaan lain di sini. Bahkan di Indonesia juga begitu. Tentu saja peraturan yang ada di perusahaan tidak main-main termasuk masalah upah dan bonus. Tapi, bonus Evan yang aku tahan di luar peraturan itu." jelasnya dan sepertinya Arsy menyimak penjelasannya.
"Bonus pribadi, ya?" tanya Arsy. Sepertinya ia tertarik membicarakan ini.
"Ya." Dominic mengangguk. "Tapi, karena dia melakukan kesalahan jadi aku tahan." lanjutnya santai tetapi agaknya jawaban yang baru saja terlontar tidak membuat Arsy merasa puas.
"Bonus pribadi! Itu berarti kesalahan dia juga tidak menyangkut pekerjaan yang seharusnya?" tanya Arsy memastikan praduga yang muncul dalam benaknya.
"Yup," jawab Dominic sambil mengangguk. "Dia sering mengeluh saat aku tidak datang ke kantor. Padahal aku juga kerja dari sini ditemenin sama kamu," lanjutnya lagi sambil mengelus rambut Arsy.
Wajah Arsy berubah kesal mendengarnya. "Ya kamu kenapa tidak masuk kantor? Aku juga kalau jadi Evan bakal ngeluh," omel Arsy sambil duduk kan diri dengan menarik selimut menutupi tubuhnya yang polos.
Biasanya orang di omelin pasti akan sedih, takut, bahkan tidak sedikit orang di omelin bakal mengomel balik. Tapi berbeda dengan Dominic, pria itu tampak tersenyum dengan keadaan hati yang menghangat. Bagaimana tidak? Selama ini tidak ada yang mengomelinya karena melakukan kesalahan. Sejauh ini, hanya ada tuntutan untuk menjadi sempurna karena ia dilahirkan dari keluarga Abraham dan mommy Aisyah membebaskan dirinya mengambil keputusan selagi itu baik untuk semua pihak.
Memimpin dua perusahaan karena adik bule bermata biru itu lebih suka traveling dan mencari jodoh tanpa embel-embel harta dan tahta. Ah, mengingat adiknya itu membuat Dominic pusing.
"Aku lagi marah kok kamu malah senyum-senyum?" decak Arsy menyadari Dominic tengah menatapnya dengan kedua sudut yang ketarik membentuk senyuman.
"Aku suka kamu omelin aku begini," tutur Dominic tulus.
Pandangan mata keduanya bertemu. Arsy pikir, penuturan Dominic barusan hanyalah sebuah godaan yang akan membuatnya kesal sedemikian rupa seperti tadi pagi. Ternyata, ia tak menemukan hal itu. Bahkan lagi-lagi ia menemukan ketulusan disana.
Sering kali Arsy merasa Dominic seperti sudah mencintainya sejak lama. "Aku boleh tanya?" tanyanya.
Dominic mengangguk kemudian mengangkat tubuh Arsy hingga duduk di pangkuannya. Padahal keduanya masih dalam keadaan polos tanpa sehelai benang.
"Kamu adalah prioritasku, sayang. Jangan pernah minta izin untuk bicara padaku," jawab Dominic.
Lagi-lagi Arsy mencebik bibir mendengar itu. "Gimana bisa aku asal bicara tanpa izin dulu sama kamu? Kalau kamu lagi rapat atau lagi apa gitu, gimana? Tidak sopan tahu," ucap Arsy merasa aneh atas jawaban Dominic sebelumnya.
"Baiklah. Kamu mau tanya apa tadi?" tanya Dominic mengalah. Padahal jika dalam keadaan seperti ucapan Arsy tadi, ia rela menunda pekerjaan demi Arsy. Bukan tak jarang ia meninggalkan negara ini ke Indonesia demi mencari atau mendapat informasi mengenai gadis malang yang ia renggut kesuciannya secara paksa. Sayangnya, 3 tahun lalu saat bertemu dengan Arsy dalam keadaan memakai cadar.
Padahal, saat itu juga Dominic sedang sedih karena mendapat kabar bahwa gadis muda yang tak lain Arsy itu sudah menikah. Tapi kembali lagi, jika takdir sudah berkehendak akan bersama maka apapun yang sudah terpisah jauh dengan waktu yang lama pasti tetap akan bersama.
"Kenapa sikap kamu tidak ada canggungnya denganku? Kenapa sikap kamu seakan sudah terbiasa denganku? Kenapa kamu seperti sudah jatuh cinta padaku?" tanya Arsy dengan pertanyaan beruntun yang terus mengganggu ketenangannya.
Untuk beberapa saat Dominic diam sambil menatap Arsy. Semua pertanyaan yang diberikan Arsy hanya memiliki jawaban yaitu 'iya'.
Iya, Dominic tidak canggung karena sudah mencintai Arsy. Mungkin awalnya mencari keberadaan Arsy sejak kejadian malam itu adalah bentuk tanggung jawab. Tapi, semakin lama tidak pernah berpaling dan sadar perasaan ini bukan hanya tanggung jawab melainkan rasa cinta.
Iya, sebab meski dalam keadaan pengaruh obat perangsang tetap saja Dominic mengingat setiap jengkal permukaan kulit Arsy. Bahkan ia masih ingat tahi lalat di dada kiri milik Arsy.
Iya, Dominic telah jatuh cinta pada Arsy. Jauh sebelum mereka dipertemukan lagi.
"Kenapa diem saja?" tanya Arsy.
"Karena kamu yang aku jadikan pertama dan terakhir, dan aku akan bertahan sampai akhir. Semoga kamu juga memperlakukan seperti itu," jawab Dominic cukup menjelaskan semua pertanyaan dari Arsy.
Degup jantung Arsy sedang tidak baik-baik saja. Ia seakan berdendang di dalam dada setelah mendengar jawaban Dominic.
Bolehkah saat ini Arsy membedakan Haris dan Dominic?
Tidak. Tidak boleh karena masih terlalu awal menikah dengan Dominic.
Tapi… Sejak awal juga perlakuan Haris dan Dominic kepadanya sudah sangat berbeda.
Tapi sekali lagi, bagaimanapun tetap menganggap Haris baik karena mau menerima dirinya yang sudah tak suci lagi dan menjaga aibnya hingga sekarang.
"Tapi kamu bukan yang pertama di hidupku, Dom." kata Arsy.
"Tidak apa-apa. Yang terpenting akulah yang terakhir dan kamu tetap bertahan sampai akhir." kata Dominic dan di angguki oleh Arsy.
****
Lagi-lagi Evan di buat kesal satu harian. Dan lihatlah sekarang, Erlin cari gara-gara di kantor.
"Erlin," sentak Evan melihat Erlin sedang memarahi office boy paruh baya.
"Ada apa ini?" tanya Evan dengan wajah kusutnya tapi tidak mengurangi ketegasan.
"Dia menumpahkan kopi sampai sepatu aku basah. Apa dia tidak tahu kalau aku calon tunangan Dominic?" Erlin masih saja kesal karena sepatu mahalnya basah dan kotor.
"Mimpi, woy!"
artinya pernikahan mereka beruntun kan thoor.
"k kamu" ucap Dominic
apa Arsy wanita masalalu (8 tahun lalu) Dominic
semoga ja
semangat dengan karya barunya mae
jangan lupa kabari, infokan apa judulnya
biar banyak kami baca dan dukung