Tidak ada kisah Cinta di dunia ini yang seindah kisah novel..
Tidak ada yang tahu.. Seperti apa dan bagaimana proses masa depan kita terjadi..
Namun ada juga beberapa kisah yang serupa dengan kisah di novel..
Karena beberapa kisah novel memang pernah terjadi di dunia nyata..
"Kadang sesuatu yang kita lihat tidak sesuai dengan kenyataan.
Kebencian yang terlalu dalam ini membuatku terjatuh.
Tapi memang begitu kenyataannya laki-laki itu menyebalkan dan aku muak melihat tingkah gilanya itu, dasar laki-laki aneh dia!
Jika bisa saat itu juga aku mematahkan lehernya. Tapi, aku tidak bisa melakukannya. Karena aku...."
_Shica Mahali_
"Jangan dilihat dari luar. Maka kau akan semakin penasaran dengan apa yang ada didalamnya.
Aku menyesal telah menyakiti perasaannya.
Aku tidak mengira kalau ini buah dari kesalahanku.
Maafkan aku, boleh aku mengenalmu lebih jauh lagi?
Tapi aku......"
_Raihan Alfarizi_
PERINGATAN!!!
17+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucu Irna Marhamah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
".. Wanita nomor satu bagi seorang putra adalah ibunya kemudian saudari perempuannya.. "
***
•••Regar Mahali•••
Aku memarkirkan mobilku di pelataran rumah. Kemudian aku keluar dari mobil dan melempar kunci mobilku ke pejaga yang berdiri didepan garasi.
"Masukkan mobilku" kataku.
"Baik Tuan muda " jawabnya.
Aku, Regar Dian Pripaska Amega Riananda Dharma Wijaya Kusuma Mahali, putra sulung dari Ridan Mahali dan Ratna Mahali.
Mahali adalah nama besar keluarga kami, sebagian besar anggota keluarga yang berbisnis di dunia properti.
Seperti ayahku, Ridan Mahali.
Aku memiliki seorang adik perempuan yang manis dan baik, namanya Rastani.
Namanya panjang seperti namaku, tapi Rastani lebih senang di panggil Shica.
Aku seorang kapten voli, sejak SMP aku menjadi kapten voli sampai sekarang di SMA.
Fisikku tinggi tegap. Aku memiliki tubuh yang atletis karena aku sering melatih tubuhku.
Bukan hal yang mudah membentuk tubuh yang sempurna.
Aku memiliki kedua alis yang menaut dan mata setajam elang. Warna mataku onyx seperti ayahku.
Hidungku mancung. Bibirku tipis di hiasi dengan rambut-rambut halus diatas bibirku dan sekitar rahangku.
Itu sekilas tentang diriku.
Aku memasuki rumah. Kulihat Shica sedang tiduran disofa sambil membaca majalah.
Ada Raymond juga sedang memainkan ponselnya.
Shica dan Ray menoleh kearahku. Shica kembali membaca majalahnya.
Dia pasti masih marah padaku.
"Kau baru pulang? " tanya Ray.
"Iya.. Aku habis voli" jawabku.
Seketika Shica menoleh lagi kearahku. Dia tampaknya mau bertanya. Namun dia malah beranjak dari duduknya kemudian pergi ke dapur.
Aku pun duduk di sofa yang tadi Shica gunakan untuk berbaring. Terasa hangat bekasnya.
Ray bangkit dan duduk disampingku.
"Bagaimana kau dengan Shica? " tanyaku.
"Tidak ada yang berubah.. Dia masih menolakku ya walau dengan kata-kata yang baik" jawab Ray kemudian menyimpan ponselnya.
"Dia keras kepala ya" kataku.
"Apa dia punya pacar? Atau seseorang yang dia sukai? " tanya Ray.
Aku menghela napas panjang.
Tentu saja.
"Tidak" kataku berbohong.
"Tapi entah kenapa aku merasa kalau dia mencintai seseorang " kata Ray.
"Itu perasaanmu saja" kataku.
Kau benar Ray..
Shica mencintai dia..
Laki-laki berengsek itu..
Raihan Alfarizi..
Walaupun Shica tidak pernah bilang kalau dia menyukainya, tapi aku tahu lewat pandangannya.
Menyebalkan..
Laki-laki yang telah mengambil cintaku dan sekarang dia juga mau mengambil Shica dariku..
Dia sudah mendapatkan Rania..
Takkan kubiarkan dia mengambil Shica juga dariku..
Shica adikku.. Dia memiliki darah yang sama denganku..
Adik kandungku!
Cukup Raihan mengambil Rania..
"Regar"
Aku terkejut saat Ray mengibaskan tangannya didepan wajahku.
"Aku harus mandi" kataku kemudian segera bangkit dari sofa dan pergi ke kamarku.
Aku memasuki kamar mandi di kamarku kemudian aku pun membersihkan tubuhku.
Selesai mandi, aku memakai pakaian rumah. Aku menyisir rambutku.
Aku menatap pantulan diriku di cermin.
Terdengar suara banyak orang di lantai bawah. Mungkin ada tamu. Aku pun keluar dari kamarku dan melihat ada seorang wanita berambut pirang bersama seorang pria berjas.
Mereka berdua adalah orang tuanya Raymond.
Nyonya Margaretha dan Tuan Abikusno Harnojoyo.
Mereka berbincang dengan Papa dan Mama. Kulihat Shica dan Ray juga ada disana.
Aku menuruni tangga. Mereka semua menoleh padaku.
"Wah.. Apa itu Regar? Tampan sekali " kata Ny. Margaretha.
Aku hanya tersenyum kemudian mencium tangannya. Lalu aku juga mencium tangan suaminya.
"Kau sudah sangat besar, Regar.. Kau tampan seperti ayahmu" kata Om Abi.
Aku hanya tersenyum mendengarnya.
"Ayo kita makan malam bersama" kata Mama.
Kami semua pun duduk rapi di meja makan.
Para pelayan menyajikan makanan.
Setelah semua hidangan tersedia, kami pun menyantap makanan tersebut.
"Kalian akan menginap kan? " tanya Mama.
"Sayang sekali kami tidak bisa, kami harus segera ke mansion kami, keluarga besar sudah menunggu" kata Tante Retha.
"Sayang sekali " kata Mama.
"Kami mau mengajak Shica boleh? " tanya Tante Retha.
"Kalian bisa tanyakan pada Shica " jawab Papa.
"Bagaimana sayang, mau kan? " tanya Tante Retha sambil menyentuh bahu Shica.
"Besok hari minggu loh" kata Mama.
"Emm.. Aku.. " Shica terlihat bingung.
"Tante mohon ya sayang ya" kata Tante Retha.
"Emm.. Baiklah.. " jawab Shica.
"Terimakasih sayang " kata Tante Retha sambil memeluk Shica.
Kulihat Ray tersenyum.
"Regar juga ikut kan? " kata Om Abi.
"Iya, Regar ikut ya" kata Tante Retha.
Aku terkekeh. "Tidak.. Besok aku harus mengikuti pertandingan voli.. " kata ku mencari alasan.
Yang benar saja..
Jika aku ikut menginap di mansion Harnojoyo, yang ada aku harus mengikuti banyak aturan..
Itu menjengkelkan..
"Sayang sekali" kata Tante Retha.
"Maaf ya.. Hehe" kataku.
Shica menunduk. Aku tahu dia terpaksa. Dia memang tidak suka dipaksa. Tapi dia juga menghormati orang yang lebih tua darinya.
Aku pun permisi untuk pergi ke kamarku.
Rasanya melelahkan hari ini, voli melawan Raihan bukanlah hal yang mudah.
Mendapatkan poin dua pun sulit..
Ku akui tukang nasi goreng itu cukup lihai..
Aku pun merebahkan tubuhku ke ranjang.
Aku melihat Rania memeluk Raihan. Raihan membalas pelukannya. Dia menangis dipelukan Raihan.
Aku mengepalkan tanganku.
"Aku mencintaimu.. Raihan.. Aku salah telah mencintai Regar.. Aku salah" tangis Rania.
Aku semakin geram.
"Kak"
Aku terhenyak dan menoleh ke sampingku. Ternyata Shica.
Barusan aku memikirkan masa laluku lagi.. Sialan..
"Kakak apa aku membuatmu terkejut? " tanya Shica dengan ekspresi polosnya.
Sungguh aku menyukai ekspresinya yang seperti itu.
"Tidak.. Emm.. Ada apa Shica? " tanyaku sambil mencubit pipinya gemas.
"Aku pamit mau ke rumah Om Abi.. Besok sore, jemput aku ya.. " kata Shica.
"Baiklah.. Hati-hati ya" kataku kemudian mengecup keningnya.
Shica mengangguk kemudian berlalu.
Takkan kubiarkan kau mengambil perempuan yang sangat kusayangi..
Tidak lagi..
Kau bisa mendapatkan Rania..
Tapi kau tidak bisa dan tidak akan pernah bisa mendapatkan adikku!
Tidak
Raihan..
Tidak akan pernah..
Tidak..
By
_Ucu Irna Marhamah_
Sicha sebenar tidak pernah mencintai reynaldi, dengan jelas dia menunjukkan dia masih mencintai pria lain didepan suaminya, hak reynaldi tidak dia berikan tapi saat reynaldi mengambil paksa sicha berkoar sebagai korban, tapi pada satu jadi istri raihan dia senang hati beri hak raihan selalu bermeraan dengan raihan
Sicha tidak layan untuk reynaldi seharusnya reynaldi bisa dapat wanita yang lebih menghargainya