Eleanor Belvina gadis berusia 22 tahun yang bekerja sebagai wanita bayaran, Suatu malam ia tidak sengaja bertemu dengan Martin Hariz, seorang duda berusia 41 tahun ketika melarikan diri dari klien nya.
"Jika kau bukan pencuri atau penipu, apakah kau ini seorang wanita malam?" tanya Martin realistis, karena kebanyakan wanita seperti itulah yang ia temui di Bar.
"Om ini sembarangan, saya ini masih perawan tingting asal Om tahu" ucap gadis itu.
"Bagaimana saya tahu jika saya tidak mencobanya" sahut Martin
Ikuti kisah mereka ya🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menepati Janji
Herman datang ke kediaman Hariz tepat setelah keluarga besar Tuan nya itu selesai makan malam, bahkan Elea dan Martin sudah kembali ke kamar, maka pertemuannya dengan Adnan dan Asri tidak dapat di elak kan. Meskipun tidak bertemu dengan Adnan, Herman juga tetap akan memberikan laporan pada Tuan nya itu, namun sayangnya Herman juga bertemu sang Nyonya besar.
"Tumben kamu datang ke sini, Her." Asri ikut duduk di samping suaminya.
"Saya ada kepentingan dengan Tuan Martin, Nyonya."
"Dengan Martin? Memangnya Anton kemana?" tidak biasanya Martin berurusan dengan orang kepercayaan suaminya itu, sebab jika menyangkut Martin, maka Anton lah yang akan menghandle nya.
"Anton masih berada di luar negeri untuk menghandle proyek di sana." jelas Herman.
"Ya sudah, ikut ke ruangan saya saja. Biar Martin yang menyusul kesana nanti." ajak Adnan, pria baya itu penasaran dengan kepentingan Herman dan Martin.
Herman melangkahkan kakinya mengikuti sang Tuan, dirinya cukup lama tidak bertemu dengan Boss nya itu. Terakhir kali bertemu adalah saat resepsi pernikahan Martin dan Elea, setelah itu dirinya sibuk di kantor sedang sang Boss sibuk jalan-jalan. Meski begitu, setiap bulan bahkan setiap minggu Herman tetap berkomunikasi dengan Adnan.
"Ada masalah apa sampai Martin minta bantuan mu?" tanya Adnan ketika sudah sama dalam ruangan kerjanya.
"Tuan Martin meminta saya untuk mencair kan uang, Tuan." jujur Herman.
"Mencairkan uang? Untuk apa? Berapa banyak?" cecar Adnan.
"250juta Tuan, tapi untuk apa ya, silahkan anda tanyakan sendiri pada tuan Martin. Sebab saya tidak bertanya lebih jauh." bohong Herman, sebab ia tidak mau terlalu ikut campur dalam urusan internal keluarga Hariz. Sudah cukup masalah kantor menyita perhatian dan waktunya, Herman tidak ingin terlibat dengan masalah lain lagi.
Klek...
Suara knop pintu terbuka dan Martin tampak memasuki ruangan kerja sang Papa, Pria matang itu menghela nafas berat karena sudah pasti papa Adnan akan bertanya untuk apa uang itu, ahhh belum lagi besok Mama Asri akan ikut mengintrogasi.
"Kau sudah membawanya, Her?" tanya Martin basa-basi.
"Sudah, Tuan." Herman mengangkat sebuah koper kecil yang berisi uang tersebut.
"Anda bisa menghitungnya," sambung Herman menyerahkan koper itu pada Martin.
"Tidak perlu, karena aku percaya padamu." sahut Herman, jika Papa nya saja percaya, lalu kenapa Martin tidak percaya?.
"Baiklah, saya izin pamit dulu Tuan, selamat malam." Herman keluar dari ruangan Boss nya, ia paham jika Adnan pasti akan berbicara empat mata dengan putra semata wayangnya itu.
"Tidak biasanya kamu mencairkan dana sebesar itu, untuk apa?" sebenarnya bukan masalah jika menantunya menggunakan uang sebanyak itu, sebab istrinya sendiri sering menghabiskan uang dua kali lipat dari itu hanya untuk membeli sebuah tas.
"El memintanya Pah, mungkin bagian dari ngidamnya." sahut Martin menjawab dengan jawaban yang aman agar tidak di tanyai lebih banyak lagi.
"Ngidam?" mungkin terdengar aneh dan tidak masuk akal, tapi akan sangat sulit di sangkal karena wanita ngidam memang keinginan nya kadang-kadang di luar nalar.
"Apa Papa keberatan jika Martin memberi uang ini pada Elea?"
"Bagaimana Papa keberatan, jika Mama mu saja pernah menghabiskan uang papa satu miliar lebih dalam sehari." Adnan masih sangat ingat saat dirinya mengajak sang istri untuk berlibur di Paris, Asri yang kala itu kalap melihat banyaknya barang-barang branded, berbelanja tanpa memikirkan berapa banyak uang yang harus di keluarkan oleh suaminya untuk membayar belanjanya itu.
"Papa tidak marah kan?" Martin menatap intens Papa nya.
"Tentu saja tidak, asalkan menantu papa bahagia." jawab Adnan bijak.
"Kalau begitu, Martin kembali ke kamar dulu, Pah." pamitnya dengan membawa koper itu keluar dari ruang kerja Papa nya.
🌼🌼🌼
Elea menunggu Martin dengan harap-harap cemas, pasalnya suaminya itu berjanji akan memberikan uang itu malam ini. Belum lagi tadi sore Fara mengabari dirinya, jika sang rentenir datang kerumah sewa nya untuk memberikan peringatan jika tenggat waktu yang ia berikan akan segera berakhir. Hal itu semakin membuat Elea cemas jika Martin tidak bisa memenuhi janjinya, tapi Elea menepis ketidak mungkinan itu, Elea berpikir jika Martin pasti menepati janjinya.
Martin memasuki kamar dan melihat Elea yang mondar-mandir di depan meja rias dengan wajah cemas, bahkan kedatangannya tidak disadari oleh sang istri, entah apa yang ada dalam pikiran sang istri, sehingga terlihat begitu gelisah. Apakah Elea benar-benar membutuhkan uang itu?.
"El," panggil Martin karena sudah tak tahan melihat kegelisahan di wajah istrinya.
"Om," Elea terkejut, lalu segera menghampiri Martin.
"Ini uang yang kamu inginkan." Martin menyerahkan koper berisi uang itu pada Elea.
Greppp....
Elea membenturkan tubuhnya memeluk Martin tanpa mengambil koper yang ada di tangan Martin.
"Terimakasih banyak Om, aku tidak akan melupakan kebaikan Om." Elea sangat bersyukurlah karena Martin mau membantunya tanpa bertanya-tanya lebih detail.
"Terimakasih sudah membantu ku." sambung Elea menitikkan air matanya. Tak mengapa jika Elea harus selamanya menjadi istri Martin meskipun tanpa di cintai sekalipun. Bantuan dari Martin ini sangat berarti bagi Elea, karena dengan bantuan Martin, dirinya bisa menyelamatkan hidup sahabatnya.
"Sudah menjadi kewajiban ku untuk menuruti semua keinginan mu." Martin memeluk punggung Elea dengan tangan kirinya.
"Ambillah, kalau perlu kamu bisa menghitungnya terlebih dulu." Martin menyerahkan koper itu pada Elea.
"Tidak perlu Om, aku percaya dengan Om Martin." Elea menerima koper kecil itu.
"aku akan menyimpannya dulu." ucap Elea, membawa koper itu masuk ke dalam walk in closet kamarnya, mungkin wanita itu akan menyimpan di sela-sela baju atau disudut walk in closet nya.
"Kamu senang?" tanya Martin, saat Elea menyusulnya naik ke atas ranjang.
"Bukan senang Om, tapi lebih tepatnya lega." sahut Elea mendekat kan tubuhnya pada Martin.
"Suatu hari nanti, aku akan menjelaskan untuk apa uang itu. Tapi saat ini, aku belum bisa memberi tahukan nya pada Om. Yang jelas, uang itu tidak akan ku salah gunakan." tutur Elea menyandarkan kepalanya di dada bidang Martin.
"Hem, bukan masalah." jawab Martin mengelus-elus perut Elea dan sesekali mengecup puncak kepala Elea.
"Bisa kita tidur?" lirih Elea, jika tidak, bukan tidak mungkin Martin akan menuntut sesuatu yang lebih.
"Kamu sudah mengantuk?"
"Hem, karena seharian aku tidak kemana-mana, jadi hari ini aku menyibukkan diri di taman belakang dan tidak sempat tidur siang." bohong Elea, padahal hari ini dirinya tidur siang dengan sangat cukup.
"Baiklah, ayo kita tidur." ucap Martin tidak tega jika mengajak Elea terbang ke nirwana.
🌼
🌼
🌼
🌼
🌼
TBC 🌺