Dayna merasa hidup selalu menyengsarakan dirinya. Ia tak pernah berpikir usai menikah ternyata masalah hidupnya kian dibuat pelik. Ia dijual oleh suaminya sendiri.
Yuga, laki-laki yang hidup di lingkungan dunia malam, pekerjaan haram dan penuh kekerasan. Kini episode hitam yang sama kembali menggilas garis hidup Dayna. Demi melunasi hutang, Yuga menjual Dayna pada Tuan Gaza.
Dayna selalu ingin kabur dari jerat hidup Tuan Gaza, tapi sosok laki-laki di rumah Gaza membuat Dayna tertahan. Dialah Arsen. Dayna menyukainya. Tapi Gaza tak akan pernah membiarkan Dayna menyukai Arsen. Gaza hanya ingin Dayna menyukai dirinya bukan Arsen.
Hingga akhirnya sebuah fakta besar terungkap, membuat Dayna hidup dalam kebimbangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seri Melani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDTD - Chapter 30
Dayna merenggut di depan berbagai jenis bunga yang menghias tanaman rumah Gaza. Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali ikut berkebun dengan para tukang kebun di rumah ini. Dayna merasa suntuk saat tidak melakukan aktivitas apapun, padahal disetiap harinya ia terbiasa bekerja.
Jika dihitung sudah dua minggu Dayna tinggal di rumah ini. Sejak statusnya beralih menjadi istri seorang Tuan Gaza Ivander Abyakta.
Selama dua minggu pernikahan, Dayna tidak pernah merasakan kenyaman hidup bersama pria ini. Ia hidup bagaikan burung di dalam sangkar emas. Tempat tinggal mewah, makanan lezat, pakaian mahal tapi kenikmatan itu hanya semu belaka. Tidak ada kesenangan di dalamnya, tidak ada juga kebebasan bagi Dayna untuk beraktivitas di luar, terlebih lagi bekerja.
Sekarang, ia hanya merasa bahwa perannya saat ini tak lebih dari pemuas napsu pria brengsek itu.
Status istri yang disandangnya hanya omong kosong.
Dayna merasa tak pernah diperlakukan selayaknya seorang istri oleh Gaza.
Sambil menyiram bunga, jemari tangan itu bergerak menghitung lamanya status istri itu disandangnya.
"Ini baru minggu kedua, dan masih ada banyak minggu selanjutnya. Ya Allah, kapan aku bebas dari pria ini!" Dayna menggerutu kesal. Disiramnya bunga yang terhampar di depannya dengan sembarangan. Wajahnya masih bermuram durja.
Tampak pintu pagar terbuka lebar, kemudian sebuah mobil mewah masuk, lalu parkir dengan rapi di garasi rumah bersama dengan deretan mobil lainnya. Yang jelas beberapa koleksi mobil milik Gaza.
"Arrrhhh, dasar pria menyebalkan!"
Dengan kondisi selang yang masih mengalirkan air, Dayna menyiram bunga-bunga di depannya sembaratan, emosinya sedang tak terkendali. Batinnya terlalu kesal. Saat bayang pria iblis itu bersliweran di kepala Dayna.
"Kalau wajahnha muncul dihadapanku, rasanya ingin aku semprot dia, supaya lenyap dari muka bumi ini!" rahangnya mengertap kesal.
Tap...
Ada tepukan mendarat di pundak Dayna.
Byurrr....
Ternyata refleks saat Dayna mengerakkan badannya karena terkejut, selang kran air yang masih menyala menyiram tubuh si pria yang berdiri di hadapan Dayna.
Aliran air yang deras, membuat tubuhnya dalam sekejap basah kuyup.
'Astaga, Gaza telah muncul dihadapanku!'
Dayna mengutuk dirinya. 'Gaza pasti akan marah besar. Semoga dia tidak mendengar ocehanku' harapnya.
"Arrhhh, berhenti! Matikan kran airmu!" pekiknya.
Dayna tersadar dan buru-buru mematikan selang air yang semula menyala.
Dayna mematung melihat situasi yang terjadi saat ini. Dihadapannya telah berdiri pria berpostur badan tegap, beberapa bulu tipis tumbuh di area pipinya, dengan rambut hitam klimis.
T-shirt putih yang dikenakan, basah. Pria itu masih terdiam di tempat.
"A-aku--, Tuan... " Dayna tergagap. Dirinya tidak tahu harus berucap apa.
'Aku sangat yakin setelah ini, Gaza pasti akan mengurungku di kamar mandi, tanpa memberiku makan' duganya.
Kini Dayna tertunduk diam, matanya terpejam rapat-rapat.
"Sudah, tidak perlu berpikiran buruk tentangku. Aku tahu aku yang salah karena tlah mengagetkanmu"
Mendengar pernyataan yang berhasil ditangkap gendang telinga, Dayna lantas mengangkat kepalanya.
Didapatinya pria yang disiramnya tadi tersenyum samar.
'Hah, tidak salah! Sejak kapan Gaza memilih mengalah seperti ini? Bagaimana pun dan apapun yang aku lakukan Gaza pasti selalu menyalahkan aku dalam hal apapun'
Pria itu baru hendak berbalik badan, namun urung.
"Oh ya, kau harus mencarikanku pakaian untuk mengganti pakaianku yang basah ini"
"I-iya"
Si pria telah berjalan lebih dulu, sementara Dayna menyusulnya di belakang dengan langkah takut-takut. Sambil berjalan Dayna tiada henti meremas jari-jemarinya. Perasaan cemas masih menghinggapi dirinya saat ini.
...ΩΩΩ...
Dayna duduk ditepian ranjang. Ia terus memainkan ujung kukunya. Tentunya saja, ia sedang menunggu pria yang sedang berada di dalam toilet kamarnya.
Tak lama setelahnya pintu toilet terbuka. Dayna refleks seketika langsung berdiri, ia mengambil seduhan teh jahe hangat yang baru saja dibuatnya.
"Aku membawakan ini untukmu?"
"Kenapa mesti repot-repot. Ah, aku jadi enak hati."
Kening Dayna berkerut-kerut. Ia menyadari ada ada sesuatu yang berbeda di sini.
Tentang sikap pria yang dia sebut sebagau 'suami'.
Dayna tidak tahu bahwa laki-laki yang dikira suaminya, nyatanya adalah Arsen, kembaran Gaza.
"Bukannya kau yang selalu memintaku untuk melayanimu dengan baik. Bahkan menyiapkan segala keperluanmu karena aku berperan sebagai istrimu?"
Uhuukk... Uhukk...
Arsen menepuk-nepuk dadanya karena terbatuk. Arsen menyadari kalau saat ini Dayna pasti mengira kalau dirinya adalah Gaza.
Arsen mendem beberapa kali, untuk melegakan tenggorokannya.
Setelahnya, ia tertawa sambil melangkah mendekat ke Dayna. Ditatapnya dua bola mata hitam wanita itu dengan saksama.
Arsen tahu, sejak dia datang ke rumah ini. Dirinya belum memperkenalkan diri dengan Dayna.
"Kau mengira aku Gaza?" tanya Arsen.
Dayna terdiam, dia masih belum memahami maksud Arsen.
"Aku Arsen. Perkenalkan aku Arsen Gazi Abyakta. Saudara kembar suamimu, Gaza Ivander Abyakta"
Bulu mata yang panjang dan lentik itu mengerjap-ngerjap.
Pantas saja sejak tadi Dayna merasa ada yang aneh dari pria ini. Pembawaanya berbeda. Arsen dipahami Dayna sebagai laki-laki yang lebih mudah tersenyum, pembawaan yang hangat dan akrab.
"Kita sudah sering bertemu sebelumnya kan? Dan bahkan aku tidak menyangka kau akan menjadi bagian dari keluargaku, Dayna"
Astaga! Dia Arsen, dan ternyata dia kembaran Gaza
Dayna mengingat segala perjumpaaan yang berkaitan dengan Arsen. Jujur ia masih bingung dengan semuanya. Ia memang sudah beberapa kali berjumpa dengan pria ini, tapi dia Gaza memiliki dua karakter, satu waktu dia bisa bersikap keras, dan kasar. Di satu waktu lain, dia bisa bersikap baik, humble dan bersahabat lagi ramah. Tapi ternyata dia adalah dua orang yang berbeda, namun dengan rupa yang sama.
"Kau ingat perjumpaan pertama kita? Kita pertama kali bertemu saat anakku masih bayi. Kedua, waktu itu di pantai. Saat sahabatmu, Luna kehilangan anak kecil yang bersamanya. Ya kan?"
"Ha-ha, i-iya, ternyata kita sudah sering bertemu ya?" Dayna tertawa renyah. "Senang bisa bertemu denganmu lagi" ungkap Dayna.
"Oh, ya. Apa kau tidak ingin menganti pakaianmu juga, baju yang kau kenakan juga terlihat basah, Dayna"
Dayna memandangi baju yang dikenakannya. Baginya ini tidak terlalu basah hanya lembab.
"Tidak, tidak apa-apa. Ini tidak terlalu basah."
"Benar?"
Dayna mengangguk.
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita keluar, tidak enak kita di dalam kamar berdua, nanti saudara salah paham bagaimana," lagi-lagi Arsen melempar candaan. Suara tawa itu kembali menguar.
'Iya, kamu benar Arsen. Gaza bisa saja salah menduga jika kita berdua dalam bilik kamar ini. Dia pasti marah besar. Tapi, bagaimana perasaanku saat jika aku tahu bahwa Gaza memiliki hobi yang dibenci banyak kaum wanita. Yaitu berganti-ganti pasangan, dan bermain dengan banyak wanita di luar sana.'
"Kamu benar, Arsen. Baiklah kalau begitu, ayo" ajak Dayna.
Tiba-tiba langkah itu tertahan, Dayna merasa ada yang mengenggam pergelangan tangannya. Ia menoleh, netra matanya menyusuri lengannya sampai pada pergelangan tangan yang telah digenggam oleh jemari Arsen.
"Sebentar" kata Arsen, matanya menatap ke pucuk kepala Dayna.
Diam-diam Dayna mencuri kesempatan untuk mengamati setiap apa yang dilakukan Arsen padanya.
Seketika pikirannya meretrif kembalu ingatan pertemuan pertama mereka di dalam bus. Dayna bahkan masih ingat apa harapannya kala itu, saat berpisah dengan Arsen di halte. Kejadian itu berlangsung, sekitar lima tahun silam saat dirinya belum menikah dengan Yuga.
Dayna diam-diam tersenyum, sembari memandangi wajah rupawan Arsen.
Sekarang, ia bisa merasakan betapa berbedanya aura yang ditunjukkan Arsen. Satu hal yang ia rasakan saat ini. Entah kenapa, jiwa tiba-tiba terasa ikut berdamai, hatinya terasa sejuk, kala memandangi mata hitam kecoklatan milik Arsen.
Dayna memegangi dadanya. Mengapa ia sulit sekali mengontrol detak jantungnya.
"Aku menemukan ini di rambutmu," katanya, sembari menunjukkan daun berwarna hijau yang dipegangnya.
Dayna masih diam membeku. Tatapannya kosong, dengan arah tatapan mengarah pada Arsen.
"Halooo" Arsen melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Dayna.
"I-iya, maaf aku melamun ya?"
"Menurutmu?" Tanya Arsen menaikkan sebelah alisnya.
"Ooooo... Aku tahu kamu pasti memikirkan sesuatu ya?"
"Sesuatu? Ah, kamu sok tahu Tuan Arsen?" kata Dayna berkilah dengan sedikit humor.
"Iya. Aku yakin dipikiranmu tadi. Ya Tuhan, kenapa Arsen begitu tampan. Iya kan? Ayo mengakulah, Dayna?"
Wajah Dayna seketika memerah bak tomat matang. Ternyata, perkataan Arsen cukup membuat Dayna malu dan salah tingkah.
Dayna memilih tertawa untuk mengalihkan kegugupannya dan menyembunyikan rona merah dipipinya.
"Nggaklah."
Melihat Dayna tegelak, Arsen kembali menggodanya.
"Haha... Kamu yakin?"
Keduanya masih sama-sama tertawa lepas.
EHEMM... EHEM...
Mendengar suara deheman yang begitu keras, sontak tawa keduanya terhenti seketika.
Arsen dan Dayna secara berbarengan menoleh ke sumber suara yang datangnya dari arah pintu.
Di sana sudah berdiri sosok pria memakai kemeja tanpa dasi sambil menenteng tas kerja dengan jas tersampir di lengannya.
Dada Dayna berdebar melihat sosok itu.
Gaza yang sesungguhnya telah berdiri dihadapannya.
Sesaat tatapan Dayna terkunci pada iris gelap yang menatapnya tajam. Kemudian, kesadaran memenuhi diri Dayna.
Ia kemudian berbalik menoleh ke arah Arsen. Wajah mereka persis sama. Hanya tatanan rambut yang membedakan wajah mereka.
Perasaan Dayna campur aduk, yakin dan tak yakin
Tuan Arsen dan Tuan Gaza seperti sedang bercermin.
Plakk... Bagaikan tamparan, rasanya Dayna tak perlu terpakau dengan semua ini. Yang perlu ia pikirkan adalah Gaza pasti telah menduga hal yang buruk pada dirinya karena telah berada dalam kamar mereka hanya berdua saja.
Lihat saja tatapan Gaza saat ini, sangat tajam. Seperti ingin memakan buruan yang tampak di depan mata.
Arsen melirik Dayna. Wajahnya datar, tanpa ekspresi. Wanita itu sedang cemas. Arsen akan melindungi wanita ini, ia tidak akan membiarkan Gaza salah paham dan memaki Dayna dengan kasar.
Ia berjalan mendekat pada Gaza. Gaza seperti tak menyadari derap langkah Arsen yang mendekatinya, tatapannya masih tertuju pada Dayna. Tatapan yang begitu mengintimidasi.
Dayna nampak tertekan. Tak ingin menatap netra mata itu Dayna memilih tertunduk melihat ubin.
"Bro!" Arsen menepuk pundak saudaranya. "Maaf, jika kau melihat ini sebuah ketidakpantasan. Tapi aku hanya mencari baju ganti di sini. Dayna telah membuat sekujur tubuhku basah karena kecerobohannya tadi."
Apa dia bilang kecerobohanku? Bukannya tadi dia mengakui kalau dia yang salah?
Dayna langsung mengangkat wajahnya. Dayna ingin bereaksi untuk menyanggah ucapan Arsen.
Namun Arsen lebih dulu mengerlingkan mata, sebuah kode yang Arsen berikan padanya.
"Aku hanya meminta dia bertanggung jawab atas perbuatannya, Gaza"
...----------------...
wanita bodoh di jual ama laki kabur balik lagi kelaki nya
ogah baca nya 🙏🙏🙏
sekali up ngulang 😔😔