NovelToon NovelToon
AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32 penuh keraguan

Beberapa hari berlalu sejak pemakaman ayah mantan mertuanya. Nadia mulai membereskan satu per satu urusan yang masih mengikatnya di kota itu. Keputusan untuk pindah ke Surabaya bukan lagi sekadar rencana, melainkan sesuatu yang harus segera diwujudkan demi memulai kehidupan baru bersama anak yang sedang dikandungnya.

Pagi itu ruang tamu rumah Vania dipenuhi berbagai berkas, kardus, dan koper yang sudah tertata rapi. Beberapa pakaian telah dimasukkan ke dalam koper, sementara dokumen-dokumen penting disusun dengan teliti agar tidak ada yang tertinggal.

Vania datang membawa beberapa map berwarna cokelat dan meletakkannya di atas meja.

"Nah."

ucapnya sambil tersenyum.

"Ini semua pilihan rumah di Surabaya."

Nadia membuka satu per satu map tersebut. Di dalamnya terdapat kontrak sewa, foto rumah, hingga beberapa informasi mengenai lingkungan sekitar yang sudah dipersiapkan Vania dengan sangat rapi.

"Aku sudah survei beberapa lokasi."

lanjut Vania.

"Ada yang dekat rumah sakit, ada yang dekat sekolah, dan ada juga yang lingkungannya tenang. Tinggal kamu pilih mana yang paling cocok."

Mata Nadia mulai berkaca-kaca.

Ia menatap sahabatnya dengan penuh rasa syukur.

"Van..."

bisiknya.

"Aku benar-benar tidak tahu harus membalas semua kebaikanmu."

Vania terkekeh pelan lalu duduk di samping Nadia.

"Memangnya kita orang lain?"

"Tidak usah berpikir soal membalas."

"Aku cuma tidak ingin keponakanku nanti tinggal di tempat yang tidak nyaman."

Sambil tersenyum, Vania mengusap pelan perut Nadia.

"Kalau kamu bahagia, itu sudah cukup."

Air mata Nadia akhirnya jatuh.

Selama beberapa bulan terakhir hidupnya dipenuhi pengkhianatan, kehilangan, dan berbagai cobaan yang datang tanpa henti. Namun di tengah semua itu, Tuhan masih menghadirkan orang-orang yang dengan tulus berdiri di sampingnya.

"Aku pasti akan sangat merindukanmu."

ucap Nadia sambil memeluk Vania erat.

Vania membalas pelukan itu sambil tertawa kecil.

"Surabaya bukan luar negeri."

"Kalau kangen tinggal telepon."

"Atau nanti aku yang datang mengacak-acak rumah barumu."

Ucapan itu membuat Nadia ikut tertawa, meski di balik tawanya tersimpan rasa berat meninggalkan kota yang telah menjadi saksi begitu banyak kenangan, baik yang indah maupun yang menyakitkan.

Di tengah suasana yang mulai sedikit hangat, ponsel Nadia tiba-tiba berdering.

Nomor yang tidak dikenal muncul di layar.

Nadia segera mengangkatnya.

"Halo."

"Selamat siang, apakah benar dengan Ibu Nadia?"

tanya suara seorang wanita di seberang telepon.

"Benar."

"Kami dari laboratorium rumah sakit."

Mendengar kalimat itu, wajah Nadia langsung berubah serius.

"Kami ingin menginformasikan bahwa hasil pemeriksaan sampel yang Ibu titipkan sudah selesai."

"Apabila berkenan, kami mohon Ibu datang langsung ke laboratorium hari ini."

Nadia saling berpandangan dengan Vania.

Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

"Apakah hasilnya bisa disampaikan melalui telepon?"

tanyanya hati-hati.

"Maaf, Bu."

jawab petugas dengan sopan.

"Dokter yang menangani meminta hasilnya dijelaskan secara langsung karena ada beberapa hal yang perlu diterangkan agar tidak terjadi kesalahpahaman."

Setelah panggilan berakhir, Nadia perlahan menurunkan ponselnya.

Vania yang sejak tadi memperhatikan langsung bertanya,

"Dari laboratorium?"

Nadia mengangguk pelan.

"Mereka memintaku datang sekarang."

Tatapannya perlahan jatuh pada map-map rumah yang masih terbuka di atas meja.

Dalam hatinya muncul firasat bahwa hasil pemeriksaan itu mungkin akan menjadi awal dari jawaban atas berbagai kejanggalan yang selama ini menghantui Anna, sekaligus menentukan langkah mereka selanjutnya.

Nadia tiba di laboratorium rumah sakit dengan langkah yang sedikit terburu-buru. Di tangannya masih tergenggam map berisi dokumen hasil pemeriksaan yang baru saja diberikan petugas administrasi. Sejak menerima telepon tadi, jantungnya terus berdebar. Ia berharap hasil pemeriksaan itu dapat menjawab setidaknya sebagian dari pertanyaan yang selama ini menghantui Anna.

Beberapa menit kemudian, seorang dokter laboratorium mempersilahkannya masuk ke ruang konsultasi.

Dokter meletakkan hasil analisis di atas meja.

"Ibu Nadia, kami sudah memeriksa sampel cairan yang Ibu serahkan."

ucapnya tenang.

"Hasilnya menunjukkan adanya kandungan kafein."

Nadia langsung mengangkat wajah.

"Jadi memang benar itu kopi?"

Dokter menggeleng pelan.

"Tidak sesederhana itu."

Beliau membuka lembar hasil pemeriksaan sambil menjelaskan.

"Kadar kafeinnya memang relatif rendah. Untuk orang dewasa yang sehat, jumlah seperti ini biasanya tidak menimbulkan masalah berarti."

"Tetapi..."

Dokter berhenti sejenak.

"...pada seseorang yang memiliki penyakit jantung tertentu, konsumsi kafein dapat meningkatkan denyut jantung, memicu gangguan irama jantung, atau memperberat kondisi yang sudah ada. Dampaknya sangat bergantung pada jenis penyakit, kondisi pasien, serta faktor lain yang menyertainya."

Nadia memperhatikan setiap penjelasan dengan saksama.

"Kalau begitu..."

ucapnya pelan.

"Pada hari itu Ayah sebenarnya meminum teh."

"Menurut keterangan pembantu, Bianca yang mengantarkan teh tersebut."

"Apakah mungkin di bawah teh itu terdapat kafein yang tidak terlihat?"

Dokter tidak langsung menjawab.

Beliau menyandarkan tubuhnya sejenak sebelum berkata dengan hati-hati.

"Dari sampel yang kami terima, kami hanya bisa menyimpulkan bahwa terdapat kandungan kafein."

"Kami tidak dapat memastikan bagaimana kafein itu masuk ke dalam minuman, apakah berasal dari kopi, campuran bahan lain yang mengandung kafein, atau karena penggunaan cangkir yang sebelumnya berisi minuman berkafein."

"Hal-hal tersebut tidak dapat dibuktikan hanya dari pemeriksaan laboratorium terhadap sampel ini."

Nadia mengangguk pelan.

"Namun..."

lanjut dokter.

"Yang menarik adalah komposisi kafein dalam sampel ini tidak sepenuhnya menyerupai kopi hitam yang umum dikonsumsi."

"Artinya?"

tanya Nadia.

"Artinya kami tidak bisa menyimpulkan bahwa sumber kafein itu pasti berasal dari kopi biasa."

"Bisa saja berasal dari produk lain yang mengandung kafein, atau merupakan campuran dengan minuman lain."

Dokter kemudian menatap Nadia dengan serius.

"Satu hal yang perlu saya tekankan."

"Hasil laboratorium ini tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan penyebab kematian seseorang."

"Untuk mengetahui apakah suatu zat benar-benar berperan dalam kematian, diperlukan pemeriksaan forensik yang jauh lebih lengkap serta dikaitkan dengan riwayat medis, kondisi korban, dan bukti-bukti lainnya."

Ruangan mendadak terasa sunyi.

Nadia menatap lembar hasil pemeriksaan di tangannya.

Setidaknya kini ia mengetahui bahwa memang ada kandungan kafein dalam sampel tersebut.

Namun hasil itu belum membuktikan adanya tindak kejahatan.

Belum membuktikan siapa yang bertanggung jawab.

Dan belum menjelaskan mengapa kafein itu berada di dalam cangkir milik mantan ayah mertuanya.

Ia menarik napas panjang.

Satu pertanyaan memang mulai terjawab.

Tetapi di saat yang sama, semakin banyak pertanyaan baru yang muncul, membuat teka-teki di balik kematian pria yang begitu dihormatinya itu justru terasa semakin rumit.

Nadia keluar dari ruang laboratorium dengan langkah yang jauh lebih pelan dibanding saat datang. Jemarinya menggenggam erat map berisi hasil pemeriksaan, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan yang saling bertabrakan. Hasil laboratorium memang memastikan adanya kandungan kafein dalam sampel yang dibawa Anna, tetapi sama sekali belum menjawab bagaimana zat itu bisa berada di dalam cangkir mantan ayah mertuanya.

Ia berhenti di taman rumah sakit, lalu duduk di sebuah bangku yang menghadap kolam kecil. Angin sore bertiup lembut, tetapi tidak mampu menenangkan pikirannya yang semakin kacau.

"Kalau memang yang diminum Ayah adalah teh..."

gumam Nadia pelan.

"Kenapa ada kandungan kafein yang terdeteksi?"

Ia mencoba mengingat kembali cerita Anna dan para pembantu.

Menurut pembantu, Bianca yang terakhir mengantarkan teh hangat kepada ayahnya. Setelah itu, ayah terlihat baik-baik saja. Namun beberapa jam kemudian ditemukan cangkir yang sama dengan sisa cairan yang mengandung kafein.

Nadia memejamkan mata.

Kemungkinannya terlalu banyak.

Apakah benar minuman yang diantar Bianca memang teh?

Ataukah setelah itu ada orang lain yang menggunakan cangkir tersebut?

Atau justru ada penjelasan lain yang belum mereka ketahui?

Semua pertanyaan itu berputar tanpa henti.

Sebagai seorang pengacara, Nadia sudah terbiasa menghadapi perkara yang penuh teka-teki. Ia tahu bahwa sebuah dugaan yang tampak masuk akal belum tentu benar. Bukti harus saling menguatkan, bukan hanya berdiri sendiri.

Ia mengembuskan napas panjang.

"Aku tidak boleh terburu-buru."

bisiknya.

"Hasil laboratorium ini hanya menunjukkan adanya kafein."

"Bukan menunjukkan siapa yang memberikannya."

Apalagi, ia teringat penjelasan dokter bahwa pemeriksaan tersebut tidak dapat menentukan penyebab kematian ataupun memastikan asal kafein tersebut.

Nadia menatap langit yang mulai berubah jingga.

Entah mengapa, hatinya mulai dipenuhi keraguan.

Bukan hanya terhadap Bianca.

Melainkan terhadap seluruh rangkaian kejadian sebelum mantan ayah mertuanya meninggal.

Rasanya masih ada potongan cerita yang hilang.

Potongan yang jika ditemukan, mungkin akan mengubah cara mereka memandang peristiwa itu.

Dengan hati yang masih dipenuhi tanda tanya, Nadia memasukkan kembali hasil pemeriksaan ke dalam map. Ia memutuskan untuk tidak menyampaikan kesimpulan apa pun kepada Anna sampai mereka memiliki bukti yang lebih kuat. Yang mereka butuhkan sekarang bukan tuduhan, melainkan fakta yang dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada hari itu.

Nadia baru saja melangkah keluar dari ruang laboratorium ketika seorang perawat memanggilnya dari belakang.

"Bu Nadia."

Nadia berhenti dan menoleh.

"Dokter meminta Ibu kembali sebentar."

Dengan perasaan bingung, Nadia kembali memasuki ruang konsultasi. Dokter yang tadi menjelaskan hasil pemeriksaan tampak sedang membuka beberapa berkas tambahan.

"Maaf, Bu Nadia."

ucap dokter dengan tenang.

"Ada satu hal yang ingin saya sampaikan setelah saya meninjau kembali hasil pemeriksaan."

Nadia kembali duduk.

"Ada apa, Dok?"

Dokter melipat kedua tangannya di atas meja.

"Saya melihat Ibu masih memiliki banyak keraguan mengenai asal kandungan kafein pada sampel tersebut."

Nadia mengangguk pelan.

"Karena hasil ini belum menjawab pertanyaan kami."

"Apakah benar yang diminum beliau teh, atau memang ada zat lain."

Dokter memahami kegelisahan itu.

"Untuk pemeriksaan yang lebih mendalam, memang ada laboratorium forensik dengan kemampuan analisis yang lebih luas."

jelasnya.

"Mereka dapat melakukan identifikasi kandungan zat secara lebih rinci, termasuk komponen-komponen yang mungkin tidak terdeteksi dalam pemeriksaan rutin."

Nadia memperhatikan dengan saksama.

"Kalau begitu..."

ucapnya.

"...apa sampel ini masih bisa diperiksa lagi?"

"Bisa saja."

jawab dokter.

"Asalkan sampelnya masih tersimpan dengan baik dan jumlahnya mencukupi."

"Kalau memungkinkan, benda yang bersentuhan langsung dengan minuman, seperti cangkir, juga dapat membantu pemeriksaan karena mungkin masih menyimpan sisa residu. Namun, kami tidak bisa memastikan sebelumnya apakah masih ada zat yang cukup untuk dianalisis."

Dokter kemudian menambahkan dengan nada hati-hati.

"Bila keluarga menginginkan pemeriksaan yang lebih komprehensif dan sesuai prosedur hukum, sampel dapat dikirim ke laboratorium rujukan yang memiliki fasilitas analisis forensik lebih lengkap, baik di dalam maupun di luar negeri, tergantung kebutuhan dan jalur pemeriksaan yang dipilih."

Nadia terdiam.

"Kalau mengenai penyebab kematian..."

tanyanya perlahan.

Dokter menggeleng.

"Itu berbeda."

"Tanpa pemeriksaan forensik terhadap jenazah atau bukti medis lain yang relevan, kami tidak bisa menyimpulkan bahwa suatu zat menjadi penyebab kematian."

"Karena itu, hasil laboratorium hanya merupakan salah satu potongan informasi, bukan jawaban akhir."

Ruangan kembali sunyi.

Nadia menggenggam map di pangkuannya.

"Terima kasih, Dok."

ucapnya pelan.

"Setidaknya sekarang saya tahu langkah berikutnya."

Dokter mengangguk.

"Saran saya, jika keluarga benar-benar menduga ada unsur yang tidak wajar, sebaiknya semua barang bukti disimpan dalam kondisi baik dan konsultasikan juga dengan pihak berwenang atau ahli forensik. Dengan begitu, setiap pemeriksaan yang dilakukan nantinya dapat dipertanggungjawabkan."

Nadia mengangguk pelan sebelum berdiri. Kini ia menyadari bahwa hasil laboratorium belum menuduh siapa pun, tetapi juga belum menutup kemungkinan apa pun. Yang terpenting sekarang adalah menjaga setiap barang bukti dan mencari kebenaran melalui prosedur yang tepat, bukan melalui prasangka.

1
Mundri Astuti
fix ni mah kerjaan Bianca, keliatannya lemah ni org, tapi liciknya luar biasa
Mundri Astuti
emang ...ga ngotak si klo mo berkhianat, kan semuanya kena imbasnya, tu perempuan pilihan kamu
Mundri Astuti
ulah Bianca lagi ke nya, klo Iyya bener" ni org, masih aja ga da kapok"nya, oi ni tuh semua juga krn kamu
Mundri Astuti
si Adrian yg diingetnya calon anaknya yg sama Bianca, yg sama Nadia ga sama sekali, padahal sama" darah dagingnya juga, coba anak yg dikandung Bianca meninggal kira" gimana tu org yak🤔
Mundri Astuti
diiihhh bisa bisanya ngomong gitu, habis menghancurkan semuanya...karmanya yg kejam thor buat tu duo dajjal
Mundri Astuti
bagusnya pasangan duo laknat ini masuk bui, dan dpt sangsi sosial, selama ini Nadia yg kena getahnya padahal mereka yg berbuat
Mundri Astuti
woahhhh pasangan duo laknat ternyata...sama" mencapai ambisinya sendiri
Mundri Astuti
semoga lekas terungkap, dan karma tu duo dajjal
Mundri Astuti
hati" Anna, kamu dah bicara terbuka, semestinya di simpan dulu sendiri sambil cari bukti..klo dah begini bakalan panik pelakunya dan mencoba menghilangkan brg bukti
Mundri Astuti
Adrian romannya yg nyelakain ayahnya sendiri...fix double kill ni mah karmanya thor
Mundri Astuti
mudah"an Nadia jadi sama Revano yg lebih segalanya, biar tau rasa si Adrian ...beuhhh Nadia tuh lebih berharga dari selingkuhannya
Mundri Astuti
Thor kasih Adrian dan selingkuhannya karna yg double kill, masih ga ada penyesalan dan ga ngerasa bersalah banget dia, padahal dia tau Nadia juga mengandung anaknya, dan posisinya sendiri krn pengkhianatan ya...

coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!