Berawal dari pertemuan yang tak sengaja di masa kecil, ternyata meninggalkan dampak besar bagi seorang pria tampan bernama Rengra.
Ia tak pernah menyangka, keputusannya untuk kabur demi menjauh dari hiruk pikuk masalah keluarga setelah kedua orang tuanya meninggal, justru mempertemukannya dengan Laura.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Akankah pertemuan itu benar-benar mengubah cara pandang Rengra terhadap seorang wanita?
Mari simak kisah mereka dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab ~ 31
Kedua wanita beda usia itu memasuki sebuah tokoh yang cukup terkenal di kota jakarta. Nuansa pertama kali yang salah satu wanita itu lihat, berdecak kagum. Ia tak henti-hentinya memindahkan bola matanya melihat deretan pakaian pengantin di dalam sana.
"Selamat datang Buk. Bisa saya bantu?" tanya salah satu pegawai tokoh itu.
"Arsya dimana dia?" tanya Ani yang menanyakannya salah satu temannya. Ya, Ani memiliki banyak teman yang berbagai profesi mereka geluti. Termasuk nama wanita yang ia sebutkan tadi.
"Ada di ruangannya Buk. Kebetulan tadi buk Arsya berpesan agar Ibu segera menghampirinya. Mari Buk, saya antar," balas wanita cantik lainnya yang menghampiri kedua wanita yang telah memiliki janji dengan ownernya.
Kedua insan itu sudah jelas langsung melangkah sembari melihat pakaian yang berjejer rapi di lemari kaca di sisi kiri dan kanan ruangan. Setelah sampai di bangunan paling atas mereka masih di sambut beberapa pakaian pengantin lainnya.
Laura tentu tak berhenti-henti memindahkan bola matanya untuk melihat semua pakaian itu. Ia ingin sekali menggunakan pakaian yang terbuka bagian atasnya. Akan tetapikan ia menggunakan hijab, tidak mungkin menggunakan pakaian terbuka itu.
"Silahkan masuk Buk," ucap pegawai yang telah membukakan pintu.
Ani tersenyum dengan ia segera masuk di ikuti Laura.
"Kenapa baru sampai Ni?" tanya Arsya yang beranjak dari kursi kebesarannya untuk menyambut kedua insan itu.
"Maaf tadi macet di jalan," jawab Ani sembari bersalaman dan berpelukan sekilas.
"Ini loh Sya, calon mantuku," ucap wanita itu sembari memegang tangan Laura. "Kenalkan, namanya Laura Anindia, calon istri Renggra," sambungnya dengan bangga, bisa memperkenalkan calon menantunya pada sahabatnya itu.
"Serius Ni?" Arsya terkejut mendengar ucapan sahabatnya yang akhirnya membawa calon pria yang sedang naik daun itu.
Arsya memang sedang menunggu-nunggu dan penasaran siapa wanita yang berhasil menembus jantung pria dingin yang pernah sesekali ia temui. Bahkan saat Arsya mengukur tubuh Renggra. Pria itu banyak diam dan irit bicara.
"Iya serius dong!" jawab Ani sembari tertawa ringan.
Arsya mendekati Laura. "Kenalkan nama saya Arsya Sukaisi, sahabatnya mertua Kamu." ia mengangkat tangannya mengajak Laura bersalaman.
Laura membalas dengan mencium punggung tangan Arsya. "Nama saya Laura Anindia, Buk," jawab Laura lemah lembut.
"Ah cantiknya Ni pilihan Kamu," ucap Arsya melepaskan tangan Laura dan memukul gemas bahu sahabatnya itu. "Orangnya cantik, baik, di tambah sopan lagi," pujinya.
Gadis itu tentu tersipu malu mendengar pujian itu. Ia selalu minder saat melihat cermin, jika harus berdampingan dengan sesosok pria yang terbilang tampannya tidak pernah luntur.
"Eh bukan saya, tapi Renggra sendiri yang memilih. Kalau saya yang pilih mana mau dia," seru Ani.
"Ah serius Ni?" tanya Arsya yang tak ingin mempercayai kabar baik itu. "Eh berarti kalian berdua diam-diam pacarannya," Arsya melihat Laura. "Tapi memang bagus begitu sih, dari pada di umbar bahaya juga. Banyak masalahnya! Berarti rumor yang beredar Renggra itu penyuka sesama jenis, nggak benar. Dasar mulut netizen, bikin geram aja," sambung wanita itu yang tampak sekali tidak bisa menyimpan perasaan bahagianya.
Ternyata pria yang berwajah dingin itu diam-diam mempunyai sisi lainnya juga. Arsya menjadi girang sendiri memikirkan bagaimana Renggra bersikap manis pada gadis di hadapannya itu.
"Aku aja terkejut dengan gosip miring itu. Tapi yah, semua akan terjawab sesaat Renggra akan menikah dengan Laura nanti," ucap Ani memanasi.
Sedangkan Laura hanya bisa tersenyum tipis dan terpaksa mendengar perkataan kedua wanita paruh baya di hadapannya itu.
"Benar itu Ni. Semoga aja hari itu menjadi hari patah hati sedunia," ucap Arsya yang membuat Laura menjadi bingung sendiri. "Mari kita buat Laura secantik mungkin," dukungan penuh yang wanita itu curahkan.
"Aku serahkan padamu sebagai ahlinya," ucap Ani bangga mempunyai sahabat yang saling membantu.
"Kau tenang aja Ni. Kau juga akan terpesona melihat penampilan gadis manis yang di poles sedikit aja sudah terlihat menggetarkan jiwa maupun raga," ucap Arsya yang seperti terdengar berlebihan di telinga Laura.
Ani mengangguk tak sabar. Gadis di sampingnya memang sudah sangat cantik. Tak perlu banyak hiasan saja sudah menjadikan gadis itu mempesona. Wanita paruh itu yakin, anak asuhnya pasti akan semakin jatuh hati pada gadisnya.