NovelToon NovelToon
ZOYA, Bidadari Tanpa Mahkota

ZOYA, Bidadari Tanpa Mahkota

Status: tamat
Genre:Angst / Tamat
Popularitas:62.1k
Nilai: 5
Nama Author: Isti Shaburu

Zoya, wanita muslimah cantik yang diperkosa oleh pria yang hendak ditolongnya. Setelah satu tahun kejadian naas tersebut, ia bangkit dan menjadi seorang guru ngaji di mushola dekat rumahnya. Bertemu dengan Zafran yang tak lain adalah Papah dari murid mengajinya sendiri hingga lambat laun Zafran mulai menyukainya dan berniat meminangnya.

Namun, di saat dirinya mulai membuka hatinya untuk Zafran, pria misterius itu muncul dan berniat untuk meminangnya. Di sisi lain, mantan istri Zafran pun kembali dan ingin membina rumah tangganya lagi.

Siapakah yang akan dipilih oleh Zoya? Apakah Zoya akan memilih Zafran atau pria yang telah menodainya itu? Dan apakah Zafran akan kembali pada istrinya atau tetap memilih Zoya sebagai istrinya?

ig: @istikomah50651

follow ig author yah untuk lihat visualnya🙏😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti Shaburu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31 > Rencana pernikahan

“Mas Zafran, Ibu, Ayah, bisa kita masuk. Ada yang ingin kubicarakan pada kalian semua,” pinta Zoya setelah Cakra dan Vin pergi.

Ayah, Ibu dan Zafran pun menurut, mereka masuk dan duduk di kursi memandang Zoya menunggu apa yang ingin dikatakan oleh wanita cantik itu.

“Kenapa, Kak?” tanya Ibu yang penasaran.

Zoya menarik napasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. Ada rasa gugup dalam hatinya saat ia akan mengatakan isi hatinya.

“Aku sudah mengambil keputusan tentang permintaan pinangan dari Mas Zafran,” ucap Zoya terdiam sejenak.

“Iya, lalu apa keputusanmu?” tanya Ibu kembali yang masih menunggu kelanjutan dari apa yang ingin Zoya sampaikan.

“Insya Allah, aku bersedia menerima pinangan dari Mas Zafran, tapi dengan syarat,” ucap Zoya terdiam lagi, Zafran sudah berbinar meski Zoya memberikan syarat.

“Apa syarat yang kau inginkan, Zoya? Insya Allah kalau aku sanggup, aku pasti akan memenuhinya,” tanya Zafran yang sudah sangat bahagia mendengar keputusan Zoya.

“Syarat aku tak muluk-muluk dan terlalu tinggi. Syarat aku hanya minta pernikahan kita tak perlu ada resepsi yang begitu mewah. Cukup ijab kabul dan selamatan saja sudah cukup yang penting sah dimata hukum dan agama,” ucap Zoya memberikan syarat yang diinginkannya.

“Kenapa? Aku berencana membuar resepsi yang meriah agar kau senang. Tapi jika itu yang kau inginkan, maka aku hanya bisa menurut saja, semua keputusan ada di tangan kamu.” Zafran sempat bertanya karena bingung, tapi sepersekian detik kemudian Zafran menyetujui permintaan Zoya karena ia tak ingin membebani Zoya dengan yang tak ia inginkan.

“Tak ada alasan khusus, aku hanya tak ingin saja. Terima kasih kalau Mas Zafran bersedia memenuhinya. Untuk hari baiknya, aku serahkan pada Ayah dan Ibu saja,” ucap Zoya yang telah selesai dengan ucapannya.

Ibu, Ayah dan Zafran di waktu menjelang siang itu membicarakan perihal pernikahan Zafran dan Zoya. Zoya tak ikut ambil keputusan, ia hanya diam menyimak saja. Ia sudah memberikan keputusan itu pada kedua orang tuanya dan juga calon suaminya.

Zoya larut dalam pikirannya, ia sedang memikirkan apakah ia bisa menjadi seorang istri bagi suaminya nanti. Apakah ia bisa menjalankan kewajibannya nanti saat malam pertama. Pikiran Zoya melayang pada bagaimana saat mereka melakukan malam pengantin nantinya, apakah ia siap, apakah ia tak akan terbayang akan kejadian itu.

Ah, entahlah. Zoya berharap semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan apa pun. Ia juga berharap traumanya akan benar-benar hilang setelah bertemu dengan Cakra dan memaafkannya. Bukan perkara mudah memang untuknya memaafkan pria yang telah merenggut mahkotanya, tapi ia tak boleh menyimpan dendam dan sakit hati itu, semuanya sudah ia serahkan pada Rabb-Nya.

Azan zuhur berkumandang membuat mereka yang asyik berdiskusi membicarakan pernikahan yang telah dinanti menghentikan ucapan mereka. Mereka bangkit dan bergegas untuk menuju mushola guna menunaikan empat rakaatnya. Setelah selesai salat mereka makan siang bersama dan Zafran berpamitan untuk pulang ke kediamannya guna menyiapkan apa yang diperlukannya mumpung sedang libur kerja.

“Bu, Pak, Zoya, aku pamit dulu. Beberapa kebutuhan yang tak terlalu rumit bisa aku siapkan sendiri, mumpung hari libur. Jadi nanti saat hari H-nya sudah tak terlalu repot,” pamit Zafran.

Tanggal pernikahan Zoya dan Zafran sudah ditentukan setelah mereka berdiskusi. Zoya dan Zafran akan menikah dua minggu kemudian, atau lebih tepatnya satu minggu awal bulan. Bagi mereka, lebih cepat akan lebih baik karena bisa menghindari sesuatu yang tak dinginkan.

“Apakah aku harus ikut?” tanya Zoya.

“Kalau kamu tak sibuk, aku tak akan memaksa juga,” sahut Zafran.

“Acara pernikahan kita sangat singkat waktunya, jadi kalau ada waktu senggang mencari bersama akan lebih baik, siapa tahu akan lebih membantu. Bukankah berdua lebih baik daripada sendiri?” ucap Zoya dengan lembut, Zafran tersenyum, ia selalu merasa terpesona pada wanita cantik berhijab itu.

Meski penampilan Zoya tak semenarik Nesa yang berpenampilan mencolok, tapi bagi pria yang memiliki selera tinggi, Zoya sangatlah cantik dan memesona. Pesonanya akan sangat terpancar saat ia sedang bersama dengan anak-anak mengajarinya mengaji maupun saat sedang mengajari anak-anak melakukan pekerjaan kerajinan tangan.

“Kalau menurutmu seperti itu, aku hanya bisa setuju saja.”

“Sebentar yah, Mas. Aku ambil tas dan bertanya pada Nafisah dulu, apakah dia ingin ikut atau tidak. Dia sedari tadi sangat anteng bermain dengan Fahmi, bahkan setelah selesi merajut bersama dengan anak-anak lainnya,” pamit Zoya, ia masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil tasnya, tak lupa ia juga menghampiri Nafisah dan Fahmi yang berada diruang televisi.

“Dek, Nafisah tidur?” tanya Zoya saat ia mendekat pada adik dan calon putrinya, Fahmi menganggukkan kepalanya.

“Ya sudah, Kakak mau pergi dulu, titip Nafisah yah. Kalau bangun katakan padanya kalau Kakak pergi sama Papahnya untuk belanja. Nanti pulangnya akan Kakak belikan jajan,” ucap Zoya memberitahu kalau ia akan pergi dengan Zafran.

“Siap, Kak. Pulangnya belikan aku siomay atau batagor yah, pingin ngemil nih.” Fahmi menitip dibelikan makanan.

“Tenang saja, nanti Kakak belikan. Ya sudah, Kakak pergi dulu yah, titip Nafisah yah, assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Zoya pergi setelah berpamitan pada sang adik dan membelai rambut Nafisah yang sedang terlelap.

“Ayu pergi, Mas. Nafisah tidur, aku sudah titip pesan pada Fahmi untuk menjaganya,” ajak Zoya pada Zafran, tak lupa ia mengatakan keadaan putrinya. “Bu, Yah, aku dan Mas Zafran pergi dulu yah.” Zoya mencium punggung tangan Ibu dan Ayah bergantian, begitu juga dengan Zafran.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Zoya dan Zafran pergi meninggalkan kediaman orang tua Zoya. Sekitar setengah jam lamanya, mereka sudah sampai di pusat perbelanjaan terbesar di kota Jayasari. Zafran mengajak Zoya untuk membeli perlengkapan untuk selamatan acara pernikahannya nanti yang berbahan tahan lama dulu, bahan untuk makanan mungkin akan mereka pesan beberapa hari sebelum hari H.

Zafran juga mengajak Zoya ke butik terdekat untuk membeli kebaya pernikahan mereka, Zoya memilih satu kebaya sederhana berwarna putih bersih dan Zafran membeli kemeja putih untuk digunakan ijab, karena Zoya tak ingin ada kemewahan, jadi Zafran memutuskan untuk mengenakan kemeja saja.

Tak terasa hari hampir gelap karena mereka asyik berkeliling pusat perbelanjaan dan terakhir pergi ke butik terdekat guna membeli kebaya. Semua yang bisa dibeli, Zafran membelinya semua karena ia sadar pernikahannya dadakan dan hanya waktu dua minggu saja. Zafran yang belum mengajukan cuti hanya bisa memanfaatkan hari liburnya untuk berbelanja.

“Kita salat magrib dulu, setelah makan malam baru kita pulang,” ucap Zafran setelah memasukkan semua belanjaannya ke dalam mobil.

“Sebelum pulang nanti, mampir ke tempat biasa aku membeli siomay yah. Fahmi meminta dibelikan siomay atau batagor soalnya,” pinta Zoya.

“Baiklah.”

Mobil melaju mencari sebuah masjid terdekat karena sebentar lagi azan magrib akan berkumandang. Setelah selesai dengan salat magrib, makan malam dan membeli pesanan Fahmi, keduanya langsung pulang karena sudah sangat lelah.

1
Samsiah Yuliana
semoga ada Istikomah lagi, dan mas Cakra yg ada di dlm bqyang² mimpi nya Zoya
Sabilnur Alif
tp cerita Cakra menghilang 😞😞
Samsiah Yuliana: yaaah, kmana itu mas Cakra 🙈
total 1 replies
Sabilnur Alif
apakah mgkn Nafisah sma Fahmi???🤔🤔
Sabilnur Alif
knp Zoya lbh memilih dgn zafran 😞😞..apa nga mikir dampak ke depan nya??
Sabilnur Alif
😱😱😱licik nya nesaaaaaa..hamil dgn siapa dn mau rujuk sma mantan suami 🤦🤦
Sabilnur Alif
ya Allah.. apakah Zoya akan ttp memilih buat menikah dengan zafran??
Sabilnur Alif
klo Zoya nikah SMA zafran..yg ada Zoya di teror trus sma si nesa..lbh baik Zoya SMA cakara aja
Sabilnur Alif
udaahh zoyaaaa..sma Cakra aja
Sabilnur Alif
semoga shlt istiqoroh nya bertemu dgn Cakra.. aamiin
Sabilnur Alif
semangat "Fahmi..semoga Cakra cepeta bertemu zoyaaaa...dn mereka berjodoh
Sabilnur Alif
janggann zoyaaa..sma Cakra aja, takut nya klo SMA zafran ada ke khilafahan yg akan terjadi..krna tdk mendapatkan mahkota kamu zoya
Sabilnur Alif
moga aja Cakra sma Zoya berjodoh yahh
Ina awaliyah
ceritanya baguusss...terus semangat author
Sri Irayani
iy kk,,, ksian si cakra cinta ditolak
Rafa Pratama
😀😀😀
Nayra Syafira Ahzahra
baru mampir thor😊😊😊
Isti Shaburu: terima kasih kak🙏😊🤗
total 1 replies
Aas Azah
kasihan Cakra thor 😔
Isti Shaburu: mari kita hibur cakra kak😔
total 1 replies
Kak Jum
semoga aja dgn cakra..
Ratna Anggraeni
kok gk jdi sama pak Cakra thour ,.,.😭😭😭
Ratna Anggraeni
jeng,.jeng,.jeng,.,bersambung,.,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!