Kisah seorang wanita bernama Alexi yang memulai perjalanan hidup kembali ke masa lalunya. Setelah mengalami kekerasan dalam rumah tangga dia diberikan kesempatan kedua untuk menjalani hidupnya. Dia dikembalikan lagi ke sepuluh tahun sebelum kejadian tragis itu terjadi. Saat dia sadar tiba-tiba dia sudah ada dikamar kos tempat dia tinggal dulu. Alexi yang kebingungan dengan apa yang terjadi mulai mencari kenapa hal ini bisa terjadi padanya. Kenapa pula ada sistem aneh seperti yang ada dinovel-novel yang dia baca. Apakah dia bisa merubah kejadian buruk yang menimpanya dibantu sistem aneh tersebut. Perlahan Alexi mencari tahu dan mulai menjalani hidup yang sangat berbeda dari sebelumnya. Apa yang akan selanjutnya terjadi pada Alexi. Akankah dia bisa menjalani hidup yang berbeda atau sebaliknya. Dan mampukah dia percaya kembali dengan sesuatu yang disebut cinta setelah apa yang menimpanya. Atau dia hanya akan menjalani hidup baru tanpa adanya seseorang disampingnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amy collections, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan bersama
Saat aku berjalan pergi meninggalkan mereka berdua tiba-tiba ada tangan yang meraih tanganku. Dalam hati aku berkata, " mau apa lagi sih orang lagi laper masih aja ditahan."
Aku menoleh ke arah Leonard dan memasang wajah agak kesal. Leonard yang melihat wajahku tersenyum kemudian melepaskan tanganku. Dia kemudian membiarkan aku pergi.
Tapi apa yang terjadi sekarang ini? Kenapa aku bisa duduk bersama mereka berdua di sebuah restoran. Ini semua terjadi karena tak lama setelah aku keluar dari ruangan itu mereka berdua menyusul dan mengikutiku.
Tak lama setelah sampai di restoran, datang seorang pramusaji menghampiri kami. Dia datang membawa sebuah menu untuk ditunjukkan pada kami. Kami mulai memilih-milih beberapa makanan untuk dipesan.
Setelah kami menentukan makanan pramusaji segera meninggalkan kami dan menyiapkan pesanan. Saat menunggu makanan datang kami bertiga hanya diam. Terlebih dokter Abi yang terlihat begitu canggung. Aku mencoba membaca suasana dengan memulai sebuah pembicaraan.
"Dokter abis sama Leonard sudah kena lama?"
"Bisa dibilang sangat lama, kami berdua sudah saling mengenal saat kami masih kecil."
"Oh begitu, teman kecil."
"Kamu sendiri sama Leonard sudah kenal lama? Kenapa dia tidak pernah bercerita apapun tentang kamu."
"Belum lama baru beberapa waktu ini, lagi pula Kenapa Leonard harus bercerita tentang saya. Saya sendiri juga baru ketemu Leonard beberapa kali."
" Oh gitu ya." jawab dokter Abi sambil melirikkan matanya ke arah Leonard seakan-akan ada ribuan pertanyaan yang siap dia lontarkan.
Pesanan kami akhirnya datang juga. Kami kemudian menikmati makanan yang ada. Setelah selesai kami berjalan bersama untuk kembali ke rumah sakit. Dokter Abi juga berpesan kepadaku untuk membiarkan Thea beristirahat di rumah terlebih dahulu.
Aku juga setuju dengan saran dari dokter Abi, memang Thea saat ini membutuhkan istirahat total di rumah. Saat aku berbicara bersama dokter Abi mengenai kondisi Thea tiba-tiba Leonard menyela obrolan kami.
"Memang temanmu sudah boleh diizinkan pulang? Tanya Leonard kepadaku.
"Iya kebetulan, siang ini dia sudah diizinkan pulang."
"Ya sudah, nanti sekalian saja pulangnya bareng sama aku. Kamu kan tidak bawa mobil."
"Memang nggak bawa mobil sih, tapi nanti aku sama Thea bisa naik taksi."
"Repot banget sih, nanti tinggal bareng aku aja sekalian aku jalan pulang."
"Ya udah deh, nanti sampai di rumah sakit aku mengurus administrasi dulu."
"Iya, nanti aku temenin."
"Nggak usah lah ngapain Leonard! Aku bisa mengurusnya sendiri."
"Biar nggak kelamaan, kalau aku kan sudah tahu seluk beluk rumah sakit ini sedangkan kamu masih harus mencarinya. Jadi nanti kita bisa langsung pulang."
"Iya juga sih, ya udah deh nggak apa-apa."
Sesampainya di rumah sakit kita berpisah dengan dokter Abi. Aku dan Leonard kemudian pergi menuju tempat administrasi. Kami berjalan menyusuri lorong yang cukup panjang. Aku yang tidak tahu arah di rumah sakit ini hanya mengikuti Leonard.
Benar apa yang dikatakan Leonard, aku tidak perlu repot-repot mencari ruangan administrasi dan langsung sampai di sana. Aku kemudian bertanya tentang rincian administrasi kepada petugas dan segera membayarnya. Aku menyodorkan kartu dan petugas itu segera memprosesnya.
Tak lama kemudian proses pembayaran selesai dan aku beserta Leonard pergi menuju kamar Thea. Sesampainya di kamar Thea aku langsung mengenalkan Leonard padanya. Thea menyambut Leonard dengan hangat.
Setelah beberapa saat mereka mengobrol aku memberitahu pada Thea bahwa hari ini dia sudah bisa pulang. Mendengar kabar itu Thea terlihat gembira, senyuman memancar dari wajahnya.
Tetapi sebelum itu aku bertanya pada Thea apa ibu panti tahu bahwa dia saat ini dirawat di rumah sakit. Thea melihat ke arahku dan menggelengkan kepalanya. Sudah aku duga, mendengar cerita sebelumnya dari Thea tampaknya Ibu Sari sangat menyayangi Thea jadi tidak mungkin kalau dia tahu bahwa Thea sedang di rumah sakit dan tidak datang kemari.
"Apa kamu sengaja tidak mengabari buu Sari?" aku bertanya kepada tea yang masih menatap wajahku.
"Iya bu saya takut ibu Sari khawatir, Lagi pula kalau ibu Sari tahu bahwa aku dirawat di sini dia pasti akan kerepotan."
"Kalau begitu tidak mungkin kan kamu pulang ke sana?"
"Iya Ibu Alexi benar, tapi Ibu tidak perlu khawatir Ibu bisa Mengantarkan saya ke tempat kos saja. Lagi pula saya sudah sehat Jadi saya bisa mengurus diri saya sendiri."
Aku menatap ke wajah Thea sambil berpikir. Tidak mungkin aku membiarkan Thea yang masih dalam kondisi seperti itu sendirian. Apalagi kasus ini belum dilaporkan ke kantor polisi atau ditindaklanjuti. Aku khawatir kedua adik tiri tea akan mengulangi hal yang sama. Apalagi mereka tahu alamat panti dan juga tempat kos Thea.
Aku yang bingung lalu berjalan ke arah sofa dan duduk di sana. Sejenak aku duduk diam dan berpikir dimana aku bisa mengantarkan Thea pulang Tetapi tempat itu aman untuknya. Terlebih lagi setidaknya ada yang mengawasi Thea.
Aku kemudian memiliki ide dalam benakku. Aku mengambil handphone yang ada di tas kemudian keluar dari ruangan. Aku meninggalkan Leonard dan Thea di sana.
Leonard yang merasa canggung berteriak dan bertanya padaku bahwa aku akan pergi ke mana? Sambil berjalan keluar Aku mengatakan bahwa aku ingin menelpon sebentar. Setelah aku keluar sepertinya suasananya semakin canggung.
Aku pergi meninggalkan mereka berdua, Aku kemudian menelpon ibu Ika. Ibu Ika ini adalah pemilik kos di mana aku tinggal saat ini. Aku berharap masih ada satu kamar yang bisa ditinggali Thea untuk sementara waktu.
Tut! Tut! Nada telepon berbunyi, aku menunggu ibu Ika mengangkat teleponku. Tak lama kemudian akhirnya teleponku diangkat.
" Kenapa Alexi? Tumben sekali kamu telepon Ibu."
"Iya bu Ika, ada hal yang ingin saya tanyakan pada ibu."
"Kamu tidak sedang di kantor polisi dan berharap ibu datang ke sana sebagai wali kamu karena kamu tidak bisa keluar tanpa wali!" Teriak Ibu Ika.
"Ibu ini selalu saja pikirannya kemana-mana."
"Baguslah kalau bukan karena itu. Lalu ada apa?"
"Ada seorang temanku yang ingin tinggal di tempat kost ibu, Apa masih ada kamar kosong?"
"Ada sih, tapi masih berantakan. Kapan dia akan datang biar Ibu bereskan terlebih dahulu."
"Rencananya kita akan pergi pulang sekarang."
"Ya sudah Ibu beres-beres dulu." Ibu Ika langsung menutup telepon tanpa basa-basi.
Langsung ditutup? Tanyaku dalam hati sambil melihat ke arah telepon yang ternyata sudah langsung dimatikan oleh ibu Ika. Setelah selesai bicara dengan ibu Ika aku bergegas masuk ke kamar Thea.
Sebelum berangkat menuju tempat kost aku akan mengatakannya dulu pada Thea Semoga dia menyetujui ade dariku. Walaupun kalau dia tidak setuju aku akan sedikit memaksa. Ini semua demi kebaikannya.