Alana seorang gadis cantik penderita Tryphanophobia atau takut akan jarum suntik.
Menikah dikarenakan perjodohan
Dengan dokter muda yang bernama Dava Agatha mahesa
Dava tidak mungkin menolak keinginan ibu tersayang nya sehingga dia menerima perjodohan ini
Dia si gadis polos pecinta coklat dan warna pink.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Dava mengusap rambutnya dengan handuk membuat kadar ketampanannya meningkat, Alana melihat dengan senang pemandangan itu.
"Gitu banget ngelihatinnya," ucap Dava langsung membuat Alana melahap rotinya.
Dava menarik kursi didepan Alana, meminum susunya.
"Jadi kan?" tanya Alana setelah sarapan.
"Iya."
"Gak sabar pengen liat pemandangan pantai, terus minum es kelapa di sana," ucap Alana memandang pantai.
"Jauh-jauh ke lombok cuma pengen minum es kelapa."
"Ehh ngga gitu," ucap Alana.
Alana membereskan tempat tidurnya lalu mengambil sepatu kets miliknya, sedangkan Dava hanya memakai sendal jepit swallow.
Pakaian yang dipakai Alana adalah, kaus panjang dengan celana bahan. Sedangkan Dava memakai kaus santai, celana pendek dan sandal jepit. Pakaian sederhana yang di pakai Dava tetap membuat ketampanannya terjaga.
"Ayok mas," ajak Alana di depan pintu.
"Yuk."
Setelah turun dari lift tiba-tiba ada perempuan yang menabrak Dava.
"Duh maaf ngga sengaja." ucap perempuan itu
"Hm"balas Dava dingin.
Alana aneh dengan Dava, ia akan bersifat dingin kepada perempuan yang ia tidak kenal. Tapi, saat bersamanya Dava akan bersifat hangat dan manja.
Bukannya cepat pergi perempuan itu malah menatap Dava dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa lagi?" tanya Dava.
"Ngga apa-apa." jawabnya lalu pergi dari hadapan Dava.
Alana menatap kepergian perempuan itu, pikirannya berputar saat kali Alana bertemu dengan Dava.
"kamu kenapa?" tanya Dava sembari melanjutkan langkahnya.
"Aku jadi inget pas pertama kali aku ketemu kamu," ucap Alana sambil mengingat betapa bodohnya ia dulu tak sopan meninggalkan Dava begitu saja.
"Aku jadi inget sama gadis kecil yang teriak pas disuntik padahal belum ketusuk," ucap Dava sambil tertawa.
"Jangan bahas itu," jawab Alana, ia sangat malas membahas masalah itu.
"iya siap nyonya Mahesa yang terhormat," ucap Dava sambil mencubit hidung Alana.
Mereka sudah sampai di pantai, Alana langsung melepaskan genggamannya dan langsung berlari menuju pantai. Matanya berbinar melihat pantai yang begitu indah, dan air yang sangat jernih.
Alana merentangkan tangannya membiarkan tubuhnya diterpa angin pantai. Dava menghampiri Alana dan memeluk nya dari belakang membuat Alana tersenyum.
"indah ya pantainya." ucap Alana.
"Sangat indah, apalagi ada kamu." ucap Dava.
"Aw, romantia ya."
"Pantai serasa milik berdua, yang lain cuma lewat."
Alana dan Dava melirik kepada dua anak muda yang berbisik tadi, mungkin adalah sepasang kekasih. Saat ditatap seperti itu, keduanya langsung pergi dari hadapan Dava.
"Mau gimanapun kita gak bakal ada yang larang, gak akan dosa." ucap Dava masih setia memeluk Alana.
"Mas, Alana pengen beli itu," tunjuk Alana kepada tukang es kelapa di pinggir pantai.
Dengan segera Dava mengikuti langkah Alana dari belakang.
"Bang es nya dua ya," Alana memesan
"Iya neng," jawab si penjual es.
Alana dan Dava duduk di saung, menatap pantai yang ramai oleh pengunjung.
"kalian pengantin baru ya?" ucap penjual es sambil menaruh es kelapa di meja.
"iya, dua bulan." ucap Alana.
"Pantes lengket banget,"
"kita ngga pake lem kok, mas." jawab Alana.
Si tukang es bingung dengan jawaban yang diberi Alana.
"Maaf mas, istri saya gak paham apa yang anda bilang," Dava memberi pengertian kepada penjual.
Mata Dava terfokus kepada penjual riasan kepala.
"kamu tunggu sebentar disini jangan kemana-mana!" perintah Dava kepada Alana.
"Mas mau kemana?"
"Sebenatar aja kok."
Alana mengangguk saja menatap punggung Dava lalu menatap pantai kembali, Alana sangat menikmati es kelapanya.
Alana kaget saat ada seseorang yang meletakkan sesuatu di atas kepalanya, ternyata dia adalah Dava.
Tangan Alana meraba aksesoris yang melekat di kepalanya.
"Cantik," ucap Dava membuat Alana menatap Dava.
"Makasih mas," ucap Alana sambil tersenyum.
"Sama-sama."jawab Dava.
Setelah selesai acara minum es kelapa Dava langsung membayarnya, matahari sangat terik tapi, tak membuat semangat Alana surut.
Keduanya berjalan bergandengan ditepi pantai, dari tadi Dava terus menatap Alana dengan senyuman.
Langakah Alana berhenti, melepaskan genggaman tangannya dan mengambil sebuah kayu. Alana berjongkok dan menulis sebuah nama disana, Dava tersenyum melihat kata yang disebut oleh Alana. Sederhana memang tapi membuat Dava bahagia. Sebuah tulisan tangan yang bertuliskan Dava is mine.
"mas Alana sayang kamu, terima kasih udab mau bertahan atas sikap aku. Maafin aku kalo aku ngeyel, gak nurut, sering bikin kamu marah," ucap Alana sambil menangis.
"Aku seneng bisa tau segala hal tentang kamu, hidup berdua sama kamu, satu lagi,"
"Apa itu?" tanya Alana ingin tahu.
"Hanya air mata kebahagian yang boleh keluar dari mata kamu," ucap Dava sambil mengusap air mata Alana.
®®®®
Jam sudah menunjukkan pukul 17:10 tapi Alana dan Dava maish asik bermain air.
"mas udah,"teriak Alana kesal saat Dava masih asik mencipratkan air padanya.
"Gak mau."
Dengan tenaga ekstra Alana mencubit perut Dava dengan kencang membuat si empu meringis kesakitan.
"Aw sakit sayang."ucap Dava menggenggam tangan Akana agar berhenti mencubitnya.
Senyuman jahil terbit di bibir Dava, dan sekarang Dava lah yang menggelitik perut Alana.
"mas berhenti ka,,, mu cu,,, rang hahaha" ucap Alana yang tak henti-hentinya tertawa.
Dava menghentikannya, hal itu mengingatkannya pada seseorang. Tiba-tiba saja Dava menjadi diam menatap kedepan.
"Kamu kenapa?" tanya Alana membuat Dava menatapnya sambil tersenyum.
"Gak apa-apa kok." jawab Dava lalu kembali berenang.
"Mas udah yuk." ajak Alana.
"Sebentar lagi." ucap Dava sambil menggelamkan kepalanya setengah.
Alana mengambil handphone miliknya dan memotret Dava, Alana menatap puas hasil jepretannya.
Mengapa Alana merasa bahwa tatapan wajah Dava berubah saat ia sampai di sini. Alana merasa bahwa ada hal yang disembunyikan olehnya.
Sebenarnya waktu malam itu Alana tak benar-benar tidur, ia masih sempat mendengar gumaman Dava saat ia di balkon. Tidak terlalu jelas namun Alana masih bisa mendengar kata dia dalam mulut Dava.
Alana tak akan memaksa Dava untuk menceritakan segalanya, Alana akan setia menunggu sampai Dava menceritakan semuanya. Apa gunanya seorang istri jika tidak bisa menjadi pendengar yang baik untuk suaminya.
"Yuk udah mau magrib." ucap Dava mengulurkan tangannya di depan wajah Alana, dan tentu saja Alana membalasnya.
Mereka berjalan ke dalam hotel tanpa ada kata yang keluar dari mulut keduanya. Mereka sama-sama diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
Alana segera berlari ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, sedangkan Dava menatap pantai yang kian menggelap karena matahari sudah mau digantikan dengan bulan.
"Bahkan sampai saat ini aku masih terus berharap kita bertemu." ucap Dava sambil menutup jendelanya.
"bertemu siapa mas?"
Dava kaget saat melihat Alana yang sedang mengeringkan rambut dan menatap Dava intens. Sakit itulah yang Alana rasakan sekarang, sakit karena ada suatu hal yang Dava sembunyikan, dan sakit karena Alana yakin kata tersebut untuk perempuan.
"udah mandinya? Mas mau mandi dulu." ucap Dava berusaha mengalihkan pembicaraannya.
"Tujuan kita kesini cuma buat kamu inget sama orang lain? Bahkan pas sama aku kamu beda banget. Kalo kayak gitu mending kita pulang mas." ucap Alana final membuat Dava langsung menggeleng.
"Maaf, mas gak ada maksud kayak gitu." ucap Dava merasa bersalah, betapa bodohnya ia. Sudah helas-jelas ada perempuan yang sudah menjadi bagian dari hatinya tapi, ia malah memikirkan orang lain.
Dava masuk kedalam kamar mandi, membersihkan diri dan mengambil wudhu. Adzan maghrib sudah berkumandang, Alana susah siap dengan mukenahnya. Alana tinggal menunggu Dava keluar dari kamar mandi.
Tak butuh waktu lama Dava sudah keluar dengan baju koko dan kopiah di kepalanya. Alana menyiapkan sajadah untuk mereka berdua shalat.
Setelah shalat Alana meraih tangan Dava dan menciumnya, sebenarnya Alana masih badmood kepada Dava.
Alana merapikan sajadahnya dan melipat kembali mukenahnya. Alana duduk di meja rias untuk menyisir rambut panjangnya.
"Nanti kamu kebawah duluan ya." ucap Dava.
"kenapa?" tanya Alana masih terus menyisir rambutnya menatap Dava dari kaca.
"Aku masih ada urusan." jawab Dava.
"oh, oke." jawab Alana yang langsung mengambil tas selempang miliknya.
Sebenarnya Dava mempunyai rencana, dengan sengaja ia tidak membujuk Alana padahal sudah jelas bahwa Alana sedang dalam keadaan ngambek.
'Tuh kan aku gak di bujuk. Malesin.'-batin Alana menggerutu.