Langkah yang ku tempuh sudah terlalu jauh, tetapi sepertinya tidak berujung...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Di dalam bandara, Renata
sudah bergabung dengan teman-temannya yang rupanya juga sudah ngumpul. Renata
sebenarnya kurang nyaman juga karena Tia batal ikut.
Begitu melihat kedatangan
Renata, Erwin berdiri dan menunjuk kursi kosong di sebelahnya untuk duduk
Renata di ruang tunggu. Dengan terpaksa, Renatapun duduk di sebelah Erwin.
“Tia katanya batal
berangkat ya Ren..” Kata Erwin membuka pembicaraan.
“Iya pak,dari kemaren
siang kena diare..”
“Kasihan juga ya. Gimana
urusan hotel, sudah beres semua kan?”
“Sudah pak...”
Tak lama kemudian, pengumuman
untuk boarding terdengar. Semua penumpang berdiri dan antre untuk masuk ke
dalam pesawat.
Hari pertama dan kedua di
Surabaya benar-benar sangat sibuk untuk Renata. Apalagi pekerjaan Tia harus dia
handel juga, bahkan masuk hotelpun, hari sudah larut malam. Hari ke tiga
pekerjaan sudah mulai berkurang, Renata merasa sedikit lega, karena tidak harus
sampai larut malam, tapi tetap saja hari sudah gelap ketika mereka sampai di hotel.
“Rena nanti kita turun
makan malam di restaurant ya...” Kata Erwin begitu masuk lobby hotel, yang
menahan langkah Renata, sementara teman-teman yang lainnya ijin untuk langsung
masuk ke kamar masing-maing.
“Maaf pak...saya gak
makan, mau langsung tidur aja. Gak enak badan..” Jawab Renata.
“Kenapa..? Kamu
sakit...?” Tanya Erwin khawatir.
“Sedikit pusing pak..”
“Aku antar ke dokter..?”
“Nggak usah pak, trimakasih.
Saya masih ada obat kok. Buat tidur juga sembuh..”
“Renata...aku merasa
bertanggungjawab kalau kamu sampai sakit. Aku leader di sini. Dan kamu lupa ya,
sekarang sudah di luar jam kerja, tapi kamu masih panggil pak.” Kata Erwin
sedikit keras.
“Pak...eeeemm...mas...saya
tidak apa-apa. Hanya mungkin karena capek saja.”
“Oke. Terus kamu mau makan
apa, biar aku pesankan.”
“Nanti saja mas kalau saya
selesai mandi. Biar saya pesan sendiri. Makasih mas.”
“Baiklah, tapi kalau ada
apa-apa, kasih tau ya..” Pesan Erwin.
“Iya mas. Makasih. Mari saya
duluan..” Jawab Renata kemudian pergi meninggalkan Erwin. Renata berjalan ke
arah lift menuju kamarnya.
Sampai di kamar, dia
langsung membuka sepatu dan merebahkan badannya di ranjang tanpa mengganti
bajunya dulu. Badannya benar-benar merasa capek. Sebenarnya dia juga merasa
lapar, tapi Renata tidak mau makan berdua dengan Erwin. Dia tidak mau berinteraksi
terlalu jauh dengan Erwin. Dia tidak mau terlalu memberi harapan pada Erwin.
Sekarangpun dia sudah tidak enak dengan Bram karena sudah melangkah lebih jauh,
meskipun hatinya belum bisa menerima kehadiran Bram. Adhitya.... Lagi-lagi nama
itu melintas dalam pikirannya. Kenapa sesakit ini bila mengingat namanya?
Kenapa kalau aku mau melupakan nama itu, justru semakin sering muncul
bayangannya tiba-tiba? Ya Tuhan.... bantu aku untuk bisa melupakannya. Tolong aku
untuk membuang rasa sakit hatiku, rasa dendamku. Aku mau berdamai dengan hatiku.....
Renata memejamkan matanya
ketika air mata mulai mengalir dari sudut matanya dan terisak. Ada nyeri di
dadanya.
Tiba-tiba ponsel yang ada
di sampingnya berbunyi nada panggil. Renata menoleh, rupanya dari Bram. Setelah
nada panggilan yang ketiga, dia baru menjawab panggilan.
“Halo... malam Ren... apa
kabar?”
“Malam mas.... kabar baik..”
Jawab Renata dengan suara parau seperti habis menangis
“Rena... ada apa...?
suaramu.... kamu menangis..??” Tanya Bram dengan suara khawatir.
“Eeee... enggak mas... nggak
ada apa-apa...” Jawab Renata dengan sedikit gugup.
“Ren.... kamu sedang
tidak bohong kan...? Dua hari aku coba kontak kamu, gak dijawab. Aku chat cuma
di read. Kenapa????” Tanya Bram dengan lembut
“Mas... aku...”
“Renata... please.. cerita,
ada apa...?” Bram memotong jawaban Renata.
“Maaf mas... dua hari
full aku ada meeting, dan ada peninjauan ke lapangan, masuk hotel sudah larut
malam. Ini juga aku baru saja masuk hotel.”
“Tapi Ren....”
“Mas aku bener-bener
capek. Sekarang lagi gak enak badan. Aku pengen tidur..”
Jawab Renata dengan suara
memohon memotong kata-kata Bram.
“Kamu sakit Ren..???” Tanya
Bram
“Aku nggak enak badan
mas, mungkin kecapekan. Apalagi Tia gak ada, semua aku handel...”
“Aku jemput besok sore ke
Surabaya ya...?” Tanya Bram.
“Apaan sih mas... aku kan
lagi kerja. Lagian besok juga belum selesai..” Jawab Renata agak sedikit keras.
“Ren... kamu marah..???” Tanya
Bram heran karena suara Rena sedikit keras.
Renata kaget dengan
pertanyaan Bram. Dia juga heran kenapa bisa menjawab begitu.
“Eeemmm.... maaf mas... aku
nggak papa, cuma sedikit pusing. Pengen istirahat aja..”
“Kamu sudah makan..?”
“Nanti aja mas, gampang.
Aku pengen rebahan dulu. Dua hari ini bener-bener capek”
“Oke dech, kalau begitu
istirahat aja dulu, tapi jangan lupa makan ya..”
“Ya mas, makasih. Malem” Jawab Renata,
kemudian memutus pembicaraan
Begitu Renata memutuskan
pembicaraan, hati Bram galau. Apalagi ada Erwin di Surabaya, dan Renata perempuan
satu-satunya di tim itu. Dia membayangkan pasti komunikasi dan hubungan keduanya
sangat intens. Apalagi Bram tahu pasti, saat ini Erwin sedang mendekati Renata.
Ada perasaan cemburu di hatinya. Dia merasa posisi Erwin lebih beruntung dari
pada dirinya, karena satu kantor, yang memungkinkan untuk setiap saat bertemu.
Kemudian masih ditambah mereka sering pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan,
meskipun tidak pernah berdua.
Membayangkan hal itu,
hati Bram benar-benar merasa khawatir. Dia khawatir kalau kedekatan itu akan
menumbuhkan perasaan lain di hati Renata terhadap Erwin. Ini yang membuat Bram
galau. Rasanya dia ingin sekali terbang ke Surabaya untuk menemui Renata. Tapi
mendengar jawaban Renata tadi, mengurungkan niatnya. Dia tidak mau memaksakan
kehendak yang berakibat Renata menjauhinya
Sementara itu, Renata setelah
memutuskan pembicaraan dengan Bram, lalu bangkit dari tempat tidur untuk mandi
untuk menyegarkan tubuhnya. Sekitar 30 menit dia berrendam air hangat di kamar
mandi dan tubuhnya kembali segar. Kemudian dia berniat untuk tidur, tiba-tiba
ponselnya berbunyi nada panggil. Dia heran, siapa sih yang mengganggu terus ? Dengan
sedikit kesal, dia melihat ponselnya, ternyata dari Erwin. Dia sebenarnya tidak
akan menjawab panggilan, tapi berpikir kalau tidak dijawab, takut Erwin
khawatir dan berpikir macam-macam. Akhirnya dia menjawab panggilan.
“ Halo... malem pak... eh..mas
Erwin..”
“Malem Ren, gimana... masih
pusing??”
“Sudah lumayan mas, habis
mandi jadi sedikit segar..”
“Kamu belum makan kan..? Aku sudah pesankan sop
ayam, ditunggu ya...”
“ Nggak usah mas,aku sudah
mau tidur...”
“Tolong jangan ditolak.
Kamu tidur setelah makan ya, sebentar lagi sampai kamarmu. Habisin ya, biar
besok pagi kamu benar-benar sehat. Kita masih ada pekerjaan. Oke...? Selamat
makan dan selamat tidur ya... daa....” Erwin bicara tanpa memberi kesempatan
Renata untuk menjawab, dan kemudian menutup pembicaraan.
Dalam hati Renata bicara,
ini nih kumat penyakit bos. Main printah. Dikira aku anak buahnya ya, kebiasaan.
Tapi... kan sekarang di sini aku jadi anak buahnya dia kan. Ah...bodo amat
*****
Kasih semangat donk.... like, komen dll, biar rajin up nya....
😘😘😘
next