NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Panglima TNI.

Terjebak Cinta Panglima TNI.

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Cintapertama
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nakorang

Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Dia datang menemui sang panglima bukan dengan gaun anggun atau busana yang sopan, wanita itu justru mengenakan dress hitam ketat yang terbuka. Riasan wajah tebal yang terlihat berlebihan. Yang paling mencolok adalah pipi dan bibirnya yang dicat dengan lipstik merah menyala kontras dengan kulitnya yang putih. Axel masih bisa menerima. Trik Aruna berlanjut dengan mengajak si pria berburu belanjaan mewah. Bagaimana kelanjutan kisahnya? Apakah Axel mampu mengikuti setiap alur cerita yang dibuat gadis itu? atau justru menyerah? ikuti terus kisah serunya hanya disini..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 : Rasa rindu yang membuncah.

Malam itu suasana terasa tenang namun hangat. Semua orang yang pingsan sudah kembali sadar, mereka langsung di suguhi makanan enak yang dipesan Aruna tadi. Mereka di suruh Aruna untuk istirahat total, sedangkan ia memanggil pelayan Spa langganannnya.

Setelah selesai melakukan perawatan tubuh atau home spa bersama para pelayan ahli, tubuh Aruna terasa jauh lebih segar dan rileks. Kulitnya terlihat semakin bersinar bercahaya, siap untuk hari terindahnya esok hari.

Aruna lalu berganti pakaian tidur. Ia mengenakan setelan berbahan sutra halus berwarna soft yang sangat nyaman. Bahannya yang licin dan jatuh itu begitu sempurna menempel di tubuhnya, memperlihatkan setiap lekuk tubuh idealnya dengan sangat jelas namun tetap terlihat elegan.

Ia baru saja hendak membaringkan diri dan memejamkan mata, bersiap untuk istirahat panjang...

Tok.. Tok.. Tok..

Suara ketukan pelan namun jelas terdengar dari arah jendela kamarnya. Dengan rasa penasaran, Aruna berjalan mendekat dan membuka gorden serta kaca jendela itu.

DEG!

Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat.

Di luar sana, di atas tangga darurat yang gelap, berdiri sosok yang sangat ia kenal. Axel. Pria itu pasti menggunakan tangga luar yang langsung mengarah ke kamarnya demi bisa bertemu dengannya malam ini.

"Axel?!" Aruna terkejut setengah mati, matanya membelalak. "Kamu ngapain sih disini?! Harusnya malam ini kamu istirahat buat persiapan besok lho! bahaya kalau ketahuan orang!"

Tanpa banyak bicara, Axel dengan sigap naik dan melangkah masuk ke dalam kamar. Napasnya terdengar memburu dan berat, mungkin karena kelelahan naik tangga, atau mungkin juga karena rasa rindu yang sudah tak tertahan. Kondisi tubuhnya sudah membaik dari pada sore tadi.

"Aku gak tahan..." jawabnya pelan namun tegas.

"Gak tahan apa?" tanya Aruna bingung, jantungnya mulai berdegup kencang tidak beraturan.

"Gak tahan mau ketemu kamu..." bisik Axel seraya mendekat perlahan. "Aku belum sempat manja sama kamu lebih lama tadi sore. Semuanya keganggu gara-gara Zayn bikin ulah. Rasanya gak kuat kalau harus nunggu sampai besok ketemu kamu lagi."

Wajah Aruna langsung memerah padam mendengar pengakuan jujur itu.

"Axel... kamu tuh ya..." Aruna mencoba bersikap tegas meski suaranya sudah terdengar gemetar. "Masa gak puas sih? sebelumnya kan kita udah berduaan lama banget? tahan dulu dong sampai besok..."

"Aku belum puas sayang..." bisik Axel parau.

Dengan gerakan cepat, tangan besarnya langsung mencengkeram pinggang ramping Aruna dan menarik tubuh mungil itu hingga menempel sempurna pada dadanya yang bidang. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa milimeter saja.

Aruna bisa merasakan napas hangat Axel yang menerpa wajahnya. Ia mencoba mendorong dada pria itu pelan, berusaha menjaga jarak dan menjaga kesabarannya sebagai calon istri.

"Ah tahan sampai besok aja ya... pulang sana..." ucap Aruna mencoba mengusir, meski matanya sudah berkaca-kaca dan hatinya berbunga-bunga.

"Gak bisa..." jawab Axel singkat dan padat.

Tanpa aba-aba lagi, tanpa memberi kesempatan Aruna untuk menolak.

MMMMPHH!!

Axel langsung menyambar bibir ranum calon istrinya itu dengan dahsyat.

Ciuman itu penuh dengan gairah yang tertunda, penuh dengan rasa kangen yang membuncah luar biasa. Seperti biasa gaya ciuman Axel tidak pernah berubah: liar, dalam, dan sangat menuntut.

Ia melahap bibir itu dengan rakus, seakan ingin menghabiskan seluruh rasa rindunya malam ini juga. Tangannya mengunci pinggang Aruna erat, tak membiarkan gadis itu bergerak atau lari kemana-mana.

Aruna pun akhirnya luluh. Ia memejamkan mata, membiarkan dirinya hanyut dalam ciuman panas calon suaminya itu, melupakan sejenak segala aturan dan persiapan untuk esok hari.

Ciuman panas itu perlahan turun dari bibir ranum, menyusuri rahang hingga berhenti tepat di leher jenjang dan mulus milik Aruna.

Axel mulai menghisap dan melumat kulit putih itu dengan rakus.

Seketika Aruna panik setengah mati. Tangannya langsung mencengkeram bahu pria itu kuat-kuat, mencoba mendorong pelan.

"Jangan!! Jangan ninggalin bekas sayang pleaseeee!!" rengeknya panik, wajahnya memerah padam luar biasa. "Besok kan kita menikah. Make up-nya kan tipis-tipis. Jangan bikin aku malu karena ada bekas gigitan atau ciuman di leher. Awas lho!"

Axel terkekeh pelan tepat di kulit lehernya, napas hangatnya membuat Aruna merinding dan bergetar hebat.

"Ya tenang saja sayang..." bisik Axel parau dan serak. "Aku gak akan bikin bekas di tempat yang gak kelihatan... aku bakal bikinnya... di tempat lain yang lebih rahasia."

DEG!!!

Aruna tak sempat menjawab.

Axel kembali melanjutkan aksinya. Ia mencumbu leher itu dengan penuh gairah, lalu perlahan bibirnya bergerak turun semakin rendah... melewati garis leher baju tidur sutra milik Aruna. Model baju yang sedikit terbuka di bagian dada itu kini menjadi malapetaka yang sangat nikmat.

MMMMPHHH!!

Axel mulai mencium, menghisap, dan memberikan perhatian penuh tepat di area dada atas Aruna yang sedikit terekspos. Ia memberikan ciuman hangat yang lama, hingga meninggalkan bekas kemerahan samar yang sangat seksi dan sensitif di sana.

"Ah... Axel... kamu... ahhh..."

Aruna mencoba bicara, mencoba protes, tapi suaranya hancur lenyap menjadi erangan manja yang sangat menggoda. Sensasi listrik yang luar biasa menyebar begitu cepat ke seluruh tubuhnya, terutama saat tangan besar Axel mulai memainkan dan meremas pelan namun pasti area kenyal itu di balik kain sutra tipis.

"Katakan yang jelas sayang..." goda Axel sambil terus melumat kulit itu. "Kamu bilang apa tadi? Aku nggak denger..."

"Ah... jangan gini dong sayang... unghhh... berhenti sebentar... " pinta Aruna.

Tubuhnya benar-benar tak berdaya. Lututnya terasa lemas dan gemetar hebat, seakan tulangnya hilang kekuatan seketika. Ia hampir ambruk jatuh ke lantai kalau saja tangan kokoh Axel tidak mencengkeram pinggangnya erat-erat, menopang seluruh berat tubuh mungil itu dengan mudahnya.

"Kamu malah makin cantik kalau sedang begini..." bisik Axel pelan namun terdengar sangat berat dan serak.

Matanya menatap lekat wajah calon istrinya yang memerah padam, matanya terpejam rapat, dan bibirnya terbuka sedikit mengeluarkan suara-suara manja yang tak terarah. Pemandangan Aruna yang tak berdaya di genggamannya itu membuat gairah Axel melonjak naik berkali-kali lipat.

"Ummhhhh... Axel... stop dulu... Anghhh... sayang... Ah..."

Aruna mencoba keras kepala untuk bicara, mencoba meminta berhenti, tapi mulutnya seakan dikunci oleh rasa nikmat. Yang keluar hanyalah kata-kata tak jelas, erangan, dan desahan halus yang justru terdengar sangat menggoda dan meminta lebih.

Melihat tingkah manja itu, Axel makin gemas luar biasa. Rasa sayang dan hasrat yang bercampur menjadi satu membuatnya bertindak semakin lihai dan ahli.

Bibirnya terus mencumbu area dada dan bahu mulus itu dengan rakus, sementara tangan kanannya yang besar dan hangat dengan bebas menjelajah ke bawah. Ia mencengkeram dan meremas lembut pinggang ramping Aruna yang melengkung sempurna bak gitar, merasakan betapa ideal dan indahnya lekuk tubuh wanita itu di bawah genggamannya.

MMMMPHHH!!

"Ah... ahhh..."

Aruna benar-benar hancur. Sensasi yang luar biasa meledak di seluruh urat sarafnya. Tangannya refleks mencengkeram erat bahu bidang, dan punggung kokoh calon suaminya itu, kuku-kukunya sedikit menancap lembut di sana sebagai tanda bahwa ia benar-benar menikmati, setiap sentuhan itu meski mulutnya terus meminta berhenti.

Tubuh mereka saling menempel erat, kulit bertemu kulit, napas bercampur jadi satu, menciptakan panas yang membakar seluruh ruangan kamar itu.

"Axel... udah dong..." desis Aruna dengan napas memburu saat Axel memberi jeda sebentar untuk bernapas. "Jangan berlebihan nanti aku gak tahan... pengen minta lebih..."

Aruna memukul pelan dada bidang itu, wajahnya memerah padam campur antara malu dan nikmat luar biasa. Ia sadar, kalau dibiarkan terus, ia pasti akan kehilangan akal sehat dan meminta hal yang lebih dari sekadar ciuman dan sentuhan ini.

"Tentu saja aku akan berhenti sayang..." jawab Axel singkat.

Namun 'berhenti' di kamus Axel artinya berpindah tempat.

MMMMPHH!!

Bibirnya kembali menyambar bibir merah muda Aruna dengan gaya yang jauh lebih dominan dan penuh tuntutan. Ia melahapnya seolah ingin menghirup seluruh napas gadis itu, membuat Aruna kembali hanyut dan lupa dunia.

"Mpphhhhh... Axelll..." rengek Aruna manja di sela ciuman itu. "Awas ya kamu. Hukumannya ditambah. Pajaknya naik jadi 100%! Besok bawain aku berlian sebanyak-banyaknya buat ganti rugi."

"Ya... apapun itu..." balas Axel santai dan cepat tanpa melepaskan ciumannya. "Berlian, emas, istana, apapun yang kamu mau sayang... semua bakal aku kasih buat kamu."

Hanya dengan jawaban singkat itu, hati Aruna langsung berbunga-bunga. Ia tahu, pria di hadapannya ini bukan orang yang suka bicara kosong. Kalau dia bilang bisa, pasti dia akan lakukan.

Setelah rasa rindunya terobati sedikit, dan setelah puas mencumbu dan memainkan tubuh mungil calon istrinya itu. Axel akhirnya melambat.

Ia melepaskan bibir Aruna, lalu dengan lembut membetulkan rambut gadis itu yang sedikit berantakan. Wajahnya berubah menjadi sangat lembut dan penuh cinta.

Dengan perlahan ia memeluk tubuh mungil itu erat-erat, seakan enggan berpisah. Lalu ia menunduk dan memberikan kecupan hangat, manis, dan sangat panjang tepat di kening Aruna. Ciuman tanda sayang dan penghormatan yang paling tulus.

"Istirahat yang cukup ya calon istriku..." bisiknya pelan. "Sampai ketemu besok pagi... di pelaminan."

Tanpa menunggu lama, tak ingin memancing keributan atau ketahuan orang lain, Axel dengan sigap dan cepat berbalik badan.

Wups!

Dengan lompatan ringan namun pasti, ia kembali melompat keluar jendela, turun melewati tangga luar yang gelap, dan menghilang begitu saja ke dalam malam.

Meninggalkan Aruna yang berdiri mematung di sana, wajahnya masih memerah, jantungnya masih berdegup kencang, dan senyum bahagia tak pernah lepas dari bibirnya menanti hari esok.

1
Auliya Wilma
terkadang yang sepi belum tentu ceritanya jelek. 🤭
Suram banget dah
🤭🤭🤭segitunya ya .
Ripduit seratus
wkkwkkw
Ripduit seratus
ini cocok untuk p3mbaca yg suka d3ngan novel yang konfliknya tetap ringan tapi ngena.
wnrti
inikah rasanya cinta ahay🤣
Suram banget dah
🤣Aruna gak ada duanya👍
Aruna bling bling
Terimakasih untuk semua orang yang mau membaca dan memberi dukungan... 👍👍
Aruna bling bling
🤣🤣
Suram banget dah
gila boskuuu🤭
Suram banget dah
lanjut💪
Suram banget dah
Lanjutkan 😍😍 semangat!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!