Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.
Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.
Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.
Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Kembalinya Keseimbangan
Zhao Fei perlahan menurunkan kembali tubuhnya untuk duduk di atas kursi yang dianyam dari bambu. Adapun cincin abu-abu gelap itu masih berada di dalam genggaman tangannya yang erat. Dia menatap wajah Tabib Wen dengan perpaduan rasa terkejut, penasaran, serta rasa tidak percaya yang campur aduk.
Identitas sebagai penjelajah dua alam adalah sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam benaknya selama ini.
Sementara itu, Tabib Wen terus mengunyah potongan ikan bakar di tangannya dengan sikap yang sangat santai. Dia tidak terburu-buru menghabiskan makanannya, memberikan durasi waktu yang cukup bagi Zhao Fei untuk mencerna seluruh informasi mengejutkan yang baru saja diterimanya.
BaoBao pun yang setia menemani mereka telah menyelesaikan porsi makannya. Harimau putih berukuran besar itu kini merebahkan badan besarnya di atas lantai, dengan ujung ekor yang sesekali bergerak pelan.
Setelah membersihkan tangan, Tabib Wen meletakkan sisa duri ikan di atas piring tanah liat. Tatapannya mendadak berubah menjadi sangat serius kala dirinya memfokuskan pandangan ke arah Zhao Fei.
"Kau pasti sedang bertanya-tanya dalam hati, apa tujuan dari semua fenomena ini," ucap Tabib Wen. "Kenapa aku menyerahkan cincin itu kepadamu, dan mengapa aku membiarkan dirimu mencari jalan hidupmu sendiri tanpa banyak tuntutan."
Pria itu berdehem untuk membersihkan tenggorokannya.
"Tugas utama dari seorang penjelajah dua alam seperti diriku adalah untuk menjaga stabilitas serta keseimbangan antara wilayah Alam Dewa dan dimensi Alam Bawah. Aturan tertinggi melarangku untuk terlibat langsung dalam konflik kekuasaan. Jadi peranku hanyalah sebatas mengamati, mencatat seluruh kejadian, serta sesekali memberikan sebuah dorongan kecil pada roda takdir."
Kemudian matanya menyipit.
"Kematian dirimu di masa lalu, Zhao Fei, telah menyulut sebuah ketidakseimbangan yang teramat besar di wilayah Alam Dewa. Pengkhianatan yang dilakukan oleh Li Tianming... murid kesayanganmu itu... berjalan dengan cara yang terlalu kejam serta korup. Dia merebut takhta langit dengan cucuran darah, dan setelah berhasil memegang kendali kekuasaan tertinggi, tindakan kejamnya justru semakin menjadi-jadi tanpa ada yang bisa menghentikannya."
Pria tua itu menatap lurus ke arah sepasang mata Zhao Fei tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Wilayah Alam Dewa membutuhkan dirimu untuk segera kembali dan memperbaiki keadaan."
Tabib Wen memaparkan fakta bahwa cincin abu-abu gelap itu memiliki fungsi khusus sebagai sebuah media untuk menyusup kembali ke dimensi Alam Dewa tanpa perlu mengkhawatirkan deteksi dari musuh. Melalui bantuan artefak itu, Zhao Fei memiliki kemampuan untuk mengamati perkembangan situasi di atas sana dari jarak jauh, menganalisis tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh rezim Li Tianming, serta mempersiapkan segala kebutuhan raga sebelum benar-benar mendaki kembali menuju puncak kekuatan murni.
Kendati demikian, Tabib Wen mempertegas posisi dirinya yang tidak memiliki legalitas untuk ikut campur secara langsung dalam agenda balas dendam itu. Hukum alam penjelajah dua alam mengikat dirinya untuk tetap berada di balik layar. Seluruh bantuan yang bisa dia sediakan hanya terbatas pada pemberian fasilitas alat serta akses informasi penting, sementara eksekusi keputusan akhir tetap berada di tangan sang mantan dewa.
"Aku tidak memiliki kemampuan atau hak untuk merebut kembali takhta itu untukmu," tegas Tabib Wen. "Aku juga tidak bisa melangkah untuk melenyapkan nyawa Li Tianming demi dirimu. Seluruh agenda pertempuran itu harus kau selesaikan dengan menggunakan kekuatan dan tanganmu sendiri."
Zhao Fei menatap lekat-lekat cincin di genggamannya. "Jika artefak ini memiliki nilai yang begitu tinggi, mengapa pada awal pertemuan kita Tabib Wen justru menyebut benda ini sebagai sebuah sampah yang tidak berguna? Mengapa kau tidak bersedia menceritakan kebenaran ini sejak awal?"
Tabib Wen memperlihatkan seulas senyuman tipis di wajahnya.
"Tindakan itu sengaja aku lakukan karena aku ingin menguji bagaimana kualitas mental yang kau miliki saat ini, Zhao Fei. Aku perlu memastikan apakah dirimu yang sekarang masih memiliki kelayakan untuk menyandang nama besar sebagai Yang Mulia Petir Abadi."
Pria tua itu menghela napas panjang, menatap langit-langit ruangan.
"Jika kau memiliki mentalitas yang lemah, mudah dirundung keputusasaan, atau sekadar menerima segala pemberian tanpa memiliki daya kritis... maka kau tidak memiliki kepantasan untuk menerima bantuan dariku. Tapi, kedatanganmu ke mari telah membuktikan hal yang berbeda. Kau melangkah ke tempat ini tidak untuk mengemis kekuatan tambahan atau menuntut rentetan jawaban, melainkan untuk mengembalikan cincin ini karena menganggap dirimu belum layak untuk memilikinya."
Tabib Wen menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, memberikan tanda penolakan.
"Dan justru karena adanya rasa tahu diri serta ketulusan seperti itulah, kau terbukti sangat layak untuk menerima amanat besar ini."
Pria tua itu kemudian mengangkat tangan kanannya ke udara. "Aku sama sekali tidak memiliki niat untuk mengikat jalan hidupmu dengan rantai kewajiban. Seluruh langkah yang akan kau ambil di masa depan merupakan kebebasan dari pilihan pribadimu sendiri. Jika kau memilih untuk kembali ke Sekte Garuda Putih, menjalani sisa hidup dengan tenang sebagai seorang murid biasa, serta melupakan seluruh dendam masa lalu dan takhta langit... aku tidak akan pernah melarang atau menahan langkahmu."
Dia kembali menatap tajam ke arah pemuda di hadapannya.
"Namun, jika tekad di dalam dadamu masih membara untuk merebut kembali singgasana agungmu, serta menuntut balas atas pengkhianatan Li Tianming... aku siap memberikan dukungan penuh dari balik layar tanpa melanggar batasan aturan hukum alam."
"Dan seluruh perjalanan besar itu harus kau rintis dari lingkungan Sekte Garuda Putih. Di dalam sekte itu, kau akan membangun kembali fondasi kekuatanmu secara bertahap, sedikit demi sedikit, hingga kapasitas fisik dan kultivasimu cukup kuat untuk melangkah kembali menuju dimensi Alam Dewa."
Zhao Fei sendiri hanya mampu terdiam beberapa waktu itu demi membiarkan roda pikirannya berputar cepat untuk menganalisis risiko yang ada.
"Apa risiko terbesar yang harus aku hadapi?" tanya pemuda itu, menyuarakan keraguan yang tersisa. "Jika diriku terlalu sering menggunakan kemampuan cincin ini untuk mengintip wilayah Alam Dewa dalam kondisi kapasitas qi yang masih sangat lemah seperti saat ini, apakah ada kemungkinan bagi pihak musuh untuk mendeteksi keberadaanku?"
Tabib Wen menggelengkan kepalanya dengan perlahan.
"Justru kau memiliki keharusan untuk melihat dengan sepasang matamu sendiri, Zhao Fei. Kau perlu menyaksikan bagaimana tingkat kekacauan yang terjadi di Alam Dewa setelah kepergianmu, serta bagaimana penderitaan yang harus dialami oleh para makhluk di bawah kendali tirani Li Tianming."
Dia menambahkan sebuah catatan penting dengan nada yang beralih menjadi teramat serius. "Cincin itu memiliki kemampuan penuh untuk melindungimu dari segala bentuk pelacakan spiritual. Akan tetapi, perlindungan itu tetap memiliki batas ketentuan yang ketat. Jangan pernah sekali-kali kau memaksakan diri untuk memantau atau memasuki wilayah tertentu yang proteksinya belum mampu ditembus oleh level kekuatan cincin saat ini. Aturan ini berlaku mutlak untuk..."
Kalimat pria tua itu memberikan jeda yang terasa berat.
"Wilayah istana megah milikmu di masa lalu."
Zhao Fei kembali membeku mendengar penuturan itu. Istana megah yang menjadi pusat kekuasaannya selama sepuluh ribu tahun, sekaligus menjadi tempat terjadinya tragedi pengkhianatan berdarah yang merenggut nyawanya.
"Area istana kuno itu saat ini telah dilindungi secara ketat oleh sebuah formasi pertahanan tingkat tinggi yang dipasang langsung oleh Li Tianming," lanjut Tabib Wen memberikan rincian situasi. "Kapasitas energi spiritual yang tersimpan di dalam cincinmu saat ini belum memiliki kekuatan yang cukup untuk menembus proteksi itu tanpa memicu alarm bahaya. Oleh karena itu, jangan pernah kau memaksakan diri untuk mendekati area berbahaya itu sebelum waktunya tiba."
Zhao Fei mengembuskan napas panjang untuk menenangkan gejolak emosi di dalam dadanya.
"Aku mengerti dengan sangat jelas," ucap pemuda itu, menyiratkan ketegasan tekad yang baru. "Aku akan menyaksikan sendiri kekacauan itu, melakukan penilaian secara objektif, lalu mengambil keputusan mandiri atas langkah yang akan kutempuh."
Lantas dirinya bangkit berdiri dari kursi kayu, lalu menggerakkan tubuhnya untuk memberikan sebuah penghormatan tipis ke arah tabib.
"Terima kasih yang sebesar-besarnya atas seluruh fasilitas dan penjelasan yang telah Anda berikan."
Tabib Wen mengibaskan tangan kanannya di udara, mengisyaratkan bahwa hal itu tidak perlu dibesar-besarkan. "Tidak perlu melontarkan kalimat terima kasih kepadaku. Aku hanya menjalankan apa yang sudah menjadi garis tugas dan kewajibanku di dunia fana ini."
Pandangan pria itu kemudian beralih menatap ke arah BaoBao yang saat ini telah berada dalam kondisi setengah tertidur di sudut kamar.
"Aku juga ingin menyampaikan rasa terima kasih atas kesediaanmu untuk menjaga kebersihan rumah ini selama kepergianku, termasuk tindakanmu yang bersedia menjadi tabib dadakan untuk melayani kebutuhan obat para warga desa."
Sebuah senyuman bangga terukir di wajah keriput sang penjelajah dua alam.
"Kau telah menyelesaikan seluruh tanggung jawab itu dengan sangat baik, Zhao Fei. Hasil kerjamu bahkan jauh melampaui seluruh ekspektasi awal yang tersimpan di dalam pikiranku."
Zhao Fei melangkah mendekati pintu depan rumah kayu, lalu menarik palang pengamannya untuk membuka daun pintu. Udara malam hari kawasan Gunung Cemara yang teramat sejuk segera berembus masuk, menyapa permukaan kulit tubuh mudanya.
"Besok pagi, aku akan segera memulai perjalanan untuk kembali menuju lingkungan sekte," ucapnya tanpa memalingkan wajah ke arah belakang.
"Baiklah," balas Tabib Wen dari posisinya di dekat meja. "Jaga baik-baik keberadaan cincin itu di jarimu, dan selalu utamakan keselamatan dirimu selama berada di lingkungan luar."
Zhao Fei melangkah keluar melewati teras pondok, membiarkan daun pintu kayu di belakangnya tertutup secara perlahan.