"Paksu... Calla janji tobat dan bakal jadi istri yang solehot buat Paksu! Asal... jangan taroh Calla di barak militer, Calla enggak mau merangkak dilumpur!"
Demi wasiat Papa, Callanta (21 tahun) terpaksa menikah dengan pria berbaju kumal yang dikira karyawan biasa. Namun pasca-nikah, pria itu membuka jaketnya dan berubah menjadi Komandan Pasukan Khusus berusia 38 tahun yang kaku, galak, dan seumuran pamannya!
Takut dididik fisik di barak karena sifat manjanya, Calla langsung mengeluarkan mode cegil (cewek gila): merayu sang suami dengan janji jadi "Istri Solehot" (Solehah tapi Hot).
Dimulailah perang domestik yang kocak: disiplin militer vs daster mini, tangisan bombay vs bentakan bariton, hingga aksi sang Komandan yang terpaksa lari maraton tengah malam demi menjaga imannya—sementara Calla asyik ronda di pinggir lapangan sambil bawa raket nyamuk listrik!
Mampukah Komandan kaku menjinakkan istri kecilnya? Atau justru ia yang takluk di bawah kuasa raket nyamuk sang Ismut (Istri Imut)?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 23
"Calla, dengar saya. Mulai besok, jangan pernah menyentuh kompor atau wajan di dapur ini lagi."
Suara bariton Alaric terdengar sangat dalam dan tegas, memecah keheningan dapur yang baru saja reda dari sisa-sisa pertempuran minyak goreng. Pria bertubuh kekar itu masih memegang sudit kayu di tangan kanannya, sementara tangan kirinya bergerak perlahan, meraih pergelangan tangan mungil Calla dengan sangat hati-hati.
Calla yang masih terbalut jas hujan plastik hijau cerahnya langsung mendongak, mengerucutkan bibirnya yang ranum. "Lho, kenapa begitu, Paksu? Kan Ismut cuma mau belajar jadi istri yang berbakti lewat jalur telur mata sapi."
"Saya menikahimu bukan untuk menjadikanmu pelayan di dapur, Calla," Alaric menatap lekat-lekat ke dalam sepasang mata kucing istrinya, nadanya melembut namun tidak menerima bantahan. "Urusan dapur, cuci mencuci, sampai beres-beres rumah dinas ini, semuanya adalah tanggung jawab saya sebagai kepala rumah tangga. Kamu cukup duduk manis dan pastikan dirimu tidak terluka."
"Tapi Paksu—"
"Tidak ada tapi-tapi, Ismut," potong Alaric lambat. "Saya tahu persis siapa kamu. Kamu anak tunggal kesayangan almarhum Papahmu. Sejak lahir kamu sudah hidup di dalam istana, jangankan pegang wajan, bangun tidur saja sudah ada sepuluh pelayan yang siap mengurus semua kebutuhanmu. Kulitmu terlalu tipis untuk terkena cipratan minyak atau lecet karena pekerjaan kasar."
Calla tertegun sejenak, lalu sedetik kemudian ia malah mengentakkan kakinya ke lantai, membuat jas hujan plastiknya berbunyi kresek-kresek berisik. Mode keras kepala seorang cegil seketika aktif penuh.
"Ih! Justru itu masalahnya, Paksu kaku!" seru Calla, melipat kedua tangannya di dada dengan gaya merajuk yang teramat menggemaskan. "Ismut itu bosan hidup enak! Ismut mau ngerasain jadi istri biasa, istri normal yang suka mengeluh kayak di drama-drama!"
Alaric menaikkan sebelah alis tebalnya, benar-benar dibuat heran oleh jalan pikiran ajaib istri kecilnya ini. "Mengeluh? Ibu-ibu di luar sana justru mendambakan hidup tanpa perlu memikirkan pekerjaan rumah tangga, Calla."
"Ya itu kan mereka, kalau Ismut beda!" Calla memajukan tubuhnya, menatap Alaric dengan wajah ceria yang penuh ambisi polos. "Ismut pengen tahu rasanya encok gara-gara nyapu lantai. Ismut pengen ngerasain ngedumel pas jemur baju karena jemurannya ketiup angin. Pokoknya, Paksu harus ajarin Ismut pekerjaan rumah tangga konvensional!"
Alaric menghela napas panjang, menaruh sudit kayu ke atas meja konter lalu memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut lagi. "Kamu benar-benar aneh, Callanta."
"Aneh-aneh begini kan istri Paksu juga," cengenges Calla tanpa rasa bersalah. Ia meraba lengan kekar Alaric, menggoyang-goyangkannya manja. "Ayo dong, Paksu... Tolong ajarin Ismut dari hal yang paling mendasar dulu. Ismut janji nggak bakal bikin pangkalan ini kebakaran."
Alaric menatap jemari lentik Calla yang bergelayut di lengannya. Menghadapi keras kepalanya Calla, sang Komandan akhirnya harus mengakui kekalahannya untuk kesekian kali. "Baik. Tapi kita mulai dari hal yang paling aman. Paham?"
"Siap, laksanakan, Komandan kaku!" seru Calla sambil memberikan hormat kaku dengan tangan mungilnya.
Sepuluh menit kemudian, pertarungan baru dimulai di ruang tengah. Calla sudah melepaskan jas hujan plastiknya, menyisakan kaos oblong putih longgar dan celana pendeknya. Di tangannya kini sudah tergenggam sebuah sapu ijuk manual yang ia temukan di dekat gudang belakang.
"Paksu, ini pakainya gimana? Nggak ada tombol on-off nya ya?" tanya Calla polos, membolak-balik gagang sapu ijuk tersebut seolah sedang memeriksa senjata rahasia.
Alaric yang sedang melipat kemeja dinasnya di dekat sofa melirik pasrah. "Itu sapu manual, Calla. Tidak pakai listrik, tidak pakai baterai. Cukup digerakkan menggunakan tenaga tanganmu sendiri."
"Oh, pantesan dari tadi Ismut cari colokannya nggak ada," cicit Calla, langsung mengarahkan sapu itu ke lantai. "Bagus deh. Ismut trauma pakai robot penyedot debu otomatis yang ada di rumah lama. Robotnya suka ngajak berantem, masa cemilan chiki Ismut yang baru jatuh belum lima detik langsung ditiup terus ditelan bulat-bulat sama dia. Kan Ismut dendam."
Alaric menahan tawa kuat-kuat mendengar alasan trauma istrinya yang terlampau konyol. Pria 38 tahun itu bangkit berdiri, berjalan mendekati Calla lalu berdiri tepat di belakang tubuh mungilnya.
"Cara memegangnya salah, Ismut," ujar Alaric rendah.
Alaric merapatkan tubuh tegapnya, mencondongkan badannya ke depan hingga dada bidangnya yang hangat menempel sempurna pada punggung Calla. Kedua tangan besar Alaric yang kapalan bergerak maju, menggenggam kedua tangan Calla yang sedang memegang gagang sapu.
DEG.
Calla langsung menahan napasnya sesaat. Wangi maskulin sisa sabun mandi Alaric dikombinasikan dengan kehangatan dada suaminya dari belakang seketika membuat fokus cegil-nya agak buyar.
"P-Paksu... ini mau belajar nyapu atau mau modusin Ismut?" bisik Calla genit, walau wajahnya sendiri sudah memerah padam.
"Fokus, Calla. Saya sedang mengajarimu," sahut Alaric dengan suara baritonnya yang tenang dan lambat tepat di dekat telinga Calla, membuat bulu kuduk gadis itu merinding halus. "Tangan kanan di atas, tangan kiri di tengah. Ayunkan perlahan ke satu arah, jangan acak-acakan agar debunya tidak terbang ke mana-mana."
Alaric menggerakkan tangan Calla secara perlahan, menuntunnya menyapu beberapa helai rambut dan debu kecil di lantai ruang tamu dengan ritme yang sangat lambat.
"Wah... ternyata butuh otot lengan juga ya," gumam Calla, mulai menikmati sensasi menyapu manual berkedok pelukan dari belakang itu. "Kalau nyapunya sambil ditempel begini terus sih, Ismut rela nyapu seluruh barak prajurit, Paksu."
Alaric langsung melepaskan genggaman tangannya, mundur satu langkah sambil berdehem keras untuk menutupi rasa canggungnya yang mendadak muncul akibat godaan frontal Calla. "Sudah, latih sendiri. Sekarang kita pindah ke pelajaran kedua."
Sesi kedua berpindah ke area mesin cuci front loading baru di dapur transit. Alaric baru saja mengeluarkan tumpukan pakaian yang sudah kering otomatis dari dalam tabung mesin.
"Nah, ini tugas terakhir untuk hari ini. Menjemur atau merapikan pakaian," kata Alaric, menunjuk keranjang baju. "Karena pakaian ini sudah kering total berkat mesin cucimu, kita hanya perlu menggantungnya di dalam lemari atau menggelarnya sebentar agar tidak kusut."
"Ismut tahu kalau yang ini!" Calla dengan penuh percaya diri langsung menyambar satu kaos dalam hitam milik Alaric. Tanpa dilebarkan terlebih dahulu, Calla langsung asal mencantolkannya ke hanger baju hingga kainnya menggumpal tidak beraturan. "Tuh, selesai! Cepat kan, Paksu?"
Alaric menatap hanger baju itu dengan dahi berkerut dalam, merasa jiwa kedisiplinan militernya langsung berteriak protes.
"Callanta... itu namanya asal gantung," ujar Alaric sabar, mengambil kembali hanger dari tangan Calla. "Lihat saya. Pakaian itu harus dikibas dulu sampai lurus, dilebarkan dengan rapi, baru dimasukkan ke hanger. Kalau tidak dilebarkan, saat kainnya mengeras nanti bentuknya akan kusut berantakan dan tidak rapi saat dipakai dinas."
Alaric memperagakan gerakannya dengan sangat lambat dan presisi—khas seorang tentara yang terbiasa hidup rapi dan teratur di barak.
Calla menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap gerakan tangan kekar Alaric dengan binar mata yang penuh rasa kagum sekaligus cinta yang teramat dalam. "Aduh... Paksu kalau lagi telaten begini tuh auranya malah makin seksi tahu. Berasa kayak lagi lihat bapak rumah tangga idaman seluruh komplek pangkalan."
Alaric melirik Calla dari sudut matanya, menggelengkan kepala pasrah. "Saya hanya merapikan pakaian, Calla. Bukan sedang melakukan peragaan busana."
"Bagi Ismut sama aja, Paksu kesayangan," sahut Calla riang, langsung maju selangkah dan memeluk pinggang tegap Alaric dari samping, menyandarkan kepalanya di lengan berotot suaminya. "Makasih ya udah mau repot-repot ajarin Ismut yang ajaib ini. Ismut janji deh, dua minggu lagi pas kita udah selesai resepsi... Ismut bakal jadi istri yang paling pinter nyapu dan jemur baju buat Paksu."
Alaric menghentikan gerakan tangannya sejenak pada pakaian terakhir. Ia menatap pucuk kepala Calla yang bersandar di lengannya, lalu perlahan mengulas senyum tipis yang teramat tulus di bibirnya. Tangannya bergerak, mengecup rambut istrinya dengan lembut.
"Saya pegang janjimu, Ibu Alaric," bisik Alaric rendah.
resepsi tinggal menghituung hariii detik demi detiik ,,
aseeek aseeek ,, 💃💃💃💃💃
pak komandan udh mulai mencair niiih 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
pengaman tingkat tinggi pak su ,,
jgn lupa kolam air di isi penuhh ,,
sypa tau nnti mlm mau jdi pangeran duyung lgii🤭🤭🤭🤣🤣🤣
kak mksiih buat up ny ,,
sehat selalu
sabar yx pak suu ,,
meski menghadapi calla tu membuat kesabaran setipis tissue 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Perbedaan usia, kepribadian yang bertolak belakang, serta tingkah kocak sang istri menciptakan banyak momen lucu, menggemaskan, sekaligus romantis. Di balik segala kekacauan yang dibuat istrinya, sang komandan perlahan menunjukkan sisi lembut dan posesif yang hanya ia tunjukkan untuk wanita yang dicintainya.
Cocok untuk pembaca yang menyukai romcom penuh tawa, kemesraan pasangan suami istri, dan kisah cinta yang hangat tanpa terlalu banyak drama berat. Selamat membaca dan semoga terhibur!" 💕✨