Apa jadinya jika dua sifat yang saling bertolak belakang disatukan dalam ikatan bernama pernikahan.
Gawa dengan sikap kasar serta tempramental yang angkuh serta sifat kasar yang mendasar sering membuat dirinya di panggil dengan sebutan Singa. Sementara Kristal dengan segala sikap penurut serta lemah lembut nya.
Hingga berawal dari satu teror yang seolah menjadi kan nya sebagai pintu teror yang lainnya. Bukan hanya cinta, namun persahabatan juga akan di uji dalam cerita ini.
Bersama dengan para sahabat nya, akan kah Gawa dapat menyelesaikan kejadian-kejadian aneh itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riyaarmalissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama Sang Pelaku
"Kita putus Ra." Tiga kalimat itu membuat tubuh Naura lemas seketika. Adnan, pria itu memutuskan hubungan mereka secara sepihak, padahal sebelumnya mereka tidak terlibat pertengkaran sekecil pun.
Naura masi mencoba untuk terlihat santai dengan menyunggingkan senyum terbaiknya. Namun alih-alih terlihat manis, justru senyum itu terkesan senyum sendu.
"Kamu kalo mau bercanda jangan sekarang dong Nan,aku lagi PMS nih, kalo tetiba ngamuk disini gimana coba?."
Tadi saat dirinya sedang menanam bunga yang ia beli bersama Adnan, dirinya mendapatkan telpon dari lelaki itu untuk berjumpa di kafe seperti biasanya.
"Kamu tatap mata aku, apa aku keliatan bercanda? aku serius, aku mau kita udahan!"
Lelaki itu menekankan setiap kalimat yang dikeluarkan nya agar perempuan di depannya mengerti jika dirinya tidak sedang bermain-main.
Sesuai yang diucapkan Adnan, dirinya menatap dalam manik abu-abu dengan seksama. Dan ternyata benar, jika lelaki yang amat disayanginya itu meminta untuk mengakhiri hubungan mereka. Tapi kenapa? itulah pertanyaan yang masi berputar cepat di otak Naura saat ini.
"Kenapa? kenapa kamu mau kita udahan? bukan nya selepas masalah Gawa ini selesai kita juga mau nikah? kamu bilang kamu sayang banget sama aku? tapi kenapa kamu mau ninggalin aku Nan?kenapa? "
Naura terisak pilu. Air matanya jatuh deras mengaliri pipi tirus miliknya. Dirinya tidak menyangka jika hubungan yang mereka jalani lebih dari lima tahun kandas begitu saja.
"Semua itu pertanyaan rotaris yang gak perlu aku jawab. Atau bahkan aku gak tau jawabannya."
"Tapi yang perlu kamu yakini, kalo aku itu sayang banget sama kamu. Jangan pikirkan hal yang gak seharusnya kamu pikirkan, kedepannya kita akan ngalami banyak malaslah. Naura Regara, kamu akan selalu jadi Naura Regara!"
Sebelum pergi, Adnan sempat mencium kening Naura. Sama seperti Naura, dirinya juga berat untuk mengakhiri hubungan mereka. Namun dibalik itu dirinya juga harus melakukan hal yang membuat hati gadisnya tersakiti.
Selepas kepergian Adnan, Naura masi saja memandang kosong ke arah dimana tadi sang pujaan hatinya duduk. Dirinya masih belum mencerna setiap perkataan Adnan yang terdengar Ambigu.
Jiwanya rapuh, air matanya meluruh. Dirinya ingin mengadu, tapi pada siapa dan kemana?
Berbeda dengan Gawa yang saat ini memasuki rumah dengan gerakan tergesa-gesa. Dirinya secepat kilat menuju kamar untuk menemui Kristal. Tapi sesampainya di sana, netra jelaga itu tak menemukan keberadaan sang istri.
Berjalan menuju dapur dan berharap menemukan Kristal disana. Dan benar saja, dirinya melihat Kristal yang tengah terbaring tak berdaya di bawah meja makan dengan seonggok kotak besar yang tepat berasa di sampingnya.
Namun bukan itu yang ia pikiran, melainkan keadaan Kristal yang saat ini butuh pertolongan nya. Buru-buru diangkat tubuh ringkih itu untuk di bawa ke kamar. Dibaringkan nya dengan pelan seolah takut mengusik Kristal. Gawa berjalan untuk kembali menuju dapur dan membereskan kotak tersebut.
Saat dirinya memeriksa isi dari kotak itu, alangkah terkejutnya Gawa setelah menemukan sebuah kepala kucing tanpa tubuh dengan darah yang masih mengalir segar. Isi lain dari kotak itu adalah selembar kertas berwarna hitam.
Gimana sama kejutan gue Kris? benar-benar mengejutkan bukan? ahh ya, pasti setelah ini lo bertanya-tanya siapa yang ngirim. Gue bukan pecundang, jadi gue sebutin aja nama gue. Maureen.
Itulah isi dari surat tersebut yang ditulis menggunakan tinta berwarna Merah pekat. Dan apa ini? mengapa disana tertulis nama Maureen? jika masalahnya sudah sebesar ini, maka dirinya akan kembali pada Gawa empat tahun lalu.
Gawa meremas kertas itu hingga lusuh tak berbentuk. Dirinya sangat murka jika Kristal yang tidak tau apa pun dilibatkan dalam masalah ini.
"Maureen gak boleh ngelukai Kris! gak boleh!"
Giginya Bergemelatuk geram atas tingkah Maureen yang sudah kelewat batas. Padahal dulu mereka teman baik, ditambah Maureen yang ia kenal adalah sosok gadis lembut tidak seperti sekarang yang malah menyerupai monster.
Sekarang dirinya kalut, Galaksi dan Gayatri sedang tidak di rumah. Begitupun dengan Bi Ija dan Mang Oncom, lalu bagaimana dirinya bisa meninggalkan Kristal dalam keadaan seperti ini. Segera mungkin dirinya harus Menuntaskan Amarahnya yang sudah menggebu tak sabar.
Tiba-tiba satu nama terlintas begitu saja di otak cerdiknya.
"Rasi, pasti Rasi kenal sama Kristal. Kan dulu Kris juga pernah kerja disana."
Segera Gawa menghubungi Rasi agar dia bisa datang ke rumahnya.
'Iya kak Gawa ada apa? '
Begitulah saat dirinya berhasil menghubungi Rasi di ujung sana.
'Rasi bisa ke rumah gua sekarang?'
'Ha? gimana kak? Rasi kurang ngerti.'
'Sini lu buruan ke rumah gue ada hal penting, alasan sama guru lu kalo ada sodara yang sakit!'
Sudah tau kan gimana kemutlakan perintah seorang Lenggawa jika dirinya meminta harus terpenuhi. Harus!
Sedangkan Rasi yang mendengar itu lantas menganggukkan kepala tanpa sadar jika itu tidak bisa dilihat oleh Gawa.
'Jangan diem aja, cepet kesini!'
Tersadar dari itu semua, Rasi segera memutuskan sambungan telfonnya dan melakukan titah sang singa.
Setelah mendapat izin dari guru, Rasi dengan cepat menuju parkiran untuk mengambil kendaraan. Namun dirinya lupa jika tadi pagi diantar oleh Rigel. Dia dan Rigel memang memilih untuk tidak satu sekolah,dengan Rigel di Batarapati sementara dirinya Bersekolah di SMA Gadjah Mada. Hingga matanya menatap cowok bertubuh jakung yang ia temui di kafe beberapa hari lalu sedang berdiri mengenakan helm. Mungkin cowok itu sedang ingin membolos, pikir nya.
"Kak Braga!" Rasi berteriak kecil agar tidak mengganggu kegiatan belajar yang masih di laksanakan.
Pemuda itu melihat setengah menunduk karna ukuran mungil tubuh gadis di depannya itu melebihi kapasitas.
"Rasi kak, Rasi X MIPA2! Kak Braga mau bolos kan? yuk anter aku sekalian. Aku buru-buru ini,urgent abis!"
Rasi masi menyerocos tanpa diminta oleh lelaki yang diketahui namanya Braga.
Sedangkan untuk kepribadian, mereka benar-benar bertolak belakang. Rigel Pemuda pendiam dan terkesan mandiri sementara Rasi gadis cerewet yang manjanya sudah tidak bisa diragukan lagi.
Braga sangat heran dengan kelakuan gadis mungil nan ajaib yang sekarang berdiri tepat di hadapannya.
"Kemana?" Suara serak itu membuat Rasi terpelongo seketika. Jika saat ini dirinya tidak terlibat oleh perintah mutlak sang Raja, maka akan di pastikan jika dengan lantang serta tak tahu dirinya dia akan mengajak Braga makan bersama. Tetapi ini bukan saat yang tepat. Buru-buru dia menggeleng kan kepalanya cepat-cepat.
Tanpa segan dan tanpa sungkan, dirinya menarik ujung baju seragam Braga dan menyeretnya menuju motor sport warna hitam yang diketahui milik lelaki itu. Dirinya segera naik secepat mungkin walaupun sang pemilik belum mempersilahkan.
"Ayok kak, nanti aku tunjukin!"
Dirinya tak sabar untuk segera boncengan berdua dengan cinta pada pandangan pertamanya. Ahh, mungkinkah sosok pria yang beberapa hari lalu ditakuti kini menjadi cinta pertama-nya? Hmmm ntahlah.
Selama diperjalanan tak ada yang membuka suara diantara mereka. Rasi pun menjadi gugup seketika saat matanya tak sengaja melihat ada tato yang memanjang di bagian punggung sosok lelaki di hadapannya itu karna tembus pandang akibat Braga yang tak memakai kaos dalam.
Kurang dari 20 menit motor Sport kekuatan terbaru itu berhenti di depan Gerbang sebuah mension mewah milik CEO Batara itu.
'Kediaman Batarapati' begitulah tulisan yang terpampang di sepanjang alun-alun taman hias pribadi yang terdapat di sana. Braga cukup terkejut saat membaca itu, matanya melirik ke arah gadis yang tengah membenarkan rambutnya dan membaca Name tag milik gadis itu '.. Rasi Aruna Pramoedya'
batinnya Bermonolog. Nama itu?
"Makasih banget loh ini tumpangan nya Kak, aku masuk dulu ya."
Tanpa menunggu jawaban dari Braga dirinya segera berlari memasuki Gerbang yang tidak terkunci itu.
Braga tersenyum lebar seolah baru saja mendapatkan hadiah dari sorum mobil ternama.
Tidak ada yang mengerti arti dari senyum itu. Lalu secepat mungkin dirinya pergi untuk mmenemui partner nya.
"Assalamu'alaikum!" Bukan Rasi namanya jika tidak membuat kekonyolan. Buktinya saja saat ini, mengucap salam ketika dirinya sudah berada di dalam rumah mewah itu tanpa mengetok nya terlebih dahulu. Dirinya ingat pesan Gawa saat dulu Ia bermain kesini. Anggap saja rumah sendiri, Begitulah pesannya. Berhubung di rumah dirinya tak pernah berucap salam, ya beginilah dia memperlakukan rumah Gawa.
"Kak Gawa Ras udah nyampe!" Dirinya melihat
Gawa turun saat indra pendengaran yang menangkap suara cempreng yang bisa di kategorikan seperti Rey.
"Rasi lu disini dulu karna gue ada urusan."
"Tapi apa yang musti Rasi lakukan? Rasi masi bingung tahu kak."
Dirinya mengusap kepala bagian samping kiri yang sebenarnya tak gatal.
"Kamu tungguin orang yang ada dikamar lantai dua Cet pintu warna putih."
Gawa berlalu setelah mengatakan itu. Sementara Rasi masih saja tak paham. Dirinya langsung pergi menuju kamar yang dimaksud oleh sahabat sang kakak.
Rasi membuka perlahan pintu putih dengan tinggi hampir melebihi dua meter itu dengan perlahan. Dirinya masuk dan duduk di tepi ranjang berukuran King Size.
"Kak Kris?" Dirinya masih tak percaya jika yang berada di hadapannya adalah Kristal yang dulu pernah bekerja di Toko kue sang Mama.
Rasi senang bukan main setelah hampir enam bulan tidak menemukan Kristal. Dan kini ia dipertemukan lagi oleh orang yang dulu pernah menjadi keluh kesahnya soal masa percintaan anak muda.
Sementara Gawa di sisi lain sedang mengunjungi kediaman Maureen untuk meminta penjelasan kepada perempuan itu.
"Lo keterlaluan Reen, lo bukan Maureen yang gue kenal dulu!" Gawa mendesisi tajam sambil menunjukkan sepotong surat yang dia temukan didalam kotak tadi.
Sedangkan Maureen masih dalam wajah santai seolah perkataan Gawa bukanlah hal yang penting.
"Dari dulu kamu milik aku Wa, dan sampai kapanpun akan seperti itu. Aku cuma mau ngasih pelajaran sama orang yang udah ngerebut milik aku dan yeah aku gak salah dong." Tidak ada nada takut serta tidak ada nada kasar disana. Dirinya benar-benar santai.
"Kalo lo mau main-main sama Kris, berarti lo harus siap juga buat main sama pemiliknya!"
Gawa melangkah pergi tak ingin terlalu lama melihat wajah munafik itu.
"Sial! siapa yang udah main-main sama gue dengan mengadu domba? itu bukan perbuatan gue!"
Tentang surat itu, tentu bukan gadis cantik berdarah Jawa-Belanda itu pelakunya. Meskipun dia tidak menyukai Hubungan Kristal dan Gawa, namun Dia tak seberani itu untuk melakukan peneroran.
*
*
*
*
Buat klian yang udah nunggu kelanjutan MYH, maaf banget loh ini soalnya aku lagi sibuk ujian. Dan buat kalian yang masi setia sama cerita aku, makasih banyak-banyak. Jangan lupa buat ninggalin jejak sebanyak-banyaknya ya😊. Dan satu lgi, aku ada hobi baru nih, tentu aja buat kalian penasaran adalah hobi aku.
kaum sultan masa isinya cm segitu
wkwkwk
akhirnya LENGGAWA is back...
hebat km thor...👍👍👍
bikin penasaran
lanjut thor
othor zeeyeeenggg.... tunjukkanlah drmuuu...
readers mu ygtak tau diri ini sngt merindukan ending ceritamuuu...😁😁😁