NovelToon NovelToon
Telaga Berkabut

Telaga Berkabut

Status: tamat
Genre:Kutukan / Cinta Terlarang / Cinta Beda Dunia / Iblis / Horor / Tamat
Popularitas:171.5k
Nilai: 5
Nama Author: ARSY AL FAZZA

Pertemuan seorang pemuda dengan sosok ghaib (wanita hantu berambut panjang penunggu alam lain). Jalinan cinta mereka di isi dengan tragedi berdarah dan kematian para sahabatnya. Semua bermula saat mereka menuju suatu wilayah pedalaman untuk meneliti tugas ilmiah di Universitas bagian Barat Daya. Siapa yang menyangka kedatangan mereka kesana menjadi musibah dan kematian yang mengenaskan. Di sela ketakutan bercampur keganasan pembunuhan dari para hantu ganas. Ada salah satu penghuni ghaib disana yang jatuh hati dengan salah seorang pemuda alim. Apakah cinta mereka bisa bersatu selamanya? Simak kisah horror percintaannya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Waktu Berlalu

Kepergian Gumamtong di saksikan rembulan merah membentang sayap kelelawar hitam, bertebaran burung hantu di atas Telaga berkabut. Pesan terakhir taburan bunga penggiring kepergiaannya agar dia tidak kembali menjadi arwah penasaran yang haus akan darah daging manusia.

Tangisan kedua sosok itu berhias air mata darah menetes di atas air. Kali ini siapa yang harus di salahkan? Dendam tersemat pada manusia semakin meradang di hatinya yang menghitam. Rambe menegaskan pada Murga agar menjauhi manusia, tapi tetap saja dia menunggu kehadiran Sandika di dalam kesendirian pekat kabut putih malam.

“Kau mau kemana lagi San?” tanya Beben.

Di depan halte mereka bersiap menunggu keberangkatan bus terakhir. Sandika meletakkan ransel dan meminta mereka menunggunya beberapa menit. Pertanyaan Beben tidak di jawab, dia berlari masuk ke dalam hutan menuju bebatuan raksasa.

“Murga!” panggilnya.

Aroma tubuh manusia yang di benci Rambe, dia menahan gerakan Murga yang akan menghampirinya. Di atas Telaga Berkabut sedang berduka kehilangan sosok Rambe. Untuk meredakan sedikit amarahnya, Murga terpaksa mendengar perkataan Rambe dan hanya mengamati Sandika dari balik tempat persembunyian.

“Murga!” panggilnya lagi.

Dia memainkan pianika namun kehadiran sosok wanita itu tidak muncul juga. Sandika pun pergi meninggalkan sekuntum bunga di dekat bebatuan raksasa dekat tepi Telaga Berkabut.

Setelah hari itu mereka berpikir adalah hari perpisahan terakhir tanpa ada kata selamat tinggal.

Setangkai bunga mawar putih untuk Murga.

Sandika meletakkannya di dekat bebatuan besar. Bunga itu seharusnya sudah layu di telan masa. Tidak setelah Murga meniup menggunakan sihir yang dia miliki kemudian merawatnya di alam lain. Bunga simbol cinta putih yang abadi tanpa layu hidup di dimensi lain.

Tanpa kenal lelah, Murga selalu menunggu kehadiran Sandika kembali. Hantu itu tidak pernah menua, bahkan kecantikan paras merubah awet muda di mata manusia terpancar menyembunyikan sosok mengerikan yang sebenarnya. Para hantu penghuni Telaga Berkabut, mereka menunggu mangsa di dalam kutukan cerita berantai di masa kelam.

Tahun lalu yang terlewati

Murga kehilangan aroma tubuh pria itu, dia tidak bisa mengikutinya sampai ke kota. Bunyi klakson pak supir meminta penumpang agar segera naik. Sandika kembali naik ke dalam bus memasang wajah murung dan nafas yang tersengal-sengal. Hampir saja dia di tinggal oleh Beben, mengingat nek Ana sudah mendesak secepatnya kembali ke kota untuk mengurus segala keperluan sepeninggal Arya. Air matanya masih belum berhenti berderai, Sandika duduk di samping mengusap punggungnya.

“Nek, nenek yang kuat dan sabar ya. Ikhlaskan Arya nek, biar dia tenang di alam sana.”

“Maafkan kami yang tidak bisa menemukan Arya nek.”

Semua sudah kembali ke tempat semula, tanpa dan ada yang mengisi rumah tetap waktu detik berputar berganti siang dan malam. Kali ini di perkotaan yang ramai hingar bingar itu tidak di temukan satupun cahaya kunang-kunang sesuai harapan Sandika.

“Bahkan aku belum sempat menanyakan di mana rumahnya” gumam Sandika.

Pria itu seolah setengah sadar mengamati Murga sebagai setengah hantu dan manusia. Dering bunyi ponsel isi pesan yang membuat dia sangat terkejut.

Kepada Sandika

Kabar meninggalnya Herman, hari ini dia akan di kebumikan di Taman pemakaman umum pukul 02:00 WIB. Beben.

📩

Dari bu Harun

Telah berpulang ananda kami, Herman.

📩

Mata Sandika berkaca-kaca, “innalillahi wa innailahi rojiun.”

Rumah duka di penuhi para pelayat berpakaian serba hitam. Papan-papan nama ucapan turut berduka cita berjejer di sepanjang depan halaman rumah hingga ke tepi jalan luar. Begitu pula karangan bunga memenuhi setiap tempat. Kini Harun bagai hidup sebatang Kara, semua keluarganya tinggal di luar negeri. Harun tidak bisa kembali kesana dan meninggalkan kenangan indah di rumah itu.

Warid tidak bisa menyelamatkannya meskipun jamur itu sudah kembali ke tempat semula. Sosok Rambe yang ganas terlanjur merenggut jiwa dan hawa murninya. Kesalahan mencuri tumbuhan tanpa permisi dari pemiliknya mengambil nyawanya begitu saja.

Di depan kuburan anaknya, Harun mengusap papan nisan dan memeluk tanah kuburannya. Dia enggan melepaskan atau beranjak dari sana.

“Sudah bu, ikhlaskan Herman.”

Seiring berjalannya waktu, kesendirian di dalam kekosongan jiwa. Harun menjadi sakit-sakitan sehingga seluruh pekerjaan di pegang kendali oleh sekertaris keluarganya.

Di suatu pagi bercuaca mendung, Sandika datang membawa benda yang telah lama ingin dia kembalikan.

Amplop pemberian bu Harun masih utuh, Sandika meminta maaf pada Harun karena tidak bisa menerima pemberiannya.

“Kalau begitu anggap ini sebagai gaji mu untuk bekerja di perusahan ibu” ucap Harun.

“Tapi ini terlalu banyak bu.”

“Sudah jangan membantah lagi, engkau sudah ibu anggap sebagai anak angkat.”

“Terimakasih banyak bu.”

Sandika mencium punggung tangannya. Rintik sedu sedan Harun masih menetes tanpa jeda. Sebelum pamit pulang, Sandika memberikan kata-kata penguat untuknya. Dia memijat kaki Bu Harun. Membawakan segelas air hangat dan menyelimuti kakinya yang terasa dingin.

"Ibu, besok aku akan berkunjung lagi kesini." ucap Sandika dengan sopan.

"Ya, ibu akan selalu menunggu dan mendoakan mu. Kau adalah anak yang baik."

"Maafkan aku belum bisa membalas budi mu bu."

"Tidak apa-apa. Melihat mu sehat dan bahagia saja sudah lebih dari cukup."

Sandika pun berpamitan pulang, kepergiannya di lepas dengan lambaian tangan. Harun yang merasa waktunya sudah tidak lama lagi. Dia memanggil sekertaris nya untuk menulis surat wasiat yang di dalamnya berisikan sebagai berikut:

Surat Wasiat Warisan

Saya yang bertanda tangan di bawah ini

Harun

Dengan sadar dan tanpa ada unsur paksaan membuat pertanyaan surat wasiat atau hitbah seluruh harta saya, kepada anak angkat saya yaitu:

Sandika

Dengan surat ini saya menyatakan bahwa menyerahkan seluruh harta serta segala aset dan property kepemilikan pada anak yang saya sebutkan tersebut.

Demikian surat wasiat ini saya buta dengan akal sehat dan tanpa ada paksaan dari pihak manapun.

Kota Barat Daya

Diketahui

Saksi-saksi.

...----------------...

Bekerja sebagai menggantikan posisi bu Harun sebagai manager perusahaan. Kehidupan Sandika berubah secara drastis. Sebelum Harun meninggal, dia menyembunyikan dari Sandika penyakit kanker stadium akhir yang menggerogoti tubuhnya.

Sandika tetap menempatkan foto Harun di ruang kerjanya. Begitu pula pot guci yang berisi karangan bunga tulip merah jambu kesukaan ibu angkatnya itu selalu dia ganti setiap hari.

Selepas pulang kerja dia bersama Beben melakukan pertemuan di sebuah caffee di pusat kota. Mereka terlihat sedikit canggung, terutama Beben yang sempat berpikir melihat Sandika si anak angkat konglomerat pasti sudah enggan berlama-lama mau meluangkan waktu hanya untuk dirinya.

“Jadi kau mengajak ku bernostalgia hanya untuk mendengarkan suara pengunjung caffee ini saja?” tanya Sandika dengan senyumannya yang sangat lebar.

1
sigma
👍
anak sekolah
sosok berbaju putih yang mengawasi mereka dari atas pohon menarik, tapi terasa seperti hanya lewat begitu saja. Kalau dia punya peran lebih besar, mungkin bisa ada sedikit interaksi atau tanda-tanda yang lebih jelas.
BTS
Sandika ditampilkan sebagai sosok yang kuat dan religius. Ini memberi warna pada cerita, apalagi pas dia melaksanakan ibadah di tengah situasi mencekam. Adegan Ben di semak-semak juga menarik, karena memberikan kombinasi antara humor dan horor yang pas. sebenarnya ada latar belakang khusus nggak sih kenapa Perkampungan Telaga Berkabut ini angker? Kalau ada, mungkin bisa disisipkan dalam percakapan atau kilas balik supaya pembaca makin terikat sama dunia yang dibangun.
Cik ngah
Herman dan ibunya udah bikin saya kebawa suasana, lalu makin tegang pas masuk ke perjalanan misterius menuju Perkampungan Telaga Berkabut. Tapi saya merasa ada beberapa bagian yang bisa diperhalus agar lebih kuat dampaknya. Contohnya, peristiwa kecelakaan mobil. mungkin bisa diberi buildup yang lebih mencekam, seperti deskripsi keadaan jalan, suara-suara di sekitar, atau efek dari kepanikan Herman secara lebih rinci. Saat dia melihat punggung pria tua yang membusuk, mungkin ekspresi dan reaksi Herman bisa lebih didalami untuk menambah nuansa horor.
Jasmine
aroma darah
Jasmine
kalau memang mau dibawa ke level yang lebih tinggi, ada beberapa saran.

Adegan di mana mereka bertemu orang tua menyeramkan itu keren banget, tapi bisa lebih diperpanjang agar semakin terasa intensitas horornya. Misalnya, bisa ada deskripsi lebih detail tentang bagaimana cara orang tua itu bergerak atau ekspresi wajahnya yang berubah-ubah.

Bagian kecelakaan mobil juga harusnya lebih terasa chaos. Mungkin bisa ada efek suara lebih detail, seperti suara pecahan kaca, teriakan panik dari masing-masing karakter, dan usaha mereka untuk keluar dari mobil yang rusak.

Overall, ini cerita yang menarik dan punya potensi besar! Saya menunggu kelanjutannya.
Gara-gara hari minggu
kok cepat banget tamat nya sih
Karina Ekasari: f jrai
total 1 replies
angin
sepakat si cery lebih aman sama si murga dari si rambe. tapi.....kalau dia udah nggak manusia lagi. tapi kalau dia manusia yaa.... kasian dong
nirina nazmah 🦄
harun yang malang
Hanum Anindya
kakak jahat kenapa harus tamat duluan sih. masih kangen sama rambe. pokoknya terbitkan ya kak bukunya, biar pas mati lampu aku bisa baca buku kakak. inspiratif banget ceritanya,😊👍🙏💕
Hanum Anindya
rambe kok nggak muncul disini kak😊
🕶Lala dan lili 💄🕶🕶
jadi si cery hidup di sana gimana tuh rasanya?? aku jadi kebawa emosi waktu murga marah
gadiah minang
uppp
gadiah minang
masa cery anak baik jadi penghuni telaga dan sasaran utama kutukan sih thor
ciki
rambbbeee
👑Ria_rr🍁
author kesayangan sejuta umat
👑Ria_rr🍁
semangat up-nya kk thor
Hanum Anindya
lanjutkan kak ceritanya
Orchid
ngilu
Renggo
ingin kuh bunuh ki gendeng. uda pinjem tubuh orang lain tapi buat dosa. jadi si mayat di siksa kubur berkali lipat. eh kasian nasib rina. haduu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!